Mari Kembali ke Akar Budaya- Mari Berkebaya

Salah satu yang sedang senang saya amati minggu belakangan adalah  pakaian – pakaian nasional yang dipakai oleh Bapak Jokowi. Pakaian – pakaian nasional yang dipergunakan beliau begitu indah sekali, dan membuat beliau terlihat gagah, bahkan lebih gagah dari pada ketika beliau memakai jas internasional. Yang membuat saya tertarik karena biasanya tidak ada pakaian – pakaian nasional yang dipergunakan oleh bapak – bapak pejabat selama melakukan perjalanan internasional, kecuali adanya sewaktu hari kemerdekaan RI atau kalau ada acara pernikahan dan beliau menjadi panitia atau penyelenggara acara.

Buat saya, dengan rajinnya pak Jokowi menggunakan baju – baju nasional seolah – olah mendukung niatan saya untuk menggunakan baju nasional atau tepatnya baju kebaya kemana -mana (yang berarti harus menambah budget untuk membeli kebaya hahahahhahhahaha , PS: ini bukan alasan untuk belanja yaa :). Kalau pak Jokowi – yang presiden RI, yang lelaki (yang biasanya tidak terlalu riweuh dengan baju yang dipakai) bangga dengan pakaian nasionalnya, tidak malu dianggap aneh, mengapa saya juga tidak begitu? Apalagi saya selalu bangga menjadi perempuan Indonesia.

Keinginan saya untuk menggunakan baju kebaya setiap hari itu sebenarnya karena kecemburuan saya terhadap perempuan – perempuan India, yang dimanapun berada, berani menggunakan pakaian tradisional mereka (yang disebut Saree atau dibaca Sari). Bahkan pada musim dingin sekalipun, tidak jarang saya melihat perempuan – perempuan India ini menggunakan Saree kemana – mana di Eropa di balik jaket tebal yang mereka gunakan. Mereka tidak merasa risih ataupun malu. Bahkan dengan bangganya menggunakan Saree tersebut, walaupun pemakaian Saree itu ribet banget (coba deh liat di Youtube 😊).

Selain alasan kecemburuan melihat perempuan India tersebut, menurut saya kebaya selalu berhasil membuat perempuan – perempuan terlihat seksi dan cantik, walaupun tetap sopan dan santun. Penggunaanya? Wuih, dengan kemajuan jaman seperti sekarang, semakin canggih model kebaya tersebut. Bahkan menurut saya, memakai kebaya itu sama saja seperti menggunakan baju biasa.

Nah biasanya nih, teman – teman perempuan saya, pasti langsung merasa ribet kalau harus memakai kebaya. Karena terbayang keribetan menggunakan kain sebagai bawahan/pasangan kebaya. Padahal di era modern ini, gampang banget menggunakan kebaya. Bisa menggunakan kain sarung yang sudah banyak dijadikan rok, atau dibuat seperti rok lilit. Males menggunakan rok? Bisa kok menggunakan celana panjang. Males menggunakan high heels? Bisa kok pake sepatu hak pendek / pantofel bahkan masih manis menggunakan sneakers.

Memakai kebaya menurut saya juga seperti kembali ke akar budaya. Dan menjadi menyenangkan karena kebaya di Indonesia kaya akan bentuk dan warna, yang berasal dari berbagai daerah (mulai kebaya kartini, encim, kutu baru, kebaya jawa, kebaya bali, baju bodo, baju kurung dll). Bisa dipilih sesuai kebaya yang sesuai dengan bentuk tubuh dan sesuai selera. Favorit saya sendiri sih kebaya encim atau kutu baru.

Jadi untuk perempuan – perempuan cantik Indonesia, yuk lestarikan baju nasional, yuk kembali ke akar budaya dengan menggunakan kebaya.

Salam

 

About kharinadhewayani

I am just an ordinary woman who wants to share her mind and her dreams to the world.
This entry was posted in budaya, akar budaya, kebaya, perempuan berkebaya, Indonesia, Indonesia ku, masyarakat, perempuan, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s