Ini Pemilu dan bukan Perang Saudara

Beberapa hari lagi menjelang Pemilu Presiden RI yang akan dilakukan pada tanggal 9 Juli 2014.  Satu sisi saya merasa senang karena tidak perlu melihat banyak calon hanya 2 Capres yang akan maju. Tapi sisi yang lain yang buat saya geleng geleng kepala, sikap partisan masing masing Capres.

Setiap pagi ketika saya membuka facebook  dan twitter dan kemudian malah milist, saya merasa miris tentang status status teman teman saya yang begitu menggebu gebunya menuliskan kejelekkan dari capres yang tidak dia pilih. Saking menggebu gebunya, semua yang dilakukan oleh capres saingan capres idolanya, seakan akan tidak ada satu pun yang bagus. Padahal – mosok sih tidak ada satu pun yang baik yang pernah dilakukan oleh mereka?

Bahkan di salah satu milist yang saya ikuti – dimana orang orang yang mengikutinya adalah kaum intelektual yang seharusnya tidak lagi terjebak dalam hal hal yang seperti ini, malah saling berbalas balas an perang email dengan kata kata yang menurut saya tidak pantas diucapkan karena perbedaan pendapat, karena masing masing membela capres nya masing masing.

Haruskah ini kita lakukan?

Atau memang sekarang sudah menjadi budaya untuk menjelek jelekkan siapapun yang tidak kita sukai di depan umum, di sosial media?  Apakah itu ciri bangsa Indonesia yang mengaku kalau dirinya adalah bangsa yang santun?  Atau ciri sebagai bangsa santun yang pernah saya pelajari dulu memang sudah musnah ?

Pemilu itu bukan perang saudara. Sehingga tidaklah elok menurut saya kalau kita mendukung capres yang kita idolakan dengan cara menjatuhkan capres yang lain. Mengapa kita tidak mendukung dengan cara yang lebih santun – dengan membicarakan prestasi dari capres yang kita dukung? Bukankah dengan begitu orang orang yang belum mempunyai pilihan siapa yang dia pilih, akan terbuka pikirannya setelah melihat prestasi prestasi dari mereka yang kita dukung. Bukan malah semakin “enek” melihat berita berita negatif  yang kita tulis untuk menjatuhkan capres yang lainnya?

Ini Pemilu teman, bukan perang saudara. Dimana kita secara bersama sama memilih apa yang menurut kita baik. Dan kemudian legowo menerima hasil pemilu nantinya.  Karena apapun nanti hasilnya tidak perlu kecewa kalau nanti pilihan kita tidak menang. Jangan sampai malah kemudian nanti terjadi perang saudara karena merasa kecewa.

Ini Pemilu sahabat, bukan perang saudara, dimana orang orang yang berbeda dari kita, dan memilih yang berbeda dengan kita juga seharusnya bisa diterima dengan senang hati.  Karena setiap orang berhak untuk memilih apa yang sesuai dengan hatinya, dan sudah seharusnya kita terima dengan lapang dada dan bukan malah dijauhkan, bukan malah dicaci maki karena pilihannya. Kita kan tidak bisa memaksakan semua orang sama dengan kita. Mereka bukan kita dan kita bukan mereka. Jadi ya wajarlah berbeda.

Dan semua Capres yang berdiri disana juga merupakan bagian dari bangsa kita, yang sama seperti kita bukanlah dewa yang hidupnya sempurna, tidak punya kesalahan. Mereka semua juga bukanlah “devil’ – “iblis” yang sama sekali tidak pernah melakukan hal hal yang positif, walaupun tidak sebesar apa yang kita pikirkan seharusnya mereka lakukan.

Jadi marilah kita berkampanye secara dewasa.

Marilah kita membela capres kita dengan cara yang lebih elegan, memberitahukan visi dan misi mengapa capres itu layak kita pilih dan dengan tidak menjelek jelekkan capres lawannya.

Marilah kita menerima pilihan teman teman kita yang berbeda pilihannya dengan kita dengan legowo – tepo seliro. Karena itulah budaya kita sesungguhnya. Budaya Pancasila.

Karena ini Pemilu dan bukan awal dimulainya Perang Saudara di antara kita.
Salam  Pemilu

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | 2 Comments

Berdiri Untuk Orang Lain – (kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?)

