Pernah merasa betapa bahagianya ketika “your dream come true” , – ketika yang sudah lama banget dimimpi mimpikan menjadi kenyataan? Saya kebetulan orang yang beruntung banget, yang kira kira sebulan lalu atau lebih? Salah satu dream saya, yang sudah sangat lama saya impikan, menjadi kenyataan- lengkap seperti yang ada di mimpi saya, malah lebih bagus deh. (Red : bermimpi itu bagi saya adalah salah satu waktu terindah yang diberikan oleh Allah kepada umatnya, untuk merasakan apa yg sulit atau bahkan tidak mungkin diperoleh, bertemu sesuatu yang mungkin tidak bisa kita temukan atau yang sangat kita rindukan.) Saking bahagianya, saya tidak bisa menghentikan senyum saya sendiri, saking bahagianya, saya tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang maha Kuasa, soalnya sepertinya ucapan terimakasih saja tidak cukup. Dan saking bahagianya saya juga tidak berani untuk meminta lebih. Mungkin bagi orang orang lain, andai saya ceritakan apa mimpi saya itu, akan mentertawakan saya, atau bahkan mencaci maki saya sebagai orang yang tidak tau diri. Entahlah. Saya tidak pernah bertanya kepada mereka, apa pendapat mereka tentang mimpi saya. Biarlah mimpi saya hanya untuk saya. Karena itulah salah satu yang membuat saya hidup. Bagi saya, mimpi adalah salah satu penyemangat saya untuk bangun di pagi hari, karena saya tau ada sesuatu yang harus saya kejar, ada sesuatu yang ingin saya capai. Dan proses mencapaian itu mungkin butuh waktu lama, mungkin hanya satu dua menit atau mungkin tidak akan pernah tercapai. Biarlah hasil akhir saya serahkan di tangan Allah. Kalau menurut Nya itu yang terbaik bagi saya, pasti akan dikabulkan. Tapi kalau tidak, ya berarti saya harus dengan iklas mengganti mimpi saya (walaupun untuk mengikhlaskan nya tidak jarang saya perlu waktu sendiri untuk berdamai dengan hati saya hahahhahaa ). Setidaknya saya telah mencoba meraih mimpi saya, setidaknya saya telah memberikan kemampuan terbaik yang saya punya untuk meraih impian saya. Saya masih punya banyak mimpi yang ingin saya raih, yangmasih harus saya pikirkan bagaimana meraihnya, yang masih harus saya mimpikan di tidur saya, agar saya merasa bahagia bangun di pagi hari, karena bisa merasakan apa yang saya impikan itu saya miliki – walau hanya di dalam tidur 😀 Yup …. may be I am silly girl, but it’s ok. At least I am happy hahhahhaa Saya juga tau banyak orang yang masih akan mentertawakan saya kalau saya menceritakan salah satu mimpi saya. Saya juga tau pasti lebih banyak orang yang tidak percaya saya akan mampu meraih impian saya – yang bersiap menyambut kegagalan saya dengan senyum yang lebar, walau saya juga tau pasti ada beberapa orang yang akan menjadi orang yang selalu mensupport saya meraih mimpi saya. Dan yang pasti saya juga tau mungkin tidak semua mimpi saya akan bisa saya dapatkan karena mungkin memang tidak bagus sebenarnya untuk kehidupan saya, tapi biarlah itu dijawab oleh waktu, biarlah itu menjadi misteri hidup saya. Saya tidak akan menyerah sebelum saya berusaha semampu saya. I know I am strong enough Malam ini saya tetap akan tidur dengan bunga tidur yang berisi impian saya tentang segala hal yang membuat saya merasa bahagia walau hanya sesaat. Besok pagi saya akan bersemangat menyambut pagi saya memulai hari untuk melakukan segala hal yang bisa membuat impian saya tercapai. Yang pasti saya tidak akan membiarkan satu orang pun menghentikan impian saya, apapun alasan nya(PS tentu saja kecuali saya sendiri yang menginginkan untuk menghentikan impian saya ).
Mimpi dan Impian
Demo Mahasiswa – (antara keperdulian dan gaya hidup)
Saya termasuk orang yang selama menjadi mahasiswa, tidak pernah ikut demo (termasuk demo kecantikkan :)), apalagi karena sekolah saya adalah sekolah kedinasan, takut kena sangsi DO (yup, saya akui, saya egois dan pengecut 😦 ). Kemudian ketika kuliah lagi yang non kedinasan, saya juga tidak pernah ikut demo, mungkin karena saya sudah cukup cape membagi waktu saya antara kerja dan kuliah. Dan memang saya bukan juga orang yang memilih demo sebagai solusi, walaupun saya tidak menafikan kalau demo mahasiswa tahun 1998 berhasil merubah wajah bangsa ini.
Tapi belakang ini saya merasa benar – benar terganggu dengan demo yang dilakukan oleh mahasiswa. Terutama karena demo itu seringnya berubah menjadi demo yang anarkis dan merusak barang – barang yang ada di sekitar, yang kebanyakkan barang – barang tersebut adalah milik publik, yang dibeli dengan uang rakyat (yang ‘katanya’ mereka perjuangkan) dan untuk kepentingan publik.
Sebagai mahasiswa, generasi penerus bangsa, yang semestinya mempunyai cara berpikir yang lebih cerdas dibanding mereka yang tidak bisa mengecap bangku kuliah atau bahkan tidak pernah mengecap bangku sekolah, seharusnya mengerti bahwa demo dengan tindakan anarkis seperti itu tidak membuat apa yang mereka perjuangkan akan tercapai, tidak juga akan membuat mereka terlihat seperti pahlawan. Tahukah mereka dengan rusaknya barang barang milik publik itu berarti akan ada uang tambahan yang harus keluar dari negara, untuk memperbaiki barang – barang tersebut. Dan parahnya barang barang yang mereka rusak itu perlu biaya yang besar untuk perbaikkannya. Padahal uang tersebut bisa dipergunakkan untuk kepentingan yang lain seperti memperbaiki alat transportasi, mensubsidi obat – obatan dll.
Semakin parah karena beberapa demo juga diikuti dengan melakukan kekerasan terhadap orang – orang yang dianggap mempunyai jabatan di tempat mereka berdemo, walaupun orang – orang tersebut tidak melakukan penyerangan apapun terhadap mereka. Jadi mengapa harus melakukan kekerasan? Apakah dengan melakukan kekerasan ini, mereka mencapai tujuan mereka? Apakah demo dengan anarkis dan kekerasan akan menghasilkan apa yang mereka inginkan? Apakah itu bukan nya malah akan membuat masa depan mereka suram karena melakukan kekerasan terhadap orang lain itu termasuk tindakan pidana. Karena masuk penjara karena memperjuangkan nasib rakyat itu berbeda dengan masuk penjara karena melakukan kekerasan. Sungguh saya gagal paham terhadap tindakan anarkis dan kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa sewaktu berdemo, kalau sudah begini apa bedanya mahasiswa dengan preman – preman jalanan?
Saya juga kemudian merasa prihatin karena, banyak mahasiswa yang sibuk beramai – ramai demo untuk isu yang sedang marak, yang sedang trend. Misalnya soal pencabutan subsidi – kenaikkan bbm. Padahal kalaulah mereka benar – benar perduli, kenapa mereka tidak berdemo juga tentang bbm yang harganya di pelosok – pelosok desa terpencil di Indonesia bisa hampir dua kali lipat – ini sudah jelas yang terkena dampaknya adalah masyarakat miskin. Atau kenapa mereka tidak berdemo tentang biaya sekolah terutama biaya kuliah yang luar biasa mahalnya sehingga banyak anak – anak dari keluarga kurang mampu tidak bisa bersekolah. Atau kenapa tidak berdemo memperjuangkan adik kelas nya di salah satu SMA yang diperkosa oleh kepala sekolah nya? Atau soal TKW yang diperlakukan sewenang wenang di bandara, atau demo di rumah sakit yang menolak untuk melayani orang miskin? Apakah karena masalah masalah ini bukan lah isu yang sedang trend di masyarakat?
Apa yang sedang mereka perjuangkan sebenarnya? Apa kah mereka mengerti apa yang mereka perjuangkan? Apakah mereka tau apa yang diinginkan masyarakat sebenarnya, atau mereka hanya memperjuangkan “apa yang menurut mereka, masyarakat mau” ? Mereka sibuk berdemo menentang kebijakkan pemerintah yang menurut mereka menambah penderitaan rakyat – tapi ketika ditanya apa alasan mereka mempunyai pendapat seperti itu – mereka tidak bisa menjelaskan argumen nya secara logis, atau hanya memakai argumen argumen “katanya – katanya” dan bukan argumen dari hasil penelitian mereka terlebih dahulu. Kalau benar mereka perduli, mereka tidak akan berdemo hanya untuk tema yang sedang trend, kalau benar mereka perduli, mereka tidak akan berdemo dengan cara anarkis maupun tindak kekerasan. Kalau benar mereka perduli, cinta tanah air, cinta bangsa, cinta negara – mereka seharusnya juga mau terlebih dulu “mendengarkan’ apa yang rakyat mau (pergi lah ke pelosok pelosok kampung itu, lihat apa yang mereka butuhkan di sana, dan ketidak adilan apa yang mereka terima, kemudian perjuangkanlah, jangan hanya ikut trend, tapi ciptakanlah trend).
Karena itu menurut saya, kebanyakkan demo mahasiswa belakangan ini cuman sekedar gaya hidup saja, bukan soal keperdulian mereka yang luar biasa pada bangsa ini. Kalau bahasa keren nya … ya sekedar pencitraan saja. Atau seperti slogan “Apa kata dunia, kalau mahasiswa tanpa demo”.
Situgunung Story – (yup I am the lucky one )
Meskipun gue sudah bercerita soal keenggan gue menghadiri Family Gathering, tapi kali ini dengan sepenuh hati, gue berusaha untuk menghilangkan keengganan gue. Alasan nya? Mood gue untuk memfoto orang orang sedang tinggi tinggi nya. Trus kenapa musti jauh jauh ke Situ Gunung ? Entahlah … yang pasti gue lagi pingin memfoto (red: pertanyaan serius – bahasa Indonesia benarnya apa sih? memfoto ato memoto?) orang – orang di Situ Gunung (bukan memfoto Situgunung nya loh), plus memang lagi pingin sejenak keluar dari Jakarta, dari rutinitas gue, lagi pingin tidur di tenda dengan sleeping bag 😀
Dan pergilah gue ke Situ Gunung, ya seperti biasa as singgle fighter, gue pergi sendirian dong 🙂 Dan sebagai orang yang belum mempunyai kendaraan sendiri, dan mempunyai sim A yang sudah 1 tahun lebih expire dan belum diperpanjang juga, tentulah pilihan gue tiada lain adalah transportasi umum. Maka, jadilah gue 1 minggu sebelum perjalanan mulai rajin mencari cari di oom google tentang transportasi rumah gue – Situgunung, karena gue belum pernah ke Situgunung sendirian dan taksi yang menjadi sahabat setia, sepertinya juga tidak mungkin mau berjalan sejauh itu.
So …. hari H – mulailah gue ber packing ria – dengan mata yang ngantuk banget karena baru tidur jam 3 pagi dan harus bangun 2 jam kemudian, karena niat berangkat pagi agar tidak terlalu siang sampai di Situgunung, dengan masalah packing mulai dari tenda yangterlalu berat untuk gue bawa – bawa (padahal, gue sudah memimpikan akan tidur di tenda gue yang warnanya keyreeen banget itu). sampai dengan soal baju apa yang musti gue bawa … ehm … yang ini sepertinya gue agak terlalu lebay.
Akhirnya baru jam 6 an deh gue ke stasiun – ngejar kereta yang ke bogor – setelah berlari lari karena kereta hampir berangkat (sempat takjub dengan biaya yang hanya Rp 2.000), berangkat lah gue ke bogor. Untung nya sepi, jadi gue bisa nyaman duduk di ka, menikmati orang orang di sekeliling gue yang sibuk dengan kegiatan nya masing masing, serta pedagang, pengamen dan pengemis yang sibuk mencari rejeki.
Jam 7 an pagi, sampailah gue di Bogor, yang cerah ceria, dan sebagai orang yang belum sah bangun tanpa minum kopi – tentulah yang pertama gue cari adalah tempat duduk yang enak dimana gue bisa menikmati “cup of coffee gue” dan sarapan yang bisa menambah ceria pagi gue 😀 (yup ini juga lebay :))
Jam 8 an, gue mencari angkot tujuan Baranang siang – dan berhenti di depan terminal – mencari mobil elf tujuan sukabumi (seperti saran om google) dan dengan terkagum kagum gue, menemukan mobil elf yang isinya ehm …5 orang dibelakang, 4 orang di tengah, 4 orang di belakang supir dan 4 orang di depan …. wuiiiiiiiih rame bow. Tapi dengan bayaran yang cuman Rp 15000 – mosok sih gue complain. Pasrah deh gue menerima nya, anggap saja menikmati backpacking gue yang pertama di Indonesia.
Jam 9 an kurang mulai deh si elf berangkat, dengan supir yang lumayan deh wajahnya, ramah plus keahlian mengebut yang luar biasa, selip sana – selip sini, dan thanks God juga dengan tetangga perjalanan gue yang ramah banget. Perjalanan gue jadi tidak membosankan deh karena si ibu di samping gue sibuk bercerita tentang apa saja selama perjalanan, padahal di mobil panas banget karena tidak ada ac dan tidak nyaman karena si supir yang hobi ngebut dan berzig zag ria, ditengah ke macetan. But as wise people say, kalau kita enjoy with something … pasti semuanya bisa dilewatin dengan hati lapang 😀
Jam 11.30 an sampailah gue di Cisaat – dan lagi -lagi seperti saran om google, gue harus mencari angkot berwarna merah, yang enggak keliatan dimana adanya, dan lagi lagi keberuntungan gue datang karena gue ketemu bapak – bapak dari DLLAJR baik banget, mereka malah minta tolong satu angkot untuk nganterin gue mencari sang angkot merah 😀 Thanks a lot ya pak
Tapi keberuntungan gue ternyata tidak sampai disitu saja, karena pak supir angkot warna merah …. yang minta gue panggil dia dengan panggilan “Abah” ini juga luar biasa baik, sopan dan ramahnya, nah si Abah ini cerita kalau dulunya dia kerja di Mercy sebagai supir sampai jelang pensiun. Abah care banget sama gue, nanyain apa gue yakin kalau teman gue udah nyampe atau belum, nyuruh gue menikmatin hidup, dekat ke Tuhan, Trus bilang jangan khawatir kalau besok harus pulang sendiri, supir supir angkot di situ kenal beliau kok 😀 Dan yang bikin touchy, di akhir perjalanan, sewaktu gue bayar ongkos, si Abah malah doain gue, biar rejeki gue bertambah dan tentu cepat dapat jodoh …. ah Abah … tau ajah (padahal swear deh gue enggak cerita soal nyari jodoh)
Dari gerbang Situ Gunung, ke tempat perkemahan Family Gathering nya organisasi gue, ternyata jaaaaaauuuuh banget, dan harus dilewatin naik turun seperti naik gunung , doooh ini seperti nya memaksa gue untuk rajin – rajin olahraga kembali. Kata penjaga gerbang nya – kalau dari pintu gerbang satu lagi, yang biasanya parkir mobil, jalan nya mah cenderung enak karena sudah ada tangga nya. Doooohhhhhh, kenapa om Google enggak bilangin siiiihhhh 😀
Tapi ya itu, karena mungkin gue juga lagi senang, jalan kaki versi naik gunung pendek, bisa gue lampauin tanpa kesulitan, dan menjadi super bahagia sewaktu gue lihat tenda tenda yang bergelimpangan ….. cihuy …. I got it.
Hujan yang kemudian datang sederas derasnya sampai sore, tenda yang bocor dimana mana sehingga buat gue tidak bisa istirahat sejenak ditambah kedinginan karena kehujanan, plus gue agak bingung harus berbicara apa karena sampai sore yang ada di sekeliling gue hanya anak anak muda, yang era sama pembicaraan nya sulit juga gue mengerti – (karena yang seangkatan atau yang lebih senior dengan gue, masih di jalan, atau sudah ada di Situgunung tapi sedang sibuk dengan acara keluarga masing masing), juga sepertinya tidak membuat gue kecewa. Gue benar benar bisa menikmatin bermain bersama kamera, ( memfoto orang – orang yang ceria dan anak anak yang sibuk dengan ulah nya masing masing ) .
Dan setelah maghrib – menjelang jam 2 pagi , baru deh acara ngobrol ngobrol as adult – diskusi serius tapi santai, menjadi akhir hari gue di Situgunung. Dan karena gue sudah melihat dan mendengar bagaimana macetnya Jakarta- Situgunung or Situgunung – Jakarta (bahkan ada yang bilang perlu 8 jam) …. maka ketika ada senior gue yang mau pulang jam 4 pagi, gue terima dengan suka cita. Walaupun dengan keadaan mengantuk karena cuman tidur 2 jam buat gue benar benar kehabisan nafas ketika harus mendaki ke tempat dimana mobil senior gue itu parkir (padahal enggak tinggi tinggi amat)….. duuuuuuhhhhhh memang umur enggak nipu ya? LOL
Jadi lesson learn nya…… kalau hati ceria, ternyata aura kita juga jadi positif, akhirnya banyak banget orang (yang bahkan tidak kita kenal) dengan senang hati menolong, bisa menikmati keadaan apa ajah tanpa kesal dan benar benar bisa merasa “I am the lucky one and feel so bless.”
Salam
Family Gathering = Urgently needed a rental family :D
Rental Family = keluarga sewaan? Iya …. ciyus … ciyus …. 😀 Butuh banget, urgently deh. Terutama kalau ada acara yang namanya “Familly Gathering”. Terasa banget kalau jasa keluarga sewaan ini bukan saja menjadi kebutuhan sekunder tapi menjadi kebutuhan utama, primer, penting, urgent.
Atau kalau versi lebay nya sih …. seperti manusia membutuhkan oksigen 😀
Sebagai high quality jomblo – still single di usia yang amat sangat teramat matang dan ditambah berjenis kelamin perempuan pula dan belum mempunyai momongan (baru punya keponakkan keponakkan yang keyren keyren seperti tantenya :D), maka acara yang paling males saya hadiri itu acara yang berbau bau family – keluarga, terutama “Family Gathering”
Bukan, bukan karena saya merasa minder dengan keadaan saya, atau karena jealous melihat teman – teman saya yang biasanya antusias sekali dengan acara Familly Gathering karena moment dimana bisa membawa seluruh anggota keluarganya untuk diperkenalkan kepada teman – teman plus keluarga temannya dan sebaliknya. Yang pasti, sebenarnya ajang yang oke banget, karena bisa berlama lama berkumpul dengan teman tanpa perlu meninggalkan keluarga.
Nah, masalah jadi akan bermula karena saya datang di Family Gathering (atau acara acara yang lain sih :D) sendirian, tanpa (my own) family.
Maka jadilah disana saya pasti akan bengang bengong sendiri, tersenyum tidak jelas kesana kemari atau berpura – pura care dengan anak – anak orang lain …. karena biasanya teman – teman saya akan sibuk dengan keluarganya masing masing, terutama teman yang baru mempunyai bayi. Atau saya akan terbengong bengong mendengar pembicaraan teman – teman tentang perkembangan anak anaknya masing masing, tentang masa kehamilan, tentang persalinan, biaya sekolah, susu yang baik, dokter anak yang top, penyakit anak dan obatnya. Enggak ada deh yang bicarain betapa gantengnya pemain sepak bola A, atau dimana toko sepatu yang lagi diskon atau backpacker sendiri yang murah 😀
Nah ketika pembicaraan beralih kepada saya, kemudian teman – teman saya (terutama yang sudah lama tidak bertemu saya) dan pasangannya, akan bertanya kepada saya tentang anak anak saya (yang belum pada lahir karena masih mencari bapak yang tepat 😀 ), setelah mendengar penjelasan saya tentang status saya ….. maka dimulailah “drama” itu ……………….
1. Meminta maaf kepada saya karena menanyakan tentang status saya … please deh, saya mah enggak merasa apa – apa juga, tidak juga merasa sakit hati dengan orang yang merubah status saya. Wong … udah lama buaaaanget. Dengan meminta maaf, justru membuat saya menjadi ill feel ….. (ill feel karena saya bingung kenapa harus minta maaf hahahahaa)
2. Berusaha yakin dengan pendapatnya, kalau saya masih trauma dengan masa lalu saya, karena itu saya masih sendiri. Dan parahnya …. semakin saya menidakkan, semakin keukeuh juga mereka dengan pendapatnya. Dooooohhhhh … itu seperti 1 orang waras dengan 9 orang gila …. maka yang jadi gila ya yang waras dong 😀
3. Mulai menghakimi saya, bahwa saya terlalu pemilih. Padahal ya ampunnnnnn ….. yang mau saya pilih itu siapa? Positifnya sih …. mungkin karena saya dianggap secantik ratu kecantikkan dunia, jadi yakin banget pasti banyak banget pria pria single di dunia ini yang mengejar -ngejar saya tapi tidak saya terima hahahahhhahahaha
4.Mulai menghitung – hitung umur saya dan mulai menghitung – hitung berapa lama lagi jam biologis saya masih berdetak 😀 Dan mulai menasehati saya tentang bahaya nya bagi perempuan melahirkan di usia di atas 35 tahun. Uhm seandainya mereka tau …. tanpa dinasehatin saya juga sudah panik kok 😀
5.Dan yang paling parah itu …. kalau di wajah wajah mereka terlihat rasa kasihan kepada saya, dan ditambah dengan statement “sabar ya, nanti pasti ketemu jodohnya” …. Bener deh …. saya enggak apa – apa, enggak sakit, enggak perlu juga dikasihani, saya sabar kok, bener. Saya sabar kok biasanya menanti jodoh saya, tapi jadi agak kurang sabar kalau dikasihani begitu hahahaahahhhahhahaha
Nah … karena masalah masalah ini … saya sih mulai berpikir mustinya ada usaha rental family. Jadi di sana bisa me -nyewa 1 ayah dengan 1 anak ( lebih), atau 1 ibu dengan 1 anak (lebih) . Jadi sewaktu di Family Gathering itu orang orang seperti saya, bisa diterima secara “layak” sehingga bisa turut merasakan kecerian Family Gathering dengan penuh suka cita juga.
Atau kalau tidak bisa – ya saya usul …. Family Gathering itu khusus untuk yang sudah berkeluarga /single mom/single dad saja, sama seperti pesta lajang yang khusus untuk lajang saja 😀 Jadi enggak ada pertanyaan lagi kepada saya kenapa tidak datang ke Family Gathering, sampai pada saat saya punya keluarga nantinya, boleh deh pertanyaan itu diluncurkan kalau saya tidak datang ke Family Gathering 😀
Salam
PS: Doain ya biar saya secepatnya juga diberikan kesempatan punya keluarga (sendiri) 😀
