Karena Gajah Di Pelupuk Mata Sering Tidak Terlihat

Judul di atas sebenarnya berasal dari salah satu bbm (blackberry messenger) yang saya terima beberapa hari lalu dari salah seorang teman saya, yang setiap pagi tidak jemu mengirimkan kata kata motivasi kepada saya dan orang orang lain. Saya merasa sedikit tersentil dengan kata kata yang terpampang di bb saya , yang intinya menyatakan jangan pernah kita seperti kata pepatah “Semut disebrang lautan tampak tapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.

Masyarakat kita (termasuk saya) memang sering banget dilanda penyakit ini  —– lebih mudah untuk melihat yang jauh dari pada yang dekat.

Sering sekali kita bersibuk sibuk ria ingin mengumpulkan sesuatu (baik tenaga, maupun materi) sebagai bentuk rasa solidaritas kita terhadap kejadian yang terjadi di luar negeri, tapi kita terlupa kalau di negara kita yang tercinta ini masih banyak juga masyarakat yang membutuhkan bantuan dan perhatian.

Atau lihat kejadian, dimana kita marah sekali ketika tenaga kerja Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri di perlakukan kasar dan tidak manusiawi. Tapi kita sering kali juga melakukan hal yang sama terhadap asisten rumah tangga kita. Memaksa mereka kerja 24 jam 7 hari seminggu, dengan upah yang bisa dikatakan amat teramat sangat dibawah upah yang wajar. Bahkan hak cuti mereka kalau bisa kita hapus. Bahkan tidak jarang saya melihat sendiri bagaimana sang asisten rumah tanggga ini harus menyuapi anak anak majikannya di rumah makan, tapi tidak diberikan kesempatan untuk menikmati masakan di rumah makan tersebut, bahkan juga tidak diberikan minuman. Uhm …  bukan kah kita juga sudah melakukan sesuatu yang tidak manusiawi?

Atau kita juga sering sekali mengutuk orang tua yang memaksa anaknya bekerja sebagai pengemis atau penyanyi jalanan. Sebenarnnya kalau kita lihat dari kacamata ekonomi tentang supply dan demand  —– kalau tidak ada orang yang memberikan uang kepada anak anak ini, tentulah  tidak akan ada orang tua yang memaksa anaknya untuk bekerja seperti itu. Tapi yang kita lakukan adalah memberikan mereka uang karena kasihan dan kemudian kita mengutuk orang tua mereka dan juga malah marah kepada pemerintah daerah yang sudah melarang pemberian uang kepada pengemis dan pengamen jalanan.  Ya … sebenarnya kitalah sumber masalah nya .

Atau contoh yang lain saya yang sering sebal dengan kasus suap. Trus dilanjutkan dengan mengutuk mereka yang diberitakan telah melakukan dan menerima suap, bahkan tidak cukup dengan itu , malah dengan semena menanya saya juga ikut mengutuk keluarga mereka. Tapi sebenarnya saya juga membiarkan praktek suap kecil kecilan terjadi – misalnya ketika mengurus KTP misalnya. Saya lebih senang apabila urusan KTP saya bisa diurus oleh orang lain (red: agen) malah rela membayar lebih untuk biaya suap ke pegawai yang mengurus agar KTP saya bisa secepatnya selesai tanpa saya harus repot mengantri atau pergi ke kelurahan.  Padahal dengan begitu saya kan sebenarnya sudah ikut melegalkan praktek suap. Tidak itu saja, ketika ada teman saya atau OB saya yang kena tilang oleh polisi, saya malah sering bertanya, kenapa musti ditilang, apa enggak bisa dibayar saja ? Doooohhhh …. jadi malu sendiri kalau mengingat kejadian itu.

Hal yang lain …. saya sering sekali mengomel apabila ada  orang orang terdekat atau teman sekantor saya yang tidak perduli pada kesehatan nya, Mengomel kalau mereka tidak kedokter kalau sedang sakit, atau memaksakan ke kantor apabila belum sembuh dari sakit. Padahal, saya sendiri, orang yang termasuk bandel banget – sampai dokter saya, untuk yang kesekian kalinya memperingati saya untuk segera operasi sinus, untuk mengangkut polip saya yang sudah meradang parah. Padahal operasi itu cuman 1 hari, tapi tetap, saya tidak berusaha menghentikan kesibukan saya sejenak, yang membuat si polip semakin berontak marah dan frekwensi saya meminum si pain killer sudah semakin sering, karena tanpa itu saya tidak bisa lagi menahan sakitnya kalau sedang kumat 😦

Atau tentang kita yang gusar ketika kuota masyarakat Indonesia yang bisa menjalankan ibadah haji tidak ditambah oleh pemerintah Saudi Arabia. Padahal sebenarnya, kalau lah banyak orang yang tidak karena keegoisan nya – atau dengan alasan merindukan rumah Allah, pergi berkali kali haji dan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk melakukan hal yang sama, tentu kuota haji Indonesia akan cukup bagi masyarakat kita. Tapi ya …. memang lebih mudah melihat masalah orang lain ketimbang masalah yang timbul karena keegoisan kita. Miris.

Dan masih banyak kasus yang lain tentang hal hal seperti ini.  Saya sih berharap next time, ketika kita atau setidaknya saya dulu deh, ketika protes terhadap sesuatu, sebelum itu terucap, saya semestinya harus bisa melihat kembali, apakah saya termasuk penyebab masalah itu, atau apakah saya juga pernah melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu apakah bisa berhasil saya lakukan secara konsisten, atau kalau suatu saat anda bertemu dengan saya, dan saya protes terhadap sesuatu – anda boleh menegur saya, kalau itu terlihat seperti pepatah “gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.  Agar saya bisa menyelaraskan omongan dan perbuatan saya, soalnya, uhmmmm…… malu juga ah sama umur, kalau tetap tidak perduli dengan hal hal seperti ini 😀

Salam

 

Posted in agama, bbm, kasus, masyarakat | Tagged , , , , | Leave a comment

Konflik di Mesir, perpecahan diantara kita – (dan Suriah serta Rohingya yang terlupakan)

Kasus yang sedang terjadi di Mesir, pertama sekali benar benar menarik perhatian saya itu kira kira 2 atau 3 minggu lalu, ketika di salah satu milist yg saya ikutin terjadi keributan antara yang pro Mursi dan yg tidak. Pada awalnya saya hanya berpikir itu hanya keributan biasa karena berbeda pendapat, tapi kemudian menjadi menarik perhatian saya karena bahkan sampai kepada mengajak untuk melakukan pemboikotan terhadap orang orang yang tidak pro Mursi.

Maka  mulailah saya mencari berita apa yang sebenarnya terjadi,  mencoba melihat dari ke dua belah pihak, berusaha mengerti , sehingga bisa setidaknya saya tahu saya harus pro kepada siapa, apalagi ditambah setiap hari saya membaca status status teman teman saya di Facebook ttg kekejaman pemerintah Mesir ( termasuk menyertakan foto foto korban pembunuhan sadis yang menurut saya tidak sepantasnya di tampilkan apapun alasan nya, apalagi sumber dari foto itu juga belum pasti apakah itu memang pembunuhan yang terjadi di Mesir, atau jangan jangan seperti kejadian di Lampung yg ternyata fotonya itu bukan lah foto di tempat kejadian), dan sayang nya saya tetap gagal untuk mengerti mengapa teman teman saya yang pendidikan nya luar biasa tinggi itu bisa terpecah belah karena kasus di Mesir, mengutuk kelompok yg pro lebih banyak membunuh atau yg kontra lebih banyak membunuh – dan bukan mengutuk kasus pembunuhan nya. Uhm …  saya benar benar gagal paham.

Saya menentang setiap pembunuhan sadis yang dilakukan di manapun di dunia ini, oleh siapapun dan dengan alasan apapun. Saya setuju agar kita mendorong pemerintah Indonesia aktif mengajak masyarakat Internasional untuk menghentikan tindakan tersebut.  Saya setuju agar kita berdoa untuk mereka mereka yang sedang mengalami kekerasan.  Tapi saya juga merasa miris ketika kita hanya perduli pada satu kejadian karena sedang booming.  Saya merasa miris ketika kita hanya perduli ketika yang tertindas satu agama atau satu pendapat dengan kita. Saya merasa miris ketika kita berkoar koar untuk menyalahkan dan menuduh  serta menjadi terpecah satu sama lain dan bukan pada tujuan utama menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat sipil !!!!!!!

Konflik yang terjadi di Mesir yang membawa korban jiwa yang sangat banyak bukan lah satu satu nya di dunia – Masih ada Suriah  yang sudah dua tahun ini dilanda konflik yang tidak ada habisnya  – berapa banyak jiwa yang sudah menjadi korban, berapa banyak perempuan yang mengalami perkosaan, berapa banyak penduduk yang harus mengungsi.  Atau penduduk Rohingya di Burma yang nota bene dekat dengan  Indonesia, mereka juga saat ini mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah karena bahkan mereka tidak diperbolehkan tinggal di negara tersebut karena dianggap bukan lah bagian dari masyarakat Burma.

Kalau lah kita benar benar perduli, mengapa kita juga melupakan mereka mereka ini?  Sebenarnya bentuk keperdulian apa yang kita punyai? Apakah keperdulian yang mengikut trend? Apakah keperdulian hanya kepada yang sealiran dengan kita? Apakah keperdulian yang ikut ikutan?

Karena itu kalau kita benar benar perduli seperti status status di Facebook atau twitter  itu, marilah kita jmendesak pemerintah Indonesia yang tergabung di negara ASEAN – mengajak negara negara ASEAN untuk  mendesak pemerintah Burma  menghentikan kekerasan terhadap penduduk Rohingya. Mari kita mendesak agar pemerintah Indonesia – negara yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia untuk mendesak pemerintah di negara negara yang tergabung dalam UEA – agar membantu penyelesaian masalah di Suriah dan Mesir. Mari kita mendesak pemerintah Indonesia yang tergabung di PBB untuk mendesak PBB mengambil tindakan terhadap kejadian kejadian di negara negara ini dan di negara yang lain nya, yang saat ini sedang mengalami konflik. Karena apabila terjadi konflik di suatu negara, yang selalu menjadi korban  pasti adalah masyarakat sipil terutama perempuan dan anak anak.

Mari kita berdamai dengan teman teman kita yang tidak satu pandangan dengan kita  tentang apa yang terjadi di negara negara ini, dan bersama sama berpikir untuk mencari jalan untuk menghentikan segala tindak kekerasan secepatnya atau setidaknya bersama sama mendoakan agar secepatnya tercipta jalan keluar sehingga konflik yang terjadi dapat terselesaikan tanpa harus memakan lebih banyak korban. Aamiin

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Mari Menyebarkan Cinta

Berita tentang pemboman salah satu Vihara, di bulan yang indah ini tentu membuat saya merenung dan berharap itu bukan dilakukan oleh orang orang yang mempergunakan agama sebagai pembenaran atas apa yang dilakukan nya. Menurut saya,  orang orang seperti ini adalah orang orang yang sedang menderita ‘sakit’ kekurangan vitamin yang paling penting di dalam hati dan kehidupan manusia, vitamin C – vitamin Cinta.

Cinta memang sering kali hanya diasumsikan sebagai perasaan yang tumbuh dari seorang perempuan /laki kepada lawan jenis nya (atau juga sejenis buat kaum LGBT).  Padahal cinta itu banyak jenis nya. Cinta kepada orang tua, saudara, teman, tetangga, guru, murid dll. Karena dengan cinta bisa membuat guru dengan sabarnya mengajarkan muridnya, membuat orang tua mau memafkan anaknya, teman mau menolong teman nya, tetangga mau perduli dengan tetangganya yang sakit.

Sedihnya, menurut saya, semakin lama semakin banyak orang orang Indonesia yang kehilangan rasa cinta ini. Sehingga tidak heran banyak kejadian yang tergolong sadis yang dilakukan oleh orang orang Indonesia. Misalnya geng motor yang gila gilaan tanpa hati membunuh maupun dengan sadis melakukan kekerasan kepada orang lain,  pemerkosaan yang semakin banyak dilakukan kepada anak anak batita,  pelecehan kepada orang yang diperkosa,  tindakan perbudakkan dan masih banyak lagi yang lain, yang semakin lama semakin terasa tidak berprikemanusian.

Menurut saya orang orang yang melakukan hal hal tersebut di atas adalah orang orang yang sedang ‘sakit’  yang sedang kehilangan atau belum pernah merasakan cinta sehingga belum bisa  menumbuhkan rasa cinta di hatinya. Karena dengan adanya cinta kepada sesama, maka kecil keinginan untuk menyakiti orang lain, terutama menyakiti dengan cara yang sungguh sungguh sadis. Dengan adanya cinta, maka akan mudah bagi kita untuk menerima orang lain yang berbeda dengan kita, lebih mudah bagi kita untuk memberikan maaf.

Orang orang tersebut mungkin juga tidak  pernah menerima cinta sehingga tidak tau bagaimana menumbuhkan rasa cinta kepada sesama nya di hati mereka masing masing. Mereka ini juga mungkin tumbuh di lingkungan yang keras, yang terbiasa untuk salah mengartikan kekerasan sebagai salah satu bentuk cinta. Saya tidak tau bagaimana menyembuhkan mereka atau apakah dengan memberikan rasa cinta kepada mereka ini akan bisa membantu mereka menumbuhkan rasa cinta di hati mereka, mungkin harus ada terapi khusus untuk itu.

Saya sendiri  termasuk orang yang paling sulit untuk menyatakan rasa cinta saya kepada keluarga, teman bahkan kepada orang teristimewa yang ada di hati saya, dan saya rindukan siang dan malam (#eeeaaaaaaaa) . Lebih mudah bagi saya menuliskan rasa saya dari pada mengungkapkannya.  Malah ketika saya menunjukkan perhatian saya, yang sering keluar adalah kata kata yang menurut banyak orang tergolong sadis dan menyakiti hati. Padahal tidak ada keinginan saya untuk menyakiti.  Orang orang yg sudah lama mengenal saya, mungkin sudah tahu (walaupun ketika mereka sedang bad mood, mereka juga sulit menerima), dan bisa mengerti, itulah gaya saya menunjukkan sayang saya – karena saya tidak akan berkomentar apabila saya tidak perduli atau tidak mencintai.  Mungkin saya termasuk orang yang salah mengartikan kekerasan sebagai salah satu bentuk cinta.  Uhm ….

Karena itu saya juga sedang belajar banyak untuk mengungkapkan rasa cinta saya dengan cara yang lebih lembut, agar tidak banyak orang orang yang saya cintai yang sakit hati dan membenci saya. Saya tidak mau banyak kehilangan cinta karena saya tidak berusaha untuk mengobati ketidak mampuan saya mengungkapkan cinta saya. Dan  saya juga tidak mau menjadi orang yang mengajarkan orang lain untuk mengartikan kekerasan sebagai bentuk cinta.

Dengan akan datangnya hari kemenangan,  hari dimana seperti kata salah satu iklan “dimulai dengan nol”, kita saling bermaaf maafan dna  juga saling berbagi kepada sesama melalui zakat,  mengapa kita tidak juga berbagi cinta kepada  orang orang yang terdekat dengan kita, disekeliling kita. Sehingga mereka bisa merasakan cinta dan merasakan bagaimana damainya apabila dicintai oleh orang lain, dan apabila cinta itu belum tumbuh, mereka akan belajar menumbuhkan benih cinta yang kita sebarkan kepada mereka.  Mungkin dengan begitu kita bisa mencegah semakin banyak nya  kekejaman terhadap orang lain yang disebabkan oleh orang orang yang ‘sakit’ karena belum bisa menumbuhkan cinta atau karena kehilangan rasa cinta di hati mereka.

Abstrak? Susah dimengerti ? Semoga tidak.

Mohon maaf lahir dan bathin.

With love.

 

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Karena mereka jauh lebih tau apa makna sabar

Seminggu atau hampir dua minggu ini saya tiba tiba teringat kepada salah seorang teman sekelas saya, yang harus menjalani hukuman nya selama 10 (sepuluh) tahun, hukuman yang harus dijalani karena kadang kadang pengadilan harus menegakkan hukuman dan bukan menegakkan keadilan.  Awalnya sih karena saya sedang duduk di sebelau ibu saya yang tiba tiba merubah saluran acara tv dari berita ke infotaiment.

Di infotaiment tersebut ada seorang artis Indonesia yang berbicara tentang pengalamannya menjalani masa tahanan selama tiga bulan akibat perkelahian nya dengan artis lain. Artis ini menceritakan bagaimana tidak enaknya terpisah dari dunia luar, bagaimana dia menyesuaikan diri dengan tahanan lain. Kemudian setelah itu berita beralih ke artis lain yang sedang merasakan sedih karena terpisah dari anak anak nya karena perceraian nya dengan suaminya.

Kemudian mulailah saya teringat dengan teman saya (yang sampai saat saya menulis ini belum juga sempat saya kunjungi 😦  )  Yang saya pikirkan bagaimana rasanya ketika beliau keluar 10 tahun lagi (seandainya tidak ada remisi yang diberikan kepadanya) ? Saya mulai membayangkan bagaimana seandainya saya diposisi teman saya atau istrinya. Bagaimana harus menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarga kembali? Bagaimana keluargan menyesuaikan diri kepada mereka? Bagaimana menyesuaikan dengan dunia luar?

Yang mungkin akan terasa adalah perkembangan anak, walaupun mungkin setiap minggu bisa bertemu dengan anak  tapi tetap saja pasti banyak perkembangan anak yang tidak bisa langsung diikuti, apalagi dengan usia anak yang kalau saya tidak salah masih berusia 3 atau 4 tahun, maka ketika keluar sang anak sudah menjadi remaja. Banyak moment penting anak yang tidak bisa langsung disaksikan dirayakan misalnya kali pertama sang anak sekolah,masuk SD, lulus SD kemudian masuk SMP …..

Kemudian bagaimana rasanya juga setiap kali menerima kunjungan istri tercinta (yang saya yakin sekali adalah perempuan amat teramat sangat kuat dan tegar) . Satu sisi tentu bahagiaan, tapi sisi lain?  Apalagi teman saya dalam kehidupan normalnya adalah suami yang sangat bertanggung jawab dan sangat menyayangi istrinya – tentulah menjadi beban tersendiri di hati beliau harus dihadapkan pada kenyataan, kalau sang istri harus bertambah bebannya berkali kali lipat. Dan yang menyakitkan karena beliau tidak bisa melakukan apapun, tidak berdaya sebagai kepala rumah tangga, sebagai suami, sebagai ayah.

Belum lagi, perasaan minder karena ditinggal oleh teman teman, minder dengan status “terpidana”. Dan juga perasaan tidak punya harga diri karena hukuman  tersebut (FYI: beliau diputuskan tujuh tahun oleh pengadilan tipikor dan kemudian ketika banding, hukuma nya naik menjadi sepuluh tahun).  Ah … sungguh membayangkan seperti itu saja membuat saya panik. Saya  tidak tau apakah saya akan sekuat mereka, apakah saya tidak akan menjadi gila kemudian.

Mungkin kalaulah memang benar  bersalah, akan lebih mudah bagi teman saya dan keluarganya untuk menerima dan menjalani hukuman yang dijatuhkan pengadilan.  Dan bagi keluarganya, mungkin akan lebih mudah menerima dengan lapang hati kenyataan ini.

Tapi teman saya adalah satu dari beratus atau beribu (???) orang orang yang diharuskan menjalankan hukuman yang luar biasa lamanya karena diputuskan oleh “pengadilan” dan bukan diputuskan oleh “keadilan”.

Dari salah satu akun Facebook tentang aksi solidaritas yang dilakukan untuk membela orang orang yang menghadapi masalah seperti teman saya,  saya membaca kata kata ini :

“Orang yg menyakiti sesungguhnya sedang menderita. Marah kepada yang menyakiti hanya akan memperpanjang penderitaannya. Bila mereka yang menyakiti dianggap “orang menderita”, bukan “orang jahat”, maka energi yang muncul bukannya marah. Melainkan kesediaan untuk menyayangi. Itulah yang dilakukan, mereka tetap tersenyum bahkan ketika disakiti. Kami bahkan tak pernah lagi berani berpesan “sabar..” kepada mereka. Karena mereka jauh lebih tahu apa makna sabar.”

Kata kata itu benar benar melukiskan perasaan saya saat ini – terutama ketika saya mengingat bagaimana istri teman saya tersenyum tegar ketika vonis diputuskan, begitu juga dengan teman saya yang saya temui setelah keputusan. Saya memang tidak bisa berpesan “sabar” kepada mereka berdua. Karena memang mereka berdua jauh lebih tahu apa makna sabar dibanding saya dan masalah kecil saya – yang tidak sebanding dengan dampak dari ketidak adilan yang harus menimpa mereka sekarang sampai dengan maksimal sepuluh tahun nanti.

Dan besok, adalah tanggal 1 Ramadhan, dimana pada bulan ini selama satu bulan penuh,  umat Islam diwajibkan untuk menjalankan puasa, menahan hawa nafsu, berlatih untuk sabar, ikhlas dan mendekatkan diri pada Allah, apakah akan mendapat anugrah untuk sedikitnya mengetahui makna sabar, apakah bisa mendapatkan anugrah untuk tetap tersenyum ketika disakiti orang lain, apakah bisa mendapatkan anugrah agar bisa tetap ikhlas menjalani hidup ketika berjuta masalah menimpa, apakah bisa menjaga diri untuk tidak menyakiti orang lain, dan apakah ketika hari kemenangan, akan bisa benar benar keluar sebagai pemenang? Entahlah …. hanya waktu yang bisa menjawab. (Ah, saya memang  harus banyak belajar dari teman saya dan istrinya)

 

Salam

PS : Karena bulan Ramadhan sering disebut bulan paling mulia dibanding 1000 bulan,  mohon doa bagi teman saya dan keluarganya agar diberikan banyak kesabaran, kesehatan, kekuatan dan kelapangan hati, dan beban hidup yang mereka pikul sekarang, bisa sedikit diringankan. Aamiin

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 4 Comments