Sempurna di dalam Ketidaksempurnaan

Ketika mengetik ini, saya sedang sendirian di kantor, menunggu kursi pesanan saya untuk kantor yg baru, sambil menggogle mencari data untuk bahan meeting hari Rabu nanti. Bukan berarti saya rajin banget, sampai kudu masuk ketika semua teman kantor saya libur, tapi karena memang ada kewajiban – kewajiban saya yang kudu saya jalanin sehingga saya berhak mendapatkan hak saya sebagai pegawai di akhir bulan nanti. Hahahahahaahaa.

Saya tiba tiba teringat tentang salah seorang artis yang sudah meninggal dunia karena penyakit kanker. Isu nya sebenarnya kankernya bisa terobati, kalau saja beliau mau rahimnya diangkat. Tetapi beliau menolak, karena merasa apabila rahimnya di angkat maka beliau tidak akan bisa menjadi wanita sempurna yang bisa melahirkan anak dari rahimnya sendiri. Apakah isu itu benar? Entahlah, yang saya ingin bicarakan tentang apakah perempuan yang tidak bisa melahirkan anak atau mandul itu bukanlah perempuan yang sempurna?

Di umur saya yang sekarang ini, saya belum mempunyai rejeki untuk mempunyai anak yang lahir dari rahim saya sendiri. Dan, tentulah, kadang – kadang terbesit dipikiran saya, mengapa saya belum bisa seperti perempuan – perempuan yang lain, menikah, punya anak, dan kemudian dipanggil sebutan indah “ibu” oleh anak yang dilahirkannya.

Tidak jarang juga saya merasa iri dengan teman – teman saya atau saudara saudara saya yang sedang menikmati masa kehamilan mereka, atau menikmati masa – masa membesarkan bayi mereka atau bahkan tentang bagaimana mereka harus berjuang menurunkan badan setelah melahirkan maupun menyusui.

Tidak terkira jugaΒ  banyaknya malam yang saya habiskan untuk berperang melawan kerinduan saya menjadi seorang ibu. Sering terbesit agar saya mengangkat seorang anak untuk mengobatinya, tetapi kemudian terpikirkan kembali, apakah saya tidak egois, mengangkat anak hanya karena untuk memenuhi ego saya, bukan karena alasan cinta.

Saya bukanlah satu satunya perempuan yang mengalami masalah ini. Banyak banget perempuan – perempuan di luar sana, yang mengalami masalah seperti saya. Seperti contohnya almarhumah artis yang saya ceritakan sebelumnya.

Lingkungan sekitar yang sering kali karena perhatian yang besar kepada perempuan – perempuan seperti saya, membuat perasaan tidak sempurna sebagai perempuan semakin menguat. Apalagi kalau kemudian ditambah pertanyaan tentang apakah saya memang tidak mau menjadi ibu, apakah saya sibuk memikirkan kerja sehingga tidak mau menjadi ibu. Plus peringatan – peringatan tentang usia ideal untuk melahirkan maupun bahaya – bahaya kalau melahirkan melewati umur tersebut dan kemungkinan terbesar untuk tidak bisa mempunyai anak dari rahim setelah melewati umur umur tertentu.

Pembicaraan – pembicaraan seperti ini sering kali kemudian mempengaruhi saya ketika saya memulai hubungan dengan seorang pria. Apalagi kalau pria tersebut pingin sekali menikah dan pingin sekali punya anak. Begitu ketakutannya saya, sehingga tidak jarang yang saya lakukan kemudian adalah menjauhinya bukan menjelaskan apa yang saya rasakan. Ketakutan untuk ditolak karena alasan ini, membuat saya seringnya mengambil langkah untuk lebih baik menghindar dari pada nanti nya saya merasa harga diri saya yang sering kali ketinggian melewati pohon kelapa. Hahahahahhaaha. Ketakutan saya terhadap yang belum terjadi memang sering sekali membunuh saya. (yup … . lebay banget ya. Hahahahaa).

Menjelang pergantian tahun baru kemarin, seolah olah diingatkan sama Tuhan Sang Maha Kuasa, saya membaca buku yang isinya tentang kesempurnaan tersebut. Intinya, bagaimana mungkin Tuhan menciptakan seseorang tidak sempurna, karena Dia akan selalu memberikan satu kelebihan untuk menutupi kekurangan, contohnya orang 0rang yang tidak bisa melihat, biasanya mempunyai kekuatan untuk melihat sesuatu melalui mata batin nya, kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang orang yang bisa melihat. Masalahnya, kadang – kadang saya tidak mampu untuk melihat kelebihan yang diberikan Nya, karena ditutupi oleh kesedihan saya yang berlebihan terhadap kekurangan yang saya miliki.

Jadi intinya, dimataNya saya tetaplah sempurna(didalam ketidaksempurnaan yang saya bandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain), karena pasti ada kelebihan yang diberikan Nya. Selain itu juga siapa yang bisa bilang “tidak” kalau suatu saat, Tuhan malah memberikan saya kesempatan yang sama seperti perempuan – perempuan lain. Kun Fayakun.

Jadi, untuk seluruh perempuan – perempuan yang mempunyai masalah seperti saya, yuuk sama sama untuk selalu berpikiran positif, saling mengingatkan satu sama lain kalau sedang merasa down karena masalah ini. Untuk selalu ingat kalau Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang tidak sempurna.

Wish you all the best in 2018.

Salam sayang

About kharinadhewayani

I am just an ordinary woman who wants to share her mind and her dreams to the world.
This entry was posted in empowering women, menghargai, penguatan perempuan, perempuan, sempurna, tidak sempurna, Tuhan, Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s