Benarkah kita sudah Merdeka?

Satu hari sebelum hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini, ada dua peristiwa yang saya alami, yang membuat saya bertanya – tanya kembali tentang arti kemerdekaan. Sudahkan kita sebenarnya sudah merdeka sebagai seorang manusia? Atau sebenarnya, kita ini masih terjajah? IMG_1139

Peristiwa pertama, seorang teman sekolah saya mengirimkan semacam poster tentang saran mempunyai dua istri agar Indonesia terbebas dari janda.  Dan itu dikirim dengan maksud untuk bahan bercandaan group. Dan buat saya, joke yang ini sama sekali tidak lucu.

Kenapa masalahnya dengan janda atau duda? Apa salah nya punya status seperti itu? Apa ada yang menikah untuk berpisah? Apa kah ada yang mau rumah tangga nya gagal? Apakah ada orang mau dengan suka rela mempunyai status tersebut? Apa hak orang – orang men judge status itu?

Dilecehkan, diketawakan, dianggap tidak baik, tidak diterima masyarakat, itu yang sering membuat banyak orang – orang (dalam hal ini  (menurut saya) terutama perempuan), yang kemudian merasa lebih baik tidak berpisah, dan kemudian memilih lebih baik berpura – pura segalanya baik, keluarganya baik – baik. Atau kemudian kalaupun harus berpisah, akan berusaha sekuat mungkin agar tidak ada orang yang tau. Karena berpura- pura ternyata lebih baik dari pada orang tau yang sebenarnya, lebih baik agar dapat diterima di masyarakat.

Kejadian kedua adalah, seorang teman saya mengirimkan link ke medsos, dimana isinya tentang seseorang yang saya kenal, yang demi menjaga image dan kepopulerannya, kemudian rela berbohong tentang dirinya di depan publik. Padahal, banyak sekali aktor atau aktris yang terbukti tetap laku walaupun banyak orang yang mengetahui  tentang jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka tetap tidak mau menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi, mereka tetap memilih diam agar tetap dalam kemerdekaan nya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Bukan bersibuk sibuk membuka cerita tentang dirinya, tentang hal-hal yang bersifat pribadi, dan kemudian terjebak untuk membohongi publik, agar bisa diterima.

Dari kedua kejadian itu, saya berpikir banyak tentang kemerdekaan. Merdeka kah kita kalau kita masih takut untuk mengatakan tentang status kita, masih takut untuk mengatakan apa yang sebenarnya tentang jati diri kita?

Kemudian saya berpikir tentang kejadian ketika masa-masa dimana kalau membela salah seorang pejabat yang saat ini sedang menjalani hukuman, banyak teman – teman saya yang ketakutan kalau ketauan membela penjabat tersebut atau pro terhadap pejabat tersebut. Bahkan untuk mengatakan pendapat mereka tentang kejadian tersebut saja tidak berani. Alasan nya? Karena ketakutan untuk disingkirkan dari masyarakat. Ketakutan dianggap “kafir”. Ketakutan dianggap sebagai “manusia berdosa”

Atau kejadian ketika ada kejadian di suatu tempat, ketika banyak sekali orang – orang yang takut untuk menyatakan yang benar, bahkan banyak yang diam diam menyatakan dukungan kepada saya, karena takut kalau ketauan mendukung saya, mereka akan terbuang dari “kelompok elite”. Ketakutan karena yang saya lawan adalah “orang – orang kuat”, yang mengaku membela hak setiap orang, mengaku membenci penindasan, tapi yang dilakukan ternyata berbeda.

Jadi kemudian, apa sebenarnya makna “kemerdekaan”?

Menjadi orang lain agar bisa diterima lingkungan? Berbohong tentang status agar tidak menjadi bahan tertawaan? Tidak berani berpendapat yang berbeda agar tidak disingkirkan oleh masyarakat sekeliling? Tidak berani menjadi kaum minoritas, karena ketakutan untuk disingkirkan dari kelompok tertentu?

Uhm ….  kalau begitu mungkin benar kata salah satu pahlawan “perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan menjadi makin sulit saat ini, karena yang harus dilawan adalah bangsa sendiri.

Saya sendiri, saat ini sebisa mungkin untuk tidak mau terjajah, untuk tetap merdeka dalam menyatakan apa yang saya pikirkan, apa pendapat saya, bagaimana cara saya melihat dan memandang sesuatu. Walaupun mungkin harga yang saya bayar akan sangat besar, termasuk ditinggalkan oleh orang – orang yang saya anggap sahabat ataupun teman saya bahkan orang – orang yang saya anggap saudara saya sendiri. Saya cukup menghargai kebebasan mereka untuk tidak setuju dan memilih jalan yang mereka anggap benar, seperti saya menghargai diri saya sebagai mahluk Tuhan yang hidup di negara yang sudah menyatakan kemerdekaanya sejak 72 tahun yang lalu.

Salam kemerdekaan !!!

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Tentang Integritas – Sebuah catatan diri

Sudah lama banget, saya tidak menulis di blog, walaupun setiap hari banyak banget yang ingin saya ceritakan, terutama selama perjalanan pergi dan pulang dari kantor saya yang cukup menyita waktu saya. Dan lagi lagi ketika sampai kantor atau sampai rumah, keinginan untuk membuka blog dan mengetikkan sesuatu di sana, seperti hilang tanpa bekas haahaaaahahaahaha

Kali ini saya ingin bercerita tentang integritas. Kata kata yang sempat jadi tren di kampus saya,  uhm tepatnya di kalangan alumni kampus saya setahun lalu, sehingga kemudian dikepala saya, kata “Integritas” ini,  juga menjadi sesuatu yang menjadi pertanyaan. Bukan pertanyaan mengenai apakah seseorang berintegritas atau tidak sih, atau sesuatu kejadian berintegritas atau tidak, tapi pertanyaan apakah sebenarnya arti “integritas” itu. Kaliamat mudahnya, apa sih yang disebut berintegritas. Dan seperti biasa, kemalesan saya, menghalangi saya untuk bertanya pada Mr. Google, dan harga diri saya menghalangi saya untuk bertanya kepada orang lain, maklum takut banget saya dianggap bodoh. Haaahahahahahhaa

Tapi Tuhan memang sayang banget sama saya, sehingga sebelum kebodohan saya mulai membunuh saya, akhirnya saya menemukan petunjuk, tentang apa yang dimaksud dengan “integritas” tersebut. Penjelasan mudahnya begini:”seseorang dikatakan berintegritas ketika kepercayaan nya/pandangannya/ believe nya terhadap sesuatu , sama dengan perilakunya sehari hari.”

Contohnya kalau seseorang yang berpandangan bahwa dia setuju bahwa seseorang harus berkata jujur, tapi kemudian dia sering banget berbohong, maka orang itu disebut tidak berintegritas.

Pada waktu contoh tersebut dikatakan oleh orang yang memberikan saya penjelasan, saya mulai mencari cari hal hal lain, yang saya percayai tapi tidak sesuai dengan tingkah laku saya. Hahaahahahaaa Terkejut sekali saya, ternyata ada beberapa yang memang tidak sesuai. Dan kemudian saya mulai berpikir, kalau begitu …. apa hak saya untuk mengatakan politikus A tidak berintegritas atau teman saya si B – tidak punya integritas.

Saya ternyata masih terjebak dalam permainan “semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”. Lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada melihat kesalahan saya sendiri. Bahkan dengan angkuhnya memberikan “label – label” yang berkonotasi tidak baik kepada orang-orang tersebut. Bahkan apabila, akibat perbuatan  seseorang yang tidak berintegritas tersebut, menimbulkan dampak yang tidak baik kepada saya, dan kemudian orang tersebut meminta maaf kepada saya, saya tidak mau menerimanya, bahkan kemudian tidak jarang saya malah mengingat – ngingat kejadian tersebut dan mengungkit – ungkitnya di depan orang tersebut dan/atau didepan orang lain.

Seperti kata – kata orang bijak, “setiap masalah, pasti ada hikmahnya, pasti ada pembelajarannya”, atau kalau di kantor saya sering sekali disebut “leason learn” nya. Sehingga setiap ada seseorang yang perilakunya tidak berintegritas menurut pendapat umum, dan kemudian dikutuk oleh seluruh dunia karenanya (haaahahhaha … yup I am still kind of “lebay” woman hahhahahhhaa), itu adalah tanda yang diberikan alam, agar saya mulai mengkoreksi diri saya saya. Mulai mengevaluasi apa yang saya lakukan, apakah ada perbuatan saya yang juga tidak berintegritas, sehingga saya bisa menjadi mahluk Tuhan yang lebih baik (selain menjadi mahluk Tuhan yang paling seksi hahahahhahaahaaaaa ).

PS: tindakan tidak berintegritas yang masih banyak saya lakukan adalah: menyesal tapi tidak melakukan apapun untuk merubahnya, malah tidak jarang tindakan saya masih sama sebelum meminta maaf. Atau bilang tidak padahal iya. Seperti mengatakan saya tidak cinta padahal cinta banget hahaahhahhhahaaa. Nah, menyangkal isi hati ini yang memang yang akan saya latih, agar selaras pikiran dan hati saya, sehingga saya bisa termasuk orang – orang yang berintegritas. Ingatkan saya yah, kalau saya melakukan hal ini 🙂

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Ketika inspirasi menjadi meng dan ter di SDN Cigondewah 1, Bandung

SDN Cigondewah 1, Bandung terletak di daerah Bandung Kulon Bandung. Kalau ngetik nama SDN ini di Google, pasti langsung deh keluar hasilnya lengkap dengan map nya 🙂  Jadi nya untuk saya yang “buta” daerah Bandung, dengan bantuan teman saya Ayu yang menjadi navigator saya selama perjalanan (red: jadi pingin mengucapkan terimakasih banget – banget sama om dan tante keyreeeen yang menemukan Google maps 🙂 ) , tidak sulit menemukan SD ini. Kan enggak lucu ya, kalau di hari H, ada dua inspirator yang “tersesat di Bandung”, karena mencari alamat sekolah. Hahaahahaaa

Sesampai di sekolah jam enam pagi (sekali lagi enam pagi), sudah terlihat aktivitas Sekolah dari mulai penjual gorengan depan sekolah, guru-guru, anak – anak sekolah sampai dengan para relawan kelas Inspirasi, termasuk matahari Bandung yang ikut beraktivitas pagi ini.  Dan tentu yang sedikit menghebohkan dan menyebabkan adanya ‘drama’ adalah kehadiran relawan yang datang ‘last minute’ (sebenarnya sih enggak last banget, masih ada 10 menit an sebelum upacara pagi …. tapi ya, drama kan selalu dibutuhkan untuk menghibur jiwa raga …. termasuk jiwa raga para pemberi inspirasi seperti saya. hahaahahahhaaha).

Dan untungnya, kepiawaian Selvy menjadi MC saat upacara pagi, melupakan drama 10 menit sebelumnya. LOL Apalagi kemudian ditambah dengan adanya senam pinguin yang dipimpin kang Hendra dan navigator cantik saya  Ayu,  bersama seluruh relawan yang pagi itu memakai topi pinguin yang asli lucuuuuuuuuu buanget yang dibuat oleh Adit. Jadilah kelas inspirasi hari ini di SDN Cigondewah, dimulai dengan hati yang cerah, secerah matahari yang hari ini sayang banget sama kami para relawan, terbukti  matahari enggak ngambek sembunyi diganti hujan, atau enggak sombong bersinar dengan panas yang gila – gila an (#eeeaaaaa).

Kelas yang saya isi kali ini dimulai dengan kelas 4 A, dimana di kelas ini anak – anak nya cukup aktif sehingga ‘mati gaya’ yang jadi nightmare nya saya setiap kali, dikelas inpirasi, tidak terjadi. Informasi tentang mereka diajak menabung oleh gurunya, membuat saya cukup bahagia. Bahkan ada satu anak yang dengan bangganya menunjukkan buku tabungannya yang sudah mencapai 3 juta rupiah, karena selalu menabung dari kelas satu dan tidak pernah diambil (PS : ayooo ngaku, waktu SD siapa yang rajin menabung?  Kalau saya sih ngaku, dulu menabung itu kalau mau beli buku bacaaan hahhaahhaa)  WOW banget kan. Walaupun saya cukup sedih ketika melihat salah satu langit – langit kelas terbuka lebar, karena tripleks nya sudah lepas, yang semetinya sudah harus secepatnya dibetulkan sebelum ada tripleks lain yang lepas yang menimpa anak anak.

Kelas kedua yang saya isi adalah kelas 5B, sama seperti kelas 4 A sebelumnya, keaktifan dan keingin tahuan anak anak yang tinggi, membuat saya tidak mengalami masalah berbagi tentang pekerjaan saya. Dan yang paling mengejutkan saya adalah ketika ada salah satu anak yang bernama Fauzan yang ketika ditanya apa cita citanya, dengan lantang nya berkata “Mau menjadi Pengusaha,  kemudian mau S2”  Bayangkan kelas 5 SD, sudah memikirkan mau kuliah sampai S2 !!!! Apalagi ketika ditanya mau S2 nya dimana, dia berkata mau S2 di UI di Jakarta. Untuk pertama kalinya selama mengikuti beberapa kelas inspirasi, saya mendengar ada anak yang pingin kuliah S2. Karena biasanya mereka hanya menyebutka ingin menjadi apa, dan kebanyakan bahkan tidak tau, harus sekolah di mana kalau pingin meraih cita – citanya.

Selain itu, mungkin ini tidak akan menjadi surprise besar untuk saya, kalau anak ini tidak bersekolah di SD dimana rata – rata orang tuanya, berpenghasilan minimum dan berada di lingkungan kelas menengah ke bawah. Bahkan ketika ditanyakan apakah pernah ke Jakarta, seperti teman – teman nya yang lain, Fauzan ini juga tidak pernah ke Jakarta. Dan biasanya sering sekali ketika bercita – cita jadi pengusaha, malah banyak anak anak yang berpikir tidak perlu sekolah.Iya kan? Saya sendiri, sewaktu SD tidak pernah berpikir mau S2 hahahahhahhaa.  Dan ketika saya tanyakan relawan yang lain, sama seperti saya mereka juga sewaktu SD tidak pernah memikirkan mau kuliah sampai S2 dan mau kuliah dimana.

Kemudian saya mulai berpikir tentang mimpi – mimpi saya, seberapa berani saya bermimpi tinggi? Terakhir kali saya bermimpi, tinggi dan kemudian saya wujudkan itu tiga tahun lalu. Kemudian? Seringnya sih malah untuk bermimpi saja saya takut. Tapi seperti kata kata bijak, enggak pernah ada yang kebetulan di dunia. Pertemuan saya hari ini, dengan anak kelas 5 SD yang berani bermimpi tinggi dan yakin bisa meraih mimpinya, seolah olah menjadi ‘pecut’ untuk saya, agar saya mulai berani bermimpi tinggi, agar saya tidak lagi membuat batasan – batasan akan kemampuan saya, yang mungkin baru saya gunakan 30 % nya (ini kata senior saya, yang bilang kenapa saya menyia – nyiakan, karunia Tuhan dengan hanya menggunakan 30 % dari kemampuan saya . Waktu itu sih saya cuman berpikir,…. iihh sok tau deh nih orang hahahahahaha. Tapi hari ini Tuhan, memaksa saya untuk melihat saya yang menyia – nyiakan anugerahnya ).

 

Kembali ke kelas Inspirasi, kelas VI dan kelas I menjadi kelas terakhir sekaligus menjadi kelas yang penuh tantangan di kelas inspirasi saya kali ini. Di kelas VI, saya kudu menyesuaikan dengan gaya mereka yang sudah mulai memasuki masa pubertas. Dimana, lagu yang mau mereka nyanyikan hanya lagu cinta. Hahahahaaahaha dan “woooosh … wooooossshh” sebagai bentuk apresiasi yang saya ajarkan dianggap kekanak kanakan oleh mereka. Hahahahaahaha. Atau ada yang anak yang berusaha keras untuk mengajak saya berbicara bahasa Inggris, dan saya tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Mungkin karean wajah saya yang kebule bulean ini, jadi dia merasa wajib berbahasa inggris dengan saya. LOL. Terus terang ketika meninggalkan kelas, saya merasa saya sedikit gagal, jadi inspirator (yup … like I wrote before, I am kind of drama queen hahahahhhahaa).

Dan ketika saya menuju ke ruang perpustakaan untuk istirahat, karena ada jeda lumayan lama, tiba tiba segerombolan anak – anak kelas IV B, datang menghampiri saya dan memberikan pelukan untuk saya, rasa gagal itu tiba tiba hilang lenyap begitu saja. Kebayang kan kan terharunya, ada satu kelas anak anak yang saya sendiri enggak mengerti apa yang saya berikan, sampai mereka tiba -tiba memberikan pelukan seperti itu kepada saya. Yang saya tau, anak – anak tidak akan mau memeluk orang yang tidak mereka sayang, mereka tidak bisa berbohong secanggih itu.

Jadilah saya speechless, terharu, semuanya deh. Merasa disayang banget, merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia, dan pastinya seluruh cape (terutama, karena menyetir sendiri dari Jakarta ke Bandung dan macet pula karena ada kecelakaan), hilang begitu saja.

Selanjutnya setelah beristirahat terutama juga setelah mendapatkan energi dari pelukan anak anak,  saya mulai memasuki kelas I  … nah, tantangan nya di sini adalah, saya kudu nyanyi terus. Walaupun, cukup senang karena banyakan nyanyi dan tertawa  (dan hanya 3% nya menjelaskan siapa dan apa pekerjaan saya. maapkaannnnnnn  yaaaa)  jadilah suara saya dan tenaga saya habis terkuras.  Favorit mereka adalah  metode ice breaker yang menjelaskan gajah dengan menjentikkan jari, dan menjelaskan semut dengan membuat lingkaran yang besar dengan tangan (bisa dilihat di youtube).  Jadilah ketawa yang enggak habis habis nya kalau mereka atau teman nya terbalik balik melakukannya.

Tidak terasa, kelas inspirasi ini selesai hari ini. Seperti upacara pagi tadi, maka penutupan di siang hari yang cerah secerah hati para inspirator yang bisa melewati kelas inspirasinya setelah semaleman deg – deg an takut ‘mati gaya’ di depan anak anak (bayangin yah … presentasi didepan bos atau yang lain ajah enggak sedeg – deg an ini deh haaahhaahhahaa),  juga dilakukan dengan berkumpul berbaris di lapangan, tapi tentu tanpa senam pingui, tapi dengan lagu terimakasih guruku yang hampir dicoret dari list acara hahahahahahahaa.

Setelahnya kami berfoto bersama dan by surprised disuguhkan makan siang dari sekolah (terimakasih bapak dan ibu guru yang sudah menyiapkan makanan ini buat kami), maka kami makan bersama dan mulailah menceritakan apa yang kami alami masing masing di kelas. Jadilah, makan menjadi ajang sedikit curcol tentang yang dialami dikelas.

Buat saya selalu mengagumkan ketika ada sekumpulan orang yang tidak kenal satu sama lain sebelumnya, yang punya kesibukan di tempat kerja nya masing masing, dan enggak pernah menanyakan latar belakang, agama, suku etc, tapi kemudian mau bergotong royong, mulai dari meeting bareng, membuat koreografer,  memilih jenis senam, run down etc, karena menginginkan supaya pada hari H dapat memberikan yang terbaik untuk anak – anak. Ini wujud Indonesia yang sebenarnya. Wujud aslinya budaya Bhineka Tunggal Ika.

Enggak salah kan kemudian saya mengucapkan terima kasih kepada teh El yang jadi pendampingnya Kel 42 (enggak nyesel kan jadi pendamping kelompok yang keyren ini? #teteup narsis), Kang Ganjar yang jadi leader kel 42 yang selalu pingin diangkat jadi ponakan saya hahahhaahahah, tim jkt 42 (Selvy, Ayu, Wita, Nisa dan Dita (yang diadopsi jadi tim Jkt 42 walaupun enggak tinggal di jkt), kang Hendra, kang Zaka (yang kemudian ngasih kita masing masing ilustrasi wajah yang cute banget), Dilla dan Aji (pasangan suami istri, yang buat kita semua takjub karena bisa gitu suami istri jadi inspirator di sekolah yang sama – jodoh memang luar biasa yaaaa), teh Jinie, Dito, kang Nur, Hendra Dwi, Nisrina, dan Ukky. You rock guys.

So … yang belum pernah ikut kelas Inspirasi, yuuuuk ikutan. Dijamin bikin ketagihan, bakal punya banyak saudara – saudara baru, bakal punya  pengalaman yang tidak terlupakan.

 

 

 

 

Posted in #KIBdg5, Anak, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak – anak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan – pertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu – lucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak – anak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)

Posted in #KIBdg5, Anak, bangsa, Indonesia, Indonesia ku, inspirasi, inspirator, Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment