Penting – Tidak Penting (Bukan Perduli/ Tidak Perduli)

Belakangan ini saya mencoba ke komunitas saya yang lama, setelah berapa lama saya ngambek yang cukup akut. Hahahahhahahhaaa (I told you that I am kind of drama queen, before … right? Hahahaha). Tapi bukan soal ngambeknya saya yang akan saya tuliskan di sini. Tapi tentang komitmen, prioritas, keperdulian.

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya banyak dikelilingi oleh kata – kata penting atau tidak penting. Karena umumnya manusia, ya setidaknya saya deh, pasti akan rela melakukan apa saja kalau saya anggap itu penting. Contoh kecil, karena lulus ujian penting banget buat saya, karena kalau tidak kelulusan saya akan tertunda, maka saya akan belajar gila – gilaan, saya bisa tidak tidur semalaman dan besoknya ketika ujian tidak mengantuk, saya bisa memindahkan segala jadwal saya  (yang kalau itu diminta mama saya atau orang yang dekat dengan saya, pasti tanpa mikir saya akan bilang  tidak bisa), saya secara cepat bisa mengingat semua titik koma di buku catatan, intinya saya tiba- tiba bisa meng “handle” segalanya, yang biasanya saya katakan tidak bisa.

Asumsi saya, semua pasti pernah mengalami apa yang saya ceritakan, mungkin beda cerita tapi intisari nya sama. Iya kan? Itu semua didorong oleh sesuatu yang saya atau anda anggap penting. Dan penting atau tidak penting nya sesuatu, ya berbeda bedalah untuk setiap orang. Buat saya penting, belum tentu buat orang lain. Tergantung situasi kondisi dan skala prioritas masing masing.

Dan itu sebenarnya tidak berarti, sesuatu yang tidak (or belum) saya atau yang lainnya anggap penting, berarti tidak sayaor orang lain perdulikan. Ya saya perdulikan, saya perhatikan, tapi saya belum bisa menjadikan itu penting, karena ada yang saya prioritaskan. Dan saya tidak merasa saya akan menjadi buruk kalau saya mengatakan secara jujur kalau sesuatu tidak penting.

Perduli atau tidak perduli, menurut pandangan saya tidak ada hubungannya dengan penting atau tidak penting sesuatu untuk saya. Tidak (or belum penting) buat saya saat ini bukan berarti tidak saya perdulikan.

Contohnya seperti ketika saya punya uang 50 ribu, dan saya harus membayar listrik karena listrik di rumah saya akan habis nilai vouchernya, dan kalau listrik itu mati, saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan yang esok hari adalah datelinenya. Sementara, ada tiba – tiba teman saya yang meminta sumbangan utk acara sosial. Tentulah karena beli voucher listrik itu penting untuk saya, maka saya tidak akan menyumbang ke acara sosial tersebut. Apakah berarti saya tidak perduli, karena saya bilang acara sosial itu belum penting untuk saya dibandig voucher listrik saya? Apakah saya menjadi orang yang tidak baik (red: tidak bermoral), karena mementingkan listrik rumah  saya daripada membantu orang lain?  Ya tidaklah. (Kalaupun itu dianggap buruk, tidak bermoral, saya bisa bilang apa hahahahhahahaha).

Karena itu saya gagal mengerti, orang – orang di komunitas saya kemudian marah kepada saya ketika saya bilang misalnya “berarti kegiatan A belum penting buat kamu. ” Atau saya bilang “berarti saya belum penting buat kamu” — ketika mereka melupakan janji mereka dengan saya.

Dan biasanya ke emosian nya itu menurut asumsi saya yang pernah mengalami hal yang sama karena takut banget kalau jujur mengatakan tidak/belum penting, nanti orang – orang akan menganggap saya bukan manusia yang bermoral, bukan manusia yang baik, tidak perdulian. Hahahahahhaaa. Padahal sebenarnya enggak ada hubungan nya kan?

Padahal, kalau kejujuran itu dikatakan mungkin pandangan orang lain kepada dirinya juga berbeda. Mungkin orang lain, lingkungan nya akan mencari seseorang yang bisa melakukan, atau mengganti jadwal, mengganti kegiatan dan bukan malah jadi kecewa – sakit hati, baper karena detik detik terakhir sesuatu yang dipandang penting oleh orang lain, tidak terjadi, karena saya.

Di lain sisi juga, ketika ada yang berjanji dengan saya, atau tidak melakukan apa yang sudah menjadi komitmen, saya juga mulai berusaha untuk tidak emosi dan menjadi drama queen (ya agak turun sedikit menjadi drama princess setidaknya hahahahhaa), karena mungkin janji atau komitmen saya dan orang tersebut, belum menjadi penting karena ada hal – hal yang menurut kriterianya, situasi dan kondisinya. Bukan berarti orang tersebut tidak perduli dengan saya atau berusaha membuat kecewa saya. 🙂

Moga – moga penjelasan saya bisa membantu untuk organisasi atau pasangan atau keluarga yang akan membuat goal atau kegiatan, coba satukan dulu pendapat seluruh anggota yang terkait dengan goal atau kegiatan ini. Apakah mereka menganggap ini penting. Kalau mereka belum mengganggap ini penting, ya tidak mungkin mereka akan mau melakukan tugasnya 100%, secara maksimal. Samakan dulu standardnya tentang sesuatu.

Tetapi juga ketika organisasi, pasangan, menanyakan pendapat, tentang rencana, kegiatan, yang mereka akan buat, berilah jawaban dengan jujur, jangan diam atau mengiyakan semuanya. Kalau masih bisa bernegosiasi, negosiasialah , siapa tau jadwal, rencana atau kegiatan nya justru bisa dirubah.Kalau tidak bisa, mulailah untuk membuat rencana, kegiatan itu menjadi penting untuk kita (misalnya kalau tidak dilakukan maka saya akan dipecat, pasangan akan meninggalkan saya, etc).

Sekali lagi apabila sesuatu belum or tidak penting, bukan berarti saya or anda tidak perduli atau mahluk Tuhan yang paling tidak bermoral hahahaaahaa.

Note : saya masih belajar untuk melakukan hal – hal yang saya sarankan di ataas walaupun terkadang banyak orang menjadi super sebel sama saya :). Tapi setidaknya jumlah orang yang kecewa atau malah menjadi tidak percaya dengan saya tidak bertambah karena.  Mau belajar bersama saya? Hayuuuukkkkk

Salam

 

Posted in jujur, komitmen, penting or tidak penting, orang baik, kejujuran, maaf, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

HP oh HP (My relationship with my Mobile :))

Saya itu orang yang kemarin – kemarin merasa yakin banget, kalau saya bisa hidup tanpa telefon genggam(or hp or mobile phone) saya. Hahahahaha Alasannya? Ya saya bisa loh berhari – hari selama liburan tidak membuka hp  saya. Apalagi saya bukanlah pecinta selfie (biasanya sih difotoin orang dengan hp orang lain) haahhaha, apalagi sewaktu liburan. Dan saya, quite ok apabila saya tersesat di mana saya liburan, as long as saya tau alamat hotel saya (yg pasti akan selalu ada di dompet saya, di tas saya dan di beberapa tempat di antara barang – barang yang saya saya bawa ketika jalan – jalan.

Nah, masalahnya …. ini berbeda banget  ternyata ketika tidak liburan. Kejadian kemarin, ketika hp saya yang termasuk jadul dan saya sayangin (karena saking jarang yang make, untuk mencari casing pelindung hp tersebut saya, susah banget), nyala dan mati seenaknya dewe. Hahahaha.  Seminggu terakhir sebenarya hp ini sudah  semakin parah penyakitnya, tapi saya sebagai perempuan yang lebih menyukai membeli baju dan aksesorisnya dari pada mengeluarkan uang untuk hape yang harganya mahal (menurut versi saya loh), dan puncaknya adalah kemarin, di saat saya akan bertemu orang yang tidak saya kenal untuk urusan kantor, dan lokasi pertemuan di suatu Mall dan tidak disebutkan jelas di mana tepatnya di Mall tersebut.

Bayangkan betapa paniknya, hp kesayangan ini yang nyala dan kemudian 2 menit kemudian mati sendiri, atau nyala ketika saya menelfon dan diangkat, hp saya seolah olah cemburu begitu (LOL), mati secara sukses. Sehingga saya bisa menerima kalau orang yang membuat janji dengan saya, merasa saya permainkan. Hahahahaaha.

Salah satu sisi, saya benar – benar merasa kesal dengan hp saya. Tapi satu sisi lain, ya saya merasa terlalu “PD”, kalau saya bisa hidup tanpa hp tanpa ada prasyarat misalnya bisa hidup tanpa hp sewaktu liburan, etc. Padahal kalau saja saya bisa perduli dengan betapa pentingnya hp tersebut untuk urusan pekerjaan, tentu lah tidak akan ada kejadian seperti ini.

Kemudian saya memikirkan lebih jauh lagi, kenapa ya orang – orang dulu bisa bertahan tanpa hp? Padahal urusan perdagangan misalnya bisa antara negara, bagaimana mereka bisa bekerja, membuat janji dan lain sebagainya tanpa ada masalah? Bagaimana mereka bisa mengingat jadwal, menemukan lokasi, berhubungan dengan orang lain tanpa medsos yang bisa cepat di akses di hp.

Mungkin ya saat itu lebih bahagia karena pak or bu boss tidak bisa mengejar – ngejar saya untuk segera menyelesaikan tugas saya. Terus tidak ada rasa “minder’ melihat foto – foto teman saya yang liburan atau bertugas atau ngopi – ngopi syantikkk di medsos tanpa saya. Hahahahahahahaha.

Selain itu bagaimana mereka bisa menghafal no telefon tanpa ada masalah? Untuk yang ini, saya cukup kagum dengan mama saya, yang hafal semua no hp anak – anak nya, menantunya, plus no telp rumah, dan mama masih rajin mencatat di buku no telp telp orang orang, kalau – kalau beliau lupa. Saya sendiri? Saya tidak hafal no hp mama saya dan hp yang lain. Semuanya ada di hp saya. Saya tidak punya catatan no telp siapapun.

Sepertinya saya akan mengkoreksi kembali hubungan saya dengan hp (or telefon genggam, or mobile phone) saya. Karena saya ternyata masih bergantung pada hp saya mulai dari tugas menghubungi orang lain secara cepat, membantu mengingatkan jadwal saya, terkoneksi dengan teman – teman saya, dan yang utama membantu saya menyelesaikan pekerjaan saya.

Tapi niat untuk tidak terlalu addict – tergantung dengan hp sehingga melupakan sekeliling saya, sebaiknya memang tetap dipertahankan sih ya. Jadi saya tetap bisa makan enak dan fokus mendengarkan orang – orang yang ngobrol dengan saya, tanpa perlu sibuk dengan hp saya.

So bagaimana dengan anda?

Salam

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Benarkah kita sudah Merdeka?

Satu hari sebelum hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini, ada dua peristiwa yang saya alami, yang membuat saya bertanya – tanya kembali tentang arti kemerdekaan. Sudahkan kita sebenarnya sudah merdeka sebagai seorang manusia? Atau sebenarnya, kita ini masih terjajah? IMG_1139

Peristiwa pertama, seorang teman sekolah saya mengirimkan semacam poster tentang saran mempunyai dua istri agar Indonesia terbebas dari janda.  Dan itu dikirim dengan maksud untuk bahan bercandaan group. Dan buat saya, joke yang ini sama sekali tidak lucu.

Kenapa masalahnya dengan janda atau duda? Apa salah nya punya status seperti itu? Apa ada yang menikah untuk berpisah? Apa kah ada yang mau rumah tangga nya gagal? Apakah ada orang mau dengan suka rela mempunyai status tersebut? Apa hak orang – orang men judge status itu?

Dilecehkan, diketawakan, dianggap tidak baik, tidak diterima masyarakat, itu yang sering membuat banyak orang – orang (dalam hal ini  (menurut saya) terutama perempuan), yang kemudian merasa lebih baik tidak berpisah, dan kemudian memilih lebih baik berpura – pura segalanya baik, keluarganya baik – baik. Atau kemudian kalaupun harus berpisah, akan berusaha sekuat mungkin agar tidak ada orang yang tau. Karena berpura- pura ternyata lebih baik dari pada orang tau yang sebenarnya, lebih baik agar dapat diterima di masyarakat.

Kejadian kedua adalah, seorang teman saya mengirimkan link ke medsos, dimana isinya tentang seseorang yang saya kenal, yang demi menjaga image dan kepopulerannya, kemudian rela berbohong tentang dirinya di depan publik. Padahal, banyak sekali aktor atau aktris yang terbukti tetap laku walaupun banyak orang yang mengetahui  tentang jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka tetap tidak mau menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi, mereka tetap memilih diam agar tetap dalam kemerdekaan nya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Bukan bersibuk sibuk membuka cerita tentang dirinya, tentang hal-hal yang bersifat pribadi, dan kemudian terjebak untuk membohongi publik, agar bisa diterima.

Dari kedua kejadian itu, saya berpikir banyak tentang kemerdekaan. Merdeka kah kita kalau kita masih takut untuk mengatakan tentang status kita, masih takut untuk mengatakan apa yang sebenarnya tentang jati diri kita?

Kemudian saya berpikir tentang kejadian ketika masa-masa dimana kalau membela salah seorang pejabat yang saat ini sedang menjalani hukuman, banyak teman – teman saya yang ketakutan kalau ketauan membela penjabat tersebut atau pro terhadap pejabat tersebut. Bahkan untuk mengatakan pendapat mereka tentang kejadian tersebut saja tidak berani. Alasan nya? Karena ketakutan untuk disingkirkan dari masyarakat. Ketakutan dianggap “kafir”. Ketakutan dianggap sebagai “manusia berdosa”

Atau kejadian ketika ada kejadian di suatu tempat, ketika banyak sekali orang – orang yang takut untuk menyatakan yang benar, bahkan banyak yang diam diam menyatakan dukungan kepada saya, karena takut kalau ketauan mendukung saya, mereka akan terbuang dari “kelompok elite”. Ketakutan karena yang saya lawan adalah “orang – orang kuat”, yang mengaku membela hak setiap orang, mengaku membenci penindasan, tapi yang dilakukan ternyata berbeda.

Jadi kemudian, apa sebenarnya makna “kemerdekaan”?

Menjadi orang lain agar bisa diterima lingkungan? Berbohong tentang status agar tidak menjadi bahan tertawaan? Tidak berani berpendapat yang berbeda agar tidak disingkirkan oleh masyarakat sekeliling? Tidak berani menjadi kaum minoritas, karena ketakutan untuk disingkirkan dari kelompok tertentu?

Uhm ….  kalau begitu mungkin benar kata salah satu pahlawan “perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan menjadi makin sulit saat ini, karena yang harus dilawan adalah bangsa sendiri.

Saya sendiri, saat ini sebisa mungkin untuk tidak mau terjajah, untuk tetap merdeka dalam menyatakan apa yang saya pikirkan, apa pendapat saya, bagaimana cara saya melihat dan memandang sesuatu. Walaupun mungkin harga yang saya bayar akan sangat besar, termasuk ditinggalkan oleh orang – orang yang saya anggap sahabat ataupun teman saya bahkan orang – orang yang saya anggap saudara saya sendiri. Saya cukup menghargai kebebasan mereka untuk tidak setuju dan memilih jalan yang mereka anggap benar, seperti saya menghargai diri saya sebagai mahluk Tuhan yang hidup di negara yang sudah menyatakan kemerdekaanya sejak 72 tahun yang lalu.

Salam kemerdekaan !!!

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Tentang Integritas – Sebuah catatan diri

Sudah lama banget, saya tidak menulis di blog, walaupun setiap hari banyak banget yang ingin saya ceritakan, terutama selama perjalanan pergi dan pulang dari kantor saya yang cukup menyita waktu saya. Dan lagi lagi ketika sampai kantor atau sampai rumah, keinginan untuk membuka blog dan mengetikkan sesuatu di sana, seperti hilang tanpa bekas haahaaaahahaahaha

Kali ini saya ingin bercerita tentang integritas. Kata kata yang sempat jadi tren di kampus saya,  uhm tepatnya di kalangan alumni kampus saya setahun lalu, sehingga kemudian dikepala saya, kata “Integritas” ini,  juga menjadi sesuatu yang menjadi pertanyaan. Bukan pertanyaan mengenai apakah seseorang berintegritas atau tidak sih, atau sesuatu kejadian berintegritas atau tidak, tapi pertanyaan apakah sebenarnya arti “integritas” itu. Kaliamat mudahnya, apa sih yang disebut berintegritas. Dan seperti biasa, kemalesan saya, menghalangi saya untuk bertanya pada Mr. Google, dan harga diri saya menghalangi saya untuk bertanya kepada orang lain, maklum takut banget saya dianggap bodoh. Haaahahahahahhaa

Tapi Tuhan memang sayang banget sama saya, sehingga sebelum kebodohan saya mulai membunuh saya, akhirnya saya menemukan petunjuk, tentang apa yang dimaksud dengan “integritas” tersebut. Penjelasan mudahnya begini:”seseorang dikatakan berintegritas ketika kepercayaan nya/pandangannya/ believe nya terhadap sesuatu , sama dengan perilakunya sehari hari.”

Contohnya kalau seseorang yang berpandangan bahwa dia setuju bahwa seseorang harus berkata jujur, tapi kemudian dia sering banget berbohong, maka orang itu disebut tidak berintegritas.

Pada waktu contoh tersebut dikatakan oleh orang yang memberikan saya penjelasan, saya mulai mencari cari hal hal lain, yang saya percayai tapi tidak sesuai dengan tingkah laku saya. Hahaahahahaaa Terkejut sekali saya, ternyata ada beberapa yang memang tidak sesuai. Dan kemudian saya mulai berpikir, kalau begitu …. apa hak saya untuk mengatakan politikus A tidak berintegritas atau teman saya si B – tidak punya integritas.

Saya ternyata masih terjebak dalam permainan “semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada melihat kesalahan saya sendiri. Bahkan dengan angkuhnya memberikan “label – label” yang berkonotasi tidak baik kepada orang-orang tersebut. Bahkan apabila, akibat perbuatan  seseorang yang tidak berintegritas tersebut, menimbulkan dampak yang tidak baik kepada saya, dan kemudian orang tersebut meminta maaf kepada saya, saya tidak mau menerimanya, bahkan kemudian tidak jarang saya malah mengingat – ngingat kejadian tersebut dan mengungkit – ungkitnya di depan orang tersebut dan/atau didepan orang lain.

Seperti kata – kata orang bijak, “setiap masalah, pasti ada hikmahnya, pasti ada pembelajarannya”, atau kalau di kantor saya sering sekali disebut “leason learn” nya. Sehingga setiap ada seseorang yang perilakunya tidak berintegritas menurut pendapat umum, dan kemudian dikutuk oleh seluruh dunia karenanya (haaahahhaha … yup I am still kind of “lebay” woman hahhahahhhaa), itu adalah tanda yang diberikan alam, agar saya mulai mengkoreksi diri saya saya. Mulai mengevaluasi apa yang saya lakukan, apakah ada perbuatan saya yang juga tidak berintegritas, sehingga saya bisa menjadi mahluk Tuhan yang lebih baik (selain menjadi mahluk Tuhan yang paling seksi hahahahhahaahaaaaa ).

PS: tindakan tidak berintegritas yang masih banyak saya lakukan adalah: menyesal tapi tidak melakukan apapun untuk merubahnya, malah tidak jarang tindakan saya masih sama sebelum meminta maaf. Atau bilang tidak padahal iya. Seperti mengatakan saya tidak cinta padahal cinta banget hahaahhahhhahaaa. Nah, menyangkal isi hati ini yang memang yang akan saya latih, agar selaras pikiran dan hati saya, sehingga saya bisa termasuk orang – orang yang berintegritas. Ingatkan saya yah, kalau saya melakukan hal ini 🙂

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Ketika inspirasi menjadi meng dan ter di SDN Cigondewah 1, Bandung

SDN Cigondewah 1, Bandung terletak di daerah Bandung Kulon Bandung. Kalau ngetik nama SDN ini di Google, pasti langsung deh keluar hasilnya lengkap dengan map nya 🙂  Jadi nya untuk saya yang “buta” daerah Bandung, dengan bantuan teman saya Ayu yang menjadi navigator saya selama perjalanan (red: jadi pingin mengucapkan terimakasih banget – banget sama om dan tante keyreeeen yang menemukan Google maps 🙂 ) , tidak sulit menemukan SD ini. Kan enggak lucu ya, kalau di hari H, ada dua inspirator yang “tersesat di Bandung”, karena mencari alamat sekolah. Hahaahahaaa

Sesampai di sekolah jam enam pagi (sekali lagi enam pagi), sudah terlihat aktivitas Sekolah dari mulai penjual gorengan depan sekolah, guru-guru, anak – anak sekolah sampai dengan para relawan kelas Inspirasi, termasuk matahari Bandung yang ikut beraktivitas pagi ini.  Dan tentu yang sedikit menghebohkan dan menyebabkan adanya ‘drama’ adalah kehadiran relawan yang datang ‘last minute’ (sebenarnya sih enggak last banget, masih ada 10 menit an sebelum upacara pagi …. tapi ya, drama kan selalu dibutuhkan untuk menghibur jiwa raga …. termasuk jiwa raga para pemberi inspirasi seperti saya. hahaahahahhaaha).

Dan untungnya, kepiawaian Selvy menjadi MC saat upacara pagi, melupakan drama 10 menit sebelumnya. LOL Apalagi kemudian ditambah dengan adanya senam pinguin yang dipimpin kang Hendra dan navigator cantik saya  Ayu,  bersama seluruh relawan yang pagi itu memakai topi pinguin yang asli lucuuuuuuuuu buanget yang dibuat oleh Adit. Jadilah kelas inspirasi hari ini di SDN Cigondewah, dimulai dengan hati yang cerah, secerah matahari yang hari ini sayang banget sama kami para relawan, terbukti  matahari enggak ngambek sembunyi diganti hujan, atau enggak sombong bersinar dengan panas yang gila – gila an (#eeeaaaaa).

Kelas yang saya isi kali ini dimulai dengan kelas 4 A, dimana di kelas ini anak – anak nya cukup aktif sehingga ‘mati gaya’ yang jadi nightmare nya saya setiap kali, dikelas inpirasi, tidak terjadi. Informasi tentang mereka diajak menabung oleh gurunya, membuat saya cukup bahagia. Bahkan ada satu anak yang dengan bangganya menunjukkan buku tabungannya yang sudah mencapai 3 juta rupiah, karena selalu menabung dari kelas satu dan tidak pernah diambil (PS : ayooo ngaku, waktu SD siapa yang rajin menabung?  Kalau saya sih ngaku, dulu menabung itu kalau mau beli buku bacaaan hahhaahhaa)  WOW banget kan. Walaupun saya cukup sedih ketika melihat salah satu langit – langit kelas terbuka lebar, karena tripleks nya sudah lepas, yang semetinya sudah harus secepatnya dibetulkan sebelum ada tripleks lain yang lepas yang menimpa anak anak.

Kelas kedua yang saya isi adalah kelas 5B, sama seperti kelas 4 A sebelumnya, keaktifan dan keingin tahuan anak anak yang tinggi, membuat saya tidak mengalami masalah berbagi tentang pekerjaan saya. Dan yang paling mengejutkan saya adalah ketika ada salah satu anak yang bernama Fauzan yang ketika ditanya apa cita citanya, dengan lantang nya berkata “Mau menjadi Pengusaha,  kemudian mau S2”  Bayangkan kelas 5 SD, sudah memikirkan mau kuliah sampai S2 !!!! Apalagi ketika ditanya mau S2 nya dimana, dia berkata mau S2 di UI di Jakarta. Untuk pertama kalinya selama mengikuti beberapa kelas inspirasi, saya mendengar ada anak yang pingin kuliah S2. Karena biasanya mereka hanya menyebutka ingin menjadi apa, dan kebanyakan bahkan tidak tau, harus sekolah di mana kalau pingin meraih cita – citanya.

Selain itu, mungkin ini tidak akan menjadi surprise besar untuk saya, kalau anak ini tidak bersekolah di SD dimana rata – rata orang tuanya, berpenghasilan minimum dan berada di lingkungan kelas menengah ke bawah. Bahkan ketika ditanyakan apakah pernah ke Jakarta, seperti teman – teman nya yang lain, Fauzan ini juga tidak pernah ke Jakarta. Dan biasanya sering sekali ketika bercita – cita jadi pengusaha, malah banyak anak anak yang berpikir tidak perlu sekolah.Iya kan? Saya sendiri, sewaktu SD tidak pernah berpikir mau S2 hahahahhahhaa.  Dan ketika saya tanyakan relawan yang lain, sama seperti saya mereka juga sewaktu SD tidak pernah memikirkan mau kuliah sampai S2 dan mau kuliah dimana.

Kemudian saya mulai berpikir tentang mimpi – mimpi saya, seberapa berani saya bermimpi tinggi? Terakhir kali saya bermimpi, tinggi dan kemudian saya wujudkan itu tiga tahun lalu. Kemudian? Seringnya sih malah untuk bermimpi saja saya takut. Tapi seperti kata kata bijak, enggak pernah ada yang kebetulan di dunia. Pertemuan saya hari ini, dengan anak kelas 5 SD yang berani bermimpi tinggi dan yakin bisa meraih mimpinya, seolah olah menjadi ‘pecut’ untuk saya, agar saya mulai berani bermimpi tinggi, agar saya tidak lagi membuat batasan – batasan akan kemampuan saya, yang mungkin baru saya gunakan 30 % nya (ini kata senior saya, yang bilang kenapa saya menyia – nyiakan, karunia Tuhan dengan hanya menggunakan 30 % dari kemampuan saya . Waktu itu sih saya cuman berpikir,…. iihh sok tau deh nih orang hahahahahaha. Tapi hari ini Tuhan, memaksa saya untuk melihat saya yang menyia – nyiakan anugerahnya ).

 

Kembali ke kelas Inspirasi, kelas VI dan kelas I menjadi kelas terakhir sekaligus menjadi kelas yang penuh tantangan di kelas inspirasi saya kali ini. Di kelas VI, saya kudu menyesuaikan dengan gaya mereka yang sudah mulai memasuki masa pubertas. Dimana, lagu yang mau mereka nyanyikan hanya lagu cinta. Hahahahaaahaha dan “woooosh … wooooossshh” sebagai bentuk apresiasi yang saya ajarkan dianggap kekanak kanakan oleh mereka. Hahahahaahaha. Atau ada yang anak yang berusaha keras untuk mengajak saya berbicara bahasa Inggris, dan saya tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Mungkin karean wajah saya yang kebule bulean ini, jadi dia merasa wajib berbahasa inggris dengan saya. LOL. Terus terang ketika meninggalkan kelas, saya merasa saya sedikit gagal, jadi inspirator (yup … like I wrote before, I am kind of drama queen hahahahhhahaa).

Dan ketika saya menuju ke ruang perpustakaan untuk istirahat, karena ada jeda lumayan lama, tiba tiba segerombolan anak – anak kelas IV B, datang menghampiri saya dan memberikan pelukan untuk saya, rasa gagal itu tiba tiba hilang lenyap begitu saja. Kebayang kan kan terharunya, ada satu kelas anak anak yang saya sendiri enggak mengerti apa yang saya berikan, sampai mereka tiba -tiba memberikan pelukan seperti itu kepada saya. Yang saya tau, anak – anak tidak akan mau memeluk orang yang tidak mereka sayang, mereka tidak bisa berbohong secanggih itu.

Jadilah saya speechless, terharu, semuanya deh. Merasa disayang banget, merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia, dan pastinya seluruh cape (terutama, karena menyetir sendiri dari Jakarta ke Bandung dan macet pula karena ada kecelakaan), hilang begitu saja.

Selanjutnya setelah beristirahat terutama juga setelah mendapatkan energi dari pelukan anak anak,  saya mulai memasuki kelas I  … nah, tantangan nya di sini adalah, saya kudu nyanyi terus. Walaupun, cukup senang karena banyakan nyanyi dan tertawa  (dan hanya 3% nya menjelaskan siapa dan apa pekerjaan saya. maapkaannnnnnn  yaaaa)  jadilah suara saya dan tenaga saya habis terkuras.  Favorit mereka adalah  metode ice breaker yang menjelaskan gajah dengan menjentikkan jari, dan menjelaskan semut dengan membuat lingkaran yang besar dengan tangan (bisa dilihat di youtube).  Jadilah ketawa yang enggak habis habis nya kalau mereka atau teman nya terbalik balik melakukannya.

Tidak terasa, kelas inspirasi ini selesai hari ini. Seperti upacara pagi tadi, maka penutupan di siang hari yang cerah secerah hati para inspirator yang bisa melewati kelas inspirasinya setelah semaleman deg – deg an takut ‘mati gaya’ di depan anak anak (bayangin yah … presentasi didepan bos atau yang lain ajah enggak sedeg – deg an ini deh haaahhaahhahaa),  juga dilakukan dengan berkumpul berbaris di lapangan, tapi tentu tanpa senam pingui, tapi dengan lagu terimakasih guruku yang hampir dicoret dari list acara hahahahahahahaa.

Setelahnya kami berfoto bersama dan by surprised disuguhkan makan siang dari sekolah (terimakasih bapak dan ibu guru yang sudah menyiapkan makanan ini buat kami), maka kami makan bersama dan mulailah menceritakan apa yang kami alami masing masing di kelas. Jadilah, makan menjadi ajang sedikit curcol tentang yang dialami dikelas.

Buat saya selalu mengagumkan ketika ada sekumpulan orang yang tidak kenal satu sama lain sebelumnya, yang punya kesibukan di tempat kerja nya masing masing, dan enggak pernah menanyakan latar belakang, agama, suku etc, tapi kemudian mau bergotong royong, mulai dari meeting bareng, membuat koreografer,  memilih jenis senam, run down etc, karena menginginkan supaya pada hari H dapat memberikan yang terbaik untuk anak – anak. Ini wujud Indonesia yang sebenarnya. Wujud aslinya budaya Bhineka Tunggal Ika.

Enggak salah kan kemudian saya mengucapkan terima kasih kepada teh El yang jadi pendampingnya Kel 42 (enggak nyesel kan jadi pendamping kelompok yang keyren ini? #teteup narsis), Kang Ganjar yang jadi leader kel 42 yang selalu pingin diangkat jadi ponakan saya hahahhaahahah, tim jkt 42 (Selvy, Ayu, Wita, Nisa dan Dita (yang diadopsi jadi tim Jkt 42 walaupun enggak tinggal di jkt), kang Hendra, kang Zaka (yang kemudian ngasih kita masing masing ilustrasi wajah yang cute banget), Dilla dan Aji (pasangan suami istri, yang buat kita semua takjub karena bisa gitu suami istri jadi inspirator di sekolah yang sama – jodoh memang luar biasa yaaaa), teh Jinie, Dito, kang Nur, Hendra Dwi, Nisrina, dan Ukky. You rock guys.

So … yang belum pernah ikut kelas Inspirasi, yuuuuk ikutan. Dijamin bikin ketagihan, bakal punya banyak saudara – saudara baru, bakal punya  pengalaman yang tidak terlupakan.

 

 

 

 

Posted in #KIBdg5, Anak, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak – anak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan – pertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu – lucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak – anak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)

Posted in #KIBdg5, Anak, bangsa, Indonesia, Indonesia ku, inspirasi, inspirator, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Agama, Kebencian dan Cinta

“Jika memang tidak bisa bersaudara dalam keimanan, setidaknya tetaplah bersaudara dalam kemanusiaan.” (Ridwan Kamil)

Kata – kata ini saya baca dari twitter -nya Bapak Ridwan Kamil, yang menurut saya wise banget, dan cocok banget dengan keadaan di Jakarta saat ini.

Saya teringat kekesalan ibu saya minggu lalu, karena ada tetangga yang bercerita kepada beliau, bahwa ada yang tetangga yang lain – tidak mau lagi ngobrol atau berteman dengan ibu saya karena mengetahui bahwa kakak saya dan keluarganya beragama yang berbeda.

Kata ibu saya, yang membuat beliau kesal bukan karena tetangga tersebut tidak mau berbicara/bergaul, tapi karena alasan nya. Urusan beragama apa pun itu kan urusan pribadi. Kenapa orang lain harus sibuk menghakimi orang lain karena pilihan nya. Di surat Al Kafirun juga dijelaskan “agamamu agamamu, agamaku agamaku.”  Jadi kenapa harus membenci karena perbedaan itu? Soal dosa atau tidak, biarlah itu menjadi tanggung jawab masing masing. Toh memang di hari akhir nanti setiap orang harus menanggung perbuatannya masing masing, bukan menanggung perbuatan tetangganya?

Saya termasuk orang yang beruntung yang mempunyai ibu, yang memberikan saya dan saudara – saudara saya kebebasan, memilih apa yang kami percayai. Saya merasa beruntung punya keluarga yang beragam, jadi setiap ada acara besar keagamaan, berarti ada acara kumpul – kumpul bareng keluarga besar. Dan apapun penghakiman orang terhadap keputusan ibu saya, saya tidak perduli. Yang saya tau, ibu saya tidak akan  menyetujui, kalau anak – anaknya berganti agama karena alasan mencintai seseorang.  Karena itu bukan beriman kepada Tuhan, tapi karena beriman kepada manusia. Dan itu tidak benar. Agama dan Tuhan bukan mainan seperti itu. Jangan menipu Tuhan kata ibu saya.

Saya dan saudara – saudara saya juga termasuk beruntung karena dari kecil kami dibesarkan dengan dua agama. Beruntung karena kami bisa melihat keindahan masing masing agama, karena kami bisa merasakan keindahan hati orang – orang yang berbeda diantara kami.

Sehingga saya dan saudara – saudara saya, agak sulit untuk mengerti mengapa orang harus berantem karena sesuatu yang berbeda apalagi yang perbedaan yang diributkan adalah tentang agama, karena setiap agama mengajarkan cinta kasih bukan mengajarkan membunuh satu sama lain. Karena setiap agama mengajarkan tentang memaafkan dan bukan tentang membenci. Dosa atau tidak, masuk surga atau pun neraka, biarlah itu menjadi urusan pribadi masing masing.

Tidak suka orang lain, karena agamanya berbeda – menurut saya agak aneh. Apalagi kemudian apapun yang dilakukan nya, apapun usahanya, apapun permintaan maafnya tidak bisa diterima hanya karena agama yang berbeda.

Kalau memang yang dilakukan nya salah ,  biarlah pengadilan yang memutuskan, bukan malah mengajak ngajak orang lain untuk membenci, dan yang lebih parah adalah kemudian malah “membully” orang lain yang membela orang tersebut. Bukan hanya sekedar ‘membully’, bahkan lebih dari itu, dimusuhi, dijauhi.Padahal  mereka satu agama. Padahal mereka hanya mengungkapkan pendapatnya. Mengapa tidak boleh berbeda?

Kemudian mengapa harus terus berburuk sangka kepada orang lain yang berbeda keyakinan? Mengapa tidak mau sedikit saja membuka mata hati untuk melihat apa yang telah dilakukannya, karena akan sulit melihat kebaikan apapun selama kebencian masih menutupi hati. Sulit sekali untuk menyadari, bahwa apapun yang terjadi adalah atas seijin Allah, jadi kalau ini terjadi, maka seharusnya melihat apa hikmatnya kejadian ini?  Padahal Allah itu Maha Pemaaf, mengapa kita tidak berusaha juga memaafkan? Bukan malah menjadi membabi buta marah dan membenci segalanya, bahkan membenci dan marah yang tidak jelas kepada orang yang membelanya? Maafkanlah karena mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.

Saya bukan ingin membela seseorang yang sedang bermasalah sekarang, karena saat ini biarlah pengadilan yang memutuskan. Biarlah  hakim bebas memutuskan apapun tanpa perlu takut keluarga maupun  diri nya akan dihujat apabila keputusan nya berbeda dari keputusan “haters’nya. Biarlah keputusan nya benar benar keputusan yang adil sesuai dengan hukum yang ada, dan bukan keputusan yang mengikuti emosi. Karena pengadilan mencari keadilan bukan mencari kebenaran.

Saya ingin mengajak agar kita tidak saling membenci hanya karena agama. Kita tidak saling membenci hanya karena orang berbeda keyakinan nya dengan kita.

Indonesia butuh banyak cinta, bukan butuh banyak kebencian. Indonesia butuh banyak orang yang perduli kepada masa depan anak bangsa ini, dari pada orang – orang yang mengajak orang lain membenci orang – orang lain. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling bersatu bahu membahu, membangun negara ini. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling memaafkan, untuk tidak membesarkan masalah yang sebenarnya bisa dimaafkan.

Jadi, yuk kita gunakan cinta kita untuk membangun negara ini. Yuk kita hentikan saling membenci karena perbedaan terutama karena perbedaan agama yang pastinya mengajarkan kita  tentang cinta kasih dan memaafkan sesama.

Salam

 

Posted in agama, bangsa, ibu, maaf, ras, Tuhan, Uncategorized | Leave a comment

Melihat dengan Hati

Melihat dengan hati itu begini –  bahkan ketika seseorang tidak mengatakan tentang persoalannya, tapi hati nurani “melihat”apa yang dirasakan orang tersebut. Sehingga, tumbuh rasa empati, rasa perduli. Ini biasanya butuh banyak latihan, butuh keinginan untuk mau memposisikan diri menjadi orang lain, sehingga bisa mengetahui point of view orang lain yang mempunyai pikiran dan keputusan yang berbeda. Biasanya orang yang melihat dengan hati akan terlihat ‘humble’, tidak mau menang sendiri.

Kemarin, saya mengobrol banyak dengan salah satu senior saya, sudah lama sebenarnya saya ingin mengobrol dengan beliau, karena setahun belakangan hubungan saya dan senior saya satu ini tidak terlalu baik (menurut saya). Banyak sekali yang dilakukan nya, menurut saya tidak sesuai dengan pikiran saya, standard saya. Dan yup … saya juga terlalu angkuh untuk mau melihat segala keputusan nya dari sudut pandang beliau. Bahkan saya terlalu angkuh untuk sekedar bertanya, apa alasannya. Dan yang paling parah, apapun yang dilakukan beliau, menjadi salah selalu di mata saya, padahal tidak selalu begitu.

Dan betapa terkejutnya saya ketika tadi malam saya mencoba mengingat kembali apa yang dikatakannya — termasuk kata seseorang yang dekat dengan saya bahwa “saya orang yang merasa selalu benar”, saya menyadari banyak hal.

Ternyata sebenarnya pikiran saya dan senior saya itu sama, tapi cara yang kami lakukan berbeda. Yang saya lihat dengan mata saya adalah bahwa yang dilakukan nya tidak benar. Padahal kalau saya mau mencoba untuk melihatnya melalui “hati” saya, saya pasti akan mudah sekali melihat bahwa hanya cara nya yang berbeda. Dan itu menjauhkan saya dan senior saya hampir satu tahun.  Coba kalau saya sedikit mempercayainya, pasti akan ada dipikiran saya, bagaimana kalau saya melihatnya dari sudut pandangnya?

Kemudian saya mencoba merenungkan kata – kata “saya merasa selalu benar”, yang selama ini cukup menggangu saya, tapi sekali lagi  keangkuhan saya terlalu besar untuk menanyakan kenapa orang tersebut menyatakan itu kepada saya. Padahal beliau, orang yang cukup dekat dengan saya, orang yang mengajarkan kepada saya, apa artinya “it’s ok to be weak” karena saya memang enggak selamanya kuat, orang yang mengenalkan saya  rasa aman tanpa perlu kata – kata, cukup melihat dan merasakan kehadiran seseorang yang pasti enggak akan membiarkan saya kenapa – kenapa, orang yang mengajarkan saya apa rasanya merasa aman. Dan padahl menurut saya, beliau saat ini orang yang paling saya percayai.

Sama seperti dengan senior saya, instead of saya merasa bahwa pasti ada hal yang besar mengapa beliau mengatakan itu kepada saya, saya malah marah dan kesal dan saya kemudian berusaha meng “ignoring”, mengabaikan, apa yang diucapkan nya.  Padahal kata – kata itu selalu mengikuti saya kemanapun saya pergi, dan setiap saat saya bertemu dengan beliau.  Tapi yup …. saya memang terlalu angkuh.  Terlalu sombong untuk menanyakan dan terlalu takut untuk mendengar, kalau saya melakukan kesalahan.  Saya memang maunya menang sendiri. Bahkan saya tidak mencoba duduk dan berbicara baik baik dengan beliau tentang ini. Keangkuhan saya memang luar biasa. Bahkan untuk jujur kepada orang yang saya percayai itu, terlalu sulit saya lakukan.

Dan kemudian, betapa terkejut nya saya, karena ketika saya renungkan,  dari seluruh apa yang terjadi belakangan ini,  saya tidak pernah cukup mau “mendengar” – listen, saya cuman mendengar (hear) —- dan hanya menangkap apapun yang mau saya dengar. Semua nya saya lakukan dengan standard saya, sesuai situasi saya, sesuai dengan keinginan saya. Sudah berapa lama saya kembali pada kebiasaan saya ini? Sudah berapa lama saya lupa untuk melihat dengan hati saya?  Sudah berapa lama saya “mematikan” rasa saya, sehingga sulit untuk saya merasakan selain kekecewaan?

Kemudian berapa banyak marah saya, yang tidak saya selesaikan? Berapa banyak saya kembali merasa jadi “victim” atas apa yang terjadi? Berapa banyak hal – hal yang tidak mau saya maafkan? Berapa lama saya kembali memusuhi diri saya sendiri? Berapa lama saya tidak mau kembali berdamai dengan diri saya? Bagaimana saya bisa melihat orang lain dengan hati saya, kalau saya sendiri tidak mampu melakukan nya untuk diri saya sendiri?

Ah entahlah …. , yang jelas, saya memilih untuk kembali lagi belajar melihat dengan hati saya. Belajar untuk menurunkan ego saya, menurunkan rasa angkuh saya. Mungkin perlu waktu panjang, mungkin juga bisa cepat, yang pasti saya tidak mau lagi menyakiti banyak orang yang saya sayangi, karena saya tidak mampu untuk “melihat dengan hati”. Doakan saya sukses ya. Doakan agar mereka mau memaafkan saya, kalau saya menyakiti hati mereka.

Kalau anda merasa saat ini seperti saya, yuuk belajar bersama sama melihat dengan hati.

Salam

 

 

 

 

 

 

Posted in memaafkan, mendengar dengan hati, menghargai, ucapan, ucapan yang tidak terucap, victim

Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Posted in adil, agama, Indonesia, Indonesia ku, kepribadian bangsa, masyarakat, media massa, menghargai, pancasila, suku, Tuhan, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Be careful with your wish

Tadi pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengarkan lagu lama. Lagu tersebut dinyanyikan oleh salah satu group di Indonesia. Namanya Trio Libels ….. yup group yang udah jadul buanget.  Mendengarkan lagu tersebut membuat saya kembali teringat sewaktu saya masih sekolah smp.

Karena saya lumayan dekat dengan guru – guru saya, sering banget saya ditanya mau jadi apa saya nantinya. Dan jawaban saya selalu sama terperinci seperti ini…. saya pingin banget jadi dokter tapi saya pingin sekolah nya itu dapat bea siswa – gratis seperti Edwin Libels itu.

Dan saya …. tidak menjadi dokter memang ….. tapi saya diterima di sekolah yang sama dengan Edwin Libels. Beliau menjadi senior saya. Kalau dipikir pikir ya .. mungkin waktu itu harusnya harapan saya kalau ingin menjadi dokter, contohnya jangan bang Edwin ini yaaaaaaa hahahhhahhahhaaaa.

Cerita lain yang masih berhubungan dengan sekolah ini …. ada salah satu universitas, setiap kali saya transit di Jkarta (sewaktu saya masih tinggal di luar pulau Jawa), selalu saya lewatin dan setiap kali itu saya selalu bilang, kudu kuliah lagi nih. Dan memang …. saya kuliah lagi ….. dan ……. di universitas tersebut. Semustinya ya … saya melengkapi “wish” saya menjadi … saya kudu kuliah lagi di Harvard misalnya ya hahhahahhahhaa. Jadi Tuhan enggak menyangka saya minta nya kuliah lagi disana hahahahhahaha. Tapi anyway, saya senang loh kuliah disana 😀

Kemudian sewaktu sma dan kuliah, saya punya ketakutan menjadi seorang ibu. Iya ….. saya takut banget jadi seorang ibu. Takut enggak bisa jadi ibu yang baik. Kenapa berpikir begitu? Karena saya selalu berpikir, saya tidak cukup baik untuk jabatan semulia menjadi ibu. Dan ketakutan saya itu sering kali saya ucapkan dalam hati ketika saya sedang merenung. Saya waktu itu selalu memikirkan kalau menjadi tante pasti lebih mengasikkan buat saya. Karena saya selalu cinta dengan anak – anak kecil.

Dan …. itu ternyata dianggap Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi “wish” saya, harapan saya. Karena Beliau Yang Serba Maha itu sayang banget sama saya, tidak mau saya takut, jadilah saya ya …. sampai sekarang belum menjadi ibu.  (PS : sekarang saya mulai merubah ucapan dalam hati saya …. bahwa saya seperti yang lain akan menjadi ibu yang perfect buat anak anak saya). And yup ….. saya mempunyai keponakan – keponakan yang selalu bisa “bright” my day, dengan apapun yang mereka lakukan. Dan saya cukup dekat dengan keponakan saya yang pertama, sebegitu dekatnya, sampai saya bisa berliburan hanya berdua dengan dia —- buat dia, saya itu tante nya yang paling “cool” hahaahhahahhaha.

Atau saya pernah berpikir tentang tinggal di Jerman (karena waktu itu saya pingin jadi dokter yang lulusan Jerman), tapi setiap kali saya memikirkan tentang Jerman – hampir tidak pernah bersama dengan pikiran tentang sekolah kedokteran hahahahahhahahhhaa. Ya …. jadilah saya memang tinggal di sana, tapi tidak untuk sekolah dokter.

Dan banyak hal – hal lain, yang terjadi di perjalanan hidup saya ….. yang setelah saya pikir pikir niiiiihhh…. itu karena pikiran, ucapan saya baik yang saya ucapkan kepada orang lain atau pun dalam hati, secara berulang ulang – menjadi “wish” —- dan yang kemudian oleh Tuhan Yang luar biasa sayang sama saya kemudian diwujudkan.

Jadi ….. kesimpulannya …. mulai sekarang setiap kali saya menginginkan sesuatu, saya terperinci merunut apa yang mau, misalnya mau kuliah — iya … mau kuliah di mana?  Mau beasiswa …. beasiswa seperti apa? Dan terlebih saya akan berhati hati dengan pikiran saya dan ucapan saya … karena bisa bisa benar benar terwujud, disangka itu menjadi wish saya.  Dan kemudian ketika “wish” itu benar – benar diwujudkan …. saya nya marah marah dan kecewa hahahhaahhahhahhahaha. Padahal yang minta itu saya (walaupun secara tidak sadar yaaaaa).

Trus parahnya ya  …. saya kemudian ngambek sama Tuhan …. bilang kenapa saya diberikan masalah seperti ini haahhaahahhhaaha. Padahal ya ….. bukannya bersyukur, segalanya di dengar Tuhan ya 😀

So …. yuk ikut latihan bersama saya untuk menjaga pikiran dan ucapan agar tidak menjadi “wish” dan kemudian sesuatu yang kita tidak harapkan terjadi karenanya (hahaahahhhahaaa).

Salam

Posted in 'wish', doa, harapan, harapan yang didengar, manusia, masyakat, rejeki, Tuhan, ucapan, ucapan yang tidak terucap | Leave a comment