Karena kadang – kadang kita terlalu banyak bicara

Berita paling akhir yang paling diributkan di negara saya yang tercinta ini adalah kasus antara KPK dan Polri. Dimana kemudian banyak orang – orang kemudian berbondong – bondong mencaci maki Polisi – yang memang dari dulu citranya jelek terus. Bahkan saking jeleknya ketika saya yang langsung mengalami dan bercerita bagaimana Polisi membantu membuat surang hilang saya – dalam waktu 10 menit – tanpa minta imbalan apa – dan itu terjadi dua kali di kepolisian yang berbeda, tetap saja enggak banyak yang mau percaya.

KPK kemudian berada di atas angin –  se atas – atas nya, sehingga kadang – kadang seperti Dewa/ Tuhan yang tidak boleh dianggap salah. Karena kalau sedikit saja protes tentang tindakan KPK akan dianggap sebagai pendukung koruptor. Padahal terus terang saya masih keberatan banget dengan pemakaian baju koruptor ketika bersidang, karena saya kira sampai detik ini kita masih menganut azas praduga tidak bersalah – dimana seseorang baru dianggap bersalah kita dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Kalau misalnya setiap orang yang tersangka bersalah terutama oleh KPK sudah diputus jadi koruptor – ya ngapain kita punya pengadilan? Langsung saja di penjara. Bisa mengefisiensi kan anggaran negara toh?

Tapi tulisan ini tidak berarti saya membela salah satu antara Polri dan KPK. Bagi saya, toh sebenarnya ke duanya punya fungsi  masing – masing. Ke duanya punya kelemahan pada sistem nya masing – masing, yang apabila mau, bisa diperbaiki. Keduanya masih kita butuhkan. Kalau lah saat ini keduanya memang mempunyai masalah masing – masing, sebaiknya kita biarkan mereka bersama Dewan Rakyat dan Presiden untuk duduk bersama – sama menyelesaikan masalah keduanya. Percayakanlah mereka secara dewasa bisa menyelesaikan masalahnya.

Terus terang tulisan saya  ini karena saya melihat, kita jadi masyarakat yang menganut demokrasi yang kebablasan. Kita minta Presiden berbicara – dan ketika beliau bicara – kita duluan juga yang berkoar – koar bagaimana buruknya pidato Presiden tersebut . Untung saya bukan Presiden – kalau enggak saya pastilah jadi bingung – mau nya rakyat saya apa sih????

Kita berbicara dimana – mana bagaimana kita mengutuk sesuatu, tanpa kita tahu masalah sebenarnya. Kita hanya mendengar. Kita memaki – maki orang yang masih ‘tersangka’ Koruptor dan parahnya yang ikut kita maki adalah keluarganya – malah tidak banyak yang meminta agar keluarganya juga dipermalukan – dimanakah hati nurani kita? Mungkin keluarganya terlebih anak- anak, ayah – ibu, saudara- saudara tidak tau apa yang diperbuat oleh si tersangka. Harus kah mereka kita ikut sertakan juga? Dimana hati nurani kita?

Kita menutup kedua telinga kita terhadap pembelaan – pembelaan yang berusaha mereka  -yang kita anggap bersalah dan yang dinyatakan bersalah oleh media masa – oleh internet. Kita hanya membuka telinga terhadap apa yang mau kita dengar.  Kita juga malah kadang – kadang tidak sadar kalau media massa itu yang kadang – kadang menyetir kita terhadap apa yang mereka mau, bukan apa yang sebenarnya terjadi.

Kita dengan bangga nya mau saja diajak demo  dijalan memajang poster di media online , ngetweet  dengan kata -kata kasar, mencaci maki semua yang kita anggap bersalah- padahal hanya tahu masalah dari permukaan – kita ikut, Seolah – olah dengan begitu kita adalah bagian dari pembela kebenaran.  Kita jadi pahlawan kesiangan

Kita terus menerus bicara, memberikan masukkan – masukkan yang hebat – hebat, yang luar biasa canggih. Kita sibuk memikirkan pembicaraan atau tulisan apa yang harus kita tulis biar terlihat hebat. Padahal kita tidak tau latar belakang, maksud, cerita dibaliknya.

Dan kemudian kita lupa bahwa – kita juga harus melakukan sesuatu. Kita harus juga belajar mendengar – kita harus belajar untuk toleran, kita harus belajar tidak memaksakan kehendak atau menghakimi orang dengan mudahnya. Kita harus belajar melihat sesuatu masalah dari berbagai sudut pandang.

Kita juga kemudian malah dengan entengnya melupakan masalah – masalah kemanusiaan yang penting – seperti membantu tetangga kita, teman kita yang terkena musibah. Kita enggan untuk sedikit meluangkan waktu untuk mereka. Kita bahkan lebih perduli – menanggapi,  tulisan tentang koruptor atau tentang isu – isu negatif presiden dan pembantu – pembantunya , dibanding email yang berisi kan permohonan bantuan untuk teman kita yang tertimpa musibah.  Karena itu tidak diekspos oleh media masa, karena menolong mereka tidak terlihat keren. Tidak terlihat seperti seseorang yang berpikiran canggih.

Uhm …. yup …. kita terlalu banyak bicara 😦

 

Posted in Indonesia ku | Leave a comment

Kesetaraan Gender – antara ketakutan dan ketidak mengertian

Kemaren saya terkejut, ketika salah seorang senior saya, menulis email ke saya, yang isinya saya sebaiknya mencari tempat lain apabila saya ingin berbicara tentang kesetaraan gender. Kalau lah email itu bukanlah dari senior saya, yang saya anggap sudah tinggal lama di luar negeri dan dari segi latar belakang pendidikan yang cukup tinggi, mungkin saya tidak begitu terkejut.  Selain itu yang semakin membuat saya terkejut juga, karena sebelumnya memang saya tidak berbicara soal kesetaraan gender yang saya bicarakan tentang empowering women – penguatan perempuan.

Sebagai seorang perempuan, tentulah saya perduli dengan yang namanya empowering women, saya perduli dengan masalah – masalah kesetaraan gender. Tapi saya tetaplah perempuan Indonesia, yang percaya bahwa kesetaraan gender bukanlah berarti bahwa perempuan harus berada di atas laki – laki, atau sebaliknya, tapi kesetaran gender adalah kesamaan hak dan kewajiban antara perempuan dan pria tanpa membuat salah satunya menjadi kehilangan kebebasannya sebagai individu.

Saya tidak akan mengatakan seorang istri yang menyediakan kopi untuk suaminya – berarti adanya ketidaksetaraan gender disitu – karena selama si istri merasa bahagia dan tidak terb ebani dengan kegiatan itu, menurut saya ya sah – sah saja. Begitu juga dengan penggunaan nama suami, apabila menurut si istri hal itu membuat hati nya bahagia dan bukan karena paksaan suaminya, mengapa tidak?

Sama seperti seorang suami yang menjadi bapak rumah tangga. Menurut saya itu sah – sah saja. Kenapa tidak? Kalau memang itu pilihan terbaik bagi keluarganya dan sang suami rela melakukannya, dan sang istri juga bahagia, kenapa kita harus menganggap hal itu sesuatu yang memalukan? Menjadi bapak rumah tangga itu juga salah satu kesetaraan gender toh?

Saya baru akan protes, apabila hanya karena berjenis kelamin perempuan atau laki – laki, tidak bisa menempati salah satu posisi, tanpa ada alasan yang benar – benar masuk akal. Saya baru akan protes apabila, karena saya adalah seorang perempuan, saya harus memasak. Atau hanya karena saya perempuan saya tidak boleh tertawa keras – keras.

Kalaulah saya banyak berbicara, tentang kesetaraan gender, karena saya melihat sendiri , masih banyak perempuan – perempuan di Indonesia yang tidak seberuntung saya, yang dibatasi hak – haknya hanya karena perempuan dan lebih parahnya lagi kemudian membuat mereka menderita.

Sebagai sesama perempuan, tentulah saya ingin perempuan – perempuan sekeliling saya, yang saya kenal, bisa mengutarakan pendapatnya tanpa rasa takut, bisa melakukan apapun dalam batas kaidah – kaidah agama yang dianutnya tanpa rasa bersalah dan bisa meraih posisi – posisi utama di ruang kerjanya.

Jadi saya kemudian luar biasa takjub, senior saya yang hebat luar biasa, bisa berpikiran seperti itu. Kalau dia saja masih berpikiran sempit, bagaimana dengan pria – pria lain yang berpendidikan lebih rendah dan belum pernah keluar dari daerahnya????

Menolak dan ketakutan setengah mati dengan kata – kata kesetaraan gender atau empowering women, agak lucu buat saya. Apakah ketakutan akan dijajah perempuan? Tau kah kalau gender itu artinya bukan perempuan? Sehingga kesetaraan gender bukan dimaksud untuk kesetaraan hak – hak perempuan.

Kesetaraan gender itu juga berlaku untuk pria. Pria boleh mengatakan terjadi ‘bias gender’ kalau dia ditolak menjadi sekretaris  atau ditolak menjadi hair dresser, atau ditertawakan ketika berpakaian dengan warna merah jambu misalnya.

Empowering women – penguatan perempuan  sendiri  dimaksud untuk membantu perempuan – perempuan terutama single mom, yang harus membanting tulang karena mempunyai tanggungan keluarga yang besar dan kemudian ditambah harus mengerjakan pekerjaan – pekerjaan domestik.

Apakah salah apabila membantu perempuan untuk mencari penghasilan tambahan yang bisa dilakukan beberapa jam tanpa mengganggu keluarganya, karena penghasilan sang suami tidak mencukupi, baik dengan cara menambah kapasitas dan kemampuannya , memberikan informasi maupun memberikan dukungan moral, agar perempuan tersebut percaya bahwa dirinya mampu?

Kesetaraan gender dan penguatan perempuan bukanlah salah satu kegiatan untuk memecah belah keluarga yang harmonis, bukanlah kegiatan untuk mem’brain wash’  (cuci otak) perempuan agar menentang laki- laki, bukanlah kegiatan yang perlu ditakutkan.

Kalau lah kesetaraan gender sering dikaitkan dengan perempuan, karena memang terbukti banyak perempuan yang tercabut hak – hak nya hanya karena dirinya perempuan. Empowering women dan bukan empowering men – karena memang banyak perempuan yang karena tidak adanya kesetaraan gender tidak mempunyai kekuatan untuk bangkit dari keterpurukkannya.

Mudah – mudah an senior saya, dan bapak – bapak yang baik hati nya, membaca ini, sehingga tidak langsung menolak ketika mendengar tentang kesetaraan gender dan emporing women.  Aamin

Salam

Posted in empowering women, Indonesia ku, kesetaraan gender, penguatan perempuan, perempuan, pria | Leave a comment

Anakmu bukan sanderamu

Di umur saya yang sudah sebanyak ini, banyak dari teman – teman saya yang sudah menikah dalam hitungan di atas lima tahun dan mempunyai anak anak yang lucu – lucu dengan tingkah polahnya. Tentu saja bagi saya, yang sampai saat ini belum dipercayakan oleh Yang Maha Kuasa untuk mempunyai anak, tidak jarang dan hampir sering sekali menjadi kecemburuan tersendiri 😀

Tapi dari serangkaian teman – teman yang saya cintai, yang menceritakan hiruk pikuknya berumah tangga, tidak jarang, malah menceritakan tentang kehidupan mereka yang sedang dalam taraf yang tidak baik dengan pasangannya. Pangkal masalah nya? Banyak, dari mulai tidak cinta lagi, mencintai orang lain, adanya banyak perbedaan yang tidak dapat dipersatukan kembali, tidak ada komunikasi, kekerasan dalam rumah tangga dll.

Saya sendiri, tidak ingin memberikan pendapat tentang masalah mereka – mereka ini. Karena menurut saya, yang namanya hubungan – relationship, yang tau apa sebenar nya masalahnya ya cuman mereka yang ada di dalam hubungan itu, bukan saya, bukan orang tua mereka dan orang ketiga lainnya, sehingga sebaiknya semua masalah cukup diselesaikan antar mereka sendiri tanpa melibatkan orang lain. Bukan hanya sebatas diendapkan begitu saja.

Tapi kemudian menjadi keberatan saya ketika anak menjadi ‘sandera’  – dengan mengatas namakan kebahagian anak, mereka tetap berada dalam satu rumah tangga – tanpa ada keinginan untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Mereka tetap bersama dengan hati dan pikiran yang terpisah satu sama lain, mereka tetap mencoba bersama tapi tidak ‘berbagi’. Bahkan kebahagian dan kenyamanan sudah tidak ada sama sekali di sana. Yang ada hanyalah suasana dingin penuh basa basi – yang penting tetap bersama.

Sehingga, maafkan saya yang selalu merasa mual ketika ada orang yang berkata kepada saya bahwa dia mempertahankan rumah tangga nya semata – mata demi anaknya. Demi kebahagian anak – anaknya.

Menurut saya …. itu kata – kata paling memuakkan yang pernah saya dengar.   Bagaimana memberikan sesuatu yang tidak kita punya kepada orang lain? Bagaimana memberikan kebahagian kalau diri kita tidak bahagia, bagaimana memberikan cinta kalau kita sendiri tidak tau apa itu cinta?

Sebagai anak yang mempunyai orang tua yang mempunyai masalah yang sama seperti teman 2x saya – yang  mengatakan kepada semua orang bahwa mereka tetap bersama demi kepentingan anak, saya bisa memastikan sebenarnya saya merasa seperti ‘SANDERA’  bagi ke dua orang tua saya.

Bahagiakah saya?  TIDAK – NO – NEIN

Walaupun mereka bersama, tidak berantem di depan saya, tapi saya bisa merasakan bahwa hati mereka tidak di sana. Saya bisa merasakan betapa hambarnya tawa ibu saya dan senyum ayah saya.  Dan kemudian yang paling menyakitkan saya adalah kata – kata yang tidak sengaja saya dengar, bahwa mereka bertahan demi saya dan saudara – saudara saya!!!! Seolah – olah kami menjadi beban mereka yang memaksa mereka harus tetap bersatu.  Menurut saya justru mereka adalah mahluk – mahluk egois, yang tidak berani tegas, yang lari dari masalah tapi kemudian mengatasnamakan anak sebagai alasan untuk menutupi kelemahan mereka.

Anak – anak mempunyai perasaan yang sensitif, itu sebabnya ada beberapa anak yang menjadi cengeng ketika ibunya atau bapaknya sakit atau sedang mempunyai masalah. Anak- anak bisa merasa keresahan orang tuanya, anak – anak bisa merasakan ketidak bahagian orang tuanya. Dan yang paling menyakitkan bagi anak adalah, apabila mereka yang menjadi alasan, terhalang nya kebahagian orang tuanya.

Kemudian apabila tidak tertahankan, tidak jarang kedua orang tua saling menjelekkan pasangan nya di depan – depan anak – anaknya. Sehingga si anak kemudian bingung, harus membela siapa – ayah atau ibu? Atau harus membenci siapa ayah atau ibu? Harus berbicara kepada siapa tentang masalah mereka – karena setiap kali mereka bertemu dengan ayah atau ibunya –  mereka di hadapkan kepada masalah ayah dan ibunya.

Bukan saya mensarankan perceraian, tidak sama sekali. Tapi saya berharap semestinya sebagai orang tua, harusnya menjadi penjaga buat anak – anak nya, menjadi tameng diurutan pertama untuk menjaga anaknya. Bukan sebaliknya, menjadikan alasan anak sebagai tempat pelarian dari ketidak mampuan mereka menyelesaikan masalah.

Yang kemudian semakin parah setelah mendapatkan alasan itu, keduanya  tidak berusaha untuk menyelesaikan masalahnya. Tidak ada keinginan untuk duduk bersama menyelesaikan masalah, sehingga semakin hari komunikasi yang terjalin juga bisa dikatakan tidak ada. Ini kemudian akan semakin diperparah ketika salah satunya mendapaatkan cinta yang lain – yang tanpa sadar tumbuh karena si pemberi cinta bisa memberikan perhatian yang tidak dia dapat dari pasangannya. Seriously, saya juga tidak dapat mengatakan ini benar atau salah (mungkin kalau 20 tahun lalu, dipertanyakan kepada saya, maka saya pasti akan bisa mengatakan ini 100% salah, tapi seiring dengan umur dan bertambahnya pengalaman, saya sadar bahwa ternyata tidaklah semudah itu).

Anak adalah anak, yang lahir semestinya dengan cinta dan memerlukan cinta dan perhatian dari ibu dan ayahnya. Bukan kemudian dijadikan ‘sandera’ , sebagai alasan penghindar masalah  atau sebagai sandera yang bisa dengan bebasnya dijadikan tong sampah mencaci maki pasangannya yang nota bene nya adalah ayah atau ibu kandung si anak.

Anak tidak butuh keluarga kamuflase – dimana ayah dan ibu lengkap ada di sana, tapi tidak hati nya, dan yang ditawarkan adalah bahagia semu. Anak butuh ayah dan ibu yang selalu ada untuk mereka,  walaupun tidak bersama – sama. Anak butuh melihat ayah dan ibu mereka bisa berdamai satu sama lain dan bisa duduk benar – benar nyaman berdampingan satu sama lain, walaupun cinta yang ada diantara keduanya hanyalah cinta antar sahabat, dan bukan dendam dan kemarahan satu sama lain.

Salam

 

 

Posted in Indonesia ku, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Jabatan oh Jabatan

Setiap kali saya berkenalan dengan orang lain, yang tidak pernah saya tanya selain suku, agama dan ras adalah jabatan apa yang dipegang orang tersebut, biasanya saya akan bertanya jenis pekerjaan yang di lakukannya atau kantor tempat nya bekerja. Menurut saya, soal SARA dan jabatan bukanlah hal yang membuat saya akan merubah pikiran saya terhadap orang yang baru saya kenal. Toh selama orang itu baik kepada saya, apapun asal usul dan jabatannya, sudah sewajarnyalah saya juga baik terhadap orang tersebut.

Sehingga tidak jarang satu atau dua kali, ada teman saya merasa terperanjat ketika saya tidak menyebutkan ‘pak’ dan mampu bercanda seperti apa adanya dengan orang nomor satu di kantornya. Malah salah satu teman saya, pernah tertawa lebar, setelah bertahun – tahun mengenalnya, saya baru tahu, bawa jabatannya adalah eselon tiga di instansinya. Sorry mas 😀

Bukan saya tidak perduli atau tidak tahu sopan santun, tapi bagi saya, dengan mempunyai jabatan atau tidak mempunyai jabatan tidaklah ada hubungannya dengan saya.

Di kantor saya yang kecil itu sendiri, kalaulah saya bekerja keras, itu lebih pada rasa tanggung jawab saya terhadap apa yang saya lakukan, kalaulah ada apresiasi berupa kenaikkan gaji dan jabatan, saya kira itu wajar saja. Tapi bukan itu yang itu satu – satunya yang saya cari, karena kalaulah lingkungan kerja saya tidak mendukung, walaupun gaji dan jabatan saya lumayan tinggi, saya tidak segan untuk keluar dan mencari pekerjaan yang baru. Walaupun, dengan demikian, tidak saya pungkiri, dengan ada nya jabatan, tidak jarang banyak orang yang menjadi lebih respek kepada saya. Dengan catatan juga, orang – orang tersebut akan saya catat sebagai orang yang tidak bisa saya tambahkan di daftar teman saya. Mungkin hanya sebatas kenalan – orang yang saya kenal.

Jadi betapa takjub nya saya ketika di salah satu lingkungan pertemanan saya, seorang senior (sebut Mr X)yang menjadi pemimpin salah satu kegiatan, tiba – tiba ber bbm (black berry messenger) ke saya, menerangkan kalau jabatan yang tadinya ditawarkan kepada saya, diganti dengan orang lain – kita sebut Mr A. Dengan alasan takut apabila Mr. A ini tidak mau bergabung lagi, karena dia bukan leader di tim saya.  Dan juga mengatakan karena Mr A, itu punya potensi besar, sehingga sangat disayangkan sekali apabila dia tidak bergabung di project ini, Jadi Mr X mengharapkan kebesaran hati saya untuk mengalah demi mr A (dan sibuah hati LOL)

Saya yang membaca hanya bisa terpelongo :

1. karena saya tidak membaca email yang berisi daftar susunan panitia baik yang lama maupun yang baru. Jadi saya tidak  tahu posisi saya di sana.

2. karena saya merasa, whose care with that kind of position, saya mau bekerja karena saya ingin memberikan sumbangan tenaga saya, karena ini merupakan kegiatan sosial, dimana saya tidak mendapatkan imbalan apa – apa. Jadi apa gunanya dengan jabatan.

3. saya agak merasa tersinggung – tau apa mr X dengan potensi saya sehingga bisa menyangka kalau potensi mr A lebih besar dari saya, padahal saya yakin mr X belum pernah bekerja dengan saya, jadi apa yang menilainya begitu. Tapi ya sudah lah, dengan mencoba berpositif thingking, kalau mr X mungkin sudah pernah bekerja sama dengan Mr A, maka rasa tersinggung saya sedikit demi sedikit berkurang.

Dan ketika saya menjawab, saya oke saja, Mr X berusaha meminta maaf dan berterima kasih dengan pengertian saya, yang kemudian saya pikir, uhm …. untuk apa berterimakasih, wong saya benar – benar tidak perduli dengan jabatan itu.

Setelah itu saya kira hal ini sudah selesai, ternyata kemudian di bbm group Mr. A, sibuk dengan ancaman bahwa  dia akan keluar dari group etc karena takut saya tersinggung dengan jabatan yang sekarang dia pegang, walaupun saya bilang saya tidak masalah. Tapi ndidalah si Mr A tetap sibuk dengan catatan kalau dia rela leave group, dia enggak mau menyakiti etc etc. Yang membuat saya harus berusaha menyabarkan diri, karena harus tetap profesional untuk tidak marah  – please masalah nya culun sekali, kenapa sih harus ribut soal jabatan ???? Untuk saya itu termasuk kategori AMAT TERAMAT SANGAT LEBAY

Tapi dengan mencoba menjadi orang yang wise, maka tetaplah saya dengan menahan sabar, menyemangatkan Mr A untuk menjadi pimpinan, bahwa saya tidak apa – apa, bahwa saya akan mensupport etc. Dengan harapan diskusi terhadap jabatan yang membuat saya eneg – terlebih disaat saya sedang dibebanin dengan beban kerja kantor yang berjibun, bisa berakhir.  Tapi ternyata harapan saya tinggal harapan karena  Mr A mengeluarkan satu pertanyaan paling keren  – jadi apa kamu rela, kalau saya suruh – suruh ….

Jlebbbbbb … menurut saya … pimpinan bukan lah orang yang tugasnya menyuruh – nyuruh, tapi seseorang yang mau mengkoordinasi, memanage, memberikan saran, mendengarkan saran, membantu mencari solusi. Walaupun demi semangat team saya mengiyakan, bersedia di suruh – suruh oleh nya (red : bahkan bos saya, yang notabene menggajai saya, susah menyuruh saya, biasanya beliau akan meminta tolong ) , saya kemudian berpikir apa karena agar bisa menyuruh – nyuruh, maka seseorang ingin mempunyai jabatan???  Apa hanya sebatas ini fungsi jabatan? Dan apa karena jabatan kita harus ribut, tidak mau berbuat sesuatu demi organisasi? Uhm….

Setelah akhirnya Mr A, saya yakinkan untuk tetap memimpin, karena kalau tidak jadi pimpinan, beliau  tidak mau bekerja dan akan me ‘leave’ group, dan saya orang yang paling males untuk bersitegang dengan segala masalah yang saya anggap ‘tetek bengek’, saya kira hal ini akan selesai ternyata sekali lagi …. ternyata tidak saudara – saudara.

Mr X kembali ber bbm dengan saya, menanyakan keikhlasan saya. Uhmmmmmmmm… seriously, saya yang sedang ditengah – tengah meeting yang membuat kepala saya berdenyut, hampir saja melempar black berry. Untungnya saya kemudian sadar, kalau saya sangat membutuhkan blackberrry saya tersebut, sehingga keinginan melempar pun tersimpan dalam – dalam dihati saya.

Apakah sudah selesai?

Ternyata  T I D A K

ketika saya terpaksa keluar dari beberapa group di bbm, karena si black berry yang saya perlukan untuk mengkoordinasi kegiatan, mengadat terus …. si Mr A sibuk ber bbm saya menanyakan apakah saya leave group karena saya tidak mendapat jabatan.

Uhm ….. saya merasa mungkin hari itu adalah salah satu ujian terberat saya sebagai pemilik black berry. LOL  Dengan terlebih dahulu, menarik nafas, menenengkan diri, saya menjawab – sekali lagi dengan nada manis, agar tidak di cap pemarah kalau saya TIDAK TERTARIK DENGAN JABATAN 

Seriously … semuanya membuat semangat saya menjadi turun seturun nya untuk tetap terlibat di project itu. Walaupun saya berusaha tetap konsisten dengan janji saya untuk tetap membantu.

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | 5 Comments