Protes dan Aktivis

Udah beberapa tahun ini, gue bekerja di bidang yang memang sebelum nya tidak pernah gue bayangkan dahulu.  Judulnya Lembaga Swadya Masyarakat (LSM) yang konon identik dengan protes untuk memperjuangkan hak – hak  masyarakat  😀

Dengan pekerjaan saya sebagai bagian keuangan, tentu saja untuk para staf2x LSM umumnya dianggap sebagai “bagian yang paling tidak dianggap”. Atau masyarakat kelas dua. Karena sebagai staff keuangan, tentu aja, kami bukanlah orang yang mungkin bisa memberikan kontribusi kepada lembaga, dan bukan juga orang yang penting untuk dimintai pendapatnya selain tentang keuangan. Padahal sewaktu masa nya audit datang, adalah orang yang harus sendiri dengan gagah berani menjawab pertanyaan auditor biar laporannya enggak “merah” . 

Tapi itu bukan yang jadi permasalah di diri saya 😀  Toh memang saya bekerja di LSM bukan karena ingin menjadi aktifis, tapi saya bekerja karena saya perlu bekerja untuk hidup saya.

Yang jadi permasalahan saya, adalah  ketika aktivis itu kebanyakkan di identikkan dengan protes terutama kepada pemerintah dalam rangka membela kepentingan – kepentingan masyarakat.

Apakah saya tidak setuju dengan Protes?  Tidak juga, menurut saya, wajar dong kita protes, biar segala sesuatu yang tidak benar bisa menjadi benar, dan yang salah bisa kembali di jalur yang benar.

Tapi yang  paling mengganggu saya adalah ketika protes, kita tidak tau apa yang kita protes. Protes karena, teman – teman aktivis juga protes. Protes karena masyarakat juga protes. Protes karena “katanya” tidak benar. Protes karena “menurut dugaan” ada suap disana.

Sering sekali ketika saya ikut dalam acara mendukung untuk melakukan  “protes” yang diajukan oleh aktivis2x dari LSM, dan ketika saya pertanyakan yang diprotes itu apa? Isinya apa? Data akuratnya apa? Semuanya tidak ada jawaban  Yang ada adalah jawaban atau pandangan sarkastik, seakan2x itu merupakan pertanyaan bodoh yang semestinya tidak dipertanyakan.

Kemarin saya mengikut satu kegiatan yang menceritakan protes terhadap kebijakkan pemerintah yang katanya tidak pro terhadap rakyat kecil.

Kemudian saya bertanya, tau enggak sih isi dari kebijakkan itu? Apakah tau back ground nya dari mana? Mereka bilang ya enggak tau terlalu dalam. Trus saya pertanyakan kembali, ok …. kalau gitu tau enggak bedanya antara kebijakkan A dan B yang ada di dalam seluruh kebijakkan yang tidak pro terhadap rakyat kecil itu. Dan orang yang katanya ahli dibidang itu, dengan tenang menjawab nya. Tapi terus terang, jawabannya benar 2x salah total.

Terus saya jadi berpikir, kalau mereka tidak tau apa isi dari kebijakkan itu.  Apa perbedaannya, dari mana mereka tau kalau itu salah? Dari mana mereka tau, kalau itu tidak pro rakyat kecil? Dari mana mereka bisa yakin kalau kebijakkan itu dikeluarkan karena adanya suap ke pemerintah?

Saya tidak mengatakan kalau saya adalah salah satu orang yang pro pemerintah. Tidak sama sekali.

Tapi saya mau ketika kita protes, kita mengerti apa yang harus kita protes.  Kita mengerti kenapa kita protes. Kita bisa dengan tenang menjawab satu persatu tentang apa yang salah dari yang kita protes tersebut.

Bukan berarti kita bisa protes kalau kita sudah menjadi tenaga ahli.  Atau kita protes karena kita udah berpengalaman di LSM beratus2x tahun.

Proteslah kalau kamu mengerti apa yang kamu protes. 

Menurut saya, ketika kamu datang ke pemerintah dan kemudian kamu protes, dan kemudian diajak duduk bersama… Apakah kamu tidak merasa malu, karena protes2x mu bisa dijawab dengan baik oleh mereka. Apa kamu tidak merasa malu ternyata protes itu salah tempat?  Uhm…..

Jadinya? Toh, tetap bisa dianggap menjadi aktivis yang keren kalau jalannya selain protes 😀

Posted in Indonesia ku | Leave a comment

Azas Praduga Tak Bersalah yang hampir terlupakan

Kalau ditanya siapa artis yang paling terkenal saat ini di Indonesia, pasti jawabannya adalah Ariel Peter Pan, Luna Maya dan Cut Tari. Kenapa? Tentu aja jawabannya adalah karena beredarnya film porno yang pemerannya berwajah seperti mereka bertiga.

Kemudian seperti biasa, sebagai negara yang bermoral paling tinggi, maka sebagian besar penduduk di negara saya yang tercinta ini, langsung mengutuk ketiganya sebagai orang – orang yang tidak bermoral. Atau ada salah satu pemda salah satu daerah yang dengan bangganya menyatakan pelarangan bagi ketiganya untuk tampil di daerahnya. Bahkan ada juga pengacara tersohor di negeri ini yang bak superhero yang bermoral paling tinggi, langsung menyatakan akan menyeret ketiganya ke penjara. Dan yang lebih ekstrim kemudian ada kelompok masyarakat yang mewakili salah satu agama, menyatakan akan langsung mengadili ketiganya apabila pemerintah tidak bisa menghukum ketiganya. Ehm …

Padahal,  saya yakin sekali masih banyak diantara kita- kita yang bermoral sangat tinggi ini,  yang sampai sekarang tetap merasa penasaran ingin melihat film tersebut.  Yang paling agak aneh,  orang – orang yang mengutuk ketiga selebritis tersebut, rata – rata dengan sadar mencari, mendownload dan menonton film tersebut. Padahal semestinya kalau kita sudah tau film itu tidak bermoral, ya ….. jangan dong ditonton ^_^

Hampir setiap hari ketiganya kemudian diikuti oleh pers kemanapun mereka pergi. Yang sayangnya, pengejaran mereka terhadap ketiga orang ini bukanlah untuk mendengarkan keterangan dari mereka bertiga, tapi seolah – olah hanya menunggu penegasan dari mereka bertiga bahwa memang mereka lah orang – orang yang ada di film itu.  Atau memang merekalah yang membuat film tersebut.

Menurut  pandangan saya  sebagai masyarakat yang hidup di negara hukum,  kita melupakan salah satu Azas yang seharusnya kita junjung tinggi bersama : AZAS PRADUGA TAK BERSALAH , dimana seseorang baru dianggap bersalah apabila dinyatakan bersalah di depan hukum oleh hakim di pengadilan.

Kalau ketiganya sudah didakwa bersalah, oleh kita yang merasa bermoral tinggi ini, apa gunanya pengadilan? Kalau ketiganya sudah kita berikan stempel besar sebagai  “orang – orang yang tidak bermoral” tanpa ada kesempatan untuk membuktikan diri tidak bersalah, apa gunanya pengacara?

Kenapa kita sering menjadi orang – orang yang berhati “sadis” , padahal disetiap status kita di facebook atau twitter sering ayat – ayat suci keluar dari mulut kita? Kenapa kita sering terburu – buru untuk menghakimi orang lain untuk masalah moral, seolah – olah kita adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa?

Berilah mereka kesempatan untuk membela diri. Berilah kesempatan pengadilan, untuk membuktikan apakah mereka bersalah atau tidak. Dan selama proses penyidikan, pemeriksaan, pengadilan masih berlangsung, biarkanlah mereka untuk tetap kita anggap tidak bersalah sampai keputusan hakim menyatakan sebaliknya.

Toh, kalaulah mereka memang dikemudian hari dianggap bersalah karena telah memproduksi film tidak bermoral seperti itu, dari logika saya, sebenarnya yang paling bersalah adalah orang – orang yang menyebarluaskan film yang sebenarnya menjadi milik pribadi ketiga selebritis tersebut. Atau malah – malah jangan – jangan termasuk  kita yang menyebarkan info tentang adanya film2x tersebut, sehingga membuat orang – orang sekeliling kita merasa penasaran dan kemudian berusaha mendapatkan dan menonton film tersebut.

Salam

Posted in Ariel, Indonesia ku, Luna Maya | Leave a comment

Anggito – Pembelajaran tentang Harga Diri

Anggito Abimanyu adalah nama yang baru saya dengar dari TV dan Media Masa lainnya  adalah  Kepala Badan Kebijakkan Fiskal yang mengundurkan diri karena merasa harga diri profesional nya terusik karena jabatan sebagai wakil menteri keuangan yang sedianya akan diberikan kepadanya beberapa bulan lalu diserahkan kepada orang lain.

Dan tindakan yang beliau ambil menurut saya adalah satu tindakan berani yang di jaman sekarang di negara yang saya cintai ini, sulit mencari pejabat yang mau dengan suka rela mengundurkan diri karena merasa harga diri nya terusik .  Apalagi kalau orang tersebut sudah menduduki jabatan yang cukup tinggi, dan sewaktu memutuskan untuk mengundurkan diri, beliau belum mempunyai pilihan pekerjaan lainnya.

Sehingga tidak jarang, sering sekali terlihat diantara pejabat – pejabat di negara saya yang belakangan ini semakin cenderung tidak memikirkan masyarakatnya,  apabila menerima keputusan atasan yang menjatuhkan harga diri baik (profesional), tetap diterima dengan selegowo – legowonya.  Yang penting masih tetap menjadi pejabat dengan segala kenyamanan dan fasilitasnya.

Saya juga memaklumi pilihan atas pengunduran diri dengan alasan harga diri profesional memang akan sulit dilakukan ketika seseorang mempunyai tanggungjawab keluarga yang besar yang harus ditanggungnya (Walaupun kemudian ketika jiwa spritual saya sedang tinggi – tingginya memenuhi ruang batin saya, saya kembali bertanya, bukankah ada sesuatu kekuatan besar yang tidak mengenal kata “tidak mungkin / impossible” yang bernama ; TUHAN ? )

Sebenarnya juga bukan hanya pejabat saja, tidak jarang diantara teman – teman saya (yang bukan pejabat – pejabat teras tetapi memiliki jabatan yang cukup keren di tempat kerja yang juga cukup membuat banyak orang iri) yang mengeluhkan atasannya yang  sering melakukan tindakan – tindakan yang mereka anggap menjatuhkan harga diri (profesional)  mereka. Tapi teuteup, keluhan hanya sebatas keluhan, tanpa ada penyelesaiannya. Keluhan hanya keluhan tanpa ada keberanian untuk melakukan suatu tindakan nyata dan tanpa ada cukup keyakinan juga kepada Tuhan, bahwa Dia akan selalu membantu umat Nya.

Jadi lah kemudian “ harga diri” menjadi barang yang selalu ingin dimiliki tapi terpaksa sering digadaikan bahkan dijual, hanya agar tetap mempunyai jabatan yang bisa dibanggakan atau pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan.

Buat saya, apa yang dilakukan Anggito Abimanyu menjadi pembelajaran besar tentang arti harga diri (professional). Dan menjadi jeweran indah bagi diri saya untuk mengingatkan kembali, bahwa masih ada di negara republik tercinta ini, orang – orang (red: pejabat- pejabat) yang tidak mau membiarkan harga diri (profesional)nya diinjak – injak hanya karena  jabatannya.

Tapi hidup adalah pilihan . Dan setiap pilihan yang dibuat dan diyakini benar oleh yang melakukan dan menjalaninya tetaplah harus dihargai, walaupun salah menurut sudut pandang kita sebagai pihak luar (yang terkadang sering merasa lebih tau apa yang terbaik ^_^)  .

Salam

Posted in Indonesia ku, Uncategorized | Leave a comment

21 April – RA Kartini, kebaya dan Julia Perez (Jupe).

Di negara Indonesia tercinta ini,  besok atau tepatnya tanggal 21 April itu masih dirayakan sebagai Hari Ibu Kita Kartini. Hari yang diperlukan sebagai momen untuk memperingati kebangkitan emansipasi perempuan di Indonesia.

Hari yang anehnya malah kebanyakkan diperingati dengan pemakaian kebaya oleh perempuan – perempuan Indonesia. Sehingga kadang – kadang saya sering berpikir, yang diperingati itu perjuangan ibu Kartini – nya atau kah kebaya sebagai bagian dari perempuan Indonesia? Apa hubungannya antara kebangkitan emansipasi perempuan dengan kebaya? Ataukah maksudnya kita harus bergaya seperti ibu Kartini, agar lebih menghayati makna hari tersebut? 

Buat saya sendiri , dari mulai kecil sampai hari ini, saya adalah penentang hari Kartini.  Saya tetap menolak kalau ibu Kartini harus dijadikan contoh perempuan Indonesia yang mempunyai ide – ide tentang emansipasi wanita. Sehingga dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, saya tidak akan pernah mau merayakan dan mengakui tanggal 21 April itu sebagai hari peringatan untuk kebangkitan emansipasi wanita.

Walaupun begitu RA Kartini tetaplah perempuan hebat menurut saya di jamannya. Pemikiran – pemikiran brilian yang beliau tuangkan ke dalam surat – surat berbahasa Belanda  yang notabene bukanlah bahasa ibunya,  menujukkan kemampuan beliau untuk memikiran sesuatu yang sebenarnya tidak lazim di jamannya dalam posisinya yang hanya sebagai ibu rumah tangga, dan juga kemampuan berbahasa beliau yang mengagumkan, membuat beliau patut disejajarkan sebagai salah satu wanita yang “briliant”.

Tapi kemudian menjadi miris, ketika beliau  justru tidak membagi – bagi ilmunya kepada para  abdi dalem nya yang perempuan.  Justru menjadi lebih miris lagi ketika beliau hanya membagi pemikirannya kepada sahabatnya yang kemudian mempublikasi kan ini kepada orang lain.  Sehingga saya kemudian bertanya apakah RA Kartini akan menjadi ibu emansipasi kalau sahabatnya itu adalah saya? Seseorang yang nota bene hampir tidak pernah mau mempublikasikan surat2x yang dikirimkan teman- teman perempuan saya ^_^

Dan saya yakin kemudian ada yang bertanya apakah karena itu saya mensejajarkan RA Kartini dengan Julia Perez?

Jawabannya: sebagai seorang perempuan, saya tidak pernah mau disamakan atau disejajarkan dengan perempuan manapun di dunia itu. Karena itu tidak ada keinginan saya juga mensejajarkan RA Kartini dan Julia Perez.  Kesamaan dari ke duanya adalah sama – sama perempuan Indonesia, dan keduanya cukup dikenal bagi hampir seluruh penduduk Indonesia.

Lalu kenapa saya tampilkan Julia Perez ? Karena menurut saya, kalaulah temanya adalah emansipasi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, keinginan  Jupe untuk menjadi bupati Pacitan adalah bentuk emansipasi nya.

Saya bukanlah salah satu fans Jupe dan bukan pula salah satu pendukung dari partai yang mengusungnya untuk mencalonkan diri di pilkada bupati Pacitan.

Yang ingin saya tekan kan disini adalah, dasar penolakkan yang sering saya dengar terhadap Jupe. Alasan – alasan yang menurut saya tidaklah sepatutnya saya dengar terutama dari kaum saya sendiri, yang mengaku mendukung penuh emansipasi perempuan.

Penolakkan terhadap pencalonan Jupe hanya dikarenakan baju dan penampilan nya menurut saya adalah salah satu bentuk pendiskriminsaian terhadap manusia. Penolakkan terhadap pencalonan Jupe, hanya karena latar belakang kehidupan pribadinya, juga menurut saya adalah sesuatu yang menunjukkan ketidakadilan kita terhadap sesama. Dan penolakkan pencalonan terhadap Jupe hanya karena bentuk tubuhnya, menurut saya adalah salah satu contoh paling sederhana dari ketidak mampuan kita untuk menghargai seseorang sebagaimana dia adanya. 

Saya sendiri bukanlah orang yang kemudian akan memilih Jupe (seandainya saya adalah salah satu pemilih di sana), karena saya belum melihat kemampuan Jupe untuk memahami bagaimana dan apa politik itu, saya belum melihat kemampuan Jupe untuk mengatur daerahnya, saya belum melihat kemampuan manajerialnya. Dan yang saya juga belum melihat kemampuan Jupe untuk menjadi pemimpin. 

Seandainya semuanya itu besok, lusa, minggu depan, sebulan lagi, setahun lagi atau kapan saja, bisa saya lihat di diri seseorang yang bernama Julia Perez, maka saya tidak akan ragu untuk memilihnya.

Salam

Posted in Indonesia ku | Leave a comment