Earth Quake vs Harga tiket

Falsafah ekonomi : Ketika permintaan naik, maka harga pun akan naik

gue kira, mungkin ini yang tetap dipakai para pemilik jasa transportasi udara di Indonesia. Jadi enggak penting deh, apakah kenaikkan permintaan itu karena hari libur nasional, hari libur sekolah atau bahkan karena musibah, pokoknya selama permintaan tinggi, maka saatnya menaikkan harga.

Gue inget beberapa saat dulu, sewaktu Tsunami di Aceh. Ya sama deh masalahnya. Harga tiket melambung luar biasa. Dan ketika menjadi sorotan masa, baru deh diturunkan. Nah sekarang ketika 5 thn kemudian terjadi musibah besar di Indonesia, ternyata moral yang begini masih tetap tumbuh subur.  Harga tiket ke Sumbar naik melambung bahkan ada yang naik menjadi 300% !!!!!!!!

Tragis?

Yup, tragis buanget.

Yang paling tragis justru pemerintahnya. Mosok harus di protes habis2x an oleh masyarakatnya baru deh, bersibuk – sibuk ria melarang kenaikkan harga. Itu juga tidak bisa dilakukan secepatnya.  Tapi mosok sih, pejabat2x itu kalau enggak diprotes, enggak tau ada penyimpangan2x begini? Mosok enggak nonton tv atau surfing di internet?

Malah yang lebih tragis lagi, untuk hal – hal seperti kasus bank Century atau pembiayaan dana pelantikkan anggota DPR/MPR bisa secepatnya dicairkan, untuk musibah ini …. ya …. mikir dulu lagi. Yang penting mereka sudah menyatakan “turut prihatin”

Coba deh uang untuk dua hal diatas digunakan untuk mensupport harga ticket ke Padang bagi orang yang mempunyai ktp Sumbar, agar mereka bisa balik ke daerahnya dengan harga yang murah.  Jadinya kan ini win – win solution buat si empunya pesawat dan masyarakat Indonesia.

Juga bisa dipakai utk mensupport biaya pengiriman sumbangan masyarakat.  Soalnya sih, pasti deh biaya pengiriman barang ke daerah Sumbar menjadi besar juga seiring dengan ke naikkan harga tiket.

Sayangnya gue bukan si empunya kekuasaan di negara ini.

Guenya sendiri sih enggak bisa protes sama si pengusaha, wong yang dilakukan legal kok.  Sah – sah aja dia menaikkan harga tiket. Wong tuh pesawat juga enggak dibeli dari rasa iba. Nah masalahnya ketimbang memikirkan soal “miyabi” yang boleh atau tidak datang ke Indonesia, apa enggak lebih baik kalau pemerintah memikirkan undang – undang transportasi, yang isinya “tidak diperbolehkan menaikkan harga tiket pada saat terjadi musibah alam”. Kayaknya itu deh yg paling berguna buat masyarakat Indonesia.

Jadi ke ingat lagu Iwan Fals, yang intinya gini nih : Kalau soal moral, biar aja diserahkan ke masing2x. Enggak usah diurus oleh pemerintah. Toh moral, akhlak apalagi soal haram atau halal, dosa atau tidak, itu hanya urusan Tuhan dengan umatnya.

Moga – moga yang seperti ini bisa berubah ya.

At least jangan pernah menyerah untuk tetap berharap dan bermimpi demi kesejahteraan Indonesia

Posted in Indonesia ku | Leave a comment

Densus 88 antara hero and zero

Densus 88? Nah ini, baru menjadi akrab ditelinga gue, sebulan belakangan. Sebelumnya? Terus terang gue enggak pernah tau, Indonesia punya pasukan khusus seperti di film – film amerika itu.  Memang pengetahuan gue tentang ini agak terbatas. Atau sebenarnya alam bawah sadar gue yang tidak menyadarkannya?

Sekitar sebulan lalu (atau lebih ya?) di TV2x, secara live menyajikan berita penyergapan Noordin M. Top itu.  18 jam lebih, 1 orang dikebung oleh berpuluh pasukan Densus 88. Yang akhirnya setelah tewas tertembak, dan mengeluarkan biaya beratus2x juta dan penundaan beberapa hari pengumuman resmi. Diketahui itu bukanlah Noordin M. Top.

Reaksi penonton? ……. Biasa deh. Sewaktu penyergapan berhasil …. dengan tewasnya seseorang yang disangka “noordin”  itu …. seluruh penonton, baik di tv, di face book. Dengan bangganya memberikan selamat dan sejuta pujian kepada Densus 88. Babak ini, Densus 88 menjadi from zero to hero. Yuppie…….!!!

Tapi setelah berhari2x dilanda ketidak pastian akan identitas benarkah itu Noordin M. Top dan akhirnya tiba 100 % kepastian dari pemerintah kalau itu bukanlah Noordin M. Top ………. reaksi penonton? Wuih … mulai deh, mencari2x kesalahan2x dari Densus 88, membuat joke2x bernada menghina dan sebagainya dan sebagainya. Intinya …. Densus 88 ….. from hero to zero … deh.

Kemarin kembali terjadi penyergapan dilakukan oleh Densus 88, tapi kali ini, takut terjadi kasus yang sama, siaran secara live tentang penyergapan hampir tidak ada di TV.  Hasilnya …. pada hari itu juga (tanpa harus menunda berari2x. seperti sebelumnya) , diumumkan secara resmi , bahwa dalam penyergapan yang di lakukan oleh Densus 88 di Solo, sebnyak 4 orang tewas dan 3 orang ditangkap hidup2x, dan yang paling menghebohkan,  kali ini sesuai dengan sidik jari dipastikan bahwa 1 orang dari teroris yang tewas adalah Noordin M. Top.

Reaksi penonton?

Dingin….. malah cenderung curiga, apa bener memang sang Noordin M. Top yang asli sudah tewas tertembak. Bahkan Presiden SBY pun tidak memberikan selamat secara langsung seperti yang dilakukan beliau pada saat pertama kali aksi Densus 88 dilakukan.

Menurut gue ……. cukup miris.

Cukup aneh kalau kerja sebesar ini, dan kesalahan yang coba mereka perbaiki dengan lebih berhati – hati dalam bekerja sehingga menghasilkan hasil yang maksimal, bukankah selayaknya juga kita apreciate, kita hargai? Bukan malah mencurigai, meragukan malah ada selentingan – selentingan yang mengatakan penangkapan Noordin M. TOp itu dilakukan untuk mengalihkan perhatian bangsa, dari persoalan kasus Bank Century dan KPK?

Kasian ya? Berusaha bekerja baik, masih aja tidak dihargain……. Berniat ngasih the best ……. masih aja dicurigai.

Uhmmmm…….

Apakah memang pepatah: gara2x nila setitik, rusak susu sebelanga, harus terus kita pertahankan? Apakah tidak ada kata maaf ? Apakaha kerja keras yang telah ditunjukkan mereka, sama sekali tidak menyentuh perasaan kita?

Gue tidak berniat membela Densus 88, wong dari semula gue juga tidak memujanya.  Tapi gue kira, sebagai penduduk dari bangsa yang besar, bangsa yang bangga akan bangsanya. Wajarlah kita memberikan kembali kepercaayaan kita yang hilang kepada mereka. Apalagi niat mereka untuk memperbaiki kinerja team, sudah ditunjukkan dengan keberhasilan mereka menangkap sang raja teroris?

Toh ….. apapun itu …. at least, right or wrong, good or bad …… it is our country and Densus 88 is one part of our country, right?

Give support for them, cause they need us to do the best to protect our nation !!!!!!!

Posted in Densus 88 | Leave a comment

Anak di luar nikah = anak haram?

Kalau baca judul ini kayaknya enggak banget ya?

Waktu gue nulis terus memutuskan membuat judulnya, ya enggak ada yang lain selain ini 😦  Atau memang perbendaharaan kata gue yang kurang bagus ya?  😦

Kenapa gue mengangkat tema ini? Karena saat ini pikiran gue kembali terpaku pada masalah yang sebenarnya juga sensitif di gue.

Gue kira sebagai mahluk hidup yang bersosialisasi dan tinggal di negara Indonesia tercinta ini, tentunya memiliki anak di luar nikah itu sesuatu hal yang masih sangat ditabukan. Terutama di kompleks perumahan menengah ke bawah, di daerah – daerah dan terlebih di kampung – kampung.

Tidak jarang, pemaksaan untuk segera menikah demi menghindari tercorengnya nama keluarga besar, dilakukan secepatnya sebelum kehamilan si calon ibu terlalu besar. Atau malah kemudian aborsi menjadi pilihan terakhir yang digunakan ke dua pasangan atau si calon ibu atau malah keluarga besar, karena menikah atau meneruskan kehamilan adalah no – no solution.

Memang tidak bisa juga di sangkal, pernikahan terpaksa ini (judul kerennya mba : married by accident),  tidak sedikit yang malah bisa langgeng sampai kakek nenek.  Untuk ini tentu saja, berarti si anak yang terjadi di luar pernikahan akan aman dan bisa hidup normal sebagai selayaknya anak – anak yang lain.

Untuk perempuan yang kemudian memilih untuk membesarkan anak di luar pernikahan tersebut, pastilah hidup akan menjadi semakin berat baginya. Kecuali dukungan keluarga yang terus menerus kepadanya,  sedikit banyak akan membantunya mengurangi masalah yang ada baik dari lingkungan ataupun dari si anak sendiri nantinya, yang menanyakan keberadaan si bapak.  Belum lagi, kalau perempuan – perempuan ini harus berjuang untuk  menafkahi dirinya dan buah hatinya ,  persoalan di lingkungan di mana dia kerja, pembagian waktu dan pikiran antara kerja dan anak.  Yang kemudian mungkin saja bisa membuat sang bunda, tidak mempunyai waktu untuk  dirinya pribadi,  terutama pada tahun – tahun pertama sang anak. Two thumbs up for this stronge mom.  I am sure, God will bless them.

Kemudian untuk pemilihan aborsi sendiri, sebenarnya hanyalah jawaban keluar sementara yang efeknya tidak jarang akan memakan waktu bertahun – tahun. Mulai dari efek psikologis dan kemampuan untuk kembali hamil dan mempunyai anak, merupakan akibat besar dari aborsi itu sendiri, terlebih apabila dia harus mengatasi masalah ini sendirian,  tanpa ada orang tempat mencurahkan perasaan – perasaan bersalahnya ditambah juga keharusan untuk menutupi apa yang dilakukannya dari keluarga terdekat yang seharusnya bisa menjadi sandarannya ketika perasaan bersalah datang padanya. Ini salah satu alasan mengapa aborsi atau keguguran yang terjadi dalam ikatan pernikahan lebih ringan efeknya bagi perempuan.

Dan dari sejumlah keadaan- keadaan tidak baik itu, apakah kemudian anak yang dilahirkan diluar nikah harus kita paksakan untuk disebut sebagai anak haram?

Bukankah ketika kita lahir, kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, di mana kita lahir, dalam keluarga yang bagaimana, dalam lingkungan yang bagaimana, dalam keadaan yang bagaimana?

Kenapa kita harus menghakimi anak – anak itu dengan predikat “haram”? Tidak ada anak yang lahir dalam keadaan yang berdosa.

Yang bersalah adalah ayah dan bundanya yang melakukan hal – hal yang ‘dianggap’ tidak layak untuk dilakukan sebelum menikah.  Sehingga yang selayaknya diberikan predikat jelek itu, ya ayah dan bundanya, bukan sang anak.

Kemudian ketika kita melihat efek – efek negatif  seperti yang tertulis di atas, haruskah kita kemudian mempertahankan predikat tersebut, sehingga bagi  perempuan – perempuan yang terlanjur mengandung di luar nikah, harus kembali memilih yang terbaik dari pilihan – pilihan terburuk itu untuk menghindari kata – kata ‘haram’ bagi anaknya?

Dan sebenarnya siapakah kita, yang berani menunjuk kesalahan orang lain ?  Atau apakah tidak ada kesalahan yang pernah kita perbuat sehingga merasa mempunyai hak untuk memberikan predikat ‘haram’ untuk seorang anak, yang lahir murni tanpa dosa?

Uhm…

Posted in Anak | Leave a comment

Balada Mimi dan Pipi (Ak. Anang – KD)

Mimi dan Pipi yang terkenal itu akhirnya memang memilih untuk berpisah juga 😦

Dan isu perselingkuhan menjadi alasan utama, pipi menceraikan mimi. Duhhhhhh

Jadi …. ya hampir setiap hari dong ditayangkan satu keluarga itu.  Komplit …. mulai dari mimi, pipi, anak, kakaknya mimi, guru spritualnya pipi. Uhm….

Gue mah cuman mikir, ya udahlah. Kalu memang berpisah adalah jalan yang menurut mereka terbaik buat mereka berdua, ya lakukanlah. Mosok kita yang orang luar harus ikut campur menghakimi siapa yang salah dalam hal ini. Mosok, kita yang hanya tau dari depan kaca, harus juga mendengarkan cerita – cerita miring tentang alasan perceraian dari orang – orang terdekat bahkan anak mereka sendiri.

Memaksa mereka berdua tetap melanjutkan pernikahan dengan alasan anak dan lamanya pernikahan (hampir 13 tahun), juga menurut gue hal yang sepatutnya tidak kita lakukan. Buat apa?

Gue bukanlah orang yang menyetujui perceraian dan bukan orang yang juga menentang. Gue cuman orang yang berpikir, kalau suatu ikatan indah yang bernama pernikahan itu adalah hasil kerjasama team yang baik antara dua orang, yang menginginkan kebahagian untuk mereka berdua, bukan kebahagian salah satu, atau malah sebagai simbol prestige pribadi atau keluarga masing – masing.

Terus kalau ada yang bilang ke gue, kalau apa yang dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Gue cuman bilang, kepercayaan gue terhadap Tuhan gue, tidak dibatasi oleh kata – kata didalam salah satu alkitab, yang ditulis oleh manusia. Menurut gue, justru Tuhan itu luar biasa.

Gue cuman mikir,  kalau gue tidak bisa membahagiakan diri gue, bagaimana gue bisa membahagiakan orang lain. Kalau gue tidak mencintai diri gue, bagaimana gue mencitai orang lain.

Jadi bohong banget deh kalau ada orang yang ngomong ke gue, pokoknya tidak mau cerai karena dia ingin membahagiakan anak – anak, atau mau membuat orang tuanya senang dengan status pernikahannnya. Pokoknya demi tidak berpisah, dia rela deh menderita.

Gue kira sih …. ini cuman kata – kata pengalihan alasan, takut untu mengambil resiko. Sehingga memakai kata – kata rela berkorban. Wong, kita enggak mungkin memberikan sesuatu yang tidak kita punya. Tidak mungkin memberikan kebahagian kepada orang lain kalau kita tidak bahagia.  Tidak mungkin memberikan cinta kalau kita sendiri tidak punya. Jadi? Ya mustinya berani jujur dong kepada diri sendiri.

Trus, kita sebagai pihak luar,  apa yang harus kita lakukan? Ya sudahlah, terimalah keputusan mereka untuk berpisah, karena kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Enggak usah selalu diulang – ulang cerita perpisahan mereka terus, dengan mengejar – mengejar pembantu, tetangga, supir, tukang parkir mereka untuk sekedar mendapatkan berita alasan perceraian mereka, dan siapa WIL ataupun PIL itu.

Kalau memang perpisahan itu jalan yang terbaik, yang bisa membuat mereka berdua bahagia dan kemudian menghasilkan bahagia yang lebih besar lagi yang bisa dibagikan kepada anak – anak, orang tua, saudara – saudara, teman etc (orang – orang terdekat mereka), biarkanlah .

Jangan di cela, jangan di ungkit – ungkit, jangan ke duanya diadu. Biarkanlah.

Toh ….. intinya, ketika menikah, tidak ada orang yang mengingikan perceraian. Tapi ketika perceraian itu tidak bisa dihindari karena merengut bahagia dan cinta yang ada, gue kira, itu memang solusi yang tepat. Uhmmm…..

Posted in Perpisahan | Leave a comment