Surat Terbuka untuk Ibu Neno Warisman

Surat terbuka ini saya tujukan kepada ibu Neno Warisman, mengingat saya tidak mempunyai alamat email atau Media sosial yang lain yang bisa langsung berhubungan dengan ibu Neno Warisman yang baik hati. Mungkin dengan surat terbuka ini, ada yang akan menyampaikan kepada ibu yang saya rasa berhati seluas samudera.

Ibu, saya terkesima sekali pertama sekali mendengar tentang puisi yang ibu bacakan pada saat Munajat 212. Saya hampir tidak percaya apa yang saya dengar dan baca, sampai saya mencoba mencari di youtube dan mendengar berkali – kali isi video bahkan saya mencari dari berbagai sumber, karena menginginkan kebenaran.

Ibu, maafkanlah saya kalau perasaan saya salah, karena saya merasakan kemarahan yang begitu hebatnya ketika ibu membacakan puisi tersebut. Bukan kelembutan seorang perempuan penyanyi yang pernah saya kenal, tapi kemarahan dari seorang perempuan yang merasa takut dan merasa tidak aman, sehingga kemudian melontarkan kalimat seperti yang ibu utarakan.

Ibu, sebagai seorang yang beragama, tidak sekalipun saya pernah merasa akan melepaskan iman dan kepercayaan saya kepada Allah, hanya karena pemimpin yang terpilih bukanlah pimpinan yang saya inginkan. Tidak pernah terlintas juga dikepala saya, akan mengancam Allah yang saya benar – benar percaya akan memberikan yang terbaik kepada umatNya, akan berpaling dari padaNya hanya apabila ada yang saya inginkan tidak tercapai.

Allah mungkin tidak memberikan seluruhnya yang saya minta, bahkan kadang – kadang sering sekali oleh Nya diberikan banyak hal yang saya pikirkan adalah cobaan, padahal setelah saya melewatinya ternyata adalah pilihan terbaik buat saya, karena kalau saya tidak melewati itu maka saya tidak akan menjadi seperti saya yang sekarang. Karenanya saya selalu meyakini, Allah selalu tau apa yang terbaik, Allah selalu tau kapan waktu yang terbaik, tanpa perlu diancam, tanpa perlu saya marah ataupun kecewa. Saya tau besarnya cinta Allah kepada saya, walaupun sampai saat ini masih banyak yang perintahNya yang saya lalaikan. Dan sekali lagi, saya tidak pernah meragukan kehebatan Allah, karena Allah adalah sang Maha, yang tidak selayaknya mendapatkan ancaman dari saya.

Ibu Neno yang budiman, saya kemudian mencoba melihat dari sudut pandang ibu, yang mungkin sedang marah dan kecewa, kemudian saya teringat kepada ustad – ustad saya yang selalu mengajarkan kepada saya yang memang pemarah ini tentang kesabaran. Sabar untuk menjalani apapun yang terjadi. Untuk tidak langsung marah dengan keadaan, karena banyak hal yang akhirnya akan kita sesali ketika kita marah. Dan banyak hal juga yang tidak sempat saya syukuri ketika saya marah. Dan banyak orang yang menjauh dari saya karena kemarahan yang terlontar.

Kemudian tadi pagi saya mulai menggoogle tentang marah dan Islam, dan alhamdullilah ternyata banyak sekali jurnal – jurnal yang menulis tentang hal ini. Saya ambil beberapa  ya bu:

Dalam Ta’Dib, Vol XIII, No. 02, Edisi November 2013, tentang Teori Kompensasi Marah dalam Perspektif Psikologi Islam yang ditulis oleh Indah Wigati, fakultas Tarbiyah dan Kegururan IAIN Raden Fatah Palembang, ditulis:

Q.S Ar. Ra’Ad 28 : “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan tentram.”

Q.S As-Syara’ 43: “Barang siapa yang sabar dan suka memafkan, sungguh hal yang demikian itu termasuk hal yang diutamakan.

Dari ayat – ayat di atas maka marah adalah:

  1. Marah merupakan pemberian Allah yang harus mampu dikendalikan.
  2. Marah hendaknya harus ditahan dan dikendalikan.
  3. Allah mencitai orang-orang yang pemaaf.

Al Ghazali berkata: Manusia berbeda – beda dalam tingkat gejolak kemarahannya, dan dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu: kurang marah, marah yang melewati batas, dan marah yang stabil. Kurang marah adalah hilangnya kekuatan gejolak marah atau gejolak amarahnya tersebut lemah. Marah yang berlebih – lebihan adalah mendominasinya sifat amarah hingga mengalahkan kendali, akal, agama dan ketaatan, sehingga tidak ada bagi orang seperti ini suatu kesadaran, fikiran dan inisiatif. 

Kemudian di dalam jurnal yang lain yang ditulis oleh R. Rachman Diana (program studi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang berjudul “Pengendalian Emosi Menurut Islam yang dimuat dalm UNISINA, Vol. XXXVII No. 82 Januari 2015:

Selain sabar: ajaran Islam melalui lisan Nabi Muhammad mengajarkan tentang pentingnya pengendalian emosi dengan cara banyak bersyukur. Syukur ini sebuah bentuk pengakuan bahwa segala kenikmatan berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya kapanpun Dia kehendaki. Sikap ini dalam menjaga seorang mukmin dari sikap berlebihan (euforia) dalam menerima kesulitan maupun kemudahan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S 57:23 sebagai berikut:

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Pemaafan (forgiveness) adalah strategi koping yang penting dalam Islam. Rasulullah S.A.W adalah pribadi agung yang sangat terkendali emosinya dan mampu menannggung amarahnya terhadi stimuli negatif yang dihadapi. Al Quran menggambarkan bahswa sekiranya beliau termasuk orang yang suka mengumbar amarah, niscaya umat telah meninggalkannya (QS 3:159). Menahan amarah bukan berarti menyimpannya yang sewaktu waktu diletupkan. Pemberian maaf adalah sebuah proses meleburkan semuanya dan menghadirkan kelapangan hati. 

Salah satu ayat yang menjelaskan tentang keuatamaan memberi maaf, diantaranya:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi juka kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang – orang yang  bersabar.” (QS an-Nahl/16:126-127).

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang – orang yang zalim.” (QS asy-Syuura/42-40).

Begitulah ilmu yang saya dapat ibu Neno Warisman yang baik yang bisa saya bagi kepada ibu. Allah tidak menyukai kekerasan, yang menurut saya, berarti Allah juga tidak menyukai segala ancaman, apalagi ancaman tersebut ditujukan kepadaNya.

Saya yakin dan percaya, Allah juga tidak bermasalah ketika banyak yang berpaling dariNya, toh Beliau yang Maha, Penguasa di atas Penguasa. Yang misalkan pendukung nya hanya satu orang, tidak akan mengurangi segala kehebatanNya.

Allah mencintai kedamaian, karena itu Islam adalah ajaran agama yang damai. Karena itu banyak ayat – ayat tentang pengendalian emosi. Banyak ajaran tentang “Ikhlas”. Begitu juga banyak cerita bagaimana sabarnya Nabi Muhammad S.A.W, bagaimana santunnya Beliau, bagaimana orang banyak mencintai Nya karena kebijakannya.

Saya tidak mengatakan saya adalah orang yang paling sabar. Tidak sama sekali. Justru karena saya pemarah, saya bisa sedikit memahami mengapa ibu menuliskan puisi seperti itu. Walaupun, saya belum bisa mengerti, mengapa ibu mengancam Allah SWT seperti itu? Dipikiran saya yang pendek ini, saya belum bisa memahami bagaimana saya bisa sesombong itu mengancam Tuhan. Maaf kan saya ibu untuk bagian ini. Maafkan saya, kalau saya salah tafsir. Tapi itu yang saya rasakan.

Sekali lagi ibu Neno Warisman, dan juga mungkin pemuka – pemuka agama Islam yang saat ini sedang dilanda kemarahan. Sedang merasa frustasi, kecewa dan takut. Hayuk mari, dibuka kembali Al Qurannya, dibaca kembali ayat – ayatnya, diresapi, sehingga hati merasa tentram.  Sehingga berani menghadapi apapun yang terjadi, berani dengan keyakinan kalau Allah akan ada membantu. Tidak lagi marah – marah, atau lari tanpa mau menyelesaikan masalah. Dan kemudian kata – kata yang terjalin, kalimat – kalimat yang dilontarkan adalah kalimat indah memuji Allah SWT, yang damai, yang sabar yang penuh ketenangan. Aamiin.

Salam Damai, maafkan kalau ada kata – kata saya yang kurang berkenan.

Kharina Dhewayani.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mari warnai anak dengan cinta

Salah satu yang sering sekali saya temukan ketika menjadi volunter di salah satu training di Jakarta, adalah cerita tentang masa kecil yang kelam, yang terjadi pada anak dan dilakukan umumnya oleh orang tua, maupun keluarga terdekat yang kemudian terbawa sampai dewasa. Tidak jarang luka – luka masa kecil ini lah yang menyebabkan seseorang bersikap tertentu terhadap orang lain atau terhadap suatu  kejadian.

Tidak menjadi masalah kalau hasil dari luka masa lalu tersebut menjadi kan seseorang bersikap positif atau berubah ke arah positif, yang menjadi masalahnya luka masa kecil tersebut sering sekali menghasilkan sikap atau perubahan ke arah negatif.

Dan parahnya kejadian – kejadian ini dan perubahan – perubahan negatif ini sering banget tidak disadari oleh orang tua. Malah tidak jarang juga, orang tua semakin marah kepada anak karena perbuatan yang mereka lakukan (padahal itu adalah akibat dari apa yang mereka lakukan sebelumnya).

Misalnya pemukulan yang dilakukan oleh orang tua yang dilakukan secara brutal sampai menyebabkan luka, atau penguncian anak di ruang tertutup dan sebagainya. Si anak mungkin sampai saat dewasanya akan merasa trauma terhadap ruangan tertutup, menjadi pembohong agar disukai oleh orang lain, tidak bertanggungjawab terhadap kesalahannya dst. Bahkan perubahan menyukai sesama jenis, karena pelecehan yang dilakukan oleh orang tua atau orang terdekatnya yang sama jenisnya, sewaktu kecil yang  tidak berani diceritakan karena takut dimarahi kalau menceritakan kejadian tersebut.

Sering sekali saya tidak bisa menahan air mata dan ikut merasakan sakit yang sama ketika mereka menceritakan masa lalunya. Terbayang, si anak kecil yang bagai kertas putih ini diwarnai dengan warna – warna kelam, dan anak – anak ini tidak tau harus bagaimana, tidak tau harus melakukan apa, dan tidak bisa bilang tidak atau lari. Mereka hanya bisa menerima dan menerima dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan agar tetap bertahan. Termasuk dengan berbohong, pura – pura kuat, bahkan sampai pada tahap mematikan apapun rasa yang ada di mereka.

Saya pernah juga bertemu dengan seseorang yang berwajah ganteng luar biasa dan pintar sekali, yang tidak punya rasa percaya diri sama sekali, bahkan sudah dalam tahap minder. Sampai mungkin berjuta orang yang bilang, dia ganteng, dia tidak percaya sama sekali. Dan tidak pernah percaya diri untuk melakukan apapun karena merasa dia tidak cukup baik untuk apapun. Dan karena itu, bahkan untuk seumuran hampir 30 an juga tidak pernah berani untuk mandiri, atau mengetahui yang dia lakukan.

Kenapa? Karena dari kecil orang tuanya terutama ibunya selalu mengatakan bahwa kakaknya jauh lebih baik dari dia, dan dia adalah anak yang tidak bisa apapun berulang – ulang tidak perduli walaupun sebenarnya sang anak pernah mempunyai prestasi sendiri. Sedih banget kan?

Sedih sekali juga ketika mengetahui mereka yang sering dicap orang – orang sombong, tidak punya hati, pemalas, pemalu atau apapun itu dahulunya adalah anak – anak lucu yang lugu yang mendambakan kasih sayang orang tua dan orang – orang dewasa di sekitarnya.

Saya mengerti juga, banyak orang tua yang tidak tau sebenarnya apa yang mereka lakukan terhadap anaknya. Banyak orang tua yang tidak bermaksud dan malah tidak berpikir bahwa apa yang mereka lakukan akan berdampak sebegitu besarnya terhadap anaknya. Tidak ada sekolah terbaik yang mengajarkan bagaimana menjadi ayah dan ibu yang baik. Tidak ada buku yang bagus banget yang mengajarkan bagaimana menjadi ayah dan ibu yang sempurna.

Tetapi saya yakin juga kalau setiap orang tua, jauh didalam hatinya ingin agar anaknya mendapatkan yang terbaik, menginginkan masa depan yang bagus dan cemerlang untuk setiap anaknya. Walaupun mungkin yang belum disadari oleh orang tua adalah “standard” baik menurut orang tua tidak sama dengan anak. Yang terbaik menurut orang tua, mungkin bukan yang terbaik yang dirasakan oleh anak – anaknya. Dan yang mungkin belum disadari oleh orang tua juga, setiap anak tetaplah manusia yang mempunyai perasaan dan bisa terluka juga.

Jadi kalau begitu, apa yang harus dilakukan? Ya, menurut saya setiap orang yang dewasa,  coba deh melihat kembali apa yang terjadi di masa lalu yang menyebabkan kepercayaan – kepercayaan negatif tentang diri sendiri, misalnya kalau minder, narsis, pemarah, pemalu etc (tanpa bermaksud mengiklan – kalau pingin banget untuk melihat ini, hubungin saya, nanti saya akan berikan data tentang training tersebut melalui jalur pribadi). Dan percayalah, apapun yang orang katakan tentang anda itu sebenarnya tidak penting, yang penting – apa yang anda katakan tentang diri anda sendiri. Plus, maafkanlah orang tua anda karena mereka tidak tau apa yang mereka lakukan.

Untuk orang tua atau mau menjadi orang tua, anak – anak sebenarnya butuh cinta dan perhatian dari anda. Mereka mahluk kecil yang paling mudah untuk meniru dan paling mudah untuk langsung menyimpan apapun yang mereka terima, dan itu efeknya bisa sampai ke masa depan mereka. Mereka tidak memerlukan orang tua yang sempurna, mereka hanya memerlukan orang tua yang mau menerima mereka apa adanya dan orang tua yang percaya bahwa mereka mampu mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

Jangan membawa dan menimpakan kekesalan anda kepada anak, karena mereka tidak bisa melawan, jangan melampiaskan napsu amarah atau napsu apapun yang anda punya kepada anak anda, karena mereka bukan pemuas nafsu.  Jangan pernah menyamakan standard yang anda miliki kepada anak anda karena, anda dan anak anda adalah dua pribadi yang berbeda walaupun dialiri darah yang sama.

Salam

 

Posted in Anak, bapak rumah tangga, ibu, kekerasan seksual, komitmen, penting or tidak penting, orang baik, kejujuran, laki laki, maaf, manusia, memaafkan, mendengar dengan hati, orang tua, pengalaman, masa lalu, cap buruk, label buruk, hambatan hidup, pria, sempurna, tidak sempurna, ucapan, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Pengalaman Masa Lalu

Kalau bicara soal pengalaman, asumsi saya – yang paling diingat sampai detail itu biasanya pengalaman yang paling berkesan yang mungkin bisa merubah kehidupan. Baik pengalaman yang buruk maupun pengalaman yang baik, walaupun katanya sih pengalaman yang sering tertanam dan merubah kehidupan ya pengalaman yang buruk lah. Benar atau tidaknya saya enggak tau sih.

Di saya sendiri, banyak banget pengalaman – pengalaman buruk, yang membuat saya mempunyai pandangan istimewa (negatif or positif) terhadap sesuatu. Misalnya karena ayah saya meninggalkan saya dan keluarga saya, maka saya dulu sering berpikiran kalau orang lain pun (laki- laki) akan melakukan hal yang sama terhadap saya. Sehingga, sewaktu mempunyai pasangan – yang pertama ada dibenak saya itu seringnya adalah kapan ya orang ini meninggalkan saya.

Maka jadilah saya, mulai deh melakukan hal – hal yang aneh ketika belum juga meninggalkan saya, dan seringnya adalah tuduhan kalau pasangan saya itu selingkuh. Padahal ya (kalau dipikir – pikir sekarang), mungkin juga tidak berpikiran selingkuh, tapi karena saya nya yang menghakimi begitu terus – terusan plus ditambah pakai marah -marah  yang luar biasa besar kalau dia melakukan sedikit (malah sangat sedikit – atau bahkan sebenarnya sepele banget). Ya kalau begitu, wajarlah orang merasa enggak nyaman ya dengan saya?Hahahahhaa

Apakah sampai disitu saja? Ya enggak lah …. apalagi sewaktu itu saya sedang menyenangi peran drama queen. Hahahahhaaha. Ketika ditinggalkan karena pasangan saya benar – benar berselingkuh dengan orang lain, maka mulailah saya mengatakan kepada orang – orang kalau sayalah “victim” aka korban dari para lelaki ini. Hahahahahhaaa. Yes … Saya emang keterlaluan yaaa. Ampuni saya yaaaaaa.

Dan ketika kemarin saya belajar ttg “assessment” atau “assertion”, bagaimana orang pingin selalu “benar” atas pikirannya, sehingga kalaupun ada laki – laki yang baik saya pasti akan mencari cari cara untuk dia meninggalkan saya, – karena saya ingin membuktikan bahwa pikiran saya benar, maka saya kemudian mulailah mencatat di buku saya, apa – apa saja pengalaman buruk yang membuat saya berpikiran buruk dan mencap sesuatu atau seseorang itu buruk, sehingga hubungan saya dengan orang lain menjadi buruk atau saya tidak bisa mengejar mimpi – mimpi saya, karena terhalang oleh cap buruk yang telah saya buat  secara umum terhadap sifat sesuatu atau seseorang.

Jangan tanya berapa banyak ya catatan yang saya buat. Hahahahhaaha. Dan dari catatan saya, ternyata banyak tuh cap2x atau label2x yang saya buat yang sebenarnya adalah karena pengalaman buruk saya di masa lalu. Dan yang paling membuat saya merasa terkejut karena, beberapa cap2x atau label yang saya buat untuk sesuatu atau orang lain itu ternyata yang menghalangi saya untuk mendapatkan apa yang saya inginkan.

Sekarang ketika saya berpikiran buruk terhadap sesuatu atau seseorang, saya mulai bertanya, apakah itu memang benar kenyataan nya bahwa sesuatu atau seseorang itu buruk, atau sebenarnya cuman judgment/ penghakiman saya saja karena masa lalu saya. Rugi banget kan saya ya kalau begitu. Salah satu hasilnya ya itu … masih jomblo sampai hari ini. Yang rugi kan saya ya .Hahahhhahhaahhahaa

Ajakan saya, yuuk mulai lakukan seperti saya, membuat daftar tentang cap2x atau label2x yang kita buat tentang sesuatu atau seseorang, dan meredesign label2x yang negatif itu dengan mereka ulang kembali, apakah cap2x atau label tersebut benar begitu adanya, atau itu hanya karena pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan. Semoga bermanfaat.

Salam

Posted in pengalaman, masa lalu, cap buruk, label buruk, hambatan hidup, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Yang Terbaik (versi Tuhan)

Sering kan ya kita mendengar perkataan : “Lahir, rejeki, jodoh dan maut itu ditangan Tuhan?”. Atau perkataan “Tuhan itu yang paling tau yang terbaik”. Atau kata- kata “jadilah kehendakMu dan bukan kehendakku”. Atau kata kata bijak “kalau Tuhan tutup satu pintu maka Beliau akan membuka pintu lain”.

Berhubungan dengan itu, sewaktu kecil dari SD sampai saya SMA, cita – cita saya menjadi seorang dokter. Saking pingin nya menjadi dokter, SMP kelas satu, saya sudah hafal nama – nama (dalam bahasa latin) setiap tulang tubuh manusia (jangan ditanya ya sekarang, sudah lupa hahhahhahaa). Saya benar – benar terobsesi sama baju putih nya dokter deh. Sampai setiap dokter cowok, saya anggap ganteng  hahahhahaaha. Tetapi, jalan hidup saya berkata lain, cita – cita saya menjadi dokter itu kandas karena papa saya bangkrut.

Sedih? Ya, pasti lah. Ada hari – hari dimana saya ngerasa iri banget ngeliat teman – teman saya yang bisa kuliah kedokteran, iri liat dokter – dokter. Trus mikir, kenapa sih saya enggak bisa jadi dokter. Trus kesel banget deh sama Tuhan. Hahahahahahahha. Semakin dewasa saya, semakin saya mengerti, kalau memang jadi dokter, bukan rejeki saya. Sudah enggak sebel lagi sama Tuhan. Sudah legowolah. Walaupun teuteup ya, saya penasaran, bagaimana ya kalau saya jadi dokter. Sehebat apa ya saya. Hahahahhahahaha

Tapi tiga minggu lalu, saya jadi semakin mengerti  dengan kata – kata di salah satu doa umat nasrani “Jadilah kehendakMu dan bukan kehendakku”. Mengerti kenapa ustad – ustad selalu bilang “sudah direlakan, karena Allah tau apa yang terbaik”. Hasil talent mapping, yang dilakukan salah satu konsultan HR di kantor saya, menegaskan kalau saya memang talenta nya, kemampuannya  yang berhubungan dengan Finance, Treasuary, Administrator, Communicator, Journalist, Strategist,Explorer, Journalist. Enggak ada tuh yang berhubungan dengan kedokteran. Hahahahahhahhaha.

Terus saya jadi bersyukur banget saya enggak jadi dokter, enggak maksain Tuhan, pingin jadi dokter. Ikhlas (ikhlas bukan males ya), sama jalan yang dibuka Tuhan untuk saya dengan lulus STAN. Soalnya kalau saya jadi dokter, mungkin saat ini ada ratusan orang yang sekarat karena berobat ke saya. Hahahahhahhahaa. Kebayang kan ya kalau begitu.

Saya juga teringat, beberapa tahun lalu, saya hampir menikah, kemudian tidak terjadi, karena banyak hal. Sedihnya? Wuih …. banyak banget malam saya habiskan dengan menangis. Karena saya bukan saja kehilangan calon pendamping hidup, tapi yang paling berat, saya kehilangan salah satu sahabat terbaik saya. Orang yang biasanya selalu meyakinkan saya mampu, ketika saya sendiri ragu sama diri  saya. Orang yang sering banget saya ceritain tentang hari – hari saya.

Tapi kemudian, ketika saya pikirkan kembali, kalau saat itu saya jadi menikah, saya mungkin tidak bisa melanjutkan kuliah S2 saya. Saya tidak bisa mengumrohkan ibu saya. Saya enggak punya networking yang bagus karena mengurus reuni akbar kampus saya. Saya tidak bisa mensupport saudara – saudara saya seperti sekarang. Atau mungkin sedang terancam bercerai lagi, karena mantan teman hidup saya yang terdahulu yang seperti psikopat mengganggu hidup saya.Hahahahahaa.

Atau mungkin, kalau saya tidak kehilangan dia – sampai sekarang saya masih ngerepotin sahabat saya itu dengan cerita-cerita enggak penting saya. Atau sampai sekarang  saya tidak pernah menghargai kehadiran sahabat saya tersebut. Atau saya sampai sekarang, tidak pernah bersyukur dan berterimakasih atas apa yang perhatian dan dukungan yang dia berikan kepada saya, tidak pernah untuk mencoba berada di posisinya – yang harus mendengarkan protes – protes saya padahal dia sendiri banyak banget masalahnya.

Saya jadi mengerti apa maksud ikhlas, mengerti apapun yang kita kerjakan, apapun yang kita lakukan, kalau memang menurut Tuhan bukan yang terbaik maka hasilnya tidak akan seperti yang kita impikan. Saya jadi mengerti, harus sering – sering memperhatikan petunjuk. Karena kalau dipikir – pikir, banyak tanda yang ditunjukkan Tuhan, ketika saya sedang “jatuh’, sedang sedih, sedang marah sama Tuhan, agar saya bisa melihat “pintu” baru yang dibukakan Tuhan untuk saya. Jadi, saya enggak ‘give up’ sama hidup saya.

Jadi, sekarang di bulan baik ini, saya akan berusaha untuk selalu melihat ‘maksud’ baik Allah dengan apapun yang terjadi di kehidupan saya. Saya berusaha untuk tidak berburuk sangka dengan Allah.

Bagaimana dengan anda? Yuk berbaik sangka dan selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik. Bahwa Allah, selalu punya rencana indah dibalik dari setiap cobaan yang terjadi.

Salam sayang

Posted in 'wish', inspirasi, karir, rejeki, sempurna, Tuhan, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment