Kun Fayakun – (Ketika Tuhan punya mau )

Pernah dengar enggak cerita cerita tentang orang yang sakit terus tiba tiba sembuh? Atau malah pernah ketemu langsung orang nya? Terus percaya enggak sih sama cerita cerita  begitu? Saya termasuk orang yang mendengar tapi tidak pernah bertemu langsung.  Dan termasuk orang yang dulunya tidak pernah percaya dengan kejadian kejadian begitu. Malah sering saya anggap cerita boong an saja. Sampai hari Senin kemaren …. tanggal 30 Sept …..

Jadi dari saya kelas 5 SD, saya punya polip di hidung saya, yang menyebabkan ketika saya flu pasti sering hidungnya mampet gitu. Oleh almarhum om saya yang dokter, waktu itu tidak disarankan operasi karena masih terlalu kecil. Tahun ke tahun, itu polip juga tidak pernah dioperasi. Mulai dari karena emang enggak punya uang untuk operasi sampai memang alasan yang sebenarnya karena tidak punya keberanian untuk operasi 😀

Jadilah saya selalu diomelin oleh dokter saya, yang ganteng tapi tidak pernah mau senyum, karena tingkah saya yang selalu menunda nunda operasi. Sampai terakhir itu polip sudah bernanah, saya masih nego ke dokternya. Biasanya selesai treatment Nebu – dikasih obat dan saya merasa enakkan – saya akan menghilang, tidak cek up lagi. Takut dipaksa operasi. Begitu terus. Jadi bisa kebayang kan bagaiman sebelnya tuh dokter dengan saya. Hahahahahahaha

Dan hari Senin, setelah di paksa oleh teman saya yang pernah satu Leadership Training bersama saya, dan kebetulan karena saya lagi dalam keadaan sedang merasa – “apapun bisa saya lakukan” hahahahhahahahahaa (ya … I told you before I am kind of drama queen yang bisa lebay banget dalam kesedihan maupun kebahagiaan), saya mendatangi dokter saya yang ganteng tersebut.

Seperti biasa, wajah galak – tanpa senyum, meriksa seluruh hidung saya – yang lumayan tidak pesek pesek amat – difoto foto dan kemudian beliau terlihat berwajah bingung. Dari foto juga terlihat semuanya bersih – tanpa lendir (bener deh kalau di THT itu ngeliat foto foto dalam nya hidung dan telinga itu bikin