Pemimpin dan bukan Pemberi Mimpi

Sebentar lagi di almamater saya akan dilaksanakan  pemilihan ketua ikatan alumni.  Dan karena untuk pertama sekali dilakukan pemilihan secara langsung,  maka di milist alumni menjadi ramai dengan pembahasan dan kampanye kampanye  terutama dari pendukung pendukung setiap kandidat. Walaupun dari 9 kandidat, saya kira hanya saya dan satu orang dari 9 kandidat yang tidak bersibuk sibuk ria, berkampanye. Saya tidak tau alasan kandidat yang lain, tapi alasan saya mengapa – pertama saya dicalonkan hanya untuk memenuhi kuota 9 orang kandidat dan kedua – ya saya merasa tidak sepantasnya berada di posisi ini.

Saya membaca  kampanye setiap kandidat, saya membaca kampanye setiap pendukung kandidat. Dan saya hanya tersenyum, membayangkan, seandainya apa yang mereka katakan benar benar mereka lakukan tanpa harus menunggu sampai mereka di calonkan menjadi kandidat, saya membayangkan betapa indahnya hari ini.  Saya juga membayangkan betapa indahnya seandainya pendukung para kandidat juga mendukung pengurus pengurus yang lama, sehingga seluruh kegiatan termasuk persiapan untuk reuni dan pemilihan ketua akan berjalan dengan bantuan lebih banyak orang lagi.

Dan saya tau pasti, kalau saya tanyakan, kepada kandidat kandidat tersebut beserta para pendukungnya, mengapa mereka tidak melakukan hal hal yang mereka tulis saat ini, pasti jawaban nya sama, karena mereka saat ini bukan pengurus jadi tidak enak kalau mereka bukan pengurus.

Padahal, dari pengalaman saya, bisa kok kita melakukan yang saya inginkan untuk alumni walaupun saya bukan pengurus. Alasannya ya karena saya benar benar mau. Bukan saya mau karena saya punya kewajiban, saya mau melakukan karena saya ingin dan saya yakin bisa. Dan itu tidak harus menunggu, saya menjadi pengurus atau berniat menjadi pengurus atau berniat mendapatkan sesuatu.

Saya kemudian melihat kembali track record apa yang pernah mereka lakukan untuk organisasi ini dan anggotanya. Dan saya melihat kembali apa yang pernah dilakukan oleh para pendukung kandidat untuk organisasi dan anggotanya.  Hasilnya? Hampir tidak ada.

Saya hanya termangu sendirian dan mulai merenung sendiri. Sadarkah mereka apa yang mereka lakukan? Sadarkah mereka akan konsekuensi atas apa yang mereka tulis dan sebesar apa amanat yang mereka akan terima? Atau yakinkah mereka kalau yang mereka tulis bukan emosi semata, yang nanti apabila mereka ditengah jalan menemukan tantangan yang berat, apakah mereka akan berhenti karena toh apa yang mereka tulis itu hanya emosi sesaat?  Begitu juga dengan para pendukung kandidat, yakin kah mereka dengan siapa yang mereka dukung, sejauh mana mereka mengenal orang tersebut? Apakah hanya karena kandidat bisa menyerahkan sejumlah besar uang, atau karena menduduki jabatan yang sangat tinggi, atau apakah karena kandidat merupakan pilihan dari kelompok sehingga tidak etis untuk memikirkan yang lain?

Kemudian saya berpikir, ah sudah lah …. mengapa saya harus berpikir terlalu jauh. Itu tidak berkaitan dengan saya dan saya juga tidak perduli siapapun yang terpilih, toh kalau tidak berjalan sesuai harapan saya, saya punya waktu untuk mengundurkan diri dan tidak perduli.  Toh saya bisa puas memaki maki dari jauh.

Sama seperti dengan apa yang terjadi di negeri ini. Bagaimana pintar nya pemimpin pemimpin kita di pemerintahan yang kita pilih sebenarnya hanyalah Penjual Mimpi dan bukan Pemimpin. Sehingga jangan lah diharapkan kalau mereka bisa memimpin karena mereka memang bukan pemimpin. Dan mereka telah bemerhasil membuat seluruh pemilihnya untuk  Membeli Mimpi yang mereka tawarkan.  Dan apakah mereka salah? Tentu saja tidak, yang salah ya pemilih. Kenapa mau membeli mimpi dan bukan memilih Pemimpin. 

Jadi kemudian, kalau begitu – kita yang akan memilih,  semestinya harus lebih pintar dong untuk mencari cari informasi tentang kandidat, yang akan menjadi pemimpin mereka. Buka mata lebar lebar. Atau gunakanlah hati tapi janganlah lupa menggungakan kepala untuk mengevaluasi apa yang telah kita pilih dari hati kita.

Dan kemudian? Kalau ternyata ada kandidat yang merupakan Marketing Ulung yang bisa Menjual Mimpi kepada banyak orang?  Dan kita mengetahui hal ini, apakah kita cukup diam, karena merasa toh kalau yang orang tersebut terpilih, sepanjang kita tidak memilih, kita tidak bertanggung jawab dengan pilihan tersebut. Terlebih pasti di pikiran kita akan tercetus pikiran bahwa kita dengan begitu bisa lebih mudah untuk protes dan mencaci maki karena bukan kita yang memilih, apabila terbukti memang yang dijadikan pimpinan itu adalah Penjual Mimpi dan bukan Pemimpin. 

Tapi tadi pagi saya membaca tulisan yang membuat saya terhenyak :

“Suatu hari nanti kau pasti paham. Boleh jadi pula kau punya pendapat lain. Itu sah-sah saja. Tapi yakinlah, membicarakan orang lain, menggunjingkan orang lain, itu sungguh tidak elok padahal kau memilih untuk tidak terlibat dalam prosesnya. Dan lebih jahat lagi, ketika seorang pemimpin telah terpilih, kau justru lebih asyik memperoloknya dibandingkan membantunya bekerja. Bahkan binatang buas lebih pantas memperlakukan pemimpin kawanan mereka”  (Tere Liye : “Burlian : Serial Anak-anak Mamak”

Tulisan ini membuat saya berpikir panjang. Bahwa apapun keputusan dari hasil demokrasi, walaupun bukan pilihan saya. Saya ikut bertanggung jawab dengan seluruh hasilnya. Mengapa saya tidak mencegah dengan cara membantu masyarakat/calon pemilih membuka matanya ? Mengapa saya hanya diam karena merasa takut dengan pikiran pikiran saya bahwa orang orang akan berpikiran negatif ketika saya mengajak mereka memilih Pemimpin, yang bukan Penjual Mimpi? 

Saya yang telah diberikan hak untuk memilih dan kekuatan untuk mencegah orang orang memilih jalan yang salah, semestinya menggunakan dan bukan malah menyia nyiakan kesempatan.  Dan saya juga harus bertanggung jawab terhadap hasil keputusan yang dilakukan oleh kelompok, organisasi, lingkungan  dan negara saya.

Karena saya tidak mau menjadi lebih rendah daripada binatang buas  – yang tidak pernah memakan pemimpin nya sendiri walaupun mereka tidak suka.

Jadi sebaiknya kita seharusnya tidak lagi menjadi golput – karena mencari aman, kita seharusnya tidak diam ketika ada Penjual Mimpi yang merupakan Marketing hebat sehingga bisa menjual mimpi kepada banyak orang yang menyangka mereka ini adalah Pemimpin. Kita seharusnya berani untuk membuka mata masyarakat/calon pemilih untuk menyadari hal hal tersebut.

Dan sebagai orang orang yang ingin memajukan diri menjadi pemimpin. Kita seharusnya bertanya kepada hati nurani kita sendiri. Apakah kita memang Pemimpin atau apakah kita sebenarnya hanyalah Penjual Mimpi.

Selamat memilih

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Masih ingat lagu “Astaga” nya Ruth Sahanaya, yang berisi tentang  rasa kecewa terhadap Pemuda(i) Indonesia  ?  Atau enggak pernah dengar?  Uhm …  liriknya sebagian begini …. “Sementara yang lainnya, hidup seenaknya seakan waktu takkan perna ada akhirnya. Hanya mengejar kepentingan diri sendiri, Lalu cuek akan derita sekitarnya.” Soal kecuek kan/ Ketidak perdulian pemuda(i) ini sekitar 3 minggu lalu (kembali) saya rasakan. Ceritanya suatu siang, saya menanyakan alamat kepada 3 orang anak yang berpakaian SMA yang sedang mengobrol santai. Dari penampilan, dan sepertinya mereka baru pulang dari kursus bahasa Inggris  yg terkenal mahal, di gedung yg sama, maka saya yakin mereka berasal dari keluarga menengah ke atas. Dengan senyum dan permohonan maaf  terlebih dahulu, karena mengganggu pembicaraan mereka, saya menanyakan letak tempat yang ingin saya kunjungi di gedung yg sama. Betapa terkejutnya saya ketika mereka hanya menghentikan tawa mereka, mendengarkan saya sebentar tanpa membalas senyum saya (yang saya kira sudah seindah mungkin hahhahhhahaa), dan kemudian kembali melanjutkan canda mereka, tanpa menjawab pertanyaan saya.  Saya yang masih berpositif ria, kembali mohon maaf dan tersenyum dan kembali menanyakan alamat. Dan ya … reaksi yang saya dapatkan tetap sama 😦 Saya hanya berpikir bagaimana orang tua mereka mendidik anak anak nya ini? Toh kalau tidak tau bisa berkata “tidak tahu”, bukan malah kembali tertawa dan bersikap seolah olah tidak mendengar. Karena saya dikejar waktu, saya pun meninggal mereka dan mencari orang lain yang bisa menolong saya. Terus terang ini bukan yang pertama sekali saya menemukan kecuekkan yang luar biasa dari anak anak muda seperti mereka. Sebagai pengguna setia angkutan umum, sering sekali saya melihat ketidak perdulian luar biasa dari mereka.  Tidak mau memberikan tempat duduk kepada perempuan hamil atau ibu ibu tua. Atau mentertawakan orang orang tua yang terlihat kebingungan baik mencari alamat atau karena tidak mengetahui harus berdiri di jalur yang mana. Bukan itu saja, tidak jarang juga saya memperhatikan bagaimana mereka tidak mau mengindahkan teguran yang halus dari orang yang lebih tua atas sikap mereka yang kurang sopan, atau tidak mau memberikan ruang untuk duduk diangkot, atau merokok di muka umum atau bahkan ketika mereka seenaknya mengemudi di jalan raya.  Dan masih banyak lagi . Yang lebih miris kejadian ini juga masih saya lihat di kantor kantor, di sekolah sekolah universitas universitas, dimana mereka sama sekali tidak perduli terhadap keadaan sekelilingnya kalau itu tidak ada nilai plus nya untuk mereka. Kalau mereka tidak mendapatkan tambahan apa apa, kalau itu tidak ada di job desk mereka. Dan mereka juga akan lebih tidak perduli apabila orang yang membutuhkan bantuan, atau memberikan nasihat/teguran halus adalah orang yang mereka anggap bukan siapa siapa, tidak punya kedudukan dan berpendidikan lebih rendah dari mereka. Pernah satu kali,ketika saya merencanakan akan mengadakan reuni, beberapa adik kelas saya yang baru lulus 2 tahunan, menanyakan kepada saya, apa keuntungan yang mereka dapat kalau mereka hadir ke reuni almamaternya. Dooooh …. kenapa harus keuntungan yang lebih dahulu? Mereka bilang, tanpa ada keuntungan yang mereka dapat (at least bisa bertemu orang orang terkenal di Indonesia) maka mereka tidak tertarik untuk datang ke reuni. Untuk apa? 😦 Saya saat itu hanya bisa berkata ” kalau kamu merasa tidak penting, ya jangan datang, tanpa kehadiran kamu, toh reuni ini bisa berjalan”.  Kenapa harus mendapatkan keuntungan dari sesuatu yang bernama ‘reuni’? Bertemu kembali dengan  orang orang yang walaupun tidak terkenal tapi pernah membantu kita walaupun hanya bantuan senyum, bukan kah itu menyenangkan? Apakah mereka hanya mau perduli kalau alumni tersebut sukses, menjadi direktur di perusahaan Internasional di Indonesia, atau pejabat atau terkenal. Dimana rasa kekeluargaan nya? Ah saya benar benar gagal paham. Atau karena saya belum memiliki anak sehingga saya tidak tau perkembangan pendidikan anak anak di rumah sekarang? Tapi bukan kah semestinya sebagai orang tua mereka mengajarkan hal hal yg baik seperti tata krama yang dulu diajarkan oleh nenek kakek mereka? Sewaktu saya sekolah dulu, guru guru saya mengajarkan bagaimana kami harus menghormati orang yang lebih tua, membantu orang yang terlihat mengalami kesulitan, memberikan kursi di angkutan umum kepada ibu yang sedang hamil atau orang tua atau penderita cacat.  Bahkan karena saya sekolah di sekolah khatolik dengan suster suster itu, saya akan dipanggil karena cara tertawa saya yang terlalu keras, yang terlihat tidak sopan. Saya juga memikirkan jangan jangan anak anak muda ini juga lupa bahwa tanggal 28 Oktober adalah hari Sumpah Pemuda, dimana seluruh pemuda berjanji untuk satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa – Indonesia.  Atau bahkan tidak tau apa isi Sumpah Pemuda tersebut. Ahhhhhhh…… Pernah beberapa kali  saya membaca, juga mendengar pembicaraan teman teman saya, tentang banyak nya anak anak muda ini yang tidak mengetahui tentang sejarah bangsa. Tidak tau isi Pancasila, nama nama orang yang pernah menjabat sebagai Presiden RI, tidak tau apa arti warna merah dan putih di bendera. Tidak tau apa lambang negara Indonesia, dan masih banyak lagi . Apakah ini hanya karena mereka tidak tahu atau tanda bahwa mereka tidak perduli.  Karena itu bukan sesuatu yang penting di hidup mereka. Atau memang karena di hati mereka sudah terpatri bahwa kepentingan pribadi jauh di atas kepentingan negara, kelompok, keluarga . Uhmmmm………. Atau mungkin kita sebagai yang lebih tua seharusnya, mulai melakukan koreksi diri, jangan jangan memang kelakuan kita yang tidak bertanggung jawab, yang melupakan didikan orang orang tua kita (karena merasa sudah jauuuuuuhhhhhh dewasa), membuat pemuda(i) ini merasa tindakan mereka juga sah sah saja dilakukan. Atau mari kita bersama bahu membahu, mencari apa penyebab fenomena ini,  dan kemudian memperbaiki nya bersama sama, agar kesalahan pendidikan ini tidak terlanjur lebih dalam. Agar di dalam hati pemuda(i) , generasi penerus bangsa ini kembali tumbuh rasa keperdulian itu. Atau mungkin sebenarnya ….. rasa keperdulian Pemuda(i)  ini masih tinggi, tapi kebetulan yang saya temui hanyalah sebagian kecil dan itu adalah mereka mereka yang memang tidak punya rasa keperdulian. Semoga ……

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 2 Comments

Bagaimana menjadi mahluk “normal” ?

Saya adalah orang yang punya cap besar dimanapun saya berada ……. PEMARAH, SUMBU PENDEK, SHORT TEMPER.  Sampai sampai kemudian banyak orang yang bilang, kalau saya mau dapat jodoh cepat harusnya habit saya ini yang harus saya ubah secepatnya. Karena, enggak akan ada laki laki yang mau dengan perempuan yang suka marah marah. Hahahahahahhahaha

Kalau dibanding, dulu, sebenarnya saya jauh lebih sabar (ehm…. iya bener deh LOL).  Sebenarnya sih, setelah saya marah, saya enggak nyimpan apa apa lagi dihati. Ya sudah  selesai, paling makan waktu 10 menitan marah saya. Tapi kalau ada yang enggak enak di hati saya, dan saya diamkan, berarti saya sudah tidak perduli atau berarti saya enggak suka sama banget sama akar masalahnya 😀  Jadi selama saya masih marah, ya selama itu berarti saya masih perduli.

Saya juga bukan orang yang marah marah tanpa alasan, atau tanpa solusi. Pasti saya akan bantu cari solusi , dan pasti akan saya jelaskan alasan mengapa saya marah.  Dan kalau marah saya ternyata saya salah, saya juga tidak segan segan minta maaf. Iya itu saya.

Tapi hari ini saya yang tidak marah, dianggap banyak orang sedang marah, karena email yang saya kirimkan.  Saya baca berulang ulang, dan berulang ulang. Tetap saya tidak menemukan kata kata marah di sana. Maupun kata kata yang kasar.

Saya coba menenangkan pikiran saya, yang menjadi mulai marah karena pesan singkat di bb saya yang meminta saya untuk calm down bahkan untuk tidak menulis di email di milist. Ehm ……  apa saya sebegitu pemarah nya sampai saya tidak marah pun dianggap marah.  Apa saya sebegitu menakutkan nya bagi orang orang, bahkan untuk menanyakan sesuatu akhirnya mereka harus lewat orang lain karena takut saya marah. Hahahahahhaahhaahaa ……

Saya seketika merasa, jangan jangan saya ini sebenarnya gila. Enggak sadar sering marah marah, jadi tidak bisa lagi membedakan apakah saya marah atau saya tidak marah. Atau saya memang begitu anehnya, sampai orang orang tidak bisa membaca apakah saya marah atau enggak . Uhm ……..

Ah entahlah ….. saya mungkin memang harus belajar banyak untuk mengerti  sejauh mana saya harus marah. Saya mungkin harus mengerti kalau banyak orang yang tidak bisa membaca pikiran saya, (walaupun saya berharap banyak orang bisa membaca pikiran), jadi saya tidak usah berkeras menjelaskan bahwa saya tidak marah, dan kemudian penjelasan yang menjelaskan bahwa saya tidak marah juga dianggap saya sedang marah ketika menjelaskan nya hahahhhahhaahhahhahhaaha ….. hadoh.

Moga moga ada orang yang bisa mengajarkan saya untuk mengetahui sejauh mana saya bisa marah. Atau memang saya harus pergi ke psiakter dan diobati? Ehm …… Pingin sekali saya menjadi mahluk ‘normal’, yang manies dan bisa tersenyum di saat apapun itu.  Jadi enggak dianggap marah setiap saat hahhahahahahaha  Padahal saya itu juga orang yang paling mudah untuk tersenyum dan orang yang sulit untuk menahan tawa. Bahkan sering sekali di omelin karena cara tertawa saya yang tidak feminin. 🙂 Atau memang intinya saya harus menjadi perempuan yang mengikuti kaidah baku yang ada. Entahlah …… hahahhahahahah Atau memang saya itu sebenarnya mahluk paling menyebalkan sehingga apapun yang saya perbuat, bisa membuat orang lain emosi. Aduh … semoga tidak yang ini ya ….

 

Tapi setidaknya ada satu yang saya syukuri,  Tuhan memang selalu adil, buktinya, sampai sekarang saya masih single. Soalnya kalau enggak, saya pasti tambah pusing, kalau pasangan saya ,disaat yang sama juga meributkan hal yang sama  tentang saya  hahahahahahhhaahahaha .

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | 2 Comments

Masih kah Pancasila itu sakti?

Tanggal 1 Oktober akhirnya datang juga, yang diputuskan menjadi oleh pemerintah Indonesia sebagai hari Kesaktian Pancasila. Untuk Pegawai Negeri dan pelajar hari ini (mungkin) harus datang lebih awal karena ada upacara bendera di kantor atau sekolahnya. Upacara rutin . Enggak lebih – enggak istimewa.

Padahal Pancasila itu dasar Negara – kalau dilagu nya – merupakan “pribadi bangsa” yang mencerminkan bagaimana sesungguhnya rakyat Indonesia itu. Dan karena pentingnya  peran Pancasila  – maka yang membawanya juga adalah Burung Garuda –  (yang menjadi lambang negara Indonesia , yang dianggap sebagai simbol patriot proklamasi ) – di dadanya,

Maka ketika ada peristiwa G-30 S PKI (yang belakangan ini kebenaran ceritanya mulai dipertanyakan kembali) , dimana terjadi nya pergerakkan kelompok tertentu yang dilambangkan sebagai kelompok yang tidak beragama – komunis – yang ingin merebut kekuasaan dan mengganti falsafah negara, tapi akhirnya bangsa Indonesia berhasil mengatasinya. Pancasila terbukti kesaktian nya di hati rakyat Indonesia – maka lahirlah peringatan hari kesaktian nya.

Masih ingat dong isinya  (1.Ke Tuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang Adil dan beradap, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksaan dalam permusyawarahan perwakilan. 5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). – itu lah sebenarnya pribadi masyarakat Indonesia.  Pribadi yang karena percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa  (bukan agama tertentu) yang terlihat dari sifat yang sopan, ramah,, saling bersatu, tepo seliro,  musyawarah untuk mencapai mufakat, yang mengakui perbedaan tapi tidak memandang perbedaan itu menjadi permasalahan tetapi sebagai warna bangsa yang patut dilestarikan, bertoleransi terhadap perbedaan, tenggang rasa, dan merasakan kalau kita bersatu akan menjadikan Indonesia sekuat baja, dan merasakan dengan persatuan – maka Indonesia akan bisa menjadi negara yang luar biasa hebatnya.

Sayangnya – seiring dengan pergantian tahun, pergantian pimpinan negara, pergantian wakil rakyat, atas nama kebebasan dan demokrasi oleh orang orang yang tidak mengerti apa arti kebebasan dan demokrasi yang sebenarnya, atas nama perubahan, atas nama rakyat yang tidak tahu apa apa, sedikit demi sedikit pribadi Pancasila mulai tergerus – dan mungkin tinggal menunggu waktu ketika benar benar hilang.

Pengrusakkan dan kekerasan oleh satu kelompok  yang menamakan kelompoknya  sebagai kelompok pembela agama tertentu kita biarkan. Kita membiarkan UU tentang pendirian rumah ibadat yang membuat sulitnya pendirian rumah ibadat yang penganut nya minoritas. Kita tidak mau lagi bertoleransi terhadap orang lain yang berlatar belakang berbeda. Kita tidak lagi mau menghormati agama orang lain. Kita tidak setuju dengan adanya pendapat yang berbeda dan tidak menginginkan  adanya musyawarah untuk mencapai mufakat, kita bahagia dengan keegoisan kita dan kita menutup mata dengan penderitaan sekeliling kita. Kita bangga dengan sumpah serapah yang kita ucapkan terhadap orang lain hanya karena suami atau istri atau anak atu ayah atau ibu – salah satu keluarganya menjadi terdakwa. Kita gemar melihat kesulitan orang lain, Kita tidak perduli dengan masalah bangsa,  Kita hanya mendengar yang mau kita dengar, bukan yang sebenarnya terjadi. Berita tentang penghilangan nyawa hanya karena masalah yang kecil menjadi berita biasa. Wakil rakyat juga dengan bangganya saling sumpah serapah didepan publik.

Dimana Pancasila yang sakti itu?  Yang semestinya dengan ‘kesaktiannya’ mampu untuk  mendidik rakyat Indonesia menjadi rakyat yang berpribadi luhur? Apakah memang seiring dengan perkembangan jaman, Pancasila tidak bisa lagi menjadi pribadi kita? Apakah dengan seiring perkembangan jaman, menjadi “brutal’ dan egois menjadi pribadi yang dianggap bagus?

Apakah kita tidak sadar, bahwa bangsa ini mengalami kemunduran yang luar biasa hebat nya?  Di era globalisasi – dimana jarak bukanlah masalah – dimana mengunjungi negara yang berada di ujung dunia juga bukan hal yang mustahil – dimana di Jakarta dan kota kota besar  yang kita temui bukan saja perbedaan suku tapi sudah perbedaan bangsa, dimana keluarga campuran berbeda negara adalah hal biasa ……….. kita rakyat Indonesia …. kembali ke jaman dahulu kala, sebelum kemerdekaan, dimana Belanda memecah belah kita dengan politik “devide et impera” nya – memecah belah dengan mengadu domba suku suku yang berbeda untuk saling membenci, sehingga tidak bisa bersatu melawan mereka.

Seandainya pahlawan pahlawan yang berjuang itu melihat bagaimana rakyatnya sekarang, tentulah mereka kecewa dengan kita semua. Perjuangan mereka dulu, yang ditebus dengan nyawa hanya menjadi bahan hafalan di mata pelajaran sejarah dan terlupa setelah kita lulus sekolah.  Kita tidak lagi ingat lagu Indonesia Raya, kita tidak lagi tau isi Pancasila, kita tidak ingat nama Pahlawan Pahlawan besar, kita mentertawakan upacara bendera sebagai aktifitas yang tidak berguna, kita malu menjadi bangsa Indonesia, dan yang paling parah ….. kita bangga dengan tindakan tindakan kita tersebut.

Mudah mudahan  tahun depan, ada banyak perubahan yang akan terjadi di kehidupan kita, sehingga tanggal 1 Oktober nanti, peringatan kesaktian Pancasila benar benar peringatan akan kemampuan Pancasila menaklukkan  hati rakyat Indonesia sehingga mau kembali menerapkan ke 5 butir butir isinya didalam kehidupan sehari sehari. Dan kita bisa kembali merasakan nyaman nya hidup di Indonesia yang aman dan tentram, yang berbeda beda tapi tetap bersatu.

Aamiin

 

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment