Covid – Manusia dan Penciptanya

Covid yang sedang melanda seluruh dunia memang fenomenal sekali. Ini seperti film Hollywood yang pernah ada – dimana diceritakan bahwa seluruh dunia menderita akibat virus. Dan Covid ini seolah – olah menjadi pembuktian dimana sejarah berulang, karena pada PD I – sudah ada pandemi yang bernama flu Spanyol dimana 500 juta orang yang terkena dan sekitar seperlima nya yang meninggal.

Covid juga banyak merubah kehidupan manusia, yang memutarbalikkan keadaan apapun dalam sekejap. Hidup menjadi tidak sama lagi seperti sebelum COVID. Tapi anehnya saya melihat justru Allah – Tuhan – Sang Pencipta, banyak sekali mengabulkan permintaan – permintaan umatnya lewat Covid ini. Tapi seperti biasa – manusia yang tidak pernah puas, dan selalu merasa jadi ‘korban’ – malah merasa kesal ketika Allah mengabulkan permintaannya.

Contoh yang paling banyak adalah doa untuk bisa bekerja dari rumah, untuk bisa sering – sering bersama keluarga. Ketika Covid ini terjadi dan kemudian hampir banyak pasangan yang bekerja dari rumah, anehnya banyak sekali perceraian yang terjadi, selain itu banyak sekali teman – teman saya yang merasa stress karena bekerja dari rumah. Padahal bukankah itu yang sebelum nya mereka minta kepada Tuhan – Allah – Sang maha Pencipta?

Selain itu, doa – doa tentang keinginan untuk menjadi superhero dengan tidak melakukan apapun. Dan itu kemudian terkabul karena Covid – orang orang yang tidak melakukan apa – apa, yang tinggal di rumah, saat ini adalah pahlawan. Karena dengan hanya tinggal di rumah, berarti membantu agar penyebaran Covid tidak semakin melebar kemana – mana. Tetapi ketika dikabulkan, kemudian, banyak orang yang merasa kesal dan mengumpat karena mereka harus bermalas malasan tinggal di rumah sepanjang hari.

Fenomena yang lain adalah fenomena tentang banyak sekali manusia yang ternyata takut banget terhadap kematian – dan itu adalah manusia – manusia yang tadinya selalu berbicara tentang Tuhan- Allah- Sang Pencipta, memakai segala atribut keagamaan yang mencerminkan apa agamanya. Kalau hidup seperti apa yang dikatakan, apa yang dikenakan (biasanya ketika menggunakan atribut ini selalu mengatakan karena pingin dekat dengan Allah, pingin disayang Allah, perintah Allah) – mengapa takut akan kematian?

Karenanya saya cukup terusik dengan doa – doa yang sering banget diucapkan – yang meminta agar dijauhkan dari bencana ini, dari bencana Covid ini. Padahal, apakah yang diberikan Tuhan – Allah – Sang Pencipta itu dipilih2x judulnya – kalau bagus – itu anugerah – kalau buruk itu bencana? Bukankah Beliau yang paling tau apa yang terbaik untuk kita? Mana mungkin Beliau memberikan yang buruk untuk umatNya? Karena dengan doa – doa untuk dijauhkan dari bencana Covid, menurut saya itu sperti kita mengatakan bahwa Tuhan – Allah – Sang Pencipta, sedang memberikan yang terburuk untuk manusia. Kalaulah kita banyak kehilangan, atau menderita sakit ya karena memang saat itu, itu yang terbaik menurut Beliau.

Selain itu, bukankah sudah jelas sekali – kalau segala yang kita miliki adalah milik Tuhan – Allah – Sang Pencipta. Dan bukankah kematian berarti kembali kepadaNya, dan itu sudah disuratkan dalam perintahNya? Kenapa harus takut? Di Islam ada kata – kata Kun Fayakun – kalau Allah mau maka terjadilah. Kenapa berbeda sekali tindakan dengan kata – kata tentang bagaimana mempercayai Tuhan atau pemakaian atribut yang katanya perintah Allah – Tuhan – Sang Pencipta?

Entah mengapa, saya merasa, saat ini Tuhan- Allah – Sang Pencipta menunjukkan hal tersebut ketika Covid ini. Beliau menunjukkan bagaimana kuasaNya atas hidup manusia, sehingga apapun yang dikerjakan, apapun yang kita lakukan, kita rencanakan – dapat terlaksana kalau sesuai dengan rencanaNya. Karenanya sulit sekali untuk membuat rencana – rencana saat ini. Sulit sekali memprediksi apa yang akan terjadi 1 detik kemudian.

Orang seperti saya, yang terbiasa membuat planning, tentu saja menjadi resah ketika mula – mula Covid ini terjadi. Saya perlu bekerja keras untuk membiasakan diri menghadapi perubahan – perubahan terhadap apapun yang saya rencanakan. Saya perlu bekerja keras untuk beradaptasi, dan bekerja keras untuk menyerahkan segala yang saya rencanakan di tangan Allah- Tuhan – Sang Maha Pencipta. Bekerja keras untuk menurunkan ego – menerima bahwa Yang Menciptakan saya, adalah penentu segalanya.

Saya perlu bekerja keras untuk memperbaiki hubungan saya dengan Allah – Tuhan – Sang Pencipta. Bekerja keras untuk selalu memasrahkan apapun kepada Beliau. Bekerja keras untuk meredam emosi saya, ketika apa yang saya terima tidak sesuai dengan rencana saya. Karena Kun Fayakun – kalau Allah mau maka apapun bisa terjadi. Karena apapun yang terjadi adalah atas kehendakNya bukan atas kehendak saya, bukan atas rencana saya, tapi sekali lagi atas kehendakNya. Karena Beliau yang paling tau apa yang paling baik untuk umatNya, karena Beliau yang paling tau, waktu yang tepat, karena Beliau yang paling tau, apa yang saya butuhkan, dan bukan apa yang saya inginkan.

Covid, juga mengingatkan manusia untuk selalu menghargai waktu. Karena dalam hitungan detik – itu bisa merubah segalanya. Jadi selagi masih ada waktu, jangan pernah menunda kesempatan yang diberikan. Menunda mengucapkan cinta, menunda menelfon teman teman yang ingin ditelfon, menunda mengucapkan terima kasih, menunda meminta maaf, dan menunda yang lain.

Covid juga salah satu bentuk cinta Tuhan terhadap umatNya – dengan cara mengembalikan arti keluarga kepada arti sebenarnya. Kalau tidak ada Covid – sulit untuk melihat keluarga (dalam hal ini di Indonesia), yang bersama – sama mengerjakan tugas rumah. Melihat ayah dan ibu yang saling bekerja sama untuk mendidik anak – anaknya.

Jadi menurut saya, Covid itu cara terindah Tuhan – Allah – Sang Pencipta untuk mengembalikan hubungan manusia dengan Beliau. Agar manusia tidak menjadi egois, agar manusia benar2x bisa ikhlas, agar manusia kembali sadar – bahwa jangan pernah untuk menyia – nyiakan apapun yang dimiliki saat ini. Agar ketika kita meminta sesuatu, dipikirkan kembali – apakah yang kita minta tersebut benar – benar akan membahagiakan kita nantinya, atau permintaan itu hanya untuk kebahagiaan sesaat? Dan agar kita kembali kepadaNya, meminta kekuatan – untuk dapat melangkah sesuai dengan rencanaNya termasuk membiarkan segala sesuatu terjadi menurut kehendakNya, dan bukan menurut kehendak manusia.

Salam

About kharinadhewayani

I am just an ordinary woman who wants to share her mind and her dreams to the world.
This entry was posted in 'wish', agama, doa, harapan, manusia, menghargai, rohaniawan, Tuhan, umur. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s