Kalau itu sangat bernilai bagimu, maka perjuangkanlah!!

Banyak sekali orang orang yang memberikan warna di kehidupan saya. Tua, muda, anak anak, laki laki, perempuan. Ada yang memberi warna yang indah, ada yang kurang indah, ada yang hitam, ada yang putih, berwarna. Ada yang sedikit hampir berupa titik, ada yang banyak dan dapat terlihat jelas.

Salah dua orang yang memberikan warna ini pernah menghilang di kehidupan saya. Bahkan sampai saat saya menulis ini, saya belum bertemu kembali dengan mereka. Kesamaan dari keduanya adalah : saya terlalu takut untuk menghubungi mereka terlebih dahulu – walaupun rasa kangen saya sering sekali membuat dada saya terasa sesak. Saya takut mereka marah, atau menolak ketika saya hubungi. Bahkan untuk menanyakan keadaan mereka kepada orang orang yang mengetahui keberadaan mereka juga tidak berani saya lakukan. Dan beruntungnya, orang orang ini seperti mengetahui apa yang saya pikirkan, sehingga mereka tidak jarang memberitahukan keadaan ke 2 orang tersebut setiap kali bertemu dengan saya. Yup I am the lucky one.

Tetapi kemudian, komunitas baru saya sering,mengingatkan saya “if  it is something meaningfull for you, fight for it and if you do not try, the answer always “No” . Maka mulailah saya belajar mengalahkan ketakutan saya.
Pertama, dipenhujung  bulan Desember, setelah 15 tahun lebih saya tidak pernah menghubungi ayah saya, dengan rasa takut yang membuat perut saya sakit luar biasa,  kepala saya pusing, tangan dingin  dan jantung saya yang sepertinya berdetak 10 kali lebih cepat, saya menghubungi ayah saya. Setelah telefon saya tidak diangkat,  saya beranikan menulis pesan lewat sms. Yang tentu saja dengan penundaan pengiriman sekitar satu jam dari saya selesai mengetik dan tidak lupa isinya saya rubah berkali agar terlihat manis, penuh rasa cinta dan menghormati.

Penderitaan saya bertambah karena balasan sms ayah saya datang 2 jam setelahnya. Selama penantian itu,  saya benar benar kalut, dan tentusaja sedih. Sedih karena ayah saya sepertinya memang tidak mau lagi berbicara dengan saya, walaupun satu sisi lain saya merasa ringan, karena saya setidaknya sudah memberitahukan beliau saya ingin bertemu dan saya selalu sayang kepada beliau,
SMS balasab ayah saya  yang akhirnya datang, yang isinya memberitahukan alasan mengapa tidak bisa bertemu saya secepatnya dan akan menghubungi segera setelah beliau kembali ke jakarta plus kata kata kalau beliau mencintai saya, dan minta saya jaga diri baik baik, membuat saya merasa mendapat undian miliaran rupiah. SMS itu saya baca berulang ulang (dan masih sering saya baca, ketika saya sangat kangen, seperti hari ini) Ucapan terimakasih kepada Tuhan sepertinya tidak cukup atas anugrah terindah ini. Ingin rasanya saya memberitahukan semua orang (walaupun akhirnya hanya satu orang yg langsung saya hubungi dan saya ceritakan).  Saya merasa Tuhan sayang bangeeeeettt ke saya, saya diberikan hadiah akhir tahun yang terindah  yang tidak pernah saya bayangkan akan saya dapatkan, dan rasanya tidak ada kata kata yang cukup menggambarkan besarnya kebahagiaan yg saya rasakan.

Kedua, di bulan Januari, ketika saya ditanya, siapa yang ingin saya temui tapi tidak berani saya temui karena saya takut sekali beliau marah dan menolak saya. Walaupun saya tau jelas berapa besar kangen yang saya miliki, berapa banyak usaha yang saya lakukan untuk mengingkarinya. Padahal di setiap langkah saya, beliau selalu ada. Dan sering sekali ketika saya tidak bisa menghilangkan kekangenan saya, saya mengunjungi tempat tempat yang sering kami kunjungi dan berharap saya bisa melihat beliau, walaupun hanya 1 menit, walaupun hanya dari kejauhan.

Saya yakin, beliau mungkin tidak pernah tau seberapa besar arti beliau di hidup saya, dan tidak akan pernah menyangka sebesar itu, karena tentu saja beliau tidak bisa membaca pikiran saya dan saya tidak pernah mengungkapkan apa yang saya rasakan tentang beliau. Dan seperti cerita cerita lainnya, kita baru tau apa arti seseorang, ketika kita kehilangan mereka. Saya baru menyadari hal itu ketika beliau menghilang dari kehidupan saya.

Jadilah kemudian bulan Januari kemaren, seperti saat menghubungi ayah saya, saya juga merasakan sakit perut yang luar biasa sejak saya bangun tidur, tangan dingin, dan jantung yang berdetak 15 kali lebih cepat serta kepala yang rasanya menjadi pusing mendadak. Ingim sekali saya membatalkan keinginan saya, dan untunglah ada orang orang yang sampai last minute saya akan menelfon memberikan saya support yang luar biasa. Bahkan saking yakin nya saya kalau beliau tidak akan mungkin mau menerima telefon saya, saya sudah bersiap mengirimkan sms dan apabila setelah 3 hari sms saya juga tidak dibalas, maka saya akan mengirimkan bunga atau kue kekantornya dan menyelipkan kartu.

Dan saya hampir pingsan ketika beliau menjawab telefon saya, ramah tanpa marah bahkan kami ngobrol seperti biasanya. Bagi saya hari itu hari terindah di awal tahun dan kado yang luar biasa tidak ternilai. Setelah telfon ditutup, saya merasa seperti mimpi, saya ingin memeluk Tuhan, dan bilang terimakasih atas anugrahnya kepada saya yang sering sekali “bandel”. Saya tidak tau, apakah beliau merasakan hal yang sama, atau bahkan bagi beliau tidak ada artinya.  Saya tidak tau. Saya tidak ingin menduga duga dan berpikiran negatif.

Mau menjawab telefon saya, mau mendengarkan cerita cerita bodoh saya, itu saja sudah luar biasa berartinya untuk saya. Sudah membuat hati  saya menjadi hangat, membuat senyum saya bertebaran kemana mana, membuat saya merasa bahagiaaaaaa. Yup, salah satu anugrah terbesar yang saya terima.

Kalaulah ini memang kesempatan saya yang terakhir yang diberikan Tuhan untuk membuktikan kesungguhan saya, untuk meraih mimpi saya, saya tidak mau menyia nyiakannya. Ambil resiko walaupun mungkin resikonya saya akan malu, ditertawakan orang orang.  Kun Fayakun, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah ketika Beliau merestui. Saya hanya tau saya berusaha, berdoa dan percaya, karena kalau pun yang diberikan bukan seperti harapan saya, tapi itu pasti yang terbaik bagi saya.

Saya hanya perlu keberanian untuk memperjuangkan apa yang menurut saya sangat bernilai di hidup saya dan kalau saya tidak bertanya maka jawabannya akan selalu “TIDAK”. Apapun hasilnya, saya setidaknya sudah melakukan yang terbaik, dan itu jauuuh lebih baik  bagi hati saya, dari pada tidak melalkukan apapun, atau menyesal karena tidak mempergunakan waktu yang ada untuk memperjuangkan apa yang berarti untuk saya sebelum hal terebut sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Kalaupun hasilnya tidak seperti yang saya inginkan, saya bisa belajar banyak dan kemudian ketika mencoba lagi, saya tidak melakukan kesalahan lagi.

So. … bagaimana dengan anda? Beranikah memperjuangkan apa yang bernilai di hidup anda, walaupun dengan resiko yang besar, atau anda hanya diam dan memilih untuk tidak melakukan apa apa karena takut kehilangan zona nyaman anda?

Salam

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apakah Sosial Media dan Smartphone menghilangkan Nalar dan Nurani?

Kemarin ketika saya berangkat ke kantor barengan dengan adik saya tercinta dengan motornya, mencari jalan jalan alternatif agar tidak terjebak macet yang menjadi semakin parah akibat hujan dan banjir di beberapa tempat, ada pemandangan yang membuat kami berdua kemudian merasa miris dan merasa marah. Banyak banget orang orang yang sengaja menghentikan kendaraan nya untuk memotret banjir dan korban banjir menggunakan smart phone yang mereka miliki, seakan akan musibah yang dialami oleh sesamanya merupakan objek foto yang bagus sekali.

Parahnya kemudian mereka bahkan tidak terlihat menyambangi posko bantuan yang ada di sana. Setelah puas mengambil foto, mereka meninggalkan tempat itu begitu saja. Dan itu memang bukan pertama sekali saya melihat kejadian seperti ini. Ketika ada tabrakan, bukannya menolong korban, malah bersibuk ria mengambil foto sang korban dan penabrak atau malah memfoto diri dengan latar belakang kejadian tersebut :(Begitu juga dengan peristiwa lain, kebakaran misalanya, dan musibah musibah yang lain.

Seolah olah seperti wartawan profesional yang tidak mau melewatkan untuk mengabadikan setiap momen yang ada, semakin tragis, semakin bagus. Semakin canggih smartphone, semakin banyak foto yang di ambil, semakin cepat internet di smartphone , semakin banyak foto yang di upload di seluruh akun sosmed yang mereka punya plus kata kata tentang keperdulian untuk menambah image kehebatan mereka (*tepok jidat)

Please dong mas, mbak, om, tante, bapak ibu, adik, coba lah berpikir menjadi mereka. Apakah kita mau difoto foto orang ketika kita sedang mengalami musibah? Ketika orang tua, saudara kita sedang luka parah atau sakit berat atau bahkan meninggal dunia akibat bencana tersebut? Apakah kita merasa nyaman dengan itu? Miris. Dimana hati nurani kita? Dimana nalarnya? Apakah cuman kejadian itu yang tepat untuk difoto?

Apakah kalau tidak bisa membantu, tidak bisakah dengan tidak menjadikan mereka objek foto dan kemudian secara tidak bertanggung jawab menyebarkan nya kemana mana, tanpa memikirkan apa yang dirasakan oleh orang yang tertimpa musibah? Apalagi kalau foto foto tersebut ditambah dengan tulisan yang seolah olah “Hero” yang mengajak semua yang melihat nya perduli dan mencontreng “LIKE” kalau di facebook :(Apa pentingnya sih, foto foto tersebut? Apa memang harus di upload? Atau karena judulnya SMARTPHONE = berarti yang harus SMART adalah phone nya dan bukan pemiliknya? Deuuuuuuuhhhhh.

Apa tidak cukup dengan berfoto foto narsis, atau berfoto foto di setiap sudut negara yang didatangi, dan foto tentang makanan mewah yang di makan, kemudian sebisa mungkin foto itu tersebar di seluruh akun sosial media yang kita punya. Agar semua orang bisa tau bagaimana hebat, keren dan coolnya gaya hidup, negara mana yang didatangi, dan bagaimana tinggi nya selera makanan. Apakah semua itu tidak cukup? Harus kah menambahkan dengan foto foto diatas penderitaan orang lain tersebut juga? Speechless

Selain itu, fenomena yang paling memiriskan, dengan banyak nya sosial media maka keinginan untuk memperlihatkan “menurunnya kemampuan nalar” seperti yang sering juga saya lakukan (ampuuuunn betapa memalukan nya saya :(( ) adalah menulis status tentang bagaimana seseorang menyakiti saya, bagaimana bodohnya seseorang melakukan sesuatu, atau tentang bagaimana cinta dan rindu nya saya terhadap seseorang.

Dan yang saya lakukan memang hanya sebatas menulis status tapi tidak melakukan apapun terhadap orang yang saya maksudkan. Saya tidak ketemu atau setidaknya menelfon mengatakan kepada mereka apa yang saya rasakan. Jadi sebenarnya apa yang saya mau? Dapat perhatian? Atau berharap orang tersebut membaca dan mengerti kalau yang dimaksudkan oleh saya adalah mereka dan berharap, mereka akan berubah dan membalas rasa saya. Deuuuuhhhhh.

Setelah itu yang lebih parah dari itu adalah saya kemudian merasa marah ketika orang tersebut tidak melakukan apa apa, tidak minta maaf, tidak membalas cinta atau merespon rasa kangen saya. LOL Kemudian kembalilah saya menuliskan segala kekecewaan saya kepada mereka. Dan begitu seterusnya, semakin lama status itu semakin kasar atau semakin memelas – tergantung masalahnya. Seolah olah saya adalah orang yang paling menderita sedunia dan seolah olah penting banget semua orang mengetahui dan merasakan apa yang saya alami sehingga HARUS saya tuliskan menjadi status. ( Yah … seperti di film film romantis – yang cantik yang mengalami penderitaaan dan perlu diselamatkan hahahahhahhaahha)

Tapi ya karena memang sudah kehilangan nalar – saya TETAP TIDAK melakukan apa apa. Saya tetap tidak berusaha bertemu orang tersebut dan tetap tidak juga menggunakan Smartphone saya dengan cara yang SMART. Dan anehnya banyak juga orang yang bersimpati atas status saya tersebut, bukan nya menegur saya agar langsung berbicara ke orang nya. Mungkin sih karena mereka hanya basa basi? Atau takut saya marah? 😀 Ah … entahlah.

Kalau begitu, ehmmmm ……. dikasus saya, bukan hanya menghilangkan NALAR dan NALURI tapi, juga menjadikan saya menjadi seorang pengecut yang tidak berani untuk mengatakan langsung kepada orang lain (apapun alasannya itu) dan kemudian menjadikan diri sebagai korban yang perlu diperhatikan adalah aktivitas favorit saya? Ah … saya harus menghentikan aktifitas memaki dan mengeluh di akun sosial media yang saya punya (please please … kalau saya menulis ini lagi, tolong saya ditegur ya, pleaseeeee), agar saya tidak semakin terpuruk menikmati kenyamanan saya yang hanya berani di sosial media melalui smartphone  – yang saya yakin selalu merindukan agar saya sebagai pemiliknya menjadi Smart, menggunakannya untuk hal hal yang membuat nilai hidup saya semakin meningkat dan bukan sebaliknya. Aamiin

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 2 Comments

Karena mereka memberikan kita “Kehidupan”

Sebagaimana anak yang dilahirkan dari keluarga yang “agak” berbeda dari gambaran keluarga sempurna di film, di tivi atau bahkan di kebanyakkan orang orang, tidak jarang tentunya saya mendengarkan keluhan dari saudara saudara saya, bahkan saya sendiri dulunya sering berpikir begitu  – bagaimana mampu mencintai dan menghargai ke dua orang tua, kalau mereka tidak pernah memposisikan diri sebagai orang tua, yang tidak pernah memberikan pelukan dan memberikan “rumah” agar anaknya bisa pulang sewaktu bebannya terlalu berat, yang mengatakan “everything is gonna be all right”.

Sebenarnya sih banyak juga teman teman saya yang orang tuanya terlihat rukun dan damai juga mengeluhkan hal yang sama. Dan malah pada akhirnya, hal ini yang selalu dijadikan “alasan”  atau “dalih” atas kelakuan negatif yang dilakukan – contoh nya apabila memakai narkoba – alasan nya karena kurang perhatian orang tua, atau lari dari rumah – alasan nya karena orang tua tidak mau mengerti dll. Saya sendiri juga sering melakukan hal yang sama dan mengunakan dalih yang sama.

Sulit memang untuk mengerti mengapa mereka melakukan hal hal negatif yang mereka lakukan kepada anak -anaknya  (memukul, marah, mengumpat, tidak perduli, tidak mau mengerti dan bahkan meninggalkan tanpa tanggungjawab), sulit untuk percaya kalau mereka tidak mencintai anak anaknya. Dan sulit juga untuk mengetahui tau apa sebenarnya yang ada di hati mereka.

Mencoba berada di posisi mereka, ternyata membuat saya lebih mudah mengerti  mengapa mereka melakukan hal tersebut. Mungkin karena orang tua mereka melakukan hal sama kepada mereka atau bahkan lebih buruk.  Mungkin mereka sendiri sebenarnya mempunyai masalah masalah besar yang tidak ingin mereka ceritakan, tapi membuat mereka merasa tertekan dan marah.  Atau mungkin menurut mereka, itu cara yang efektif menyampaikan sayang kepada anaknya, atau mungkin mereka juga tidak tau dan tidak menyadari apa yang mereka perbuat dan pengaruhnya terhadap pandangan anak kepada mereka.

Saya ingat suatu saat, ada teman saya yang merasa begitu tertekan nya dengan masalah rumah tangga nya (sang suami ribut besar dengan ibu mertuanya karena masalah uang), alhasil sekecil apapun kesalahan sang anak – teman saya itu tidak segan segan memaki maki anak nya tersebut di depan kami semua dengan kata kata yang tidak selayaknya di ucapka seorang ibu.  Sewaktu pulang, tiba tiba teman saya berkata betapa menyesalnya dia karena telah memaki maki anaknya dengan kata kata yang tidak selayaknya diucapkan. Saya ingat sekali wajah penyesalan terpancar nyata diwajahnya. Tapi terkadang, justru kejadian 5 menit itu, luka nya akan terbawa oleh sang anak seumur hidup, dan apabila kejadian itu terus berulang tanpa diobati, maka luka itu akan menjadi besar dan besar dan besar dan kemudian membentuk kepribadian sang anak dan membentuk pandangan anak terhadap orang tuanya.

Dan bayangkanlah mungkin seperti ini kejadian orang tua kita dahulu. Mereka tidak tau apa yang mereka perbuat, dan mereka tidak tau sebesar apa pengaruhnya. Dengan begitu mungkin lebih mudah bagi kita memahami mereka dan menghormati mereka sebagai orang tua kita. Memaafkan apa yang telah mereka perbuat.

Saya tidak ingin berbicara soal dosa atau tidak dosa atau masuk surga dan tidak masuk surga, karena kalau menghormati karena kewajiban atau karena tidak masuk surga, saya kira akan menjadi berat melakukan nya dibanding benar benar ingin melakukannya.  Saya ingin membantu berbagi pengalaman, sehingga mungkin orang orang yang mengalami masalah yang sama bisa merasakan hal yang sama. Tidak lagi merasa marah, kesal, kecewa dll kepada orang tua mereka yang memang tidak sempurna dan tidak memberikan kasih seperti apa yang kita harapkan, sehingga kita tidak lagi melihat mereka dengan cara pandang yang negatif.

Dan kalau itu ternyata juga tidak bisa membantu …  mungkin dengan menyadari bahwa mereka – kedua orang tua telah memberikan saya,kita KEHIDUPAN,  sehingga kita bisa ada di sini, ada di dunia ini.  Dan itu tanda cinta terbesar mereka yang tidak dapat tergantikan oleh apapun.

Salam

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Tanpa “topeng diri”, ketika saya belajar jujur dengan diri saya

Judul panjang ini jadi inspirasi saya, karena pelatihan yang sedang saya ikuti saat ini.  Menarik untuk saya karena  saya sering terjebak untuk menggunakan topeng. Saya terjebak dengan kepercayaan saya sendiri, kalau topeng saya  lebih indah di pandang dan lebih bisa diterima orang orang dari pada saya yang sebenarnya. Saya punya dua topeng …..

Topeng pertama,  adalah saya yang bisa melakukan segalanya, saya yang perfect – anak manis yang tidak akan mau melakukan kesalahan apapun, yang tidak akan menuntut dan meminta apapun, yang akan bisa menyelesaikan segala masalah, yang tidak akan mengecewakan orang orang, yang kuat, yang pintar, yang tidak punya masalah apa apa, yang tegar.   Topeng yang selalu saya tunjukkan kepada orang orang yang terdekat saya, keluarga saya, sahabat sahabat saya, mantan teman hidup dan mantan mantan cinta yang lain 😀

Tadi malam sepanjang perjalanan pulang ke rumah saya mencoba mengingat, apa yang membuat saya seperti ini. Ternyata karena dari kecil, sebagai anak kedua, saya merasa sulit mendapat perhatian dari orang tua saya. Papa yang terlalu bangga dengan kakak saya yang selalu dipuji cantik setiap saat, yang selalu dianggap lucu apabila berbuat salah, yang selalu mendapatkan yang terbaik, dan mama yang terlalu sibuk dengan adik saya.

Satu satunya waktu mereka memperhatikan saya ketika mereka berbicara tentang prestasi sekolah,  ketika pembagian raport – karena nilai yang selalu diatas rata rata teman sekelas saya, ketika saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri, ketika saya mandiri atau ketika saya menjaga adik adik – menyelesaikan masalah adik adik atau  ketika hanya saya sendiri yang tidak meminta apapun sewaktu saudara saudara saya sibuk dengan berpuluh permintaan  atau ketika orang tua saya dipangggil ke sekolah atau ditegur orang karena tingkah laku mereka. Mama malah selalu bilang, “kamu tidak cantik tapi kamu pintar.” Dan itu yang selalu tertanam di pikiran saya, saya tidak cantik – yang membuat saya tidak perduli dengan dandanan saya, karena saya merasa saya untuk apa, toh saya memang tidak cantik.

Kemudian ditambah lagi dengan tekanan keduanya bawa orang orang akan menyayangi saya kalau saya terus punya prestasi dan tidak menyusahkan orang lain, tidak menjadi beban kepada orang lain dan yang selain itu saya harus  menjaga adik adik saya,  sehingga kalau saya melakukan sebaliknya, maka orang orang akan meninggalkan saya termasuk orang tua saya. Saya semakin percaya semua itu harus saya lakukan agar saya bisa disayangi orang lain.

Dan kemudian itulah yang terjadi, saya berusaha menjadi yang terbaik, anak manis, selalu berusaha menjadi kind of hero yang bisa menyelesaikan segalanya. Tidak perduli bagaimana lelah nya saya, saya pasti akan melakukan semua itu. Efeknya ?

Tidak jarang saya membuat orang bergantung kepada saya.  Di tim saya, pasti anak buah saya merasa saya terlalu galak, terlalu otoriter, terlalu serius karena memaksa mereka mencapai target, dan tidak jarang  kemudian membiarkan saya menyelesaikan pekerjaan mereka, karena saya tidak sabaran dengan pekerjaan mereka. Akibatnya saya menjadi sering kelelahan sendiri karena harus menyelesaikan banyak hal sekaligus sendirian, saya keteteran membagi waktu – karena semua orang menuntut waktu saya. Dan anehnya ketika saya berhasil, saya merasa hampa.  Saya merasa kosong. Saya merasa kesepian.

Lain lagi dengan orang terdekat  saya, mantan teman hidup saya. Mereka merasa saya tidak membutuhkan mereka. Mereka merasa saya tidak menghargai mereka. Mereka merasa, apapun yang mereka berikan tidak akan pernah cukup bagi saya, karena saya mampu menyelesaikan lebih baik. Padahal, semua itu karena menurut versi saya, adalah cara saya menunjukkan rasa sayang saya dan juga kare saya takut menyusahkan mereka dengan permintaan permintaan tolong saya, dengan permasalahan saya. Saya takut mereka meninggalkan saya, karena merasa terbebani dengan saya.  Saya takut mereka tidak lagi mencintai saya karena mereka melihat saya tidak mampu menyelesaikan masalah mereka ataupun masalah saya sendiri. Saya takut mereka kecewa melihat saya yang sebenarnya. Sungguh saya merasa takut.

Yang kedua adalah topeng pemarah yang hampir selalu, saya perlihatkan ketika saya merasa tidak nyaman dengan diri saya, ketika saya khawatir  (misalnya teman yang sakit maag, tapi tidak mau makan), ketika saya sedih luar biasa atau malah yang paling parah ketika saya mencintai seseorang yang tidak saya tau apakah dia mencintai saya atau tidak. Saya merasa dengan kemarahan itu saya bisa memproteksi diri saya, sehingga tidak ada yang bisa menyakiti saya.

Saya merasa dengan kemarahan itu harga diri saya tidak akan jatuh karena orang orang tidak bisa melihat kelemahan saya (dari kecil, saya dididik kalau saya terlihat tidak tegar, tidak kuat,  cengeng, membutuhkan orang lain – maka berarti saya lemah – dan hanya orang orang yang tidak punya harga diri lah yang lemah). Padahal hampir setiap kali saya selesai marah, saya merasa menyesal sudah menyakiti orang dengan kata kata saya.  Biasanya  kepada beberapa orang  saya berani meminta maaf kemudian  tapi  ya, seringkali itu menjadi tidak berguna mereka terlanjur sakit hati  dan menjauhi saya malah banyak orang yang menjadi takut mendekati saya. Takut dengan kata kata saya yang terdengar kasar.

Saya tidak tahu apakah setelah tulisan ini orang orang akan meninggalkan saya, kecewa. Atau menjauhi saya.  Atau menganggap saya adalah pengecut. Atau mencemooh kelemahan saya. Entahlah, saya serahkan semuanya kepada mereka.

Saya memilih mengambil resikonya karena yang saya tahu, ketika saya menuliskan ini, ketika mentor saya menelfon saya dan menanyakan apa yang saya rasakan, saya merasa ringan, perasaan yang sama  yang pernah saya rasakan ketika  sebulan lalu saya untuk pertama kalinya menangis di depan orang lain sewaktu menceritakan pengalaman saya, yang biasanya ketika saya menceritakan sesuatu yang emosional, saya akan tertawa atau marah.

Yang pasti rasa ringan yang saya rasa kan membuat saya lebih bisa berpikir jernih dan itu sebanding dengan resiko yang saya ambil.

Salam

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment