Bukan Alay nya – Tapi (Mungkin) Tidak Bermutunya

Kata – kata “Alay” belakangan lagi banyak terbaca di medsos. Tentulah karena salah satu seleberiti Indonesia yang memprotes tayangan – tayangan di televisi, yang menurut beliau sangat “alay”. Dan kemudian banyak mendapat protes dari teman2x selebritinya. Bukan, karena protesnya yang menarik buat saya. Tapi karena, kenapa sebegitu kesalnya mas selebriti  ini  dengan tayangan tayangan televisi ini.

Saya kemudian  penasaran mencari apa sih arti kata “alay” sebenarnya ke “om google” –

“alay” adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia.[1] “Alay” merupakan singkatan dari “anak layangan”.[1] Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan.[2] Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan (lebay) dan selalu berusaha menarik perhatian.[1] Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup.[1] Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, menyingkat secara berlebihan, atau membolak balik huruf sehingga membentuk kosakata baru. Dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan.[1] Di Filipina terdapat fenomena yang mirip, sering disebut sebagai Jejemon.[1   

Terus tahap ke dua, mulailah saya menonton tayangan – tayangan yang disebut “Alay” tersebut. Uhm … seandainya saya mempunyai anak, mungkin saya akan melarang anak saya untuk menonton tayangan – tayangan tersebut.

Masalahnya beberapa tayangan yang saya tonton itu, banyak sekali memperlihatkan kegiatan – kegiatan yang menurut norma yang saya pelajari, tidak pantas dilakukan, tidak sopan. Selain itu juga, kata – kata yang diucapkan oleh pembawa acaranya menurut norma yang ada di lingkungan saya, itu termasuk kata – kata yang kasar, dan tidak selayaknya diucapkan seseorang kepada teman – teman nya. Contohnya mentertawakan bentuk badan atau penampilan seseorang, makan dari kaki seseorang (ini sepertinya sudah pernah jadi viral dan diprotes sana sini), memukul kepala dan lain – lain.

Sehingga saya setuju dengan orang – orang yang menentang mas selebritas. Hal – hal yang dilakukan itu bukan lah “alay atau “kampungan”. Karena saya yakin, tidak ada tuh di kampung – kampung yang mengijinkan anak – anak nya saling memukul atau mentertawakan pembawaan seseorang . Atau berkata – kata kasar dengan orang lain.  Atau dari penjelasan tentang “alay”, tidak ada juga tentang kekerasan atau tentang kekasaran orang orang alay 🙂

Dan selain itu menurut saya, bukan “Alay” nya si pembawa acara atau si pengisi acara, yang menjadi masalah utama, tapi kualitas dari acara tersebut yang menurut standard saya atau mas selebriti tadi tidak mendidik anak – anak Indonesia.  Karena mungkin saja pembawa acaranya “alay”, tapi acara yang dibawakan nya bermutu, bisa menambah pengetahuan orang – orang yang melihatnya.

Menurut saya sebaiknya Komisi Pertelevisian Indonesia (KPI ?) mulai membuat standard yang jelas untuk setiap jenis tayangan di televisi. Sehingga setiap orang yang bekerja ditelevisi mempunyai standard yang sama tentang tayangan apa untuk siapa.  Setiap orang mempunyai standard mutu yang sama.

Saat ini mungkin saja, semua orang yang merasa tersindir oleh mas selebriti, merasa kalau apa yang mereka kerjakan sudah sesuai standard. Sedangkan mas selebriti mungkin merasa, semua orang seharusnya punya standard seperti beliau – sehingga beliau merasa sangat marah melihat ada orang – orang yang membuat tayangan tayangan seperti itu.

Dan kemudian yang paling miris dari permasalahan seperti sekarang, yang semestinya “keprihatinan” tentang kualitas tayangan di televisi Indonesia yang menjadi pembahasan, berubah menjadi pembahasan tentang hal- hal yang lain. Tentang “alay” misalnya. Atau tentang hubungan mas selebriti dengan rekannya. Atau tentang bagaimana angkuhnya sikap mas selebriti ini.

Sehingga, kembali lagi, permasalahan tentang kurang nya tayangan – tayangan berkualitas tidak menjadi pembahasan yang benar – benar serius dibahas 😦

Dan kembali lagi terulang, yang dilihat bukan apa isi kritiknya, tapi siapa yang mengkritik, atau bahwa yang bisa diterima adalah orang orang yang berbicara lemah lembut – walaupun sering kali terjadi, orang yang lemah lembut ini tidak perduli sama sekali, bahkan terkadang menjatuhkan orang lain secara diam diam. Sedangkan orang yang berbicara terbuka apa adanya, ceplas ceplos tidak bisa diterima karena dianggap terlalu kasar, walaupun apa yang dibicarakannya adalah kenyataan yang terjadi 😦

About kharinadhewayani

I am just an ordinary woman who wants to share her mind and her dreams to the world.
This entry was posted in bangsa, berita, Indonesia, Indonesia ku, masyakat, media masa, tv, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s