Hijrah – Antara Mengikuti Trend dan Spritualitas

Belakangan ini, kata – kata yang paling sering saya dengar adalah kata Hijrah. Banyak sekali orang – orang yang saya kenal maupun tidak kenal, mulai dari kalangan biasa sampai kalangan selebriti membicarakan hal ini. Biasanya kemudian diikuti dengan perubahan dari gaya berbusana. Untuk perempuan dari yang tadinya (setengah) terbuka menjadi tertutup dari rambut sampai mata kaki, dari tadinya menggunakan jilbab model pendek menjadi menggunakan gamis dengan jilbab panjang panjang melewati dada. Untuk yang laki – laki, mulai sering menggunakan baju koko, baju – baju gamis laki – laki (maaf saya tidak tau namanya J), sampai mulai menumbuhkan jenggot plus memakai celana yang mengatung sampai di atas mata kaki.

Tidak hanya pakaian yang berubah, gaya menulis – yang kemudian semakin sering menggunakan bahasa Arab dan diikuti dengan penulisan Arabnya, tidak lagi menerima untuk bersalaman dengan yang berbeda lawan jenis sampai dengan maraknya pengajian – pengajian antara sesama teman yang berhijrah. Banyaknya pengajian – pengajian  ini juga diikuti dengan banyaknya bermunculan ustad – ustad muda, yang berasal dari kalangan artis maupun ustad – ustad muda yang berasal dari selegram ataupun selebtweet. Terakhir yang juga trending yang saya baca adalah tentang ajakan untuk menikah muda agar tidak berbuat zinah.

Saya sendiri sebenarnya merasa Trend Hijrah yang sedang marak ini cukup oke, terutama banyak juga saya melihat teman – teman saya yang memang terlihat (semakin) cantik dengan menggunakan jilbab ini, atau banyak teman – teman saya beserta keluarganya yang terlihat harmonis karena menghadiri pengajian bersama – sama.

Tapi kemudian terjadi hal – hal lain selain fenomena perubahan yang disebutkan di atas.

Pertama: saya sering bingung ketika menuliskan ucapan selamat ulang tahun, atau semoga cepat sembuh, ikut berduka cita atau bahkan ketika mengucapkan selamat menjalankan puasa, dan selamat lebaran. Karena kebanyakan terutama di group WA itu menggunakan Bahasa Arab, yang sejujurnya saya tidak mengerti maknanya (saya belajar Bahasa Arab itu agar bisa membaca Alquran dan bisa sholat dengan Bahasa Arab, tapi tidak benar – benar belajar Bahasa Arab seperti saya belajar Bahasa Inggris maupun Bahasa Jerman).

Ingin menuliskan dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris yang maknanya lebih saya mengerti dan saya yakin juga dimengerti oleh yang menerima – tapi kemudian terasa seperti pendosa hahahahahahahaha. Akhirnya jadilah biasanya saya hanya mengcopy paste apa yang diucapkan orang – orang sebelumnya yang menggunakan Bahasa Arab itu. Walaupun sungguh, saya tidak tau apa maksud yang dituliskan. Hal yang sama terjadi juga ketika berkomunikasi langsung.

Kedua: saya sering bingung ketika bertemu dengan teman saya yang berbeda jenis kelamin dengan saya. Karena saya tidak tau apakah dia mau menerima tangan saya untuk bersalaman? Terutama kalau teman saya itu membawa istrinya. Sama seperti ketika saya menggunakan rok atau celana selutut. Saya tidak tau apakah dengan pakaian saya itu saya boleh menegur mereka? Atau itu terlihat seperti saya akan menggoda mereka? Akhirnya sering sekali, saya pura – pura tidak melihat kalau ada teman saya yang seperti nya sudah berhijrah ini melintas di dekat saya.

Ketiga: yang ini sebenarnya yang paling menyedihkan saya, rasa toleransi terhadap yang berbeda dari mereka hampir tida ada lagi. Kebanyakan dari orang – orang yang saya kenal berhijrah ini, sering sekali melontarkan kata – kata yang menganggap apapun yang mereka lakukan adalah benar. Mudah sekali buat mereka untuk menyatakan seseorang tersebut “kafir”,  terutama kalau itu berbeda dari mereka. Mudah sekali untuk menghakimi orang lain. Dan tidak sekali dua kali saya membaca tulisan – tulisan mereka di medsos maupun ujaran – ujaran mereka di channel seperti Youtube yang penuh dengan kebencian. Mudah sekali kata kasar yang tidak pantas  diketikkan atau terucap dari mereka. Seolah – olah karena sudah berhijrah, mereka berhak untuk mengatakan apapun terhadap orang lain yang tidak seperti mereka.

Mudah sekali teman – teman yang berhijrah ini terbawa emosi, malah lebih mudah dari pada saya yang memang sudah dicap pemarah. Dan sulit sekali untuk berdiskusi dengan mereka, bertukar pendapat. Terutama tentang apa yang mereka yakini benar – apalagi kalau ucapan tersebut sudah diucapkan oleh ustad yang mereka anggap sebagai guru mereka. Padahal banyak dari mereka yang saya tau dulunya tidak seperti ini.  (Btw: Tulisan ini juga mungkin salah satu yang akan menyebabkan saya dicaci maki orang – orang yang berhijrah atau tidak lagi dianggap sebagai teman mereka. J ).

Bukankah Islam itu agama yang mengajarkan kelembutan? Bukankah Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang? Saya malah pernah menonton di Youtube tentang seorang bapak di Amerika yang memaafkan orang yang membunuh anaknya. Si bapak ini mengatakan kata – kata yang sangat halus dan menyentuh hati kepada pembunuh anaknya tersebut, sehingga si pembunuh dan keluarganya menangis dan meminta maaf. Dan kejadian itu membuat seluruh orang di ruang pengadilan bahkan saya yakin orang yang menonton mengangumi bapak itu dan Islam. Karena si bapak menyatakan begitulah yang diajarkan di Islam. Dan memang  itu Islam yang saya tau.  Itu Islam yang diajarkan oleh guru ngaji saya, sewaktu saya kecil. Agama yang mengajarkan tentang maaf, kasih dan cinta.

Karena itu kemudian saya menanyakan Tuan Google, apakah sebenarnya arti kata HIJRAH itu. Dari beberapa web (www.nu.or.id ; www.majelispenulis.blogspot.com;), disimpulkan bahwa Hijrah mengandung pengertian memberikan hati semata – mata kepada Allah, bukan kepada selain Nya. Hijrah tidak dimaknai perpindahan arti fisik, geografis atau perilaku yang kasat mata.

Walaupun dari kamus bahasa Indonesia : https://kbbi.web.id, hijrah itu adalah perpindahan Nabi Muhammad saw besama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah utk menyelematkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir, 2: berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan dan sebagainya).

Dan kemudian saya merenung pada fenomena Hijrah yang saat ini  terjadi. Kemudian saya berpikir, mungkin ini sebabnya kenapa Ayat pertama dalam AlQuran adalah IQRA, yang artinya BACALAH. Yang mungkin dalam pengertian yang lebih luas, dimaksud agar apapun fenomena yang terjadi – cobalah mencari tau dengan membaca, dengan belajar. Bukan hanya dari ucapan orang – terutama apabila orang tersebut menawarkan surga, kalau mengikutinya. Karena kalau surga itu tidak ada, atau kalau tidak ada pahalanya, apakah kita tidak akan melakukan sesuatu yang baik?

Sebab berdasarkan dari kamus bahasa Indonesia, yang dijadikan pedoman dalam menulis dan berbahasa di Indonesia, hijrah yang dimaksud berbeda sekali dengan apa yang dilontarkan oleh banyak orang – orang yang saya tau. Karena  tidak ada dari mereka yang berpindah ke tempat lain. Dan mereka yang saya kenal juga bukan lah orang yang tinggal di daerah perperangan. Jadi terus terang berdasarkan kaidah bahasa Indonesia, tindakan seperti ini tidak bisa di sebut dengan hijrah.

Dan mengikuti pengertian hijrah berdasarkan website yang ada, arti hijrah berbeda dari fenomena yang ada sekarang. Hijrah – berarti melakukan semua nya sesuai dengan kehendak Allah, sesuai keinginan Allah, sesuai dengan perilaku nabi. Bukan hanya berubah cara berpakaian, atau berbicara dengan bahasa Arab, atau anti terhadap yang berbeda.

Hijrah itu bukanlah trend – bukan sekedar berganti cara berpakaian,  malah semustinya kalau sudah berhijrah, ya tidak lagi memikirkan kekayaan – kekayaan dunia, atau sibuk memikirkan untuk memiliki barang – barang bermerk, atau menjadi netijen julid yang menghakimi orang – orang lain, atau berselfie – selfie di medsos yang diikuti dengan kata – kata yang berbahasa ke Arab-araban atau bahkan berdoa melalu medsos. Hijrah berarti tidak lagi menginginkan rumah yang mewah, gaji yang besar, liburan ke negara – negara lain, mempunyai istri kedua, ketiga dst, menginginkan kekuasaan dll, sibuk berprasangka buruk kepada orang lain, menghitung – hitung pahala dari setiap yang dilakukan, menginginkan untuk dimengerti oleh semua orang, menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain, sibuk memperhatikan kehidupan orang lain, merasa dirinya paling benar dan berhak untuk menghakimi orang lain, dll.

Hijrah semustinya membuat diri menjadi rendah hati. Hijrah itu mengajarkan kesederhanaan. Hijrah semustinya membuat orang menjadi bijaksana. Sehingga, orang yang berhijrah itu akan terlihat bukan dari status medsosnya kalau dia sudah hijrah, bukan terlihat dari cara berpakaiannya yang lebih tertutup, bukan dari cara berbicara yang keArab – arab an. Tapi orang yang berhijrah akan terlihat dari cara berbicara nya yang lembut, cara nya berpikir yang bijaksana (bukan merasa benar sendiri), pembawaannya yang tenang yang mampu membawa kedamaian bagi sekelilingnya, rendah hati, dan sederhana.

Hijrah semustinya membuat diri mampu untuk menahan hawa nafsu. Hijrah mengajarkan untuk selalu menyerahkan segalanya kepada Allah atas apapun yang terbaik yang telah dilakukan. Mengajarkan untuk Ikhlas. Karena Allah tau apa yang terbaik. Hijrah berarti menggunakan seluruh kemampuan yang diberikan Allah, untuk sesuatu yang baik. Bukan malah menjual – jual nama Allah untuk mendapatkan penghasilan, kekuasaan, atau agar dihargai orang lain.

Sehingga ketika orang lain melihatnya, orang sudah tau kalau orang tersebut sudah berhijrah. Ketika orang lain melihatnya, mereka juga tergerak untuk melakukan hal yang sama – bukan tergerak karena cerita – cerita ancaman  yang akan diberikan Allah, kalau tidak berhijrah.

Teorinya, kalau banyak umat Muslim yang berhijrah, semustinya Indonesia menjadi tempat yang paling damai di dunia. Kalau banyak umat Muslim yang berhijrah, semustinya Indonesia bukan negara pengguna medsos paling besar, atau bukan negara yang termasuk paling konsumtif di dunia.

Jadi, kalau sebaliknya yang terjadi, seperti sekarang? Uhm … mungkin harus diperhatikan kembali apa niat dari hijrah itu sendiri. Apakah hanya sekedar trend, atau memang karena Allah swt. Selain itu, ada kata – kata almarhumah senior saya yang menjadi tagline di email beliau, yang menurut saya perlu  direnungkan, apabila kita melakukan sesuatu :

“Jangan membenarkan yang biasa, tapi biasakanlah yang benar”.

Salam

Posted in agama, bangsa, hijrah, Indonesia, Indonesia ku, jilbab, manusia, ritual, trend/gaya hidup, Tuhan, Uncategorized | Leave a comment

Surat Terbuka untuk Ibu Neno Warisman

Surat terbuka ini saya tujukan kepada ibu Neno Warisman, mengingat saya tidak mempunyai alamat email atau Media sosial yang lain yang bisa langsung berhubungan dengan ibu Neno Warisman yang baik hati. Mungkin dengan surat terbuka ini, ada yang akan menyampaikan kepada ibu yang saya rasa berhati seluas samudera.

Ibu, saya terkesima sekali pertama sekali mendengar tentang puisi yang ibu bacakan pada saat Munajat 212. Saya hampir tidak percaya apa yang saya dengar dan baca, sampai saya mencoba mencari di youtube dan mendengar berkali – kali isi video bahkan saya mencari dari berbagai sumber, karena menginginkan kebenaran.

Ibu, maafkanlah saya kalau perasaan saya salah, karena saya merasakan kemarahan yang begitu hebatnya ketika ibu membacakan puisi tersebut. Bukan kelembutan seorang perempuan penyanyi yang pernah saya kenal, tapi kemarahan dari seorang perempuan yang merasa takut dan merasa tidak aman, sehingga kemudian melontarkan kalimat seperti yang ibu utarakan.

Ibu, sebagai seorang yang beragama, tidak sekalipun saya pernah merasa akan melepaskan iman dan kepercayaan saya kepada Allah, hanya karena pemimpin yang terpilih bukanlah pimpinan yang saya inginkan. Tidak pernah terlintas juga dikepala saya, akan mengancam Allah yang saya benar – benar percaya akan memberikan yang terbaik kepada umatNya, akan berpaling dari padaNya hanya apabila ada yang saya inginkan tidak tercapai.

Allah mungkin tidak memberikan seluruhnya yang saya minta, bahkan kadang – kadang sering sekali oleh Nya diberikan banyak hal yang saya pikirkan adalah cobaan, padahal setelah saya melewatinya ternyata adalah pilihan terbaik buat saya, karena kalau saya tidak melewati itu maka saya tidak akan menjadi seperti saya yang sekarang. Karenanya saya selalu meyakini, Allah selalu tau apa yang terbaik, Allah selalu tau kapan waktu yang terbaik, tanpa perlu diancam, tanpa perlu saya marah ataupun kecewa. Saya tau besarnya cinta Allah kepada saya, walaupun sampai saat ini masih banyak yang perintahNya yang saya lalaikan. Dan sekali lagi, saya tidak pernah meragukan kehebatan Allah, karena Allah adalah sang Maha, yang tidak selayaknya mendapatkan ancaman dari saya.

Ibu Neno yang budiman, saya kemudian mencoba melihat dari sudut pandang ibu, yang mungkin sedang marah dan kecewa, kemudian saya teringat kepada ustad – ustad saya yang selalu mengajarkan kepada saya yang memang pemarah ini tentang kesabaran. Sabar untuk menjalani apapun yang terjadi. Untuk tidak langsung marah dengan keadaan, karena banyak hal yang akhirnya akan kita sesali ketika kita marah. Dan banyak hal juga yang tidak sempat saya syukuri ketika saya marah. Dan banyak orang yang menjauh dari saya karena kemarahan yang terlontar.

Kemudian tadi pagi saya mulai menggoogle tentang marah dan Islam, dan alhamdullilah ternyata banyak sekali jurnal – jurnal yang menulis tentang hal ini. Saya ambil beberapa  ya bu:

Dalam Ta’Dib, Vol XIII, No. 02, Edisi November 2013, tentang Teori Kompensasi Marah dalam Perspektif Psikologi Islam yang ditulis oleh Indah Wigati, fakultas Tarbiyah dan Kegururan IAIN Raden Fatah Palembang, ditulis:

Q.S Ar. Ra’Ad 28 : “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan tentram.”

Q.S As-Syara’ 43: “Barang siapa yang sabar dan suka memafkan, sungguh hal yang demikian itu termasuk hal yang diutamakan.

Dari ayat – ayat di atas maka marah adalah:

  1. Marah merupakan pemberian Allah yang harus mampu dikendalikan.
  2. Marah hendaknya harus ditahan dan dikendalikan.
  3. Allah mencitai orang-orang yang pemaaf.

Al Ghazali berkata: Manusia berbeda – beda dalam tingkat gejolak kemarahannya, dan dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu: kurang marah, marah yang melewati batas, dan marah yang stabil. Kurang marah adalah hilangnya kekuatan gejolak marah atau gejolak amarahnya tersebut lemah. Marah yang berlebih – lebihan adalah mendominasinya sifat amarah hingga mengalahkan kendali, akal, agama dan ketaatan, sehingga tidak ada bagi orang seperti ini suatu kesadaran, fikiran dan inisiatif. 

Kemudian di dalam jurnal yang lain yang ditulis oleh R. Rachman Diana (program studi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang berjudul “Pengendalian Emosi Menurut Islam yang dimuat dalm UNISINA, Vol. XXXVII No. 82 Januari 2015:

Selain sabar: ajaran Islam melalui lisan Nabi Muhammad mengajarkan tentang pentingnya pengendalian emosi dengan cara banyak bersyukur. Syukur ini sebuah bentuk pengakuan bahwa segala kenikmatan berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya kapanpun Dia kehendaki. Sikap ini dalam menjaga seorang mukmin dari sikap berlebihan (euforia) dalam menerima kesulitan maupun kemudahan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S 57:23 sebagai berikut:

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Pemaafan (forgiveness) adalah strategi koping yang penting dalam Islam. Rasulullah S.A.W adalah pribadi agung yang sangat terkendali emosinya dan mampu menannggung amarahnya terhadi stimuli negatif yang dihadapi. Al Quran menggambarkan bahswa sekiranya beliau termasuk orang yang suka mengumbar amarah, niscaya umat telah meninggalkannya (QS 3:159). Menahan amarah bukan berarti menyimpannya yang sewaktu waktu diletupkan. Pemberian maaf adalah sebuah proses meleburkan semuanya dan menghadirkan kelapangan hati. 

Salah satu ayat yang menjelaskan tentang keuatamaan memberi maaf, diantaranya:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi juka kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang – orang yang  bersabar.” (QS an-Nahl/16:126-127).

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang – orang yang zalim.” (QS asy-Syuura/42-40).

Begitulah ilmu yang saya dapat ibu Neno Warisman yang baik yang bisa saya bagi kepada ibu. Allah tidak menyukai kekerasan, yang menurut saya, berarti Allah juga tidak menyukai segala ancaman, apalagi ancaman tersebut ditujukan kepadaNya.

Saya yakin dan percaya, Allah juga tidak bermasalah ketika banyak yang berpaling dariNya, toh Beliau yang Maha, Penguasa di atas Penguasa. Yang misalkan pendukung nya hanya satu orang, tidak akan mengurangi segala kehebatanNya.

Allah mencintai kedamaian, karena itu Islam adalah ajaran agama yang damai. Karena itu banyak ayat – ayat tentang pengendalian emosi. Banyak ajaran tentang “Ikhlas”. Begitu juga banyak cerita bagaimana sabarnya Nabi Muhammad S.A.W, bagaimana santunnya Beliau, bagaimana orang banyak mencintai Nya karena kebijakannya.

Saya tidak mengatakan saya adalah orang yang paling sabar. Tidak sama sekali. Justru karena saya pemarah, saya bisa sedikit memahami mengapa ibu menuliskan puisi seperti itu. Walaupun, saya belum bisa mengerti, mengapa ibu mengancam Allah SWT seperti itu? Dipikiran saya yang pendek ini, saya belum bisa memahami bagaimana saya bisa sesombong itu mengancam Tuhan. Maaf kan saya ibu untuk bagian ini. Maafkan saya, kalau saya salah tafsir. Tapi itu yang saya rasakan.

Sekali lagi ibu Neno Warisman, dan juga mungkin pemuka – pemuka agama Islam yang saat ini sedang dilanda kemarahan. Sedang merasa frustasi, kecewa dan takut. Hayuk mari, dibuka kembali Al Qurannya, dibaca kembali ayat – ayatnya, diresapi, sehingga hati merasa tentram.  Sehingga berani menghadapi apapun yang terjadi, berani dengan keyakinan kalau Allah akan ada membantu. Tidak lagi marah – marah, atau lari tanpa mau menyelesaikan masalah. Dan kemudian kata – kata yang terjalin, kalimat – kalimat yang dilontarkan adalah kalimat indah memuji Allah SWT, yang damai, yang sabar yang penuh ketenangan. Aamiin.

Salam Damai, maafkan kalau ada kata – kata saya yang kurang berkenan.

Kharina Dhewayani.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mari warnai anak dengan cinta

Salah satu yang sering sekali saya temukan ketika menjadi volunter di salah satu training di Jakarta, adalah cerita tentang masa kecil yang kelam, yang terjadi pada anak dan dilakukan umumnya oleh orang tua, maupun keluarga terdekat yang kemudian terbawa sampai dewasa. Tidak jarang luka – luka masa kecil ini lah yang menyebabkan seseorang bersikap tertentu terhadap orang lain atau terhadap suatu  kejadian.

Tidak menjadi masalah kalau hasil dari luka masa lalu tersebut menjadi kan seseorang bersikap positif atau berubah ke arah positif, yang menjadi masalahnya luka masa kecil tersebut sering sekali menghasilkan sikap atau perubahan ke arah negatif.

Dan parahnya kejadian – kejadian ini dan perubahan – perubahan negatif ini sering banget tidak disadari oleh orang tua. Malah tidak jarang juga, orang tua semakin marah kepada anak karena perbuatan yang mereka lakukan (padahal itu adalah akibat dari apa yang mereka lakukan sebelumnya).

Misalnya pemukulan yang dilakukan oleh orang tua yang dilakukan secara brutal sampai menyebabkan luka, atau penguncian anak di ruang tertutup dan sebagainya. Si anak mungkin sampai saat dewasanya akan merasa trauma terhadap ruangan tertutup, menjadi pembohong agar disukai oleh orang lain, tidak bertanggungjawab terhadap kesalahannya dst. Bahkan perubahan menyukai sesama jenis, karena pelecehan yang dilakukan oleh orang tua atau orang terdekatnya yang sama jenisnya, sewaktu kecil yang  tidak berani diceritakan karena takut dimarahi kalau menceritakan kejadian tersebut.

Sering sekali saya tidak bisa menahan air mata dan ikut merasakan sakit yang sama ketika mereka menceritakan masa lalunya. Terbayang, si anak kecil yang bagai kertas putih ini diwarnai dengan warna – warna kelam, dan anak – anak ini tidak tau harus bagaimana, tidak tau harus melakukan apa, dan tidak bisa bilang tidak atau lari. Mereka hanya bisa menerima dan menerima dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan agar tetap bertahan. Termasuk dengan berbohong, pura – pura kuat, bahkan sampai pada tahap mematikan apapun rasa yang ada di mereka.

Saya pernah juga bertemu dengan seseorang yang berwajah ganteng luar biasa dan pintar sekali, yang tidak punya rasa percaya diri sama sekali, bahkan sudah dalam tahap minder. Sampai mungkin berjuta orang yang bilang, dia ganteng, dia tidak percaya sama sekali. Dan tidak pernah percaya diri untuk melakukan apapun karena merasa dia tidak cukup baik untuk apapun. Dan karena itu, bahkan untuk seumuran hampir 30 an juga tidak pernah berani untuk mandiri, atau mengetahui yang dia lakukan.

Kenapa? Karena dari kecil orang tuanya terutama ibunya selalu mengatakan bahwa kakaknya jauh lebih baik dari dia, dan dia adalah anak yang tidak bisa apapun berulang – ulang tidak perduli walaupun sebenarnya sang anak pernah mempunyai prestasi sendiri. Sedih banget kan?

Sedih sekali juga ketika mengetahui mereka yang sering dicap orang – orang sombong, tidak punya hati, pemalas, pemalu atau apapun itu dahulunya adalah anak – anak lucu yang lugu yang mendambakan kasih sayang orang tua dan orang – orang dewasa di sekitarnya.

Saya mengerti juga, banyak orang tua yang tidak tau sebenarnya apa yang mereka lakukan terhadap anaknya. Banyak orang tua yang tidak bermaksud dan malah tidak berpikir bahwa apa yang mereka lakukan akan berdampak sebegitu besarnya terhadap anaknya. Tidak ada sekolah terbaik yang mengajarkan bagaimana menjadi ayah dan ibu yang baik. Tidak ada buku yang bagus banget yang mengajarkan bagaimana menjadi ayah dan ibu yang sempurna.

Tetapi saya yakin juga kalau setiap orang tua, jauh didalam hatinya ingin agar anaknya mendapatkan yang terbaik, menginginkan masa depan yang bagus dan cemerlang untuk setiap anaknya. Walaupun mungkin yang belum disadari oleh orang tua adalah “standard” baik menurut orang tua tidak sama dengan anak. Yang terbaik menurut orang tua, mungkin bukan yang terbaik yang dirasakan oleh anak – anaknya. Dan yang mungkin belum disadari oleh orang tua juga, setiap anak tetaplah manusia yang mempunyai perasaan dan bisa terluka juga.

Jadi kalau begitu, apa yang harus dilakukan? Ya, menurut saya setiap orang yang dewasa,  coba deh melihat kembali apa yang terjadi di masa lalu yang menyebabkan kepercayaan – kepercayaan negatif tentang diri sendiri, misalnya kalau minder, narsis, pemarah, pemalu etc (tanpa bermaksud mengiklan – kalau pingin banget untuk melihat ini, hubungin saya, nanti saya akan berikan data tentang training tersebut melalui jalur pribadi). Dan percayalah, apapun yang orang katakan tentang anda itu sebenarnya tidak penting, yang penting – apa yang anda katakan tentang diri anda sendiri. Plus, maafkanlah orang tua anda karena mereka tidak tau apa yang mereka lakukan.

Untuk orang tua atau mau menjadi orang tua, anak – anak sebenarnya butuh cinta dan perhatian dari anda. Mereka mahluk kecil yang paling mudah untuk meniru dan paling mudah untuk langsung menyimpan apapun yang mereka terima, dan itu efeknya bisa sampai ke masa depan mereka. Mereka tidak memerlukan orang tua yang sempurna, mereka hanya memerlukan orang tua yang mau menerima mereka apa adanya dan orang tua yang percaya bahwa mereka mampu mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

Jangan membawa dan menimpakan kekesalan anda kepada anak, karena mereka tidak bisa melawan, jangan melampiaskan napsu amarah atau napsu apapun yang anda punya kepada anak anda, karena mereka bukan pemuas nafsu.  Jangan pernah menyamakan standard yang anda miliki kepada anak anda karena, anda dan anak anda adalah dua pribadi yang berbeda walaupun dialiri darah yang sama.

Salam

 

Posted in Anak, bapak rumah tangga, ibu, kekerasan seksual, komitmen, penting or tidak penting, orang baik, kejujuran, laki laki, maaf, manusia, memaafkan, mendengar dengan hati, orang tua, pengalaman, masa lalu, cap buruk, label buruk, hambatan hidup, pria, sempurna, tidak sempurna, ucapan, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Pengalaman Masa Lalu

Kalau bicara soal pengalaman, asumsi saya – yang paling diingat sampai detail itu biasanya pengalaman yang paling berkesan yang mungkin bisa merubah kehidupan. Baik pengalaman yang buruk maupun pengalaman yang baik, walaupun katanya sih pengalaman yang sering tertanam dan merubah kehidupan ya pengalaman yang buruk lah. Benar atau tidaknya saya enggak tau sih.

Di saya sendiri, banyak banget pengalaman – pengalaman buruk, yang membuat saya mempunyai pandangan istimewa (negatif or positif) terhadap sesuatu. Misalnya karena ayah saya meninggalkan saya dan keluarga saya, maka saya dulu sering berpikiran kalau orang lain pun (laki- laki) akan melakukan hal yang sama terhadap saya. Sehingga, sewaktu mempunyai pasangan – yang pertama ada dibenak saya itu seringnya adalah kapan ya orang ini meninggalkan saya.

Maka jadilah saya, mulai deh melakukan hal – hal yang aneh ketika belum juga meninggalkan saya, dan seringnya adalah tuduhan kalau pasangan saya itu selingkuh. Padahal ya (kalau dipikir – pikir sekarang), mungkin juga tidak berpikiran selingkuh, tapi karena saya nya yang menghakimi begitu terus – terusan plus ditambah pakai marah -marah  yang luar biasa besar kalau dia melakukan sedikit (malah sangat sedikit – atau bahkan sebenarnya sepele banget). Ya kalau begitu, wajarlah orang merasa enggak nyaman ya dengan saya?Hahahahhaa

Apakah sampai disitu saja? Ya enggak lah …. apalagi sewaktu itu saya sedang menyenangi peran drama queen. Hahahahhaaha. Ketika ditinggalkan karena pasangan saya benar – benar berselingkuh dengan orang lain, maka mulailah saya mengatakan kepada orang – orang kalau sayalah “victim” aka korban dari para lelaki ini. Hahahahahhaaa. Yes … Saya emang keterlaluan yaaa. Ampuni saya yaaaaaa.

Dan ketika kemarin saya belajar ttg “assessment” atau “assertion”, bagaimana orang pingin selalu “benar” atas pikirannya, sehingga kalaupun ada laki – laki yang baik saya pasti akan mencari cari cara untuk dia meninggalkan saya, – karena saya ingin membuktikan bahwa pikiran saya benar, maka saya kemudian mulailah mencatat di buku saya, apa – apa saja pengalaman buruk yang membuat saya berpikiran buruk dan mencap sesuatu atau seseorang itu buruk, sehingga hubungan saya dengan orang lain menjadi buruk atau saya tidak bisa mengejar mimpi – mimpi saya, karena terhalang oleh cap buruk yang telah saya buat  secara umum terhadap sifat sesuatu atau seseorang.

Jangan tanya berapa banyak ya catatan yang saya buat. Hahahahhaaha. Dan dari catatan saya, ternyata banyak tuh cap2x atau label2x yang saya buat yang sebenarnya adalah karena pengalaman buruk saya di masa lalu. Dan yang paling membuat saya merasa terkejut karena, beberapa cap2x atau label yang saya buat untuk sesuatu atau orang lain itu ternyata yang menghalangi saya untuk mendapatkan apa yang saya inginkan.

Sekarang ketika saya berpikiran buruk terhadap sesuatu atau seseorang, saya mulai bertanya, apakah itu memang benar kenyataan nya bahwa sesuatu atau seseorang itu buruk, atau sebenarnya cuman judgment/ penghakiman saya saja karena masa lalu saya. Rugi banget kan saya ya kalau begitu. Salah satu hasilnya ya itu … masih jomblo sampai hari ini. Yang rugi kan saya ya .Hahahhhahhaahhahaa

Ajakan saya, yuuk mulai lakukan seperti saya, membuat daftar tentang cap2x atau label2x yang kita buat tentang sesuatu atau seseorang, dan meredesign label2x yang negatif itu dengan mereka ulang kembali, apakah cap2x atau label tersebut benar begitu adanya, atau itu hanya karena pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan. Semoga bermanfaat.

Salam

Posted in pengalaman, masa lalu, cap buruk, label buruk, hambatan hidup, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment