Karena selingkuh butuh persetujuan 2 pihak (tentang Pebinor dan Pelakor)

Saya tau mungkin ketika menuliskan ini, akan banyak orang yang kontra. Tapi ya akan saya terima lah, toh saya bermaksud baik ketika mengetik ini, walaupun saya kudu berpikir berpuluh kali ketika benar2x menuliskan ini di blog saya.

Setiap kali mendengar tentang “Pebinor” (Perebut bini (aka istri) orang) atau “Pelakor” (Perebut Laki (aka suami) orang), dan orang – orang yang menghujat orang2x yang dianggap Pebinor dan Pelakor ini, saya merasa miris. Saya tidak mengatakan bahwa yang mereka lakukan benar, atau saya tidak juga bermaksud membela mereka. Tapi menurut saya, salah banget kalau yang dimaki – maki, yang disudutkan hanyalah mereka.  Karena hubungan itu membutuhkan 2 pihak, sekali lagi 2 (dua) pihak.

Kalau cuman satu orang yang melakukan, ya tidak akan lah terjadi. Kalau ada satu pihak yang bilang “tidak”, tidak akan terjadi apapun. Pembelaan bahwa pihak yang satu itu “tidak kuat” karena selalu digoda, menurut saya itu adalah lelucon yang paling tidak lucu. Wong kalau sayang, kalau cinta, mungkinkah akan tergoda orang lain? Kalau bertanggungjawab, berkomitmen atas janji suci kepada Tuhan ketika menikah, mungkinkah akan menghianati pasangan (apapun alasannya)? Jadi kenapa yang disalahkan adalah “pebinor” nya atau “pelakor’nya? Coba tanyakan kembali kepada pasangan tentang cinta dan sayangnya, tentang komitmen nya kepada anda.

Mungkin kemudian, orang – orang yang merasa menjadi korban pebinor atau pelakor ini, merasa saya tidak pernah berada di posisi mereka.  Uhm ….. jawabannya, salah banget. Justru karena saya pernah berada diposisi itu, saya tau banget. Saya pernah menjalani pernikahan selama 4 tahun dan selama 3.5 tahun saya diselingkuhi. Saya tau banget bagaimana rasanya, saya tau banget bagaimana marah, sakit, sedihnya.

Sama seperti saya tau banget bagaimana terkadang justru yang menggoda duluan adalah orang – orang yang sudah mempunyai istri atau mempunyai suami. Dan bukan sebaliknya. Mantan teman hidup empat tahun saya itu adalah salah seorang yang sering banget diposisi ini hahahahahahahaha.

Memang lebih mudah untuk menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dengan kita. Lebih tidak menyakitkan untuk menyalahkan orang lain atas hilangnya cinta dan komitmen pasangan dibanding kalau mendengar hilangnya cinta atau rasa tanggung jawab terhadap komitmen karena kita punya andil di sana. Karena mungkin terlupa untuk “mendengar”, terlupa untuk bahwa rasa cinta itu seperti tanaman yang perlu dipupuk, perlu dirawat, agar tidak mati. Atau mungkin terlupa bahwa terkadang “ego’ kita membuat pasangan lupa akan tanggungjawabnya terhadap komitmen nya. Atau mungkin terlupa ….  kalau memang itu salah satu jalan yang dibuat Tuhan, untuk menyadarkan kita bahwa pasangan kita bukanlah yang terbaik untuk kita.

Buat saya, justru menjadi sangat miris ketika ada perempuan atau laki laki, yang kemudian memaki maki heboh pelakor atau pebinor, di depan publik, apalagi kemudian akhirnya jadi viral. Sementara, pasangan nya justru santai – santai, bahkan tidak sering merasa tidak salah (karena alasan digoda atau yang lebih takjub diguna guna oleh pelakor dan pebinor). Untuk apa membongkar aib keluarga di depan umum? Toh pelakor dan pebinor tidak mempunyai tanggungjawab terhadap hubungan anda, tidak mempunyani kewajiban untuk menjaga hubungan anda. Pasangan andalah yang mempunyai tanggungjawab dan kewajiban itu. Sehingga pasangan andalah yang seharusnya anda kejar untuk itu.

Bicaralah dengan pasangan anda, tanyakan kembali cinta dan rasanya kepada anda, mintalah pertanggungjawaban terhadap komitmen nya dengan anda. Kalau bisa diperbaiki, perbaikilah bersama – sama, mulai dari nol kalau bahasa iklannya. Tidak usah melarangnya bertemu dengan selingkuhannya, karena semestinya sih kalau pasangan benar – benar berkomitmen untuk memperbaiki, benar – benar mencintai anda, pastilah tanpa dilarang tidak akan bertemu dengan selingkuhannya. Kalaupun bertemu, pasti tidak akan berniat untuk selingkuh. Kalau merasa tidak bisa menerimanya,  ya berpisahlah baik baik. Tidak perlu heboh apalagi kemudian anak dibawa- bawa dalam “huru-hara” ini.

Kemudian untuk orang – orang yang berselingkuh padahal sudah terikat pada pernikahan, yukk “cooling down”. Ketika melihat terjadinya “kehebohan” antara pasangan anda dengan selingkuhan anda, apa yang anda pikirkan? Menyesal? Atau malah biasa saja? Bicaralah baik – baik dengan pasangan anda, mengertilah kalau mereka marah – jangan malah kemudian balik marah, toh yang melakukan kesalahaan tersebut itu anda. Coba posisikan diri anda diposisi mereka. Mungkin anda akan melakukan hal yang sama. Jujurlah kepada pasangan anda tentang cinta anda kepadanya, apa yang anda rasakan hilang darinya (mungkin dia tidak tau kalau itu hilang). Ingatlah kembali terhadap komitmen anda ketika menikah. Kalau memang tidak bisa diperbaiki, jujurlah kepadanya, dari pada anda kemudian  berpura – pura, tapi kemudian masih melakukan hal yang sama.

Cinta dan pernikahan itu bukan bahan becandaan. Enggak selayaknya dijadikan lelucon.  Atau kemudian mengatas namakan anak anda, status anda, image anda untuk mempertahankan hubungan yang bernama “pernikahan”. Kalau memang tidak cinta lagi, tidak bisa memegang janji yang terucap dihadapan Tuhan, di depan negara, lepaskanlah. Tapi kalau anda tetap ingin mempertahankan semuanya, keluarga dan selingkuhan, saran saya keep it secret, setidaknya tidak usahlah dipertontonkan didepan publik,  tetap “aware”, jangan lengah. Ingat jaman now ini, mudah sekali orang -orang merekam, menyebarkan segala sesuatu. Kasian kan selingkuhan anda dimaki2x di depan orang dan kemudian namanya tercemar (saya tidak mengingatkan tentang pasangan resmi anda karena spt yang saya sebutkan sebelumnya, kalau anda masih cinta atau sayang kepadanya, plus bertanggungjawab pasti anda tidak akan melakukan ini 🙂  ).

Buat orang – orang yang tercap sebagai “pelakor” or “pebinor” …. buru – buru lah tinggalkan mereka yang tidak membela anda ketika anda terjatuh. Tinggalkanlah orang – orang yang membebankan “tanggjungjawab”nya kepada anda.  Tidak usah marah, tidak perlu juga melakukan pembelaan, toh pasti apapun reaksi anda akan tetap dianggap salah. Keep smiling, say thank you.  Kalau anda masih mau bersama mereka yang sudah berpasangan, seperti saran saya – keep secret, tidak usah diumbar2x, tidak usah pamer atau malah mancing – mancing dengan segala bentuk foto bahkan vidio (bahkan vidio yang diburam – buramkan hahahahahahahhaa) yang di ekspos di medsos, ini kan seolah olah pingin tercyiduuuukkkk, dan yg penting jangan emosi kalau kemudian ada yang menjudge anda. Toh itu pilihan anda.

Jadi intinya …. ketika anda mengetahui pasangan anda berselingkuh – yang perlu anda pertanyakan, marahin, atau apalah adalah pasangan anda. Karena kalau dia bilang tidak mau, tidak akan terjadi perselingkuhan. Karena yang berjanji akan setia kepada anda didepan penghulu atau pendeta atau biarawan atau negara adalah pasangan anda bukan selingkuhannya 🙂

Salam damai – semoga keluarga anda rukun dan bahagia sampai akhir nanti. Aaamiin.

 

About kharinadhewayani

I am just an ordinary woman who wants to share her mind and her dreams to the world.
This entry was posted in Indonesia ku, jodoh, komitmen, penting or tidak penting, orang baik, kejujuran, laki laki, manusia, masyakat, masyarakat, perempuan, Perpisahan, pria, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Karena selingkuh butuh persetujuan 2 pihak (tentang Pebinor dan Pelakor)

  1. kharinadhewayani says:

    Thank you 😘

  2. Bernike eni says:

    Mb Karinn.. Ijin share. Bagus ini!! 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s