Haruskah dengan emosi?

Tadi gue baca di status wall Face book teman gue isinya:  “apa sih untungnya berhubungan dengan Malaisya”

Gue sendiri sih kemaren – kemaren hampir yakin 100 % kalau kita bisa kok tidak berhubungan dengan Malaisya, detik ini juga bisa kok kita memutuskan hubungan . Toh, enggak banyak juga kerjasama ekonomi yang kita jalin dengan Malaisya.

Tapi kemudian gue teringat yang namanya TKW dan TKI yang ada di Malaisya. Begitu banyak orang Indonesia yang bekerja di sana dan malah dengan bangga nya bekerja disana walaupun mereka di sana mungkin cuman menjadi ‘asisten rumah tangga’  atau kuli bangunan.

Pemerintah Indonesia sendiri, meskipun banyak kejadian – kejadian tragis yang menimpa TKI di Malaisya, tetap saja tidak berani melakukan perintah, melarang rakyat nya bekerja di Malaisya dan kemudian menarik kembali TKI yang ada di sana untuk pulang kembali ke Indonesia.

Gue kira, persoalan pemutusan hubungan bukan lah semata – mata kita lakukan tanpa melihat dari segala sudut. Bukan karena ego yang berbicara, kemudian saudara – saudara kita yang bekerja disana dan kemudian menjadi semakin tertindas nantinya dengan pemutusan hubungan ini tidak kita pikirkan nasibnya.

Jangan sampai kemudian martabat yang telah diinjak – injak ini semakin terinjak – injak dengan masalah TKI yang tidak kita selesaikan sebelumnya. Jangan sampai nantinya malah kita yang dipermalukan oleh Malaisya karena rakyat kita masih digaji oleh rakyat mereka. Dan jangan sampai kita harus menjilat ludah kita sendiri karena persoalan TKI yang tidak bisa kita selesaikan.

Jangan pernah mengambil keputusan disaat emosi, mungkin ada baiknya kita lakukan sekarang. Mundur sebentar, menyusun strategi yang lebih baik, supaya bisa menang dengan elegan, gue kira itu yang harus kita lakukan sekarang.

Menunjukkan kenasionalisan kita tidaklah harus kita lakukan dengan mencaci maki dan menyatakan pemutusan hubungan secara membabi buta tanpa juntrungan, walaupun bukan berarti kita harus diam tanpa melakukan apa – apa. Tapi akan lebih baik , kalau sekarang kita mencari jalan keluar untuk permasalahan bangsa ini dengan kepala dingin, dan sama – sama memikirkan jalan terbaik untuk mengembalikan harkat dan martabat kita sebagai bangsa Indonesia dengan cara efektif, efisien, strategis untuk mencapai kemenangan yang elegan.

Merdeka !!!!!!!

Posted in Indonesia - Malaisya | 1 Comment

Tentang cinta berbangsa

Kemaren – kemaren kembali lagi diperbincangkan tentang Malaisya, negara tetangga yang lagi – lagi mengambil budaya Indonesia dan kemudian mengakuinya sebagai bagian dari budayanya. Dan ini mungkin sudah kesekian kalinya dilakukan tanpa jemu – jemu dan tanpa rasa malu.

Sebagai suatu negara yang besar, semestinya Malaisya merasa malu ketika mencuri kebudayaan negara lain secara terbuka tanpa malu – malu, dan kemudian dengan bangganya mengakuinya sebagai bagian dari kebudayaan negaranya dan menjadikan itu sebagai ajang penarik wisatawan untuk datang ke negaranya.

Sebenarnya yang patut kita pertanyakan adalah kenapa Malaisya seberani itu? Apakah ini menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak menghargai Indonesia, sehingga merasa sah – sah saja untuk melakukan apapun termasuk terang – terangan mengakui kebudayaan kita sebagai kebudayaan mereka?

Dan ini bukan pertama sekali dilakukan oleh Malaisya. Pengambilan salah satu pulau Indonesia, juga sudah pernah dilakukan oleh Malaisya dan kemudian ketika perkara ini dimajukan ke mahkamah internasional, Malaisya menjadi pemenang atas perebutan pulau tersebut. Walaupun secara hukum Internasional sebenarnya sudah jelas itu merupakan pulau milik dari Indonesia.

Begitu juga dengan pemukulan warga Indonesia yang seenaknya karena dituduh sebagai TKW, yang tidak mempunyai identitas diri, padahal warga negara Indonesia tersebut merupakan bagian dari kedutaan Indonesia, yang mempunyai kekebalan diplomatik. Dan kekebalan diplomatik warga Indonesia ini juga tidak dihargai oleh Malaisya.

Anehnya, dengan adanya permasalahan dengan Malaisya seperti ini, gue merasa justru bisa memicu semangat nasionalis warga Indonesia, yang tadinya cenderung cuek dan tidak menghargai bangsanya.  Banyak orang – orang Indonesia yang kemudian membentuk kelompok – kelompok yang menunjukkan kesatuan nya sebagai bagian dari bangsa ini, yang dengan bangga menyatakan tidak ingin harga diri dan kekayaan bangsa direbut oleh bangsa lain.  Jiwa – jiwa nasionalis menjadi jamur yang tumbuh cepat dikala musim hujan.

Terus gue renungkan lagi kata – kata orang – orang tua dulu. Dibalik setiap permasalahan, pasti deh ada hikmah yang bisa kita ambil. Disetiap segi negatif suatu masalah, pasti ada sedikitnya satu sisi positif yang bisa dijadikan pelajaran.

Dan perlakuan negatif yang dilakukan oleh Malaisya ini, membuat jiwa – jiwa nasionalis di kalangan masyarat Indonesia tumbuh berkembang secara cepat. Cuman pertanyaannya …. haruskah kita diinjak – injak dan kehilangan dulu baru kita bisa kemudian mencintai negara ini?

Posted in Indonesia - Malaisya | Leave a comment

Miss Indonesia

So why many Indonesian people complain about Zivanna Letisha Siregar (contestant from Indonesia)  who used swim suit – 2 pieces at the Miss Universe contest?

I do not understand why year to year we still sent our representative to Miss Universe contest, but year to year we still complain about this swim suit issue. Looks like stupid, right? If we did not want our representative use something which we think will break our culture, why we did not stop to send any one to go to Miss Universe contest as our representative. As simple as it, right?

As Indonesian woman, I do not feel any kind of proud to see Indonesia representative at Miss Universe contest.  Not because I do not like woman use this kind of swim suit, or because I am jealous to see all beautiful face there. But from what I see, women who want to be Miss Indonesia (after be a winner as Miss Indonesia they will be Indonesia representative at Miss Universe contest),  almost all of them came from rich family. Not from middle, especially not from poor family. And what they did, how they act,  somehow (in my opinion) did not represent the majority of Indonesia people.

And it looks like fake.  The question in my heart,  are they really know exactly how to live in Indonesia? Because most of them (I bet) even did not know how the look of rice field. LOL

If they knew it , may be just read from the book, and saw from the pictures or magazines or from TV.

Of course I am so proud to see how they are young and already have a high self confidence. Can speak fluently English and other language, studying at the best University in Indonesia or even studying abroad. But I did not really see Indonesia through their conversation, through their habit, through their smile, through their beauty. Or am I  wrong?

I do not want to have a negative thinking about them. Not at all. But I think, why the organizer of Miss Indonesia contest did not open they ‘door’ to find a candidate from middle or poor family,  doing hard thing to studying, and really Indonesia woman. I think they could find this easily, Indonesian woman who smart, brave, beautiful (inner and outer ), hard worker and still looks like Indonesia woman. Not something fake there.  Someone who really knew about Indonesia, and really feel like Indonesia woman 🙂

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ramadhan – Haruskah tempat2x hiburan malam ditutup?

Bulan puasa sudah datang kembali di tahun ini.

Bulan yang penuh berkah dan rahmat bagi banyak orang.

Tapi apakah kemudian bulan yang didengung -dengungkan ini menjadi bulan penuh musibah buat orang – orang yang bekerja di cafe – cafe, diskotik dan tempat – tempat hiburan malam ? Apakah kemudian dengan alasan bulan yang penuh berkah ini, kegiatan – kegiatan pemaksaan penutupan tempat – tempat hiburan malam menjadi legal? Dan apakah kemudian orang – orang yang melakukan pemaksaan penutupan tempat – tempat ini berarti orang suci yang memang di perintahkan Allah swt untuk menghukum orang – orang tersebut?

Salah satu tujuan puasa adalah menahan hawa dan nafsu. Di mana, pada saat itu kita belajar untuk mengendalikan diri. Menahan makan dan minum itu cuman sebagian kecil dari tujuan puasa itu sendiri.  Menahan keinginan diri untuk tidak melakukan hal – hal yang seharusnya tidak dilakukan, untuk menahan diri dari nafsu amarah, untuk belajar ikhlas menerima cobaan – cobaan itu yang paling penting.

Sebenarnya kalaulah mau memakai logika, dengan dibuka nya tempat – tempat hiburan, sebenarnya sama sekali tidak menjadi suatu masalah bagi kita, kalau kita benar – benar menjalankan ‘puasa’, bukan menjalankan kegiatan menahan haus dan lapar.

Kalau memang niat untuk mengendalikan diri itu besar, apapun yang ada di depan kita, tidak akan menjadi gangguan buat kita untuk menjalankan ritual. Toh, kalau lah tidak bisa mengendalikan diri, ya sebaiknya kitanya sendiri yang menghindari tempat – tempat itu. Mudah banget kan?

Jadi gue cukup mempertanyakan apa sesungguhnya puasa bagi orang – orang yang merazia, yang memprotes, yang merasa terganggu dengan dibukanya tempat – tempat hiburan malam pada bulan puasa ini.  Jangan – jangan seperti kata pepatah : “buruk muka cermin dibelah” …….. “tidak sanggup menahan diri, tapi maksain orang – orang untuk tidak melakukan hal – hal yang mengoda dirinya”  Uhmmmmm…….

Selain itu ….. dengan kata – kata bulan yang penuh rahmat. Mustinya kita juga bertolerir dengan orang – orang yang bekerja pada tempat – tempat hiburan malam itu. Kalau tempat di mana merka bekerja itu ditutup, bagaimana mereka bisa makan? Bagaimana mereka punya uang untuk membeli baju lebaran bagi anak istri mereka, bagaimana mereka bisa pulang kampung, bagaimana mereka bisa mempunyai uang untuk dikirim ke kampung, untuk orang tua, adik etc.

Gue, ingat, pernah punya saudara yang kerja sebagai bartender di salah satu diskotik di Jakarta. Dan setiap bulan puasa, itu berarti bulan penuh penghematan buat dirinya dan keluarganya. Jadi harap maklum, kalau lebaran, keluarganya tidak bisa seperti keluarga lain yang mempunyai hidangan istimewa di rumahnya.  Bisa dibayangkan kalau kita menjadi bagian dari keluarganya atau kita yang menjadi dia.

 Gue kira Allah swt, itu tidak pernah membuat sesuatu yang kemudian menyusahkan umatnya. Tapi kadang – kadang, atau malah seringnya kita yang kemudian membuat sesuatu atas nama Nya, yang menyusahkan saudara – saudara kita.  

Gue kira marilah kita sama – sama kemudian berkaca, sudah benarkah puasa yang kita lakukan? Ataukah hanya simbol penahan lapar dan dahaga? Sehingga kemudian kita bisa sama – sama mendapat jawaban yang adil tentang “haruskah tempat – tempat hiburan malam ditutup”

Posted in Uncategorized | Leave a comment