Hari Kesaktian Pancasila – (dan masih saktikah Pancasila itu?)

Hari ini 1 Oktober – adalah hari kesaktian Pancasila. Mungkin anak anak sekolah sekarang kalau ditanya isi Pancasila pada enggak ingat lagi 🙂 Saya sendiri tadi pagi ketika mencoba mengingat ingat isi Pancasila agak lupa di sila ke 5 hahahahhahha. Untung enggak lama ingat kembali.

Ketika saya mengingat Sila ke 2 – Kemanusiaan yang adil dan beradap —– saya kembali teringat akan asap di sumatera dan kalimantan. Apakah  cukup adil dan beradap terhadap orang orang yang ada di sana?

Atau Sila ke 5 – Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia —- cukup adilkah apa yang  mereka terima sekarang?  Ketika saya, anda pura pura tidak melihat apa yang mereka alami saat ini.

Dan kalau ke duanya jawaban nya TIDAK ….. lalu apa saktinya Pancasila itu?

Lalu apa gunanya peringatan hari kesaktian Pancasila itu? Cuman sekedar perayaan – tanpa arti  – hanya kewajiban apel di kantor atau disekolah?

Saya yakin, ketika para sesepuh kita membuat Pancasila dengan ke 5 Sila nya – yang ada dibenak mereka adalah gambaran di masa depan – agar pemerintah dan warga negara Indonesia – bisa menjalankan hidupnya di negara tercinta ini dengan berlandaskan sila sila ini.

Mulai dari setiap waraga negara diharapkan percaya akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, setiap warga memperlakukan sesamanya adil dan beradap – bukan dengan kata kata kasar atau tidak senonoh – bukan memaki maki seperti yang dilakukan hatters , tetap bersatu walaupun berbeda beda baik suku, agama, ras dan golongan, mengambil keputusan lewat musyawarah dan mufakat dan tidak ada lagi ketimpangan sosial antara warga negara.

Dan lihat apa yang terjadi di Indonesia sekarang? Ketika menghormati agama orang lain – sering dianggap kafir, menyatakan ucapan selamat atas peringatan agama yang berbeda – dicemooh.

Ada etnis tertentu yang memimpin – langsung di perolok asal muasalmya – dipertanyakan nasionalitas nya – padahal sudah jelas nenek moyang nya hidup dan tinggal di Indonesia. Bukti apa lagi yang menyatakan dia adalah orang Indonesia – dan siapa yang sebenarnya yang bisa di cap punya nasionalisme? Apakah indikatornya nama yang ada di ktp mereka? Etnis yang melekat didarah mereka? Atau apa yang mereka lakukan untuk bangsa ini, yang mereka lakukan demi negara ini?

Ada yang tidak sesuai – langsung diucapkan dengan kata kata yang tidak pantas dan diumbar di media sosial yang bisa dibaca siapa saja.  Seenaknya memaki maki orang lain karena pekerjaan nya yang artis – padahal  belum tentu juga apa yang terlihat memang begitu, atau apa yang dibicarakan memang begitu. Terus kalaulah semua benar – apa hak mereka untuk memaki maki orang lain?

Ada orang yang terkena kasus, yang diobrak abrik adalah keluarganya mulai dari pasangan suami/istrinya, anak anaknya bahkan orang tuanya, padahal mereka mungkin tidak mengetahui apa apa, dan tanpa perasaan mengejar ngerjar dan berusaha mengambil foto dari mereka. Buat apa?  Yang terkena kasus kan bukan mereka.

Hari ini tanggal 1 Oktober – Hari Kesaktian Pancasila.

Selain dengan melakukan upacara dan mengibarkan bendera – mari kita tanyakan hati nurani kita sendiri – benarkan Pancasila itu masih sakti? Kalau tidak apa yang bisa saya dan kita semua lakukan sehingga perjuangan pendiri negara ini tidak sia sia.

Salam

Posted in 5 Sila, adil, agama, bangsa, beradap, Indonesia, kesaktian Pancasila, pancasila, ras, suku | Leave a comment

Asap ini sudah Mencemaskan – #Save Sumatera #Save Kalimantan – (Karena mereka bagian dari NKRI )

Dua hari kemarin, salah satu teman saya membicarakan soal asap di Pekanbaru dan Palangkaraya dan beberapa hari sebelumnya saya juga menontonnya di salah satu tv, membaca tentang negara Singapore yang sudah protes berat tentang asap ini.

Saya terus terang agak gemas – kemana mahasiswa mahasiswa yang biasanya lantang berteriak menentang ini dan itu, kemana media masa yang biasanya selalu mengabarkan aksi aksi korupsi. Apakah karena isu ini tidak menjadi isu yang “seksi” – yang bisa menaikan nama dan popularitas?

Saya tidak tau berapa banyak sudah korban asap ini, tapi dari cakupan wilayah yang terkena asap, menurut asumsi saya ini adalah salah satu bencana nasional, terutama di kedua pulau yang terkena asap tersebut – ada ratusan ribu warga negara Indonesia di sana. Mereka pembayar pajak seperti kita, mereka mempunyai kartu tanda penduduk yang bertuliskan Warga Negara INDONESIA. Dan mereka tidak bisa memilih – mau tidak mau mereka harus menghisap asap tersebut bersama dengan oksigen yang mereka perlukan untuk hidup.

Mereka tidak bisa menjalankan aktivitas sehari hari nya dengan normal.   Sebagian dari mereka mungkin tidak bisa membuka usahanya karena gangguan asap tersebut. Anak anak  mereka tidak bisa bersekolah – padahal minggu ini anak anak SD di Indonesia sedang menjalani UTS nya. Ibu ibu hamil di sana juga mungkin mengalami kecemasan tentang kesehatan bayi yang mereka kandung. Orang orang yang mempunyai masalah paru paru dan jantung, maupun orang tua yang mempunyai masalah gangguan pernafasan saat ini mungkin harus hidup bergantung dengan masker oksigen. Karena asap tersebut bisa masuk ke rumah tanpa bisa di hindari, karena asap bisa masuk ke paru paru tanpa bisa dihalangi. Belum lagi pasien pasien yang sedang dirawat di rumah sakit – sakit nya mungkin bertambah dengan asap ini.

Siapa kah yang kemudian bertanggung jawab atas kerugian yang mereka derita? Siapakan yang bertanggungjawab atas kesehatan mereka? Kepada siapa mereka bisa meminta tolong? Kepada siapa mereka bisa menyuarakan apa yang mereka derita? Harus berapa lama lagi mereka hidup seperti itu? Harus berapa banyak lagi penderitaan yang harus mereka tanggung.

Seperti yang saya baca disalah satu timeline path teman saya – bahkan uang yang kita kirimkan tidak dapat menyelematkan mereka dari bahaya dari asap yang sehari hari mereka hisap  hampir beberapa minggu ini. Karena ini bukan persoalan yang bisa diselesaikan dari uang yang kita kirimkan seperti masalah masalah bencana lainnya.

Jadi apa yang bisa kita lakukan? Mari bantu untuk menyuarakan masalah ini – agar semakin banyak masyarakat yang perduli, agar pemerintah secepatnya berusaha mengatasi bencana ini, mencari jalan yang terbaik secepatnya tanpa perlu saling melempar tanggungjawab. Tidak perlu mendiskreditkan siapapun- tidak perlu mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tidak perlu mencari popularitas. Yang diperlukan saat ini “urgency”  untuk mengatasi masalah asap secepatnya.

Demi hati nurani yang kita punya, karena mereka di sana – yang terperangkap beberapa hari bahkan minggu di antara asap asap ini  adalah saudara kita, karena mereka bagian dari republik tercinta ini. Karena mereka harus diselamatkan.

#Save Sumatera, #Save Kalimantan

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | 2 Comments

From Rote with love – #Rote mengajar

Kalau ditanya apa yang20150409_110912 saya syukuri minggu lalu, jawabannya selain bertemu dengan banyak orang orang luar biasa yang mau meluangkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit dari kantong sendiri, bertemu para pengajar muda dan panitia Rote Mengajar yang luar biasa gila idenya,  punya keluarga baru yang mau menerima saya selama di Rote yang terutama adalah  bertemu dengan anak anak SD Ufalen – Rote Tengah.

SD Inpres Ufalen berada di Desa Siomeda Rote Tengah. Mempunyai 139 siswa dari kelas 1 sd kelas 6 SD. Menurut keterangan ibu kepala sekolah – SD Ufalen ini termasuk SD yang berperingkat baik di Rote Tengah dengan tingkat kelulusan SD yang cukup tinggi. SD  Ufalen ini terletak agak jauh dari jalan raya, mempunyai halaman yang cukup luas. Setiap anak setiap paginya membawa jerigen air yang berisi air untuk toilet dan untuk di siram di tanaman. Sejujurnya saya kagum dengan anak anak yang harus berjalan beberapa km dari rumah ke sekolah di bawah sinar matahari Rote yang begitu  terik. Tetapi mereka tetap bersemangat untuk sekolah. Saya membayangkan, bagaimana kalau saya harus melakukan itu? Pasti lah saya akan cemberut, complain, marah marah, dan sebagainya. Tidak seperti anak anak ini yang tetap ceria bercanda. Have what they have. Untuk hal ini saya belajar dari mereka.

Pagi pagi ketika saya bertemu mereka di pintu gerbang sekolah, mereka yang sedang bercanda sesamanya, tiba tiba menghadap saya dan serempak berkata : “Selamat pagi Ibu”  😀  So sweet kan? Ternyata begitu juga di kelas ketika saya masuk ke kelas mereka akan berdiri dan menyapa seperti itu dan ketika saya selesai mengajar – mereka kembali berdiri dan berkata “Selamat jalan Ibu, Terimakasih”  😀  Ayo ngaku siapa yang enggak luluh hatinya mendengar sapaan tulus anak anak ini. Terutama untuk anak anak di kelas yang kecil kelas 1 SD dan 2 SD.  Priceless banget …. tidak bisa dibayar apapun.

Saya masuk pertama kali di kelas 1 SD. Kebayang kan? Saya hanya berdoa agar saya tidak mati gaya di depan mereka. Dan yesssssss…… mereka cukup manies ….. apalagi mereka bersemangat sekali setiap kali di ajak menyanyi.  Yang paling parah sih …. saya sempat lupa dengan lagu yang sudah saya hafal sebelumnya …. untung nya pikiran saya mau diajak bekerjasama …. dan jadilah bait lagu yang terlupa itu saya ganti kata katanya – Ikan buntal jadi ikan bawal, ubur ubur jadi lumba lumba, banana jadi pisang pisang hahahahhahaahhaha (maafkan kak Maria – lagunya saya ganti). Tapi mereka bersemangat sekali. Mengikuti gaya saya bernyanyi … kapan lagi ya … suara saya dikagumi begitu hahahahahaha. Yang bikin hati saya melambung …. sewaktu saya keluar kelas dan wali kelasnya masuk ke kelas bertanya kemereka apakah mereka senang di ajarkan oleh saya ….. mereka semua menjawab serempak  ….. senaaaaanggggg. Seriously …. air mata saya hampir menetes saking senangnya.  Uhhh…  saya jatuh cinta kepada mereka.

Saya juga mengalami hal yang luar biasa di kelas kelas lain, mereka aktif menjawab pertanyaan pertanyaan saya. Tidak malu malu, tidak diam saja (terus terang ini yang menakutkan – kalau tidak ada yang aktif – bisa mati gaya saya hahhahhahaaaha …. thanks God enggak terjadi sama sekali selama saya mengajar di sana).

Ketika saya tanyakan apa cita cita nya …. ternyata tidak seperti pembicaraan  sebelumnya yang memberitahu saya bahwa rata rata anak anak cuman ingin menjadi guru atau polisi, cita cita mereka lumayan variatif – ada yang ingin menjadi dokter (mereka tertawa geli ketika saya tanya siapa yang takut disuntik …… dan mereka tunjuk tangan termasuk saya hahahhahahhaa), ada yang ingin menjadi pemain bola, ada yang ingin menjadi nakhoda, ingin menjadi pilot dan ada yang ingin menjadi chef (Chef Juna benar benar merebut hati mereka sepertinya…. sama seperti saya juga hahahhahaha #salah fokus LOL), dan  ternyata dari seluruh siswa di SD Ufalen, ada 2 orang yang ingin menjadi PRESIDEN ….. Yeaayyyyyyyyyy

Yang paling lucu ketika saya bertanya dimana mereka harus sekolah kalau mereka ingin menjadi seperti yang mereka inginkan . Kalau mau menjadi Chef harus sekolah dimana? Dan jawaban mereka ………….. DI DAPUR hahahahhahahaha. Atau kalau mau jadi Pilot harus sekolah dimana? Dan jawaban mereka …… sekolah KEPILOTAN:D  Atau kalau mau jadi perancang model rumah (arsitek) – sekolah dimana? Jawaban mereka  …… sekolah pembangunan atau sekolah perumahan  hahahahahahaaha .  Kemudian yang membuat mereka terkejut ketika saya memberitahukan ada sekolah pertanian …. karena mereka berpikir menjadi petani berarti tidak perlu sekolah. Ayoooo anak anak …. siapa bilang petani tidak perlu sekolah? 😀

Dan teristimewa dari anak anak ini, mereka belum bergantung dengan gadget yang biasanya dibawa bawa anak anak di kota kota besar. Dimana di sini kita akan melihat anak anak yang sibuk dengan dirinya sendiri bermain game di gadgetnya – menjadi anti sosial. Tidak bergaul dengan anak anak lain, tidak kreatif menggunakan apa yang ada di dekatnya untuk dijadikan permainan. Dan bahkan sering sekali tidak perduli dengan lingkungan sekelilingnya kalau sudah memegang gadgetnya 😦

Anak anak ini dengan bebasnya bermain main bersama anak anak yang lain. Hal itu terlihat jelas betapa gembiranya mereka membuat lingkaran bermain tanpa ada perintah dari guru gurunya, ketika jam 3 sore setelah pulang sekolah kami bersama sama bermain ke pantai. Hal ini hampir jarang saya lihat di Jakarta – karena biasanya pasti banyak yang sibuk sendiri dengan gadgetnya. Mungkin hal ini yang harus dipelajari oleh kita yang tinggal di perkotaan agar tidak membiarkan anak anak sibuk dengan gadgetnya. Sehingga mereka bisa bersosialisasi dengan sesama nya dan bisa belajar tentang tepa selira – bertoleransi – hal yang sulit didapatkan di kota kota besar karena anak anak ini kebanyakan menjadi anti sosial karena sibuk dengan gadget nya sendiri. Sekali lagi mereka menginspirasi saya untuk kelak tidak membiarkan anak anak saya sibuk dengan gadget nya. Sehingga bisa belajar bagaimana berbicara, mendengarkan orang lain, bersosialisasi dan menghormati keberadaan orang lain.

Jadi enggak salah kan kalau saya kemudian jatuh cinta dengan anak anak ini?

Salam

Btw: Spesial Note

Thanks to pengajar pengajar muda di Rote dan seluruh panitia yang menggagas kegiatan ini. Thanks to guru guru terutama guru guru SD Ufalen tempat saya mengajar yang tidak kenal lelah dan luar biasa mendidik anak anak yang kelak jadi generasi penerus bangsa, thanks buat hostfam saya yang sudah mau menerima saya selama di Rote dan thanks to teman teman relawan yang saling support mulai dari persiapan, keberangkatan, hari H dan sampai kepulangan ( You rock guys 😀 ).

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Kesetaraan Gender – Ini juga tentang hak sebagai laki laki loh :)

Semalem sebelum tidur, saya menyempatkan diri membaca salah satu media elektronik tentang Emma Watson yang membicarakan tentang kesetaraan gender. Dan ya ….. yang menarik karena pemahaman beliau hampir sama dengan saya.

Kesetaraan gender sering kali disalah artikan tentang perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan oleh perempuan. Padahal ya enggak ….. kalau menurut Emma Watson …. perempuan dan laki laki itu seperti sayap yang saling menyeimbangkan dalam kehidupan. Dan menurut saya, juga begitu. Kalaulah seringnya bicara tentang perempuan ya karena yang memang dibeberapa tempat terlihat jelas hak perempuan belum seimbang dengan laki laki. Masih sering terjadi perbedaan gaji antara perempuan dan laki laki, atau juga dalam karir. Selain itu juga karena banyak perempuan yang berkelompok memperjuangkan haknya bersama sama, dan anehnya laki laki tidak mau melakukan hal yang sama karena masih berkutat terhadap aturan bahwa perjuangan kesetaraan gender adalah tentang laki laki bukan tentang perempuan 🙂

Saya enggak akan membicarakan disini tentang perempuan …. karena pastilah banyak sudah tulisan tulisan yang lebih keren tentang perempuan dan kesetaraan gender. Yang saya bicarakan disini adalah tentang laki laki.

Banyak kasus kasus pelecehan seksual terhadap laki laki yang tidak dilaporkan baik karena si korban maupun keluarganya merasakan malu yang luar biasa. Padahal dengan tidak melaporkan berarti membiarkan pelaku melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Dan yang lebih parah korban korban ini juga tidak mendapatkan pertolongan psikis yang baik.

Tidak seperti perempuan yang mendapatkan banyak simpati, korban pelecehan seksual laki laki ini cenderung semakin dilecehkan di lingkungannya, ditertawakan dan yang lebih parah dianggap bukan lah orang orang yang pantas menjadi laki laki karena bisa bisa nya menerima pelecehan seksual. Terutama apabila si pelakunya adalah seorang perempuan. Padahal siapa yang bilang perempuan tidak bisa lebih kuat dari laki laki?

Kemudian juga terhadap aksi kekerasan rumah tangga. Saya mengetahui beberapa teman saya yang laki laki mengalami kekerasan rumah tangga. Dipukulin, dikunci, bahkan ada yang disiram air panas. Dan ketika mereka menceritakan ini kepada orang lain, rata rata mereka dianggap lemah, ditertawakan. Padahal masalah mereka ini serius. Mereka benar benar ketakutan.

Atau ketika seorang laki laki yang kemudian bekerja di tempat tempat perawatan kecantikkan, yang kemudian di beri label sebagai laki laki yang penyuka sesama jenis. Padahal belum tentu juga mereka begitu. Atau laki laki yang memakai baju warna merah jambu misalnya.

Atau ketika seorang laki laki yang lebih memilih menjadi ayah rumah tangga. Yang memilih tidak berkarir, tidak bekerja karena ingin menjaga dan membesarkan buah hatinya, karena sang istri tercinta mempunyai karir yang sulit untuk dilepaskan. Mengapa kemudian harus ditertawakan? Mengapa tidak boleh mendukung karir istrinya dan tidak boleh membesarkan buah hatinya? Mengapa dianggap lemah? Bukankah itu keputusan rumah tangga mereka berdua? Mengapa harus dianggap juga mendompleng istrinya, takut istri etc? Apakah yang dilakukan nya salah? Toh, dia mengurus anak anak nya. Tidak ongkang ongkang kaki di rumah. Kenapa perempuan boleh menjadi ibu rumah tangga dan laki laki tidak boleh, kalau alasan keduanya sama, ingin membesarkan buah hati mereka tanpa campur tangan pihak lain dan mensupport karir pasangannya.

Yang salah mungkin kalau gara gara ini, kemudian istrinya menjadi pimpinan keluarga, suaminya enggak boleh ikut ngambil keputusan. Atau suaminya males males an di rumah enggak ngapa ngapain, maksa istrinya kerja. Atau memperbudak istrinya. Tapi kalau diantara kedua pasangan ini berjalan aman dan damai saling mencintai. Apa itu salah?

Saya mengenal salah seorang yang begini nih, si abang ngelapasin jabatan karena istrinya sibuk berkarir di perbankan. Dan si abanglah yang ngurus anak anak nya. Sampai ketika anak anak mereka sudah besar (mungkin saat itu yang paling kecil sudah smp), si abang mulai bekerja kembali. Dan rumah tangga mereka happy happy ajah. So why not?

Jadi bagi saya aneh kalau laki laki sendiri kemudian tidak membela kaumnya yang tertindas, malah ikut melecehkan kalau mempunyai masalah masalah seperti ini. Tapi kemudian membabi buta emosi kalau ada perempuan yang membicarakan kesetaraan gender. Uhmmm…..

Jadi yuukkkk baik perempuan dan laki laki untuk saling bersatu mengatakan tidak terhadap ketidak setaraan atas nama gender. Dengan begitu mungkin dunia ini makin harmonis. Aamiin

Salam damai – salam kesetaraan gender 😀

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Ketika Manusia keras kepala (Padahal Tuhan tahu apa yang terbaik)

Suatu hari teman saya bercerita kepada saya tentang jodoh yang tidak pernah dia mengerti. Kenapa si A bisa mendapat si B terus akhirnya harus berpisah. Berarti enggak jodoh dong ya? Bagaimana bisa tau kalau pasangan kita itu jodoh kita atau enggak? Karena yang sudah bersatu ternyata bisa berpisah.

Saya sendiri sering banget memikirkan hal ini, sampai pada suatu masa, ketika saya mulai belajar melihat segala sesuatu dari sisi yang lain. Termasuk belajar melihat segala sesuatu dari sisi Tuhan. Kalau saya jadi Tuhan ….  apa yang saya rasakan, apa yang saya putuskan.

Menurut saya, kadang kadang manusia itu terlalu Pede, seringkali kita ngotot ingin mendapatkan sesuatu yang sebenarnya tidak cocok  untuk kita. Kita ngotot untuk menolak sesuatu yang sebenarnya memang cocok untuk kita. Karena kita merasa kita yang paling tau apa yang kita mau.

Kalau tidak diberi, kita seringkali ngambek sama Tuhan, kemudian kita sering kali terus merasa didikriminasi sama Tuhan – trus ujung ujung nya seringkali kita mengungkit ungkit apa yang kita lakukan untuk Tuhan – “saya sudah  doa, saya rajin sholat, saya sering ke mesjid, saya rajin ibadah ke gereja etc, tapi doa saya enggak di dengar. tapi Tuhan enggak perduli saya,  doa saya enggak dijawab, saya masih susah terus, saya masih dikasih cobaan terus.”

Ya, saya sendiri sih kalau jadi Tuhan, bisa merah deh telinga dengerin ngambek ngambek kan begini. Apalagi yang sering nya ngambek itu orang yang dewasa, yang cukup umur. Bukan anak anak lagi. Mosok sih masih ngungkit ngungkit Tuhan gara gara enggak diberi sesuatu. Manalagi seringnya tuh pada berdoa lewat media sosial, lewat FB, lewat twitter, lewat path ….. padahal ya kan bisa langsung saja berdoa ke Tuhan enggak usah pake perantara apa apa. Toh Tuhan juga enggak punya banyak waktu baca baca status umatnya di media sosial 😀

Akhirnya , sering kali  ini seandainya saya jadi Tuhan, ya sudah ….  saya biarkan deh terjadi apa yang mereka mau. Percuma toh dihalangi, dari pada terus terusan ngambek. Percuma juga di kasih warning, percuma juga dikasih petunjuk, kalau tetap ngotot pilihannya paling benar.

Dan setelah itu ….  ketika berakhir dengan apa yang tidak diharapkan, mulailah datang penyesalan. Mulai lah drama lagi. Mulai bertanya lagi, kenapa kalau ternyata enggak cocok – tetap dipersatukan untuk dipisahkan. Mulai ngambek ngambek lagi, Deuuuuuhhhhhh …..  kebayang enggak ya ribetnya? 😀

Padahal sudah ada orang yang diberi petunjuk Tuhan untuk menciptakan kalimat indah ini :

“Hati hati dengan permintaanmu. Karena kadang kadang ketika terpenuhi, malah menyusahkanmu.”

Ya tapi teuteup ….. engak mau dengar juga.

Atau Tuhan juga sering memberikan petunjuk petunjuk lewat orang orang yang memang mempunyai kemampuan melihat masa depan orang lain lewat berbagai media, tarot, baca garis tangan etc. Dan tidak lah secara kebetulan kita dipertemukan dengan mereka mereka ini. Untuk membantu kita, berhati hati dengan langkah yang kita tempuh. (tapi tentu saja …. hati hati dengan orang orang yang kemudian menipu dengan mengatakan bisa membaca ini itu kemudian kita digemplang dengan harus membayar sejumlah dana tertentu :D,  percaya deh orang orang yang benar benar dikaruniakan hal hal ini, mereka tidak akan tertarik dengan komersialisasi yang berlebihan. Mereka bahkan banyak yang mau membantu tanpa harus dibayar sama sekali malah)

Terus …. banyak banget kemudian yang mengartikannya lain. Yang marah atau frustasi ketika diberitahukan. Padahal petunjuk itu diberikan agar kita bersiap siap dengan situasi yang jelek. Bukan kah mustinya bersyukur?

Atau kebalikkannya, merasa tidak perlu melakukan apa apa lagi ketika diberitahukan tentang masa depannya bagus. Padahal seharusnya juga malah lebih bersemangat sebagai ucap syukur karena tau jalannya sudah dipermudah. Dan juga bukankah itu tanda agar kudu hati hati juga,  jadi tidak lupa diri ketika sukses itu diraih?

Atau mencak mencak ketika diberitahu kalau ternyata orang yang dicintai tidak cocok atau malah emosi ketika diberitahu kalau si A yang biasa biasa saja, yang enggak ada apa apa nya , yang kurang cantik, kurang ganteng, kurang tua, kurang muda, kurang kaya, kurang top, kurang keren. etc, adalah jodoh yang sesuai – yang bersamanya bisa menemukan kebahagiaan yang diidamkan. Padahal bukan kah kudu bersyukur, dihindari dari  perpisahan di suatu waktu dan dipermudah untuk mendapatkan jodoh yang bisa bersama sama sampai ajal menjemput?

Atau banyak juga yang kemudian marah marah dengan mereka mereka mereka yang diberi anugerah sperti ini oleh Tuhan. Merasa orang orang ini pendosa. Menurut saya …. ya … kalau enggak percaya, lebih baik dihindari 😀  Toh anugerah itu juga dari Tuhan

Selain itu juga urusan ngotot dengan keinginan ini  juga kemudian sering jadi buat Tuhan (ini kalau saya jadi Tuhan ya …. ) lama lama bikin kesal juga. Cukuplah sudah meminta dan yakin akan diberikan. Mana mungkin juga Tuhan akan menjerumuskan umatnya. Mana mungkin juga ya Tuhan iseng memberi cobaan kepada umat Nya tanpa ada maksudnya. Memang nya Tuhan enggak punya kerjaan? Memangnya Tuhan menjadikan manusia itu bahan mainan Nya?  Sudah lah cukup meminta, berusaha dan yakin lah akan di jawab. Enggak perlu ngotot, enggak perlu berkeluh kesah, enggak perlu juga jadi emosi.

Jadi ? Yakinlah Tuhan pasti tau yang terbaik …  so …enggak perlulah terlalu keras kepala sama Tuhan  😀

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 2 Comments

Kekuatan untuk menerima (The Power of Receiving)

Tahun lalu, salah senior saya membicarakan satu buku yang judulnya “the power of receiving”. Saat itu saya sih mendengarnya agak kagum gitu dengan keberanian penulis membuat judul seperti itu, ditengah tengah buku buku yang membicarakan kan tentang betapa hebatnya kekuatan dari memberi. Enggak lebih dari itu.

Dan beberapa minggu lalu ternyata buku ini saya temukan di salah satu toko buku, dalam versi bahasa Indonesia. Karena memang belakangan ini saya sedang senang senangnya membaca buku (catatan: bukunya bukan buku kuliah), maka saya belilah buku ini. Penasaran ingin tau apa sih isi buku ini sebenarnya. Mengapa si penulis, berani menulis judul yang tidak lazim.

Tulisan saya ini bukan bermaksud untuk mempromosikan buku ini( tapi ya kalau ingin membelinya, ya bagus juga sih 😀 ), saya hanya menemukan apa yang ternyata banyak hilang dalam diri saya.

Dari kecil, orang tua saya, selalu mengajarkan agar saya berbagi dengan orang lain. Saya harus rela kalau baju kesayangan saya diberikan kepada orang lain yang menginginkannya, saya harus rela untuk memberikan apa yang saya punya kepada saudara saudara saya atau orang lain yang membutuhkannya. Intinya dilarang ‘pelit’, karena ‘pelit’ itu tidak baik, bisa masuk neraka. Begitulah kira kira.

Tapi mungkin yang lupa mereka ajarkan adalah bahwa saya berhak juga untuk menerima sesuatu dari orang lain. Menerima cinta, menerima ucapan terimakasih, menerima penghargaan atas apa yang saya lakukan, menerima apa yang saya harapkan akan saya dapatkan atas kerja keras saya.

Bagaimana saya bisa meminta sesuatu kepada Tuhan saya, kalau saya tidak merasa berhak menerimanya? Contohnya ketika saya bekerja keras melakukan sesuatu diluar pekerjaan saya, kemudian saya diberikan bonus atas kerja keras saya, kemudian bukannya saya berterimakasih atas rejeki dari kerja keras saya, saya malah merasa itu bukan hak saya, kemudian saya sok melakukan drama (hahahaha yup its me), menolak rejeki itu. Kemudian yang berniat memberikan bonus itu juga merasa tidak enak karena drama saya. Jadilah akhirnya beliau membatalkan bonus itu.

Jadilah next time, ketika saya sedang membutuhkan, tidak ada lagi yang berani menawarkan pekerjaan atau memberikan bonus karena takut saya tolak atau karena takut saya tersinggung Dan saya? Saya kemudian berkeluh kesah saya sudah baik tapi tidak ada yang perduli saya (dan parahnya…. saya mulai deh mengeluh … kok enggak ada yang perduli saya ya? hahhahahaahhahha)

Atau ketika saya minta jodoh misalnya, kemudian dipertemukan dengan seseorang yang menurut saya hebat, berani gagah dll yang menjadi pujaan banyak perempuan dan saya cintai. Kemudian karena keminderan saya, karena saya merasa tidak berhak menerimanya, saya pun bahkan tidak berani untuk berbicara kepadanya atau membalas perhatiannya. Padahal mungkin saja orang tersebut ingin mengenal saya lebih lanjut, tapi ya itu .. karena saya menarik diri, dia juga takut untuk masuk lebih lanjut dikehidupan saya. Tuhan saya pun akhirnya juga mempertimbangkan karena, saya bahkan tidak mau membuka hati saya untuk menerima orang yang sebenarnya menjadi jodoh saya. Lebih baik diberikan kepada orang lain, yang benar benar perduli kan?

Atau sering sekali saya menolak, ketika orang lain menawarkan bantuan kepada saya. Karena saya merasa saya bisa melakukan apapun tanpa bantuan itu. Saya tidak memikirkan perasaan orang yang menawarkan bantuan tersebut. Coba saja kalau saya jadi dia, mungkin saya akan tersinggung. Dan tidak mau lagi menawarkan bantuan lagi, karena takut ditolak. Akhirnya sama seperti sebelumnya, ketika saya benar benar membutuhkan bantuan, tidak ada yang mau lagi menawarkan bantuan. Karena mereka mereka ini sudah males saya tolak.  Dan saya kemudian merasa ….. tidak ada yang perduli, tidak ada yang mau membantu saya. Padahal? Saya lah yang menyebabkannya. Hahahhahahaa

Saya jadi mikir tentang hidup, yang semestinya kudu seimbang, karena itulah yang Tuhan berikan, disitulah indahnya. Kalau salah satu lebih dari yang lain – ya bakal tidak seimbang, hidupnya jadi tidak seimbang. Ada Yin ada yang , ada sedih ada senang, ada hitam ada putih. ada gelap ada terang, ada pagi ada malam, ada perempuan ada laki laki. Jadi ada memberi juga ada menerima. Kalau semua di dunia ini memberi, siapa yang akan menerima? Kalau di dunia ini semua menerima siapa yang akan menerima?

Enggak bagus juga kalau kita menerima terus dan enggak bagus juga kita menerima terus. Semuanya seharusnya seimbang. Tuhan sudah menunjukkan itu,  berilah Beliau ucapan terimakasih atas setiap rahmat Nya dan mintalah kepada Beliau. Berilah kepercayaan kepada Nya untuk memberikan yang terbaik kepada kita, dan bersiaplah menerima anugrah Nya.

Menerima bukan hanya yang besar tapi termasuk yang kecil. Udara yang segar, senyuman dari orang yang tidak dikenal, ucapan terima kasih dari supir angkot, ucapan salam dari OB dikantor dll. Jadi ingat ada kata kata yang bagus banget …. Tuhan akan mempercayakan hal yang besar, apabila kita mau setia pada hal hal yang kecil. Bersyukur itu sebenarnya adalah salah satu dari contoh menerima. Bersyukur atas apa yang akan diberikan Tuhan.

 

So, kekuatan untuk menerima seharusnya sebanding dengan kekuatan kita untuk memberi. (dan saya sedang berusaha kuat untuk menyeimbangkan keduanya)

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Save Our Nation – Selamatkan Negara Kita

Hampir 2 minggu belakangan saya (dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia) dikejutkan dengan banyak keputusan keputusan yang diambil pimpinan negara ini.

Dan puncaknya adalah penangkapan salah satu wakil ketua salah satu lembaga anti korupsi – KPK. Dan orang orang mulai lah bertindak dengan terjun ke jalan meneriakkan #save KPK. Karena dengan menyelamatkan KPK berarti menyelamatkan negara ini.

Saya sendiri? Tentu banyaklah ajakkan ajakkan untuk melakukan hal yang sama, yang kemudian berujung dengan kekecewaan karena saya tidak mau ikut.

Bukan saya tidak mau mendukung, dan bukan juga saya menyetujui penangkapan yang dilakukan. Menurut saya tindakan tersebut memang tidak etis dan tidaklah selayaknya dilakukan oleh kepolisian Repulik tercinta ini.

Tapi saya merasa apa yang terjadi sekarang ini bukan hanya tentang KPK, tapi tentang keseluruhan.

KPK adalah lembaga anti korupsi yang menurut saya memang masih dibutuhkan saat ini. Tapi apa yang sebelumnya mereka lakukan dengan tidak memberi ‘warning’ sebelumnya kepada Presiden RI tentang calon yang kepala bareskim – itu menurut saya juga tidak etis. Kenapa tidak mencegah sebelumnya? Kenapa memberitahukan tepat pada saat pengumuman. Tidak bisakah bekerjasama dengan Presiden? Apakah tidak bisa melihat harga diri Presiden, yang mengumumkan satu orang yang ternyata sudah menjadi target KPK sebelumnya? Dan beberapa kali kejadian yang saya pikir kok KPK reaksinya harus tidak etis seperti itu – penangkapan ketua BPK pada saat hari pensiunnya. Dan kejadian kejadian lainnya. Yang menurut saya, tanpa perlu begitu, KPK sudah dipercaya rakyat. Jadi enggak perlulah harus melakukan hal hal yang seperti berbau entertaimen. Tanpa itu semua, KPK akan terlihat lebih keyreeen kok.

Kepolisian, lembaga negara yang diperlukan untuk menjaga stabilitas negara ini. Bukan gudangnya preman yang bisa seenaknya menangkap orang lain, termasuk menangkap pejabat negara yang baru mengantarkan anaknya pergi ke sekolah. Apalagi pejabat negara tersebut mempunyai catatan bersih sebelumnya. Apakah tidak bisa melakukan surat panggilan terlebih dahulu? Apakah harus seperti itu? Jangan salahkan kalau ini juga dipandang masyarakat sebagai tindakan balas dendam. Jangan salahkan juga kalau kemudian banyak rakyat tidak berempati. Padahal menurut saya, beberapa tahun belakangan polri sudah lumayan bagus kok. Saya beberapa kali membuat surat kehilangan dan hanya perlu 10 menit tanpa biaya. Saya percaya lebih banyak anggota Polri yang bersih dibanding yang bermasalah. Dan sayangnya mereka tidak terekspos.

Kejaksaan, tim penasehat Presiden, Kementerian Negara dan seluruh lembaga adalah lembaga lembaga yang seharusnya saling bekerjasama untuk membantu membangun negara ini. Pilihlah orang orang yang bisa menjaga amanah. Menjaga kepercayaan rakyat. Bukan saat nya saling bahu membahu mengusung satu golongan politik. Bukan saatnya lagi untuk mempermainkan ego masing masing hanya untuk menentukan siapa lebih kuat dari siapa.

Sama seperti haters and non haters yang enggak bisa ‘move on’ dari pemilihan presiden lalu. Sudahlah – hentikan segala sumpah serapah. Ini bukan saatnya. Kita sudah memilih Presiden, suka atau enggak, beliaulah Presiden kita saat ini. Menyesali masa lalu, sumpah serapah – ini tidak akan menyelesaikan masalah bangsa ini.

Ada banyak masalah saat ini, dan yang jadi korban lagi lagi masyarakat. Belum lagi masalah yang akan mengusung karena Masyarakat Ekonomi Asean. Dan kita belum lagi mengadakan persiapan apapun. Kita masih ribut dengan persoalan persoalan politik yang disebabkan karena ego masing masing individunya. Masih ada persoalan kenaikkan bbm yang sudah diturunkan 2 x tapi tidak mengurangi harga harga yang sudah terlanjur naik, tidak mengurangi tarif angkutan yang terlanjur naik. Tidak menambah peluang kerja. Tidak mengurangi biaya pendidikan, tidak membuat penambahan beasiswa atau kemudahan kemudahan yang lain untuk masyarakat.

Masih ada persoalan kementerian yang menginginkan pemakaian e-book disekolah sekolah, padahal modal untuk membeli alat membaca e-book itu mungkin setara gaji bulanan orang tua. Dan harga internet untuk mendownload e-book tersebut mungkin setara dengan harga beras yang harus mereka beli setiap bulannya.

Kalau kita masih mau begini, kalau kita masih keras kepala dan tidak perduli, kalau kita masih mau mempergunakan ego kita, percayalah negara ini akan carut marut. Jangan korbankan lebih banyak orang lagi, jangan korbankan negara tercinta ini.

Mari bersama sama bersatu, meminta seluruh negara dan pemimpin negara untuk melaksanakan amanah yang diembannya. Dan memenuhi janji yang diucapkan sewaktu dipilih.

Mari bersama sama untuk menjaga lembaga negara yang ada. Oknum nya yang harus disingkirkan bukan lembaganya yang dihapus. Banyak orang baik dalam negara itu, yang bekerja luar biasanya untuk negara ini, yang sayang nya berita nya terhapus oleh berita berita para oknum itu.

Mari menjadi masyarakat netral, bukan yang menjadi membabi buta membela satu lembaga. Mari menjadi masyarakat yang tidak ikut terpengaruh dalam entertaiment politik yang ada di media.

Mari bersama sama selamatkan negara ini.

Save our country.

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Jangan sia siakan kepercayaan bangsa ini

Saat ini banyak dari status teman teman saya di social media yang saat ini menyatakan kekecewaan nya – terhadap pemimpin di Indonesia saat ini. Tentang putusan putusan yang yang kontroversi, yang tidak jelas arahnya kemana. Tentang kebijakkan kebijakkan yang sering membuat bingung, apa yang menjadi pertimbangan ketika kebijakkan tersebut diambil

Dari mulai kenaikkan bbm – yang sudah mengakibatkan kenaikkan tarif angkot – dan pengurangan tarif bbm tapi tidak akan mengurangi tarif angkot (dan ini terus terang memberatkan masyarakat menengah ke bawah yang masih setia menggunakan angkot. Sekali lagi yang diuntungkan dalam hal ini adalah masyarakat menengah ke atas. Deeuuuuhhh!!!) dan tarif tarif yang lain, pencalonan pimpinan yang ternyata terkena kasus di KPK, pengangkatan tim ahli yang ternyata lagi lagi bermasalah. Uhm … saya tidak tau besok, apa lagi yang terjadi di negara ini.

Banyak cerita yang saya dengar mengapa ini terjadi , dengan versi yang berbeda beda dan beberapa versi malah seperti di film film hollywood (yup …. agak lebay memang 😀 ),  yang sama dari keseluruhan versi ini adalah semuanya menjadikan masa depan negara ini jadi pertaruhannya, semua menjadikan kepercayaan masyarakat terhadap pimpinannya menjadi taruhannya.

Saya sampai saat ini berusaha melihat dari berbagai sisi, mencoba mengerti. Tapi sepertinya memang saya juga belum mampu berpikiran seperti beliau beliau. Sehingga saya belum bisa melihat nilai positifnya. Walaupun saya masih belum mau kehilangan harapan saya – bahwa beliau beliau pastilah tau apa yang terbaik untuk negara ini. Bahwa beliau beliau pastilah tidah akan mengkhianati rakyatnya. Bahwa beliau beliau ini pastilah akan mengutamakan kepentingan rakyatnya dari pada kepentingan pribadi atau golongannya.

Saya jadi teringat, dulu ada seorang mantan bos saya, yang sangat humble dan menurut saya sangat wise. Beliau selalu berkata kepada saya – satu yang harus selalu kamu jaga – kepercayaan orang kepada kamu. Apapun yang terjadi selalu jaga kepercayaan itu. Karena sekali kamu menyia nyiakan nya , maka seumur hidup orang tidak akan percaya kembali. Kepercayaan itu barang yang paling gampang diberikan tetapi sangat m mahal harganya. Dan sukar untuk didapat kembali apa bila sudah hilang.

Dan hal ini yang sekarang terjadi di negara ini. Rakyat mulai kehilangan kepercayaan. Merasa dibohongi, merasa disia siakan. Sehingga apapun yang dilakukan sudah mendapatkan pandangan sinis dan kecurigaan. Walaupun mungkin sebenarnya kalau mereka jelaskan maksudnya tidak seburuk yang diduga orang orang, tapi karena kepercayaan itu sudah hilang, yang tersisa hanya rasa curiga.

Saya tahu, pasti memerlukan kesabaran yang luar biasa untuk menjadi pimpinan di negara yang rakyatnya majemuk ini. Pasti memerlukan ketahanan fisik yang luar biasa menjadi pimpinan di negara yang gosip dan berita nyata sulit untuk dibedakan. Saya bisa terbayang bagaimana letihnya untuk tetap bisa berdiri tegak dalam keadaan penat baik secara emosi maupun fisik.

Tapi saya juga mengerti mengapa bangsa ini begitu kecewanya, saya mengerti juga mengapa banyak dari bangsa ini merasa terkhianati. Itu semua karena mereka sudah memberikan kepercayaan 100% bahkan 1000% kepada pimpinannya. Itu karena mereka percaya , bahwa akhirnya ada pimpinan pimpinan yang benar benar bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Dan yang kemudian yang mereka rasakan ternyata berbeda.

Kalaulah ternyata memang apa yang dipikirkan rakyat itu salah, apa yang dituduhkan rakyat itu tidak benar, menurut pemikiran saya, ada baiknya semua dijelaskan. Mengapa langkah ini diambil, mengapa langkah itu diambil. Karena hanya dengan komunikasi lah bisa mengilangkan prasangka prasangka atau asumsi asumsi. Karena hanya dengan komunikasi lah – saya dan bangsa ini bisa mengerti. Dan mungkin dengan komunikasi, kami bisa melihat dari kacamata yang sama. Karena saya dan juga bangsa ini tidak bisa membaca pikiran pemimpin pemimpin saya.

Dan saran saya lakukan lah secepatnya sebelum kepercayaan itu benar benar hilang di hati bangsa ini. Lakukanlah sebelum terlambat. Karena seperti yang pernah dikatakan salah satu bekas bos saya – kepercayaan itu barang yang paling gampang untuk diberikan tapi harus dijaga karena mahal harganya. Karena, sekali kepercayaan itu hilang maka akan sulit sekali untuk mendapatkannya  kembali.

Salam

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Catatan Akhir Tahun

Akhir tahun ini untuk saya  agak sedikit berbeda. Kalau dulu saya membuat resolusi akhir tahun tanpa percaya bahwa apa yang saya niatkan akan terjadi (yup menurut saya apa yang saya resolusikan seringnya impossible – trus karena saya percaya itu impossible jadilah itu memang menjadi impossible hahahahahaha). Akhir tahun ini saya membuat resolusi dengan keyakinan saya percaya itu akan terjadi. Iya kalau saya enggak percaya gimana itu bisa terjadi?

Tahun 2014 merupakan perjalanan panjang dimana setiap harinya saya belajar dan dibukakan pintu hati saya. Dimana setiap harinya saya belajar untuk mencintai diri saya sendiri agar saya juga bisa mencintai orang lain (ya .. bagaimana saya mencintai orang lain kalau saya juga tidak bisa mencintai diri saya sendiri?). Saya belajar setiap harinya untuk mengucap syukur atas apapun yang saya dapatkan dan merasa berkelimpahan dengan apapun yang saya punyai saat ini.

Saya belajar untuk menerima kelemahan saya, saya belajar “it’s ok to be not ok”. Saya belajar untuk tidak apa apa kalau saya terlihat “lemah”. Saya belajar untuk tidak lagi memakai topeng – kalau saya perempuan kuat yang bisa melakukan segalanya”.  Saya belajar untuk tidak lagi menjadi “victim” atas kejadian kejadian yang terjadi pada saya dan  saya “anggap” menyakiti hati saya. Saya belajar untuk bertanggungjawab atas diri saya dan tidak menyalahkan orang lain atas apapun yang saya alami.

Apakah tahun 2014 saya tidak mempunyai masalah? Ya pastilah ada namanya manusia, saya juga mengalami kesedihan, kekecewaan, breakdown, merasa gagal etc. Masih sering merasa victim, masih sering merasa menjadi manusia paling menderita sedunia. Masih sering marah marah marah apabila saya  merasakan ketakutan yang luar biasa. Masih sering segan untuk minta tolong. Masih sering merasa direject, kalau ada orang yang menolak membantu saya. Ya saya masih sering merasakan itu. Bedanya, biasanya selang beberapa menit atau selang beberapa hari (enggak pernah lama deh), saya menyadarinya.

Dan beruntung nya saya, selama proses pembelajaran saya ini, saya bertemu orang orang yang luar biasa yang banyak membantu saya. Orang orang yang membuat saya menyadari bahwa saya berharga. Orang orang yang mengingatkan saya , kalau saya saya sudah mulai terlalu keras sama diri saya, atau kalau saya terlalu sering memukuli diri saya. Orang orang yang  mengajari saya untuk menghargai apapun hasil yang saya peroleh. Karena result tidak menunjukkan siapa saya, hanya memberitahu saya, bahwa yang saya lakukan ada yang kurang efektif. Jadi kalau gagal, saya semestinya berhenti sebentar kemudian mulai lagi dengan cara yang berbeda. Kalau kembali tidak berhasil dan saya merasakan kecapean, ya mungkin itu bukan yang terbaik untuk saya. Itu saja. Dan beruntungnya saya lagi, saya bertemu orang yang tidak pernah lelah untuk “menjewer” saya kalau saya sudah melakukan hal hal yang tidak efektif, orang yang saya percaya apapun yang saya lakukan dan tidak akan pernah membiarkan saya breakdown sendirian.

Selain itu saya  juga banyak dikejutkan  dengan keajaiban keajaiban yang dahulunya saya  yakin tidak pernah merasa bisa terjadi pada saya. Kata orang yang terdekat dengan saya, itu karena saya sekarang melihat dari kacamata yang berbeda. Saya sudah bisa mensyukuri apapun yang terjadi pada saya. Tidak lagi berprasangka negatif, tidak memikirkan apa apa. Karena itu terlihat bahwa itu adalah keajaiban keajaiban yang sebelumnya tidak saya terima, padahal sebelumnya mungkin pernah saya terima tapi ternyata tidak saya syukuri keberadaannya.

Dan resolusi saya ditahun 2015? Uhm ada setumpuk daftar panjang yang ingin saya capai, yang saya tuliskan untuk tahun 2015. Dan salah satunya adalah (seperti yang sering disarankan oleh orang yang terdekat dengan saya) saya pingin jadi berkat buat  keluarga saya, orang orang yang terdekat dengan saya, orang orang yang ada disekitar saya dan orang orang yang memerlukan saya.  Aamiin

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Karena PNS juga Manusia

Saya senang sekali dengan gebrakkan gebrakkan yang dibawakan  oleh pemerintah yang baru.  Cukup memberi warna yang baru, sekaligus sering membuat penasaran, besok apalagi ya, besok ceritanya yang mana lagi ya?

Tapi kemudian ada yang miris ketika membaca apa yang harus dilakukan oleh PNS sehubungan dengan pengetatan anggaran. Teman teman saya yang  bukan PNS banyak yang menganggap ini suatu yang luar biasa bijaksana. Dan teman teman saya yang masih PNS —- tentu saja mengganggap ini hal yang paling miris.

Saya sendiri?

Uhm ….. saya akan menempatkan diri pada PNS – kebijakkan anggaran berbasis kinerja juga harus diperhatikan, yang berarti – kinerja mereka di ukur dari kemampuan menghabiskan anggaran. Bukan kemampuan mereka menghemat anggaran. Walaupun bisa menghemat sekian rupiah …. tapi mereka tidak akan dianggap bagus kerjanya. Jadi? Jangan salahkan mereka yang pada akhir tahun biasanya bersiap siap menghabiskan anggaran yang ada agar kinerja mereka dianggap bagus. Trus apakah karena ini mereka yang salah?  Menurut saya sistem yang berperan besar disini. Saya jika dalam posisi mereka, pastilah juga akan berusaha menghabiskan anggaran sebesar yang saya mampu, karena saya juga ingin dianggap kinerja saya bagus. Wajar kan?

Kemudian tentang hanya makan singkong rebus …. uhm …. tanpa adanya peraturan ini, saya tau banget banyak teman teman saya yang pns senang dengan singkong rebus. Atau seperti naik pesawat …. beberapa teman saya yang bukan pns, malah tidak mau berangkat tugas kalau pesawatnya bukan Garuda. Jadi? Sama saja deh. Semua ingin kenyamanan.  Mustinya dibuat saja batasan batasan harga pesawat yang boleh, batasan batasan harga hotel yang boleh, dll. Dibuat detail. Dan kadang kadaang harga tiket Garuda dan yang lain sama kok. Jadi apa salahnya juga? Saya mengerti banget bagaimana mereka berhemat, saya tau banget bagaimana sederhana hidup mereka. Mereka sama seperti saya, seperti pegawai swasta yang lain, yang mencintai pekerjaannya yang tidak memikirkan macem macem, hanya berpikiran menyelesaikan pekerjaan nya dengan baik dan memberikan yang terbaik untuk kantornya, untuk negaranya.

Menurut saya, mungkin banyak pns yang tidak bagus kinerjanya, tapi saya yakin masih lebih banyak yang bagus kinerjanya. Saya kenal banyak teman teman saya yang seperti itu. Yang bekerja di pelosok daerah sana, yang biaya hidupnya jauh lebih besar dari di Jakarta (semakin jelek infrastruktur transportasi – semakin mahal biaya makanan karena ongkos transportasi untuk membawa sayur etc juga besar, atau juga apabila daerah nya adalah daerah kaya minyak – maka biaya hidup disekitarnya juga otomatis akan tinggi, dll), tapi gaji dan tunjangan nya sama dengan yang lain, sementara mereka juga harus menyimpan uang untuk ongkos tiket pp ke rumah keluarganya yg tinggal nya terpisah jauh. Ongkos tiketnya – uhm bukan satu atau 2 juta (padahal di beberapa kantor swasta, kembali ke daerah asal malah dibayarkan kantor ) Dan yang mereka terima adalah kutukan kita, karena kinerja mereka dianggap selalu tidak memuaskan, mereka kita anggap juga termasuk pns yang semenamena menghamburkan uang negara. Padahal kita sendiri tidak pernah mau melihat bagaimana mereka bekerja.

Saya sih hanya memikirkan yang paling mudah, kalau kita bekerja… kita semua pingin punya gaji yang besar, fasilitas yang bagus, tempat bekerja yang nyaman. Sama seperti PNS. Enggak salah juga kalau mereka mendapatkan fasilitas seperti pegawai swasta.  Percaya deh, kalau kita di posisi mereka, kita juga menginginkan hal yang sama kok. PNS kan juga manusia.

Yang harus dicermati bukan lah fasilitas fasilitas itu, tapi bagaimana kinerja mereka. Bagaimana pelayanan mereka. Bagaimana sistem yang ada, apakah sistem itu yang membuat pns tersebut berbuat kesalahan?

Selalu memposisikan mereka salah, selalu memposisikan mereka tidak bekerja dengan benar, selalu menganggap mereka tidak punya hati, atau paling sadis mereka pasti lah korupsi, saya kira tidak lah adil.

Sebagai pegawai,mereka sama haknya dengan kita yang juga bekerja sebagai pegawai. Bedanya kewajiban kita pertanggungjawabannya ke perusahaan, pemegang saham. Mereka kepada institusinya, kepada rakyat Indoensia. Jadi sudahlah hentikan juga selalu menyudutkan mereka atau menjadikan mereka bulan bulanan.  Mari kita berpikiran positif, saling bahu membahu menjadikan negara kita lebih baik.

Atau kalau kita merasa kita lebih baik dari mereka, mengapa tidak mencoba melamar menjadi PNS juga? 😀

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , | 37 Comments