Tentang Integritas – Sebuah catatan diri

Sudah lama banget, saya tidak menulis di blog, walaupun setiap hari banyak banget yang ingin saya ceritakan, terutama selama perjalanan pergi dan pulang dari kantor saya yang cukup menyita waktu saya. Dan lagi lagi ketika sampai kantor atau sampai rumah, keinginan untuk membuka blog dan mengetikkan sesuatu di sana, seperti hilang tanpa bekas haahaaaahahaahaha

Kali ini saya ingin bercerita tentang integritas. Kata kata yang sempat jadi tren di kampus saya,  uhm tepatnya di kalangan alumni kampus saya setahun lalu, sehingga kemudian dikepala saya, kata “Integritas” ini,  juga menjadi sesuatu yang menjadi pertanyaan. Bukan pertanyaan mengenai apakah seseorang berintegritas atau tidak sih, atau sesuatu kejadian berintegritas atau tidak, tapi pertanyaan apakah sebenarnya arti “integritas” itu. Kaliamat mudahnya, apa sih yang disebut berintegritas. Dan seperti biasa, kemalesan saya, menghalangi saya untuk bertanya pada Mr. Google, dan harga diri saya menghalangi saya untuk bertanya kepada orang lain, maklum takut banget saya dianggap bodoh. Haaahahahahahhaa

Tapi Tuhan memang sayang banget sama saya, sehingga sebelum kebodohan saya mulai membunuh saya, akhirnya saya menemukan petunjuk, tentang apa yang dimaksud dengan “integritas” tersebut. Penjelasan mudahnya begini:”seseorang dikatakan berintegritas ketika kepercayaan nya/pandangannya/ believe nya terhadap sesuatu , sama dengan perilakunya sehari hari.”

Contohnya kalau seseorang yang berpandangan bahwa dia setuju bahwa seseorang harus berkata jujur, tapi kemudian dia sering banget berbohong, maka orang itu disebut tidak berintegritas.

Pada waktu contoh tersebut dikatakan oleh orang yang memberikan saya penjelasan, saya mulai mencari cari hal hal lain, yang saya percayai tapi tidak sesuai dengan tingkah laku saya. Hahaahahahaaa Terkejut sekali saya, ternyata ada beberapa yang memang tidak sesuai. Dan kemudian saya mulai berpikir, kalau begitu …. apa hak saya untuk mengatakan politikus A tidak berintegritas atau teman saya si B – tidak punya integritas.

Saya ternyata masih terjebak dalam permainan “semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada melihat kesalahan saya sendiri. Bahkan dengan angkuhnya memberikan “label – label” yang berkonotasi tidak baik kepada orang-orang tersebut. Bahkan apabila, akibat perbuatan  seseorang yang tidak berintegritas tersebut, menimbulkan dampak yang tidak baik kepada saya, dan kemudian orang tersebut meminta maaf kepada saya, saya tidak mau menerimanya, bahkan kemudian tidak jarang saya malah mengingat – ngingat kejadian tersebut dan mengungkit – ungkitnya di depan orang tersebut dan/atau didepan orang lain.

Seperti kata – kata orang bijak, “setiap masalah, pasti ada hikmahnya, pasti ada pembelajarannya”, atau kalau di kantor saya sering sekali disebut “leason learn” nya. Sehingga setiap ada seseorang yang perilakunya tidak berintegritas menurut pendapat umum, dan kemudian dikutuk oleh seluruh dunia karenanya (haaahahhaha … yup I am still kind of “lebay” woman hahhahahhhaa), itu adalah tanda yang diberikan alam, agar saya mulai mengkoreksi diri saya saya. Mulai mengevaluasi apa yang saya lakukan, apakah ada perbuatan saya yang juga tidak berintegritas, sehingga saya bisa menjadi mahluk Tuhan yang lebih baik (selain menjadi mahluk Tuhan yang paling seksi hahahahhahaahaaaaa ).

PS: tindakan tidak berintegritas yang masih banyak saya lakukan adalah: menyesal tapi tidak melakukan apapun untuk merubahnya, malah tidak jarang tindakan saya masih sama sebelum meminta maaf. Atau bilang tidak padahal iya. Seperti mengatakan saya tidak cinta padahal cinta banget hahaahhahhhahaaa. Nah, menyangkal isi hati ini yang memang yang akan saya latih, agar selaras pikiran dan hati saya, sehingga saya bisa termasuk orang – orang yang berintegritas. Ingatkan saya yah, kalau saya melakukan hal ini 🙂

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Ketika inspirasi menjadi meng dan ter di SDN Cigondewah 1, Bandung

SDN Cigondewah 1, Bandung terletak di daerah Bandung Kulon Bandung. Kalau ngetik nama SDN ini di Google, pasti langsung deh keluar hasilnya lengkap dengan map nya 🙂  Jadi nya untuk saya yang “buta” daerah Bandung, dengan bantuan teman saya Ayu yang menjadi navigator saya selama perjalanan (red: jadi pingin mengucapkan terimakasih banget – banget sama om dan tante keyreeeen yang menemukan Google maps 🙂 ) , tidak sulit menemukan SD ini. Kan enggak lucu ya, kalau di hari H, ada dua inspirator yang “tersesat di Bandung”, karena mencari alamat sekolah. Hahaahahaaa

Sesampai di sekolah jam enam pagi (sekali lagi enam pagi), sudah terlihat aktivitas Sekolah dari mulai penjual gorengan depan sekolah, guru-guru, anak – anak sekolah sampai dengan para relawan kelas Inspirasi, termasuk matahari Bandung yang ikut beraktivitas pagi ini.  Dan tentu yang sedikit menghebohkan dan menyebabkan adanya ‘drama’ adalah kehadiran relawan yang datang ‘last minute’ (sebenarnya sih enggak last banget, masih ada 10 menit an sebelum upacara pagi …. tapi ya, drama kan selalu dibutuhkan untuk menghibur jiwa raga …. termasuk jiwa raga para pemberi inspirasi seperti saya. hahaahahahhaaha).

Dan untungnya, kepiawaian Selvy menjadi MC saat upacara pagi, melupakan drama 10 menit sebelumnya. LOL Apalagi kemudian ditambah dengan adanya senam pinguin yang dipimpin kang Hendra dan navigator cantik saya  Ayu,  bersama seluruh relawan yang pagi itu memakai topi pinguin yang asli lucuuuuuuuuu buanget yang dibuat oleh Adit. Jadilah kelas inspirasi hari ini di SDN Cigondewah, dimulai dengan hati yang cerah, secerah matahari yang hari ini sayang banget sama kami para relawan, terbukti  matahari enggak ngambek sembunyi diganti hujan, atau enggak sombong bersinar dengan panas yang gila – gila an (#eeeaaaaa).

Kelas yang saya isi kali ini dimulai dengan kelas 4 A, dimana di kelas ini anak – anak nya cukup aktif sehingga ‘mati gaya’ yang jadi nightmare nya saya setiap kali, dikelas inpirasi, tidak terjadi. Informasi tentang mereka diajak menabung oleh gurunya, membuat saya cukup bahagia. Bahkan ada satu anak yang dengan bangganya menunjukkan buku tabungannya yang sudah mencapai 3 juta rupiah, karena selalu menabung dari kelas satu dan tidak pernah diambil (PS : ayooo ngaku, waktu SD siapa yang rajin menabung?  Kalau saya sih ngaku, dulu menabung itu kalau mau beli buku bacaaan hahhaahhaa)  WOW banget kan. Walaupun saya cukup sedih ketika melihat salah satu langit – langit kelas terbuka lebar, karena tripleks nya sudah lepas, yang semetinya sudah harus secepatnya dibetulkan sebelum ada tripleks lain yang lepas yang menimpa anak anak.

Kelas kedua yang saya isi adalah kelas 5B, sama seperti kelas 4 A sebelumnya, keaktifan dan keingin tahuan anak anak yang tinggi, membuat saya tidak mengalami masalah berbagi tentang pekerjaan saya. Dan yang paling mengejutkan saya adalah ketika ada salah satu anak yang bernama Fauzan yang ketika ditanya apa cita citanya, dengan lantang nya berkata “Mau menjadi Pengusaha,  kemudian mau S2”  Bayangkan kelas 5 SD, sudah memikirkan mau kuliah sampai S2 !!!! Apalagi ketika ditanya mau S2 nya dimana, dia berkata mau S2 di UI di Jakarta. Untuk pertama kalinya selama mengikuti beberapa kelas inspirasi, saya mendengar ada anak yang pingin kuliah S2. Karena biasanya mereka hanya menyebutka ingin menjadi apa, dan kebanyakan bahkan tidak tau, harus sekolah di mana kalau pingin meraih cita – citanya.

Selain itu, mungkin ini tidak akan menjadi surprise besar untuk saya, kalau anak ini tidak bersekolah di SD dimana rata – rata orang tuanya, berpenghasilan minimum dan berada di lingkungan kelas menengah ke bawah. Bahkan ketika ditanyakan apakah pernah ke Jakarta, seperti teman – teman nya yang lain, Fauzan ini juga tidak pernah ke Jakarta. Dan biasanya sering sekali ketika bercita – cita jadi pengusaha, malah banyak anak anak yang berpikir tidak perlu sekolah.Iya kan? Saya sendiri, sewaktu SD tidak pernah berpikir mau S2 hahahahhahhaa.  Dan ketika saya tanyakan relawan yang lain, sama seperti saya mereka juga sewaktu SD tidak pernah memikirkan mau kuliah sampai S2 dan mau kuliah dimana.

Kemudian saya mulai berpikir tentang mimpi – mimpi saya, seberapa berani saya bermimpi tinggi? Terakhir kali saya bermimpi, tinggi dan kemudian saya wujudkan itu tiga tahun lalu. Kemudian? Seringnya sih malah untuk bermimpi saja saya takut. Tapi seperti kata kata bijak, enggak pernah ada yang kebetulan di dunia. Pertemuan saya hari ini, dengan anak kelas 5 SD yang berani bermimpi tinggi dan yakin bisa meraih mimpinya, seolah olah menjadi ‘pecut’ untuk saya, agar saya mulai berani bermimpi tinggi, agar saya tidak lagi membuat batasan – batasan akan kemampuan saya, yang mungkin baru saya gunakan 30 % nya (ini kata senior saya, yang bilang kenapa saya menyia – nyiakan, karunia Tuhan dengan hanya menggunakan 30 % dari kemampuan saya . Waktu itu sih saya cuman berpikir,…. iihh sok tau deh nih orang hahahahahaha. Tapi hari ini Tuhan, memaksa saya untuk melihat saya yang menyia – nyiakan anugerahnya ).

 

Kembali ke kelas Inspirasi, kelas VI dan kelas I menjadi kelas terakhir sekaligus menjadi kelas yang penuh tantangan di kelas inspirasi saya kali ini. Di kelas VI, saya kudu menyesuaikan dengan gaya mereka yang sudah mulai memasuki masa pubertas. Dimana, lagu yang mau mereka nyanyikan hanya lagu cinta. Hahahahaaahaha dan “woooosh … wooooossshh” sebagai bentuk apresiasi yang saya ajarkan dianggap kekanak kanakan oleh mereka. Hahahahaahaha. Atau ada yang anak yang berusaha keras untuk mengajak saya berbicara bahasa Inggris, dan saya tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Mungkin karean wajah saya yang kebule bulean ini, jadi dia merasa wajib berbahasa inggris dengan saya. LOL. Terus terang ketika meninggalkan kelas, saya merasa saya sedikit gagal, jadi inspirator (yup … like I wrote before, I am kind of drama queen hahahahhhahaa).

Dan ketika saya menuju ke ruang perpustakaan untuk istirahat, karena ada jeda lumayan lama, tiba tiba segerombolan anak – anak kelas IV B, datang menghampiri saya dan memberikan pelukan untuk saya, rasa gagal itu tiba tiba hilang lenyap begitu saja. Kebayang kan kan terharunya, ada satu kelas anak anak yang saya sendiri enggak mengerti apa yang saya berikan, sampai mereka tiba -tiba memberikan pelukan seperti itu kepada saya. Yang saya tau, anak – anak tidak akan mau memeluk orang yang tidak mereka sayang, mereka tidak bisa berbohong secanggih itu.

Jadilah saya speechless, terharu, semuanya deh. Merasa disayang banget, merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia, dan pastinya seluruh cape (terutama, karena menyetir sendiri dari Jakarta ke Bandung dan macet pula karena ada kecelakaan), hilang begitu saja.

Selanjutnya setelah beristirahat terutama juga setelah mendapatkan energi dari pelukan anak anak,  saya mulai memasuki kelas I  … nah, tantangan nya di sini adalah, saya kudu nyanyi terus. Walaupun, cukup senang karena banyakan nyanyi dan tertawa  (dan hanya 3% nya menjelaskan siapa dan apa pekerjaan saya. maapkaannnnnnn  yaaaa)  jadilah suara saya dan tenaga saya habis terkuras.  Favorit mereka adalah  metode ice breaker yang menjelaskan gajah dengan menjentikkan jari, dan menjelaskan semut dengan membuat lingkaran yang besar dengan tangan (bisa dilihat di youtube).  Jadilah ketawa yang enggak habis habis nya kalau mereka atau teman nya terbalik balik melakukannya.

Tidak terasa, kelas inspirasi ini selesai hari ini. Seperti upacara pagi tadi, maka penutupan di siang hari yang cerah secerah hati para inspirator yang bisa melewati kelas inspirasinya setelah semaleman deg – deg an takut ‘mati gaya’ di depan anak anak (bayangin yah … presentasi didepan bos atau yang lain ajah enggak sedeg – deg an ini deh haaahhaahhahaa),  juga dilakukan dengan berkumpul berbaris di lapangan, tapi tentu tanpa senam pingui, tapi dengan lagu terimakasih guruku yang hampir dicoret dari list acara hahahahahahahaa.

Setelahnya kami berfoto bersama dan by surprised disuguhkan makan siang dari sekolah (terimakasih bapak dan ibu guru yang sudah menyiapkan makanan ini buat kami), maka kami makan bersama dan mulailah menceritakan apa yang kami alami masing masing di kelas. Jadilah, makan menjadi ajang sedikit curcol tentang yang dialami dikelas.

Buat saya selalu mengagumkan ketika ada sekumpulan orang yang tidak kenal satu sama lain sebelumnya, yang punya kesibukan di tempat kerja nya masing masing, dan enggak pernah menanyakan latar belakang, agama, suku etc, tapi kemudian mau bergotong royong, mulai dari meeting bareng, membuat koreografer,  memilih jenis senam, run down etc, karena menginginkan supaya pada hari H dapat memberikan yang terbaik untuk anak – anak. Ini wujud Indonesia yang sebenarnya. Wujud aslinya budaya Bhineka Tunggal Ika.

Enggak salah kan kemudian saya mengucapkan terima kasih kepada teh El yang jadi pendampingnya Kel 42 (enggak nyesel kan jadi pendamping kelompok yang keyren ini? #teteup narsis), Kang Ganjar yang jadi leader kel 42 yang selalu pingin diangkat jadi ponakan saya hahahhaahahah, tim jkt 42 (Selvy, Ayu, Wita, Nisa dan Dita (yang diadopsi jadi tim Jkt 42 walaupun enggak tinggal di jkt), kang Hendra, kang Zaka (yang kemudian ngasih kita masing masing ilustrasi wajah yang cute banget), Dilla dan Aji (pasangan suami istri, yang buat kita semua takjub karena bisa gitu suami istri jadi inspirator di sekolah yang sama – jodoh memang luar biasa yaaaa), teh Jinie, Dito, kang Nur, Hendra Dwi, Nisrina, dan Ukky. You rock guys.

So … yang belum pernah ikut kelas Inspirasi, yuuuuk ikutan. Dijamin bikin ketagihan, bakal punya banyak saudara – saudara baru, bakal punya  pengalaman yang tidak terlupakan.

 

 

 

 

Posted in #KIBdg5, Anak, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak – anak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan – pertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu – lucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak – anak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)

Posted in #KIBdg5, Anak, bangsa, Indonesia, Indonesia ku, inspirasi, inspirator, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Agama, Kebencian dan Cinta

“Jika memang tidak bisa bersaudara dalam keimanan, setidaknya tetaplah bersaudara dalam kemanusiaan.” (Ridwan Kamil)

Kata – kata ini saya baca dari twitter -nya Bapak Ridwan Kamil, yang menurut saya wise banget, dan cocok banget dengan keadaan di Jakarta saat ini.

Saya teringat kekesalan ibu saya minggu lalu, karena ada tetangga yang bercerita kepada beliau, bahwa ada yang tetangga yang lain – tidak mau lagi ngobrol atau berteman dengan ibu saya karena mengetahui bahwa kakak saya dan keluarganya beragama yang berbeda.

Kata ibu saya, yang membuat beliau kesal bukan karena tetangga tersebut tidak mau berbicara/bergaul, tapi karena alasan nya. Urusan beragama apa pun itu kan urusan pribadi. Kenapa orang lain harus sibuk menghakimi orang lain karena pilihan nya. Di surat Al Kafirun juga dijelaskan “agamamu agamamu, agamaku agamaku.”  Jadi kenapa harus membenci karena perbedaan itu? Soal dosa atau tidak, biarlah itu menjadi tanggung jawab masing masing. Toh memang di hari akhir nanti setiap orang harus menanggung perbuatannya masing masing, bukan menanggung perbuatan tetangganya?

Saya termasuk orang yang beruntung yang mempunyai ibu, yang memberikan saya dan saudara – saudara saya kebebasan, memilih apa yang kami percayai. Saya merasa beruntung punya keluarga yang beragam, jadi setiap ada acara besar keagamaan, berarti ada acara kumpul – kumpul bareng keluarga besar. Dan apapun penghakiman orang terhadap keputusan ibu saya, saya tidak perduli. Yang saya tau, ibu saya tidak akan  menyetujui, kalau anak – anaknya berganti agama karena alasan mencintai seseorang.  Karena itu bukan beriman kepada Tuhan, tapi karena beriman kepada manusia. Dan itu tidak benar. Agama dan Tuhan bukan mainan seperti itu. Jangan menipu Tuhan kata ibu saya.

Saya dan saudara – saudara saya juga termasuk beruntung karena dari kecil kami dibesarkan dengan dua agama. Beruntung karena kami bisa melihat keindahan masing masing agama, karena kami bisa merasakan keindahan hati orang – orang yang berbeda diantara kami.

Sehingga saya dan saudara – saudara saya, agak sulit untuk mengerti mengapa orang harus berantem karena sesuatu yang berbeda apalagi yang perbedaan yang diributkan adalah tentang agama, karena setiap agama mengajarkan cinta kasih bukan mengajarkan membunuh satu sama lain. Karena setiap agama mengajarkan tentang memaafkan dan bukan tentang membenci. Dosa atau tidak, masuk surga atau pun neraka, biarlah itu menjadi urusan pribadi masing masing.

Tidak suka orang lain, karena agamanya berbeda – menurut saya agak aneh. Apalagi kemudian apapun yang dilakukan nya, apapun usahanya, apapun permintaan maafnya tidak bisa diterima hanya karena agama yang berbeda.

Kalau memang yang dilakukan nya salah ,  biarlah pengadilan yang memutuskan, bukan malah mengajak ngajak orang lain untuk membenci, dan yang lebih parah adalah kemudian malah “membully” orang lain yang membela orang tersebut. Bukan hanya sekedar ‘membully’, bahkan lebih dari itu, dimusuhi, dijauhi.Padahal  mereka satu agama. Padahal mereka hanya mengungkapkan pendapatnya. Mengapa tidak boleh berbeda?

Kemudian mengapa harus terus berburuk sangka kepada orang lain yang berbeda keyakinan? Mengapa tidak mau sedikit saja membuka mata hati untuk melihat apa yang telah dilakukannya, karena akan sulit melihat kebaikan apapun selama kebencian masih menutupi hati. Sulit sekali untuk menyadari, bahwa apapun yang terjadi adalah atas seijin Allah, jadi kalau ini terjadi, maka seharusnya melihat apa hikmatnya kejadian ini?  Padahal Allah itu Maha Pemaaf, mengapa kita tidak berusaha juga memaafkan? Bukan malah menjadi membabi buta marah dan membenci segalanya, bahkan membenci dan marah yang tidak jelas kepada orang yang membelanya? Maafkanlah karena mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.

Saya bukan ingin membela seseorang yang sedang bermasalah sekarang, karena saat ini biarlah pengadilan yang memutuskan. Biarlah  hakim bebas memutuskan apapun tanpa perlu takut keluarga maupun  diri nya akan dihujat apabila keputusan nya berbeda dari keputusan “haters’nya. Biarlah keputusan nya benar benar keputusan yang adil sesuai dengan hukum yang ada, dan bukan keputusan yang mengikuti emosi. Karena pengadilan mencari keadilan bukan mencari kebenaran.

Saya ingin mengajak agar kita tidak saling membenci hanya karena agama. Kita tidak saling membenci hanya karena orang berbeda keyakinan nya dengan kita.

Indonesia butuh banyak cinta, bukan butuh banyak kebencian. Indonesia butuh banyak orang yang perduli kepada masa depan anak bangsa ini, dari pada orang – orang yang mengajak orang lain membenci orang – orang lain. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling bersatu bahu membahu, membangun negara ini. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling memaafkan, untuk tidak membesarkan masalah yang sebenarnya bisa dimaafkan.

Jadi, yuk kita gunakan cinta kita untuk membangun negara ini. Yuk kita hentikan saling membenci karena perbedaan terutama karena perbedaan agama yang pastinya mengajarkan kita  tentang cinta kasih dan memaafkan sesama.

Salam

 

Posted in agama, bangsa, ibu, maaf, ras, Tuhan, Uncategorized | Leave a comment

Melihat dengan Hati

Melihat dengan hati itu begini –  bahkan ketika seseorang tidak mengatakan tentang persoalannya, tapi hati nurani “melihat”apa yang dirasakan orang tersebut. Sehingga, tumbuh rasa empati, rasa perduli. Ini biasanya butuh banyak latihan, butuh keinginan untuk mau memposisikan diri menjadi orang lain, sehingga bisa mengetahui point of view orang lain yang mempunyai pikiran dan keputusan yang berbeda. Biasanya orang yang melihat dengan hati akan terlihat ‘humble’, tidak mau menang sendiri.

Kemarin, saya mengobrol banyak dengan salah satu senior saya, sudah lama sebenarnya saya ingin mengobrol dengan beliau, karena setahun belakangan hubungan saya dan senior saya satu ini tidak terlalu baik (menurut saya). Banyak sekali yang dilakukan nya, menurut saya tidak sesuai dengan pikiran saya, standard saya. Dan yup … saya juga terlalu angkuh untuk mau melihat segala keputusan nya dari sudut pandang beliau. Bahkan saya terlalu angkuh untuk sekedar bertanya, apa alasannya. Dan yang paling parah, apapun yang dilakukan beliau, menjadi salah selalu di mata saya, padahal tidak selalu begitu.

Dan betapa terkejutnya saya ketika tadi malam saya mencoba mengingat kembali apa yang dikatakannya — termasuk kata seseorang yang dekat dengan saya bahwa “saya orang yang merasa selalu benar”, saya menyadari banyak hal.

Ternyata sebenarnya pikiran saya dan senior saya itu sama, tapi cara yang kami lakukan berbeda. Yang saya lihat dengan mata saya adalah bahwa yang dilakukan nya tidak benar. Padahal kalau saya mau mencoba untuk melihatnya melalui “hati” saya, saya pasti akan mudah sekali melihat bahwa hanya cara nya yang berbeda. Dan itu menjauhkan saya dan senior saya hampir satu tahun.  Coba kalau saya sedikit mempercayainya, pasti akan ada dipikiran saya, bagaimana kalau saya melihatnya dari sudut pandangnya?

Kemudian saya mencoba merenungkan kata – kata “saya merasa selalu benar”, yang selama ini cukup menggangu saya, tapi sekali lagi  keangkuhan saya terlalu besar untuk menanyakan kenapa orang tersebut menyatakan itu kepada saya. Padahal beliau, orang yang cukup dekat dengan saya, orang yang mengajarkan kepada saya, apa artinya “it’s ok to be weak” karena saya memang enggak selamanya kuat, orang yang mengenalkan saya  rasa aman tanpa perlu kata – kata, cukup melihat dan merasakan kehadiran seseorang yang pasti enggak akan membiarkan saya kenapa – kenapa, orang yang mengajarkan saya apa rasanya merasa aman. Dan padahl menurut saya, beliau saat ini orang yang paling saya percayai.

Sama seperti dengan senior saya, instead of saya merasa bahwa pasti ada hal yang besar mengapa beliau mengatakan itu kepada saya, saya malah marah dan kesal dan saya kemudian berusaha meng “ignoring”, mengabaikan, apa yang diucapkan nya.  Padahal kata – kata itu selalu mengikuti saya kemanapun saya pergi, dan setiap saat saya bertemu dengan beliau.  Tapi yup …. saya memang terlalu angkuh.  Terlalu sombong untuk menanyakan dan terlalu takut untuk mendengar, kalau saya melakukan kesalahan.  Saya memang maunya menang sendiri. Bahkan saya tidak mencoba duduk dan berbicara baik baik dengan beliau tentang ini. Keangkuhan saya memang luar biasa. Bahkan untuk jujur kepada orang yang saya percayai itu, terlalu sulit saya lakukan.

Dan kemudian, betapa terkejut nya saya, karena ketika saya renungkan,  dari seluruh apa yang terjadi belakangan ini,  saya tidak pernah cukup mau “mendengar” – listen, saya cuman mendengar (hear) —- dan hanya menangkap apapun yang mau saya dengar. Semua nya saya lakukan dengan standard saya, sesuai situasi saya, sesuai dengan keinginan saya. Sudah berapa lama saya kembali pada kebiasaan saya ini? Sudah berapa lama saya lupa untuk melihat dengan hati saya?  Sudah berapa lama saya “mematikan” rasa saya, sehingga sulit untuk saya merasakan selain kekecewaan?

Kemudian berapa banyak marah saya, yang tidak saya selesaikan? Berapa banyak saya kembali merasa jadi “victim” atas apa yang terjadi? Berapa banyak hal – hal yang tidak mau saya maafkan? Berapa lama saya kembali memusuhi diri saya sendiri? Berapa lama saya tidak mau kembali berdamai dengan diri saya? Bagaimana saya bisa melihat orang lain dengan hati saya, kalau saya sendiri tidak mampu melakukan nya untuk diri saya sendiri?

Ah entahlah …. , yang jelas, saya memilih untuk kembali lagi belajar melihat dengan hati saya. Belajar untuk menurunkan ego saya, menurunkan rasa angkuh saya. Mungkin perlu waktu panjang, mungkin juga bisa cepat, yang pasti saya tidak mau lagi menyakiti banyak orang yang saya sayangi, karena saya tidak mampu untuk “melihat dengan hati”. Doakan saya sukses ya. Doakan agar mereka mau memaafkan saya, kalau saya menyakiti hati mereka.

Kalau anda merasa saat ini seperti saya, yuuk belajar bersama sama melihat dengan hati.

Salam

 

 

 

 

 

 

Posted in memaafkan, mendengar dengan hati, menghargai, ucapan, ucapan yang tidak terucap, victim

Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Posted in adil, agama, Indonesia, Indonesia ku, kepribadian bangsa, masyarakat, media massa, menghargai, pancasila, suku, Tuhan, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Be careful with your wish

Tadi pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengarkan lagu lama. Lagu tersebut dinyanyikan oleh salah satu group di Indonesia. Namanya Trio Libels ….. yup group yang udah jadul buanget.  Mendengarkan lagu tersebut membuat saya kembali teringat sewaktu saya masih sekolah smp.

Karena saya lumayan dekat dengan guru – guru saya, sering banget saya ditanya mau jadi apa saya nantinya. Dan jawaban saya selalu sama terperinci seperti ini…. saya pingin banget jadi dokter tapi saya pingin sekolah nya itu dapat bea siswa – gratis seperti Edwin Libels itu.

Dan saya …. tidak menjadi dokter memang ….. tapi saya diterima di sekolah yang sama dengan Edwin Libels. Beliau menjadi senior saya. Kalau dipikir pikir ya .. mungkin waktu itu harusnya harapan saya kalau ingin menjadi dokter, contohnya jangan bang Edwin ini yaaaaaaa hahahhhahhahhaaaa.

Cerita lain yang masih berhubungan dengan sekolah ini …. ada salah satu universitas, setiap kali saya transit di Jkarta (sewaktu saya masih tinggal di luar pulau Jawa), selalu saya lewatin dan setiap kali itu saya selalu bilang, kudu kuliah lagi nih. Dan memang …. saya kuliah lagi ….. dan ……. di universitas tersebut. Semustinya ya … saya melengkapi “wish” saya menjadi … saya kudu kuliah lagi di Harvard misalnya ya hahhahahhahhaa. Jadi Tuhan enggak menyangka saya minta nya kuliah lagi disana hahahahhahaha. Tapi anyway, saya senang loh kuliah disana 😀

Kemudian sewaktu sma dan kuliah, saya punya ketakutan menjadi seorang ibu. Iya ….. saya takut banget jadi seorang ibu. Takut enggak bisa jadi ibu yang baik. Kenapa berpikir begitu? Karena saya selalu berpikir, saya tidak cukup baik untuk jabatan semulia menjadi ibu. Dan ketakutan saya itu sering kali saya ucapkan dalam hati ketika saya sedang merenung. Saya waktu itu selalu memikirkan kalau menjadi tante pasti lebih mengasikkan buat saya. Karena saya selalu cinta dengan anak – anak kecil.

Dan …. itu ternyata dianggap Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi “wish” saya, harapan saya. Karena Beliau Yang Serba Maha itu sayang banget sama saya, tidak mau saya takut, jadilah saya ya …. sampai sekarang belum menjadi ibu.  (PS : sekarang saya mulai merubah ucapan dalam hati saya …. bahwa saya seperti yang lain akan menjadi ibu yang perfect buat anak anak saya). And yup ….. saya mempunyai keponakan – keponakan yang selalu bisa “bright” my day, dengan apapun yang mereka lakukan. Dan saya cukup dekat dengan keponakan saya yang pertama, sebegitu dekatnya, sampai saya bisa berliburan hanya berdua dengan dia —- buat dia, saya itu tante nya yang paling “cool” hahaahhahahhaha.

Atau saya pernah berpikir tentang tinggal di Jerman (karena waktu itu saya pingin jadi dokter yang lulusan Jerman), tapi setiap kali saya memikirkan tentang Jerman – hampir tidak pernah bersama dengan pikiran tentang sekolah kedokteran hahahahahhahahhhaa. Ya …. jadilah saya memang tinggal di sana, tapi tidak untuk sekolah dokter.

Dan banyak hal – hal lain, yang terjadi di perjalanan hidup saya ….. yang setelah saya pikir pikir niiiiihhh…. itu karena pikiran, ucapan saya baik yang saya ucapkan kepada orang lain atau pun dalam hati, secara berulang ulang – menjadi “wish” —- dan yang kemudian oleh Tuhan Yang luar biasa sayang sama saya kemudian diwujudkan.

Jadi ….. kesimpulannya …. mulai sekarang setiap kali saya menginginkan sesuatu, saya terperinci merunut apa yang mau, misalnya mau kuliah — iya … mau kuliah di mana?  Mau beasiswa …. beasiswa seperti apa? Dan terlebih saya akan berhati hati dengan pikiran saya dan ucapan saya … karena bisa bisa benar benar terwujud, disangka itu menjadi wish saya.  Dan kemudian ketika “wish” itu benar – benar diwujudkan …. saya nya marah marah dan kecewa hahahhaahhahhahhahaha. Padahal yang minta itu saya (walaupun secara tidak sadar yaaaaa).

Trus parahnya ya  …. saya kemudian ngambek sama Tuhan …. bilang kenapa saya diberikan masalah seperti ini haahhaahahhhaaha. Padahal ya ….. bukannya bersyukur, segalanya di dengar Tuhan ya 😀

So …. yuk ikut latihan bersama saya untuk menjaga pikiran dan ucapan agar tidak menjadi “wish” dan kemudian sesuatu yang kita tidak harapkan terjadi karenanya (hahaahahhhahaaa).

Salam

Posted in 'wish', doa, harapan, harapan yang didengar, manusia, masyakat, rejeki, Tuhan, ucapan, ucapan yang tidak terucap | Leave a comment

Kejahatan Luar Biasa

Kasus Yuyun yang akhir akhir ini ramai dibicarakan, mengingatkan saya akan kasus serupa sebelum sebelumnya. Mulai dari yang terjadi di salah satu sekolah internasional, kemudian berita tentang ayah yang memperkosa, guru yang memperkosa dll.

Ini seperti pengulangan berita buat saya. Yang heboh, dua tiga minggu, kemudian hilang begitu saja, tanpa ada perubahan …… sampai kemudian terjadi lagi hal yang sama. Dan kembali …. ramai lagi …. pengutukan sana sini….. dua atau tiga atau sebulan kemudian berita ini hilang tanpa pesan. Tanpa ada yang berubah.

Pagi ini saya mendengar berita tentang keputusan pemerintah (thanks a lot … setelah berapa lama …. akhirnya pemerintah perduli juga)  bahwa kekerasan seksual pada anak adalah “kejahatan luar biasa”.

Saya kemudian mencoba berpikir panjang, haruskah kita menunggu adanya korban, baru kita akan perduli? Apakah kita harus menunggu sampai pemerintah mengatakan sesuatu baru kita akan perduli? Apakah kita memang harus selalu menunggu?

Atau akan kan kita akan selalu diam ketika ada orang yang mengeluarkan pernyataan yang menyalahkan si korban. Seperti siapa suruh pulang malam atau fotonya ajah begitu atau bajunya ajah begitu atau gayanya ajah begitu. Atau ….ya pelakunya juga masih anak – anak, mereka tidak tau apa yang mereka lakukan.

Uhm……  pertama ….. pulang malam, foto, baju atau gaya apapun  yang dilakukan oleh seseorang …… TIDAK berarti bahwa dia boleh untuk diperkosa. 

Kedua, anak – anak lahir seperti kertas putih, orang tua, saudara, lingkungan itu yang kemudian mewarnai nya. Menentukan tingkah lakunya, pikirannya terhadap sesuatu. Karena nya ketika ada anak – anak kita, anak- anak saudara, tetangga, teman kita terlihat mulai bertingkah aneh …… tidak ada salahnya untuk menasihati mereka. Karena apapun yang terjadi … saya/kita punya andil di dalamnya.

Mulailah untuk menjaga ucapan – ucapan yang tidak pantas ketika mendengar ada kasus perkosaan. Sehingga anak- anak yang mendengar, membaca, melihat …. tau bahwa kekerasan seksual itu adalah tindakan yang tidak benar, bukan sesuatu yang layak untuk dijadikan bahan ketawaan, bahan bercanda.

Selain itu ……. sekali lagi …. mulailah untuk membuat peraturan peraturan yang ketat tentang apa yang boleh dijual, dilihat untuk anak – anak.

Pemberian hukuman seberat beratnya atas penjualan miras kepada anak – anak misalnya, mulai disosialisasikan ke daerah – daerah. Sehingga  …. tidak ada lagi kejadian dengan alasan karena anak – anak tersebut dibawah pengaruh alkohol.

MELARANG pengusaha bioskop untuk menjual tiket untuk film film 18 tahun ke atas kepada anak anak dibawah umur 18 tahun.

MELARANG menjualbelikan/ menyewakan buku,film dewasa kepada anak – anak dibawah umur.

MELARANG, stasiun tv untuk menyiarkan film film dewasa pada jam – jam tertentu.

MELARANG  kafe, club malam dan segala tempat dugem untuk menerima anak anak dibawah umur. Minta mereka menunjukan ID,KTP apabila akan mereka akan masuk ke sana, termasuk bila mereka datang bersama orang yang lebih dewasa.

Dan memberikan hukuman apabila terjadi pelanggaran.

Kemudian selain peraturan – peraturan ini diberlakukan secara ketat, sebagai orang dewasa, juga sebaiknya kita aktif untuk melaporkan, menegur, apabila terjadi pelanggaran -pelanggaran atas peraturan peraturan tersebut.

Kasus kekerasan seksual pada anak ini bukan hanya urusan pemerintah atau pun polisi. Tapi diperlukan KEPERDULIAN kita sebagai manusia dewasa. Diperlukan CINTA kita agar mau mencegah  hal hal seperti ini  terulang kembali.

Salam

 

 

 

Posted in Anak, kekerasan seksual, orang tua, pelarangan, Uncategorized | Leave a comment

Apa kabar pengguna PSK (Online)

Belakangan ini yang marak terdengar adalah berita tentang artis/seleberitis yang terlibat PSK Online. Mereka – mereka yang dianggap kategori artis/selebritis ini, ternyata menjual dirinya dengan harga yang fantastis (menurut standard kantong saya ya 😀 ), kepada orang orang lewat perantara orang lain atau pun secara langsung.

Mereka mereka yang kemudian ketahuan atau masih diduga, kemudian dikejar kejar jurnalis, mendapat cemoohan sana sini, dihujat dan lain sebagainya

Apakah menurut saya menjadi PSK itu salah? Uhm … saya bukan lah ahli agama, bukan juga dalam kategori manusia adalah ahli surga, mungkin juga dalam kategori masyarakat umum …. saya termasuk salah satu orang yang dipertanyakan moralnya hahahahhahaa. Saya enggak akan membahas masalah apakah ini salah, dosa atau apalah. Itu bukan ranah saya.

Yang meresahkan saya sih ketika melihat kejadian tertangkapnya PSK ini kemudian,  saya menjadi merasa miris ya …. karena pihak pengguna nya – pemakai jasanya malah cenderung dilupakan.

Padahal sesuai dengan hukum dagang – ada pembeli maka ada penjual. Selama enggak ada yang mau membeli – mana ada juga yang akan menjual. Dan selama enggak ada yang jual maka juga tidak ada yang beli. Dua – duanya punya peran di sana. Jadi agak aneh banget buat saya kalau si pengguna PSK Online ini juga tidak di jerat dengan hujatan, cemoohan yang sama. Agak aneh ketika bicara soal moral PSK, kita enggak berbicara tentang moral pengguna PSK.

Kalau kejadian nya kita samakan dengan pengguna dan penjual narkoba misalnya (maaf saya enggak tau apakah persamaan ini apple to apple ya), maka pengguna narkoba akan dihukum – minimal di rehabilitasi. Maka saran saya …. pengguna PSK juga sama … ya direhabilitasi juga dong … terutama kalau pengguna nya mempunyai keluarga. Direhabilitasi agar tidak lagi menggunakan PSK untuk memuaskan nafsunya.  Ya mungkin perlu dibuatkan semacam panti pembinaan untuk pengguna PSK.

Terutama para pengguna PSK artis/selebritis, yang bisa membayar mahal mulai dari puluhan juta sampai ratusan. Kalau lah uangnya bisa dikumpulkan mungkin bisa sebagai modal mendirikan ukm bagi para PSK, sehingga mereka bisa bekerja yang lain tanpa harus menjual dirinya. Atau mungkin bisa digunakan untuk mendirikan tempat kursus keahlian yang guru gurunya bertaraf regional ASEAN (enggak perlulah internasional), sehingga mereka para PSK ini mempunyai keahlian lain yang bisa digunakan sebagai modak untuk bekerja.

Salam

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 2 Comments

Medsos – eksistensi, image dan kenyataan

 

Saat ini sebagian dari kita pasti memiliki banyak akun medsos mulai dari fb, twitter, path, instagram, etc.  Walaupun ada yang bertujuan untuk promosi, jualan, edukasi – tapi umumnya – memiliki medsos ini adalah sebagai bagian dari eksistasi diri – biar kekinian. Enggak ada yang salah dari itu. Toh akhirnya banyak orang yang menemukan teman lamanya karena medsos ini, atau ketemu jodoh malah (ehmm….) , bisa tau apa yang terjadi  dengan keluarga atau teman atau jadi bisa dengan mudah berhubungan dengan saudara, teman dari ujung dunia lain. Itu positifnya.

Dan mulailah trend – setiap apa yang dilakukan di ekspos di medsos. Semua kegiatan – termasuk tidur, pakai baju, make up, etc. Salah? Ya enggak ….. itu hak nya semua orang. Kalau merasa keberatan …. enggak usah ribet, jangan dilihat, unfriend, selesai kan?

Yang menjadi masalah adalah ketika kegiatan ini kemudian mulai mengganggu orang lain dan terutama mengganggu diri sendiri (mengganggu jiwa dan perilaku diri sendiri tepatnya hahahahahaaha)  Yang menjadi masalah adalah ketika kegiatan ini dilakukan karena ingin  membangun image agar terlihat “hebat” dimata orang lain – mencari eksistensi diri (please guys … you are great what ever happen to you). Padahal orang yang ingin disaingi di medsos mungkin tidak merasa apa apa 😀

Atau kemudian – sibuk melakukan apapun yang kalau terlihat di foto – akan menampilkan efek kalau dia hebat. Karena penting sekali menunjukkan kepada dunia bahwa dia hebat. Karena menurutnya dengan begitu dia akan diterima di lingkungan nya. Padahal – hanya cukup perduli dengan orang lain – banyak orang yang akan menerimanya.

 

Kemudian dari hal hal tersebut – maka tidak sering ketika bertemu dengan teman teman – dan mendengarkan cerita cerita mereka baik tentang diri sendiri maupun tentan orang lain …. saya terkejut kejut sendiri (eh tepatnya  kami semua terkejut kejut).

Karena sering sekali apa yang terlihat dan terbaca di medsos – tidak seperti apa yang terjadi sebenarnya di dunia nyata. Yang berbicara tentang agama misalnya – sering sekali apa yang dilakukannya untuk orang lain berbeda 180 derajat. Bahkan untuk mengucapkan terimakasih saja menjadi beban buatnya.

Atau pernah saya mendatangi kantor yang hampir seluruh stafnya memasang foto foto kebersamaan mereka – dan disana tertulis bagaimana akrabnya mereka satu sama lain. Bahkan komentar komentar mereka menunjukan keperdulian satu sama lain. Dan betapa tercengangnya saya, ketika saya disana – saya hampir tidak menemukan rasa percaya – trust dan respek antara sesama mereka. Bahkan saya mendengar sendiri bagaimana mereka berbicara ketidak sukaan mereka terhadap satu sama lain. So ….. foto – foto  dan komentar komentarnya itu apa?  #gagal paham.

Atau saya juga pernah terkejut luar biasa mengetahui keadaan teman saya yang terjerat hutang dimana mana – karena foto foto yang saya lihat di medsosnya itu selalu tentang dia ada di negara apa, barang barang bermerk yang dia beli, setiap sisi rumahnya. Uhm …

Yang hampir mirip … juga ada teman saya  yang setiap saat berselfie ria mengendarai mobil mewah, dan semua teman temannya kemudian memuji muji dianggap sukses luar biasa dalam karirnya. Padahal saya tau banget, bagaimana keadaan yang sebenarnya. Kalau yang ini …. karena ucapan adalah doa – saya doakan semoga memang benar benar suatu saat dia akan sukses luar biasa seperti foto fotonya.

Cerita yang lain tentang image ini – saya juga sering banget terkejut ketika mengetahui teman saya yang rumah tangganya bermasalah – karena setiap kali saya lihat di medsos adalah tentang kata kata atau foto foto mesra nya dengan pasangannya .

Atau saya mengenal seseorang yang mempunyai bermacam macam medsos – dimana salah satu medsos nya yang tidak ada bosnya – dia akan bercerita berbeda tentang bos nya. Mulai dari gaji rendah, dipaksa kerja 24 jam etc. Di medsos yang ada akun bos nya – wuiiihhhhh…. akan menulis tentang bagaimana bangganya dia terhadap bos dan tokonya. Untung saya bukan bosnya hahahahahaahaha

Selain itu saya juga tidak jarang menemukan teman saya – yang setiap status nya memperlihatkan keresahan nya. Padahal setiap kali saya bertemu dengan nya ….. saya tercengang … karena banyak sekali karunia Tuhan yang diberikan kepada Nya – yang diinginkan orang lain (keluarga kecil yang harmonis, karir yang baik, pendidikan tinggi etc)

Yang paling fenomenal adalah saya sering banget bertemu orang orang yang antara wajah di foto foto selfie nya ……. dengan yang aslinya … jauuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhh berbeda. Come on …. pasti banyak yang ngalamin ini

Tidak heran ketika saya ngobrol dengan teman teman saya – kami sering kali tertawa sendiri – tepatnya mengetawakan diri sendiri – kalau mengingat kenapa hal ini harus kami lakukan hahahahhaahhahahaa.

Kenapa menjadi terpancing dengan orang lain – yang mungkin juga kenyataan sebenarnya tidak lah seperti itu.  Kenapa image itu penting banget. Kenapa sibuk ber selfie ria dan mengganggu keselamatan orang lain, atau berselfie ria di atas penderitaan orang lain. Atau kenapa harus envy (malah berpikiran bagaimana agar bisa seperti itu)  dengan foto foto perempuan yang keliatan cuannnnntiikkk banget … karena aslinya ternyata jauuuuuhhhhh berbeda. Hahahahhaaha

Jadi …. dengan akan bergantinya tahun …. what next yang akan dilakukan?  Mungkin belajar untuk menanggalkan image – agar terlihat hebat dan keyren ….. Karena bukan nya  lebih baik itu kalau kenyataan nya itu ternyata lebih indah ya?

Enggak apa – apa lah kalau kurang eksis di medsos, atau kurang dianggap keyren di medsos (kan bukan selebriti ini hahaahhaahhahaahhaa). Dan belajar untuk tidak terpancing dengan apapun yang ada di medsos – karena yang terlihat belum tentu itu aslinya.

So … happy new year all …. wish next year brings ton of joys, prosperity, loves and health.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | 2 Comments