Dalam kehidupan saya, ada satu masa, ketika ada orang orang yang berdiri untuk saya, yang melihat saya lebih “besar” jauuuuuuuhhhhh dari yang bisa saya lihat sendiri. Orang orang yang saya tidak tau apa kepentingan nya dengan masa depan saya, tapi mau berdiri untuk saya.

Sejak kurang lebih 6 bulan  lalu, saya banyak melihat orang orang seperti ini di sekitar saya, yang dengan hatinya mau berdiri untuk orang lain hanya karena satu hal yang sama – ingin melihat orang lain juga merasakan hal yang sama, ingin berbagi, ingin orang orang maju bersama. Menjadi sinar di antara kegelapan.

Saya tau, pastilah banyak yang enggak percaya masih ada orang orang idealis seperti ini, di jaman modern seperti ini, dimana nama tetangga sebelah rumah juga belum tentu kita tau.  Tapi kenyataannya, itu terjadi dan karena itu didepan mata saya sendiri, dan karena itu yang saya alami, saya rasakan – merasakan keinginan agar orang orang disekitar saya bisa meraih terbaik yang dia mampu capai, memaafkan dirinya karena terlupa untuk lebih menyayangi tubuhnya, jiwanya, hatinya, memberikan semangat kepada orang orang untuk tidak menyerah terhadap mimpi mimpinya, agar jangan takut bermimipi dan jangan pernah mengatakan tidak bisa. Mengajak anak anak yang kurang beruntung agar merasa, mereka tetap merasa teristimewa dan tetap yakin bahwa apapun yang mereka alami sekarang bukanlah harga mati yang tidak akan bisa berubah di masa depan. Bahwa mereka sama seperti anak anak lain yang boleh bermimpi setinggi tingi yang mereka mau dan pasti dapat mewujudkan nya karena Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak pernah tidur).

Berdiri untuk orang lain, memang bukan hal yang mudah, yang bisa diterima orang orang lain. Dicurigai, dianggap mencuci otak, dianggap punya niatan yang lain, dianggap menjilat, dianggap tidak tulus, dan lain lain itu jadi makanan sehari hari. Saking sulitnya, saya sempat mikir, ternyata lebih mudah menjadi orang jahat – karena enggak pernah dicurigai punya niat lain selain berbuat jahat. Hahhahhahhahhaahahaha.

Tapi rasanya kalau harus berhenti untuk memberikan “sinar” kecil yang kita miliki untuk orang orang lain yang membutuhkan nya,  hanya karena hal hal yang begitu, lama kelamaan dunia ini akan semakin gelap. Satu sinar lilin memang hampir tidak ada artinya, tapi tetap bisa membantu  agar tidak gelap, dan sinar itu akan semakin terang apabila ada 2 lilin , 3 lilin dan kemudian bayangkan apabila ada berjuta juta lilin yang bersinar, betapa terangnya dunia, dan berapa banyak orang yang sedang berada dalam kegelapan terbantu  untuk melihat arah jalannya.

Tidak perlu menjadi martir yang rela mati untuk orang lain, tidak perlu pergi berjuang ke medan pertempuran untuk berdiri untuk orang lain, tidak perlu menjadi kaya luar biasa untuk bisa membantu orang lain, tidak perlu takut kekurangan kalau memberi karena sampai saat ini belum ada yang menunjukkan kalau orang menjadi miskin karena membantu orang lain, tidak punya uang, cukup memberi tenaga, tidak punya tenaga cukup punya waktu untuk membantu cukup membuka hati dan mata melihat sekeliling kita .Cukup buka mata untuk mau meluangkan waktu beberapa menit untuk memberikan harapan kepada orang orang disekeliling kita, tidak perlu orang orang seluruh dunia. Cukup buka hati untuk mendengarkan mereka .

Yuk … mulai dari sekarang, setidaknya mulai dari asisten rumah tangga – dengan tidak memaksanya bekerja seperti buruh 24 jam sehari – 7 jam seminggu. Atau mulai mengumpulkan uang satu hari Rp 1000 – Rp 30.000 sebulan – Rp 365.000 hari. Uang ini bisa untuk membeli buku atau masuk sekolah anak anak jalanan.

Menurut saya,  dari pada kita hanya bersibuk sibuk di sosial media, menulis tuding tudingan terhadapa capres, kecaman kecaman terhadap pemerintah, memaki maki pejabat yang koruptor, atau ikut membakar masalah masalah yang sedang ‘panas”  sehingga semakin memperkeruh suasana, mengapa kita tidak mencoba untuk memulai dari kita sendiri, membuat perubahan perubahan di sekliling kita dengan berdiri untuk orang lain, untuk negara kita tercinta ini?

Karena kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi?

Untuk Indonesia yang lebih baik – mari menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan

Remember – Your Country, your people  always need  you

Salam Merah Putih.

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , | 2 Comments

Resisten atau pembelaan diri?

Salah satu training yang pernah saya ikuti adalah Leadership Training, dimana training ini meminta saya untuk menuliskan apa yang akan saya raih sampai akhir training, kira kira selama 12 minggu deh. Yang tentu dengan senang hati saya tulis termasuk salah satunya adalah yang banyak diusulkan orang orang (mungkin karena melihat saya yang masih sendiri saat ini, di usia yg sebanyak ini :-D)

Mula mula sih tentu bagi saya hal ini cukup menyenangkan, challenge yang besar, yang membantu saya bertemu dengan orang orang baru di luar teman kampus, atau teman kerja saya.

Ketika sampai dengan minggu ke 5,  saya belum berhasil menarik perhatian cowok sedunia, mulailah datang saran kepada saya, kalau saya sebaiknya mulai berdandan – menggunkan make up setiap saya keluar rumah, dan ada pertanyaan yg paling fantastis – apakah saya senang ke salon. Guuuubbbrrrraaaakkkkkk, untuk orang orang yg dekat dengan saya tentunya ini pertanyaan paling lucu, karena minimal sebulan sekali saya ke salon. Itu sudah jadwal pasti saya. Selain itu karena kulit wajah saya sensitif, maka saya terdaftar jadi salah satu member pusat perawatan kulit, saya kira itu cukup menunjukkan saya pingin kok terlihat cantik 😀

Sempat terlintas dalam hati saya, apakah karena saya tidak menarik, jadi di suruh ke salon, dan menggunkan make up biar kelihatan cantik dan disukai oleh banyak orang.  Sempat juga beberapa saat saya merasa menjadi mahluk paling jelek seluruh dunia dan kehilangan kepercayaan diri. LOL Sampai akhirnya saya sadar, itu feedback – informasi yg memang sebaiknya saya dengar, dan coba, walau untuk make up – saya akhirnya harus merelakan kulit saya yg sensitif yang enggak boleh pake apa apa, agak jerawatan sedikit demi untuk mencoba memakai make up, demi untuk memikat hati laki laki di luar sana, agar tertarik dengan saya.

Nah, kemudian tibalah hari ketika ternyata, belum juga ada satu laki laki pun yang mau menerima saya. Kepercayaan diri saya kembali jatuh di titik nol bahkan minus hahahhahahahhahahhaaa (lebay.com). Karena saya juga diajarkan untuk berani meminta support (yang memang menjadi salah satu weakness saya), maka dengan sepenuh hati, kembalilah saya meminta feedback kepada grup kecil saya.

Hasil yang saya dapat, sungguh sebenarnya membuat saya menyesal meminta support (victim story LOL), bahwa saya harus menghilangkan trauma trauma saya terhadap lelaki, dan menghilangkan belief saya tentang merela.  Jleeeeebbbbbbb
Saya tentu saja seperti biasa, kalau merasa itu tidak saya rasakan, menjelaskan kepada mereka  (yang lagi lagi adalah kesalahan  fatal ke dua yang saya lakukan ) – bahwa saya tidak merasa trauma – ini terbukti, tidak ada mantan mantan saya yang menjadi musuh saya saat ini, saya bahkan bisa ngobrol tanpa merasa marah kepada mereka – termasuk mantan teman hidup saya.

Jawaban saya itu kemudian dianggap mencerminkan tentang keresist an saya terhadap usulan mereka. Dianggap bahwa saya tidak mau mengakui apa yang terjadi karena result show all, and result never lie. Jleeeeebbbbb. Semakin lama saya membantah, semakin saya dianggap tidak mau mengakui. Semakin saya membantah, semakin semua meyakinkan bagaimana saya mengingkari apa yg terjadi (padahal, saya bermaksud, agar mereka mencoba menggali masalah saya yang lain). Dan akhirnya sampai pada keputusan saya harus mau berkencan dengan 3 orang laki laki di group besar saya, dan harus dengan orang yang saya paling resist.

Seperti yg sudah saya bayangkan, kembali saya dituduh resist, dituduh stubborn ketika saya mengatakan tidak ada satu pun pria di group besar yang saya resist, saya berteman baik dengan mereka semua, bisa bercanda dengan baik, dan kalau mereka bilang harus stretchy, saya jadi pembohomg besar kalau saya katakan apa yg mereka challenge ke saya adalah stretchy, dan itu enggak fair menurut saya.

Ya, lagi lagi saya dianggap resist, dianggap saya tidak mau melihat fakta di diri saya, kalau saya masih trauma, dan masih banyak belief yang jelek tentang cowok di hati saya. Guuuuuubbbbbraaaaaaaaakkkkkkk. Akhirnya, karena saya memang sudah malas dianggap resist dan stubborn, dan hanya alasan karena  sya sebenarnya tidak berani menerima challenge, saya pasrah menerima  3 nama yg saya usulkan, dan menjakan nya.

Dan memang  pria yang ditunjuk untuk makan malam  ber sama saya, tidak merasa
saya punya masalah, karena saya bisa ngobrol panjang, bercanda seolah olah tidak ada,masalah. Dan mereka merasa bingung, ketika saya mengatakan kriteria, mereka terpilih karena bagi saya pasti paling stretchy kalau ngobrol dengan  mereka mereka ini Karena memang saya tidak terlihat merasa kikuk atau kesel atau tidak tau berbicara apa. Saya bisa ngobrol tanpa henti hahahhahahahahahahaha

Saya memang merasa tidak punya masalah untuk berbicara dengan siapapun, dan saya tidak tahu apakah result show my actions itu juga berlaku dalam relationship? Saya tidak tau mengapa jodoh saya belum datang sampai saat ini, dan saya tidak trauma atau mempunyai belief yang jelek terhadap pria.  Tapi kalau saya ditanya apakah saya mempunyai belief yang jelek tentang orang tua dari pria yang mendekat saya, ya saya punya trauma yg besaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrr buaaannnnnnnngeeeeet.

Saya takut ditolak karena status saya dan status orang tua saya, saya takut ditolak karena tidak bisa memberikan keturunan, saya takut sekali. Ini yang membuat saya lebih nyaman untuk hanya sebatas teman jalan, atau merasa nyaman dengan pria yang tidak lebih muda dari saya atau setidaknya mempunyai anak. Itu yang saya rasakan.

Saya merasa tidak resist dan juga tidak membela diri. Tidak sama sekali. Saya hanya menjelaskan agar masalahnya jelas, sehingga saya jadi mengerti apa yang tidak efektif saya lakukan.

Walaupun uhm, tetap terdengar saya adalah korban keadaan hahahahhahahhahaha.

Tapi  kemudian saya mencoba berpikir  dari sisi  yang  lain,  mereka toh belajar dari theory, your result show  all.  Saya tidak punya  pacar bahkan  sampe 3 bulan juga tidak ada yg mendekati saya, berarti ada yang tidak efektif yang  saya lakukan.

Dan sampai trai ning ini selesai, saya tetaplah “high quality jomblo” , hahahahaha, dan saya juga belum  tau, apa yang harus saya lakukan, apa yang tidak efekt if  yang  saya telah lakukan.  Dan  saya sempat kemudian bertanya dalam hati kecil saya, jangan jangan saya memang harus  operasi plastik,  biar  cantik seperti perempuan perempuan  di luar sana. Hahaahahahahaha

Tapi apapun itu, intinya memang lebih susah untuk membedakan, yang mana yang  resist dan yang, mana yang membela diri – karena keduanya  hampir sama tapi beda maknanya.  Dan juga untuk orang orang  sekitr kita, pasti lebih sulit untuk menmprediksi apakah kita sedang membela diri atau resist. Dan bagi saya, sulit bisa dipahami, mengapa event untuk relationship juga berlaku hukum your r esult show it all, karena bukan kah ada kata  kata lahir, hidup,  jodoh dan mati itu di tangan Tuhan

PS: yup saya tau, kalau statement ini saya sampaikan, past i  akan ada teriakkan “VICTIM STORY”  hahahhhhahahaaha

2nd PS : kalau ada yg tau trick bagaiman Sophia Latjuba yg berumur 44 tahun, bisa, merebut  hati Ariel ex Peter Pan, yang berumur 30 tahun,  let me know ya – siapa tau bisa saya tiru tipa and triks nya.  LOL

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Resisten atau pembelaan diri?

Salah satu training yang pernah saya ikuti adalah Leadership Training, dimana training ini meminta saya untuk menuliskan apa yang akan saya raih sampai akhir training, kira kira selama 12 minggu deh. Yang tentu dengan senang hati saya tulis termasuk salah satunya adalah yang banyak diusulkan orang orang (mungkin karena melihat saya yang masih sendiri saat ini, di usia yg sebanyak ini :-D)

Mula mula sih tentu bagi saya hal ini cukup menyenangkan, challenge yang besar, yang membantu saya bertemu dengan orang orang baru di luar teman kampus, atau teman kerja saya.

Ketika sampai dengan minggu ke 5,  saya belum berhasil menarik perhatian cowok sedunia, mulailah datang saran kepada saya, kalau saya sebaiknya mulai berdandan – menggunkan make up setiap saya keluar rumah, dan ada pertanyaan yg paling fantastis – apakah saya senang ke salon. Guuuubbbrrrraaaakkkkkk, untuk orang orang yg dekat dengan saya tentunya ini pertanyaan paling lucu, karena minimal sebulan sekali saya ke salon. Itu sudah jadwal pasti saya. Selain itu karena kulit wajah saya sensitif, maka saya terdaftar jadi salah satu member pusat perawatan kulit, saya kira itu cukup menunjukkan saya pingin kok terlihat cantik 😀

Sempat terlintas dalam hati saya, apakah karena saya tidak menarik, jadi di suruh ke salon, dan menggunkan make up biar kelihatan cantik dan disukai oleh banyak orang.  Sempat juga beberapa saat saya merasa menjadi mahluk paling jelek seluruh dunia dan kehilangan kepercayaan diri. LOL Sampai akhirnya saya sadar, itu feedback – informasi yg memang sebaiknya saya dengar, dan coba, walau untuk make up – saya akhirnya harus merelakan kulit saya yg sensitif yang enggak boleh pake apa apa, agak jerawatan sedikit demi untuk mencoba memakai make up, demi untuk memikat hati laki laki di luar sana, agar tertarik dengan saya.

Nah, kemudian tibalah hari ketika ternyata, belum juga ada satu laki laki pun yang mau menerima saya. Kepercayaan diri saya kembali jatuh di titik nol bahkan minus hahahhahahahhahahhaaa (lebay.com). Karena saya juga diajarkan untuk berani meminta support (yang memang menjadi salah satu weakness saya), maka dengan sepenuh hati, kembalilah saya meminta feedback kepada grup kecil saya.

Hasil yang saya dapat, sungguh sebenarnya membuat saya menyesal meminta support (victim story LOL), bahwa saya harus menghilangkan trauma trauma saya terhadap lelaki, dan menghilangkan belief saya tentang merela.  Jleeeeebbbbbbb
Saya tentu saja seperti biasa, kalau merasa itu tidak saya rasakan, menjelaskan kepada mereka  (yang lagi lagi adalah kesalahan  fatal ke dua yang saya lakukan ) – bahwa saya tidak merasa trauma – ini terbukti, tidak ada mantan mantan saya yang menjadi musuh saya saat ini, saya bahkan bisa ngobrol tanpa merasa marah kepada mereka – termasuk mantan teman hidup saya.

Jawaban saya itu kemudian dianggap mencerminkan tentang keresist an saya terhadap usulan mereka. Dianggap bahwa saya tidak mau mengakui apa yang terjadi karena result show all, and result never lie. Jleeeeebbbbb. Semakin lama saya membantah, semakin saya dianggap tidak mau mengakui. Semakin saya membantah, semakin semua meyakinkan bagaimana saya mengingkari apa yg terjadi (padahal, saya bermaksud, agar mereka mencoba menggali masalah saya yang lain). Dan akhirnya sampai pada keputusan saya harus mau berkencan dengan 3 orang laki laki di group besar saya, dan harus dengan orang yang saya paling resist.

Seperti yg sudah saya bayangkan, kembali saya dituduh resist, dituduh stubborn ketika saya mengatakan tidak ada satu pun pria di group besar yang saya resist, saya berteman baik dengan mereka semua, bisa bercanda dengan baik, dan kalau mereka bilang harus stretchy, saya jadi pembohomg besar kalau saya katakan apa yg mereka challenge ke saya adalah stretchy, dan itu enggak fair menurut saya.

Ya, lagi lagi saya dianggap resist, dianggap saya tidak mau melihat fakta di diri saya, kalau saya masih trauma, dan masih banyak belief yang jelek tentang cowok di hati saya. Guuuuuubbbbbraaaaaaaaakkkkkkk. Akhirnya, karena saya memang sudah malas dianggap resist dan stubborn, dan hanya alasan karena  sya sebenarnya tidak berani menerima challenge, saya pasrah menerima  3 nama yg saya usulkan, dan menjakan nya.

Dan memang  pria yang ditunjuk untuk makan malam  ber sama saya, tidak merasa
saya punya masalah, karena saya bisa ngobrol panjang, bercanda seolah olah tidak ada,masalah. Dan mereka merasa bingung, ketika saya mengatakan kriteria, mereka terpilih karena bagi saya pasti paling stretchy kalau ngobrol dengan  mereka mereka ini Karena memang saya tidak terlihat merasa kikuk atau kesel atau tidak tau berbicara apa. Saya bisa ngobrol tanpa henti hahahhahahahahahahaha

Saya memang merasa tidak punya masalah untuk berbicara dengan siapapun, dan saya tidak tahu apakah result show my actions itu juga berlaku dalam relationship? Saya tidak tau mengapa jodoh saya belum datang sampai saat ini, dan saya tidak trauma atau mempunyai belief yang jelek terhadap pria.  Tapi kalau saya ditanya apakah saya mempunyai belief yang jelek tentang orang tua dari pria yang mendekat saya, ya saya punya trauma yg besaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrr buaaannnnnnnngeeeeet.

Saya takut ditolak karena status saya dan status orang tua saya, saya takut ditolak karena tidak bisa memberikan keturunan, saya takut sekali. Ini yang membuat saya lebih nyaman untuk hanya sebatas teman jalan, atau merasa nyaman dengan pria yang tidak lebih muda dari saya atau setidaknya mempunyai anak. Itu yang saya rasakan.

Saya merasa tidak resist dan juga tidak membela diri. Tidak sama sekali. Saya hanya menjelaskan agar masalahnya jelas, sehingga saya jadi mengerti apa yang tidak efektif saya lakukan.

Walaupun uhm, tetap terdengar saya adalah korban keadaan hahahahhahahhahaha.

Tapi  kemudian saya mencoba berpikir  dari sisi  yang  lain,  mereka toh belajar dari theory, your result show  all.  Saya tidak punya  pacar bahkan  sampe 3 bulan juga tidak ada yg mendekati saya, berarti ada yang tidak efektif yang  saya lakukan.

Dan sampai trai ning ini selesai, saya tetaplah “high quality jomblo” , hahahahaha, dan saya juga belum  tau, apa yang harus saya lakukan, apa yang tidak efekt if  yang  saya telah lakukan.  Dan  saya sempat kemudian bertanya dalam hati kecil saya, jangan jangan saya memang harus  operasi plastik,  biar  cantik seperti perempuan perempuan  di luar sana. Hahaahahahahaha

Tapi apapun itu, intinya memang lebih susah untuk membedakan, yang mana yang  resist dan yang, mana yang membela diri – karena keduanya  hampir sama tapi beda maknanya.  Dan juga untuk orang orang  sekitr kita, pasti lebih sulit untuk menmprediksi apakah kita sedang membela diri atau resist. Dan bagi saya, sulit bisa dipahami, mengapa event untuk relationship juga berlaku hukum your r esult show it all, karena bukan kah ada kata  kata lahir, hidup,  jodoh dan mati itu di tangan Tuhan

PS: yup saya tau, kalau statement ini saya sampaikan, past i  akan ada teriakkan “VICTIM STORY”  hahahhhhahahaaha

2nd PS : kalau ada yg tau trick bagaiman Sophia Latjuba yg berumur 44 tahun, bisa, merebut  hati Ariel ex Peter Pan, yang berumur 30 tahun,  let me know ya – siapa tau bisa saya tiru tipa and triks nya.  LOL

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment