Yang Terbaik (versi Tuhan)

Sering kan ya kita mendengar perkataan : “Lahir, rejeki, jodoh dan maut itu ditangan Tuhan?”. Atau perkataan “Tuhan itu yang paling tau yang terbaik”. Atau kata- kata “jadilah kehendakMu dan bukan kehendakku”. Atau kata kata bijak “kalau Tuhan tutup satu pintu maka Beliau akan membuka pintu lain”.

Berhubungan dengan itu, sewaktu kecil dari SD sampai saya SMA, cita – cita saya menjadi seorang dokter. Saking pingin nya menjadi dokter, SMP kelas satu, saya sudah hafal nama – nama (dalam bahasa latin) setiap tulang tubuh manusia (jangan ditanya ya sekarang, sudah lupa hahhahhahaa). Saya benar – benar terobsesi sama baju putih nya dokter deh. Sampai setiap dokter cowok, saya anggap ganteng  hahahhahaaha. Tetapi, jalan hidup saya berkata lain, cita – cita saya menjadi dokter itu kandas karena papa saya bangkrut.

Sedih? Ya, pasti lah. Ada hari – hari dimana saya ngerasa iri banget ngeliat teman – teman saya yang bisa kuliah kedokteran, iri liat dokter – dokter. Trus mikir, kenapa sih saya enggak bisa jadi dokter. Trus kesel banget deh sama Tuhan. Hahahahahahahha. Semakin dewasa saya, semakin saya mengerti, kalau memang jadi dokter, bukan rejeki saya. Sudah enggak sebel lagi sama Tuhan. Sudah legowolah. Walaupun teuteup ya, saya penasaran, bagaimana ya kalau saya jadi dokter. Sehebat apa ya saya. Hahahahhahahaha

Tapi tiga minggu lalu, saya jadi semakin mengerti  dengan kata – kata di salah satu doa umat nasrani “Jadilah kehendakMu dan bukan kehendakku”. Mengerti kenapa ustad – ustad selalu bilang “sudah direlakan, karena Allah tau apa yang terbaik”. Hasil talent mapping, yang dilakukan salah satu konsultan HR di kantor saya, menegaskan kalau saya memang talenta nya, kemampuannya  yang berhubungan dengan Finance, Treasuary, Administrator, Communicator, Journalist, Strategist,Explorer, Journalist. Enggak ada tuh yang berhubungan dengan kedokteran. Hahahahahhahhaha.

Terus saya jadi bersyukur banget saya enggak jadi dokter, enggak maksain Tuhan, pingin jadi dokter. Ikhlas (ikhlas bukan males ya), sama jalan yang dibuka Tuhan untuk saya dengan lulus STAN. Soalnya kalau saya jadi dokter, mungkin saat ini ada ratusan orang yang sekarat karena berobat ke saya. Hahahahhahhahaa. Kebayang kan ya kalau begitu.

Saya juga teringat, beberapa tahun lalu, saya hampir menikah, kemudian tidak terjadi, karena banyak hal. Sedihnya? Wuih …. banyak banget malam saya habiskan dengan menangis. Karena saya bukan saja kehilangan calon pendamping hidup, tapi yang paling berat, saya kehilangan salah satu sahabat terbaik saya. Orang yang biasanya selalu meyakinkan saya mampu, ketika saya sendiri ragu sama diri  saya. Orang yang sering banget saya ceritain tentang hari – hari saya.

Tapi kemudian, ketika saya pikirkan kembali, kalau saat itu saya jadi menikah, saya mungkin tidak bisa melanjutkan kuliah S2 saya. Saya tidak bisa mengumrohkan ibu saya. Saya enggak punya networking yang bagus karena mengurus reuni akbar kampus saya. Saya tidak bisa mensupport saudara – saudara saya seperti sekarang. Atau mungkin sedang terancam bercerai lagi, karena mantan teman hidup saya yang terdahulu yang seperti psikopat mengganggu hidup saya.Hahahahahaa.

Atau mungkin, kalau saya tidak kehilangan dia – sampai sekarang saya masih ngerepotin sahabat saya itu dengan cerita-cerita enggak penting saya. Atau sampai sekarang  saya tidak pernah menghargai kehadiran sahabat saya tersebut. Atau saya sampai sekarang, tidak pernah bersyukur dan berterimakasih atas apa yang perhatian dan dukungan yang dia berikan kepada saya, tidak pernah untuk mencoba berada di posisinya – yang harus mendengarkan protes – protes saya padahal dia sendiri banyak banget masalahnya.

Saya jadi mengerti apa maksud ikhlas, mengerti apapun yang kita kerjakan, apapun yang kita lakukan, kalau memang menurut Tuhan bukan yang terbaik maka hasilnya tidak akan seperti yang kita impikan. Saya jadi mengerti, harus sering – sering memperhatikan petunjuk. Karena kalau dipikir – pikir, banyak tanda yang ditunjukkan Tuhan, ketika saya sedang “jatuh’, sedang sedih, sedang marah sama Tuhan, agar saya bisa melihat “pintu” baru yang dibukakan Tuhan untuk saya. Jadi, saya enggak ‘give up’ sama hidup saya.

Jadi, sekarang di bulan baik ini, saya akan berusaha untuk selalu melihat ‘maksud’ baik Allah dengan apapun yang terjadi di kehidupan saya. Saya berusaha untuk tidak berburuk sangka dengan Allah.

Bagaimana dengan anda? Yuk berbaik sangka dan selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik. Bahwa Allah, selalu punya rencana indah dibalik dari setiap cobaan yang terjadi.

Salam sayang

Posted in 'wish', inspirasi, karir, rejeki, sempurna, Tuhan, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Bukan Alay nya – Tapi (Mungkin) Tidak Bermutunya

Kata – kata “Alay” belakangan lagi banyak terbaca di medsos. Tentulah karena salah satu seleberiti Indonesia yang memprotes tayangan – tayangan di televisi, yang menurut beliau sangat “alay”. Dan kemudian banyak mendapat protes dari teman2x selebritinya. Bukan, karena protesnya yang menarik buat saya. Tapi karena, kenapa sebegitu kesalnya mas selebriti  ini  dengan tayangan tayangan televisi ini.

Saya kemudian  penasaran mencari apa sih arti kata “alay” sebenarnya ke “om google” –

“alay” adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia.[1] “Alay” merupakan singkatan dari “anak layangan”.[1] Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan.[2] Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan (lebay) dan selalu berusaha menarik perhatian.[1] Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup.[1] Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, menyingkat secara berlebihan, atau membolak balik huruf sehingga membentuk kosakata baru. Dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan.[1] Di Filipina terdapat fenomena yang mirip, sering disebut sebagai Jejemon.[1   

Terus tahap ke dua, mulailah saya menonton tayangan – tayangan yang disebut “Alay” tersebut. Uhm … seandainya saya mempunyai anak, mungkin saya akan melarang anak saya untuk menonton tayangan – tayangan tersebut.

Masalahnya beberapa tayangan yang saya tonton itu, banyak sekali memperlihatkan kegiatan – kegiatan yang menurut norma yang saya pelajari, tidak pantas dilakukan, tidak sopan. Selain itu juga, kata – kata yang diucapkan oleh pembawa acaranya menurut norma yang ada di lingkungan saya, itu termasuk kata – kata yang kasar, dan tidak selayaknya diucapkan seseorang kepada teman – teman nya. Contohnya mentertawakan bentuk badan atau penampilan seseorang, makan dari kaki seseorang (ini sepertinya sudah pernah jadi viral dan diprotes sana sini), memukul kepala dan lain – lain.

Sehingga saya setuju dengan orang – orang yang menentang mas selebritas. Hal – hal yang dilakukan itu bukan lah “alay atau “kampungan”. Karena saya yakin, tidak ada tuh di kampung – kampung yang mengijinkan anak – anak nya saling memukul atau mentertawakan pembawaan seseorang . Atau berkata – kata kasar dengan orang lain.  Atau dari penjelasan tentang “alay”, tidak ada juga tentang kekerasan atau tentang kekasaran orang orang alay 🙂

Dan selain itu menurut saya, bukan “Alay” nya si pembawa acara atau si pengisi acara, yang menjadi masalah utama, tapi kualitas dari acara tersebut yang menurut standard saya atau mas selebriti tadi tidak mendidik anak – anak Indonesia.  Karena mungkin saja pembawa acaranya “alay”, tapi acara yang dibawakan nya bermutu, bisa menambah pengetahuan orang – orang yang melihatnya.

Menurut saya sebaiknya Komisi Pertelevisian Indonesia (KPI ?) mulai membuat standard yang jelas untuk setiap jenis tayangan di televisi. Sehingga setiap orang yang bekerja ditelevisi mempunyai standard yang sama tentang tayangan apa untuk siapa.  Setiap orang mempunyai standard mutu yang sama.

Saat ini mungkin saja, semua orang yang merasa tersindir oleh mas selebriti, merasa kalau apa yang mereka kerjakan sudah sesuai standard. Sedangkan mas selebriti mungkin merasa, semua orang seharusnya punya standard seperti beliau – sehingga beliau merasa sangat marah melihat ada orang – orang yang membuat tayangan tayangan seperti itu.

Dan kemudian yang paling miris dari permasalahan seperti sekarang, yang semestinya “keprihatinan” tentang kualitas tayangan di televisi Indonesia yang menjadi pembahasan, berubah menjadi pembahasan tentang hal- hal yang lain. Tentang “alay” misalnya. Atau tentang hubungan mas selebriti dengan rekannya. Atau tentang bagaimana angkuhnya sikap mas selebriti ini.

Sehingga, kembali lagi, permasalahan tentang kurang nya tayangan – tayangan berkualitas tidak menjadi pembahasan yang benar – benar serius dibahas 😦

Dan kembali lagi terulang, yang dilihat bukan apa isi kritiknya, tapi siapa yang mengkritik, atau bahwa yang bisa diterima adalah orang orang yang berbicara lemah lembut – walaupun sering kali terjadi, orang yang lemah lembut ini tidak perduli sama sekali, bahkan terkadang menjatuhkan orang lain secara diam diam. Sedangkan orang yang berbicara terbuka apa adanya, ceplas ceplos tidak bisa diterima karena dianggap terlalu kasar, walaupun apa yang dibicarakannya adalah kenyataan yang terjadi 😦

Posted in bangsa, berita, Indonesia, Indonesia ku, masyakat, media masa, tv, Uncategorized | Leave a comment

Karena selingkuh butuh persetujuan 2 pihak (tentang Pebinor dan Pelakor)

Saya tau mungkin ketika menuliskan ini, akan banyak orang yang kontra. Tapi ya akan saya terima lah, toh saya bermaksud baik ketika mengetik ini, walaupun saya kudu berpikir berpuluh kali ketika benar2x menuliskan ini di blog saya.

Setiap kali mendengar tentang “Pebinor” (Perebut bini (aka istri) orang) atau “Pelakor” (Perebut Laki (aka suami) orang), dan orang – orang yang menghujat orang2x yang dianggap Pebinor dan Pelakor ini, saya merasa miris. Saya tidak mengatakan bahwa yang mereka lakukan benar, atau saya tidak juga bermaksud membela mereka. Tapi menurut saya, salah banget kalau yang dimaki – maki, yang disudutkan hanyalah mereka.  Karena hubungan itu membutuhkan 2 pihak, sekali lagi 2 (dua) pihak.

Kalau cuman satu orang yang melakukan, ya tidak akan lah terjadi. Kalau ada satu pihak yang bilang “tidak”, tidak akan terjadi apapun. Pembelaan bahwa pihak yang satu itu “tidak kuat” karena selalu digoda, menurut saya itu adalah lelucon yang paling tidak lucu. Wong kalau sayang, kalau cinta, mungkinkah akan tergoda orang lain? Kalau bertanggungjawab, berkomitmen atas janji suci kepada Tuhan ketika menikah, mungkinkah akan menghianati pasangan (apapun alasannya)? Jadi kenapa yang disalahkan adalah “pebinor” nya atau “pelakor’nya? Coba tanyakan kembali kepada pasangan tentang cinta dan sayangnya, tentang komitmen nya kepada anda.

Mungkin kemudian, orang – orang yang merasa menjadi korban pebinor atau pelakor ini, merasa saya tidak pernah berada di posisi mereka.  Uhm ….. jawabannya, salah banget. Justru karena saya pernah berada diposisi itu, saya tau banget. Saya pernah menjalani pernikahan selama 4 tahun dan selama 3.5 tahun saya diselingkuhi. Saya tau banget bagaimana rasanya, saya tau banget bagaimana marah, sakit, sedihnya.

Sama seperti saya tau banget bagaimana terkadang justru yang menggoda duluan adalah orang – orang yang sudah mempunyai istri atau mempunyai suami. Dan bukan sebaliknya. Mantan teman hidup empat tahun saya itu adalah salah seorang yang sering banget diposisi ini hahahahahahahaha.

Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dengan kita. Lebih tidak menyakitkan untuk menyalahkan orang lain atas hilangnya cinta dan komitmen pasangan dibanding kalau mendengar hilangnya cinta atau rasa tanggung jawab terhadap komitmen karena kita punya andil di sana. Karena mungkin terlupa untuk “mendengar”, terlupa untuk bahwa rasa cinta itu seperti tanaman yang perlu dipupuk, perlu dirawat, agar tidak mati. Atau mungkin terlupa bahwa terkadang “ego’ kita membuat pasangan lupa akan tanggungjawabnya terhadap komitmen nya. Atau mungkin terlupa ….  kalau memang itu salah satu jalan yang dibuat Tuhan, untuk menyadarkan kita bahwa pasangan kita bukanlah yang terbaik untuk kita.

Buat saya, justru menjadi sangat miris ketika ada perempuan atau laki laki, yang kemudian memaki maki heboh pelakor atau pebinor, di depan publik, apalagi kemudian akhirnya jadi viral. Sementara, pasangan nya justru santai – santai, bahkan tidak sering merasa tidak salah (karena alasan digoda atau yang lebih takjub diguna guna oleh pelakor dan pebinor). Untuk apa membongkar aib keluarga di depan umum? Toh pelakor dan pebinor tidak mempunyai tanggungjawab terhadap hubungan anda, tidak mempunyani kewajiban untuk menjaga hubungan anda. Pasangan andalah yang mempunyai tanggungjawab dan kewajiban itu. Sehingga pasangan andalah yang seharusnya anda kejar untuk itu.

Bicaralah dengan pasangan anda, tanyakan kembali cinta dan rasanya kepada anda, mintalah pertanggungjawaban terhadap komitmen nya dengan anda. Kalau bisa diperbaiki, perbaikilah bersama – sama, mulai dari nol kalau bahasa iklannya. Tidak usah melarangnya bertemu dengan selingkuhannya, karena semestinya sih kalau pasangan benar – benar berkomitmen untuk memperbaiki, benar – benar mencintai anda, pastilah tanpa dilarang tidak akan bertemu dengan selingkuhannya. Kalaupun bertemu, pasti tidak akan berniat untuk selingkuh. Kalau merasa tidak bisa menerimanya,  ya berpisahlah baik baik. Tidak perlu heboh apalagi kemudian anak dibawa- bawa dalam “huru-hara” ini.

Kemudian untuk orang – orang yang berselingkuh padahal sudah terikat pada pernikahan, yukk “cooling down”. Ketika melihat terjadinya “kehebohan” antara pasangan anda dengan selingkuhan anda, apa yang anda pikirkan? Menyesal? Atau malah biasa saja? Bicaralah baik – baik dengan pasangan anda, mengertilah kalau mereka marah – jangan malah kemudian balik marah, toh yang melakukan kesalahaan tersebut itu anda. Coba posisikan diri anda diposisi mereka. Mungkin anda akan melakukan hal yang sama. Jujurlah kepada pasangan anda tentang cinta anda kepadanya, apa yang anda rasakan hilang darinya (mungkin dia tidak tau kalau itu hilang). Ingatlah kembali terhadap komitmen anda ketika menikah. Kalau memang tidak bisa diperbaiki, jujurlah kepadanya, dari pada anda kemudian  berpura – pura, tapi kemudian masih melakukan hal yang sama.

Cinta dan pernikahan itu bukan bahan becandaan. Enggak selayaknya dijadikan lelucon.  Atau kemudian mengatas namakan anak anda, status anda, image anda untuk mempertahankan hubungan yang bernama “pernikahan”. Kalau memang tidak cinta lagi, tidak bisa memegang janji yang terucap dihadapan Tuhan, di depan negara, lepaskanlah. Tapi kalau anda tetap ingin mempertahankan semuanya, keluarga dan selingkuhan, saran saya keep it secret, setidaknya tidak usahlah dipertontonkan didepan publik,  tetap “aware”, jangan lengah. Ingat jaman now ini, mudah sekali orang -orang merekam, menyebarkan segala sesuatu. Kasian kan selingkuhan anda dimaki2x di depan orang dan kemudian namanya tercemar (saya tidak mengingatkan tentang pasangan resmi anda karena spt yang saya sebutkan sebelumnya, kalau anda masih cinta atau sayang kepadanya, plus bertanggungjawab pasti anda tidak akan melakukan ini 🙂  ).

Buat orang – orang yang tercap sebagai “pelakor” or “pebinor” …. buru – buru lah tinggalkan mereka yang tidak membela anda ketika anda terjatuh. Tinggalkanlah orang – orang yang membebankan “tanggjungjawab”nya kepada anda.  Tidak usah marah, tidak perlu juga melakukan pembelaan, toh pasti apapun reaksi anda akan tetap dianggap salah. Keep smiling, say thank you.  Kalau anda masih mau bersama mereka yang sudah berpasangan, seperti saran saya – keep secret, tidak usah diumbar2x, tidak usah pamer atau malah mancing – mancing dengan segala bentuk foto bahkan vidio (bahkan vidio yang diburam – buramkan hahahahahahahhaa) yang di ekspos di medsos, ini kan seolah olah pingin tercyiduuuukkkk, dan yg penting jangan emosi kalau kemudian ada yang menjudge anda. Toh itu pilihan anda.

Jadi intinya …. ketika anda mengetahui pasangan anda berselingkuh – yang perlu anda pertanyakan, marahin, atau apalah adalah pasangan anda. Karena kalau dia bilang tidak mau, tidak akan terjadi perselingkuhan. Karena yang berjanji akan setia kepada anda didepan penghulu atau pendeta atau biarawan atau negara adalah pasangan anda bukan selingkuhannya 🙂

Salam damai – semoga keluarga anda rukun dan bahagia sampai akhir nanti. Aaamiin.

 

Posted in Indonesia ku, jodoh, komitmen, penting or tidak penting, orang baik, kejujuran, laki laki, manusia, masyakat, masyarakat, perempuan, Perpisahan, pria, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , | 3 Comments

Sempurna di dalam Ketidaksempurnaan

Ketika mengetik ini, saya sedang sendirian di kantor, menunggu kursi pesanan saya untuk kantor yg baru, sambil menggogle mencari data untuk bahan meeting hari Rabu nanti. Bukan berarti saya rajin banget, sampai kudu masuk ketika semua teman kantor saya libur, tapi karena memang ada kewajiban – kewajiban saya yang kudu saya jalanin sehingga saya berhak mendapatkan hak saya sebagai pegawai di akhir bulan nanti. Hahahahahaahaa.

Saya tiba tiba teringat tentang salah seorang artis yang sudah meninggal dunia karena penyakit kanker. Isu nya sebenarnya kankernya bisa terobati, kalau saja beliau mau rahimnya diangkat. Tetapi beliau menolak, karena merasa apabila rahimnya di angkat maka beliau tidak akan bisa menjadi wanita sempurna yang bisa melahirkan anak dari rahimnya sendiri. Apakah isu itu benar? Entahlah, yang saya ingin bicarakan tentang apakah perempuan yang tidak bisa melahirkan anak atau mandul itu bukanlah perempuan yang sempurna?

Di umur saya yang sekarang ini, saya belum mempunyai rejeki untuk mempunyai anak yang lahir dari rahim saya sendiri. Dan, tentulah, kadang – kadang terbesit dipikiran saya, mengapa saya belum bisa seperti perempuan – perempuan yang lain, menikah, punya anak, dan kemudian dipanggil sebutan indah “ibu” oleh anak yang dilahirkannya.

Tidak jarang juga saya merasa iri dengan teman – teman saya atau saudara saudara saya yang sedang menikmati masa kehamilan mereka, atau menikmati masa – masa membesarkan bayi mereka atau bahkan tentang bagaimana mereka harus berjuang menurunkan badan setelah melahirkan maupun menyusui.

Tidak terkira juga  banyaknya malam yang saya habiskan untuk berperang melawan kerinduan saya menjadi seorang ibu. Sering terbesit agar saya mengangkat seorang anak untuk mengobatinya, tetapi kemudian terpikirkan kembali, apakah saya tidak egois, mengangkat anak hanya karena untuk memenuhi ego saya, bukan karena alasan cinta.

Saya bukanlah satu satunya perempuan yang mengalami masalah ini. Banyak banget perempuan – perempuan di luar sana, yang mengalami masalah seperti saya. Seperti contohnya almarhumah artis yang saya ceritakan sebelumnya.

Lingkungan sekitar yang sering kali karena perhatian yang besar kepada perempuan – perempuan seperti saya, membuat perasaan tidak sempurna sebagai perempuan semakin menguat. Apalagi kalau kemudian ditambah pertanyaan tentang apakah saya memang tidak mau menjadi ibu, apakah saya sibuk memikirkan kerja sehingga tidak mau menjadi ibu. Plus peringatan – peringatan tentang usia ideal untuk melahirkan maupun bahaya – bahaya kalau melahirkan melewati umur tersebut dan kemungkinan terbesar untuk tidak bisa mempunyai anak dari rahim setelah melewati umur umur tertentu.

Pembicaraan – pembicaraan seperti ini sering kali kemudian mempengaruhi saya ketika saya memulai hubungan dengan seorang pria. Apalagi kalau pria tersebut pingin sekali menikah dan pingin sekali punya anak. Begitu ketakutannya saya, sehingga tidak jarang yang saya lakukan kemudian adalah menjauhinya bukan menjelaskan apa yang saya rasakan. Ketakutan untuk ditolak karena alasan ini, membuat saya seringnya mengambil langkah untuk lebih baik menghindar dari pada nanti nya saya merasa harga diri saya yang sering kali ketinggian melewati pohon kelapa. Hahahahahhaaha. Ketakutan saya terhadap yang belum terjadi memang sering sekali membunuh saya. (yup … . lebay banget ya. Hahahahaa).

Menjelang pergantian tahun baru kemarin, seolah olah diingatkan sama Tuhan Sang Maha Kuasa, saya membaca buku yang isinya tentang kesempurnaan tersebut. Intinya, bagaimana mungkin Tuhan menciptakan seseorang tidak sempurna, karena Dia akan selalu memberikan satu kelebihan untuk menutupi kekurangan, contohnya orang 0rang yang tidak bisa melihat, biasanya mempunyai kekuatan untuk melihat sesuatu melalui mata batin nya, kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang orang yang bisa melihat. Masalahnya, kadang – kadang saya tidak mampu untuk melihat kelebihan yang diberikan Nya, karena ditutupi oleh kesedihan saya yang berlebihan terhadap kekurangan yang saya miliki.

Jadi intinya, dimataNya saya tetaplah sempurna(didalam ketidaksempurnaan yang saya bandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain), karena pasti ada kelebihan yang diberikan Nya. Selain itu juga siapa yang bisa bilang “tidak” kalau suatu saat, Tuhan malah memberikan saya kesempatan yang sama seperti perempuan – perempuan lain. Kun Fayakun.

Jadi, untuk seluruh perempuan – perempuan yang mempunyai masalah seperti saya, yuuk sama sama untuk selalu berpikiran positif, saling mengingatkan satu sama lain kalau sedang merasa down karena masalah ini. Untuk selalu ingat kalau Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang tidak sempurna.

Wish you all the best in 2018.

Salam sayang

Posted in empowering women, menghargai, penguatan perempuan, perempuan, sempurna, tidak sempurna, Tuhan, Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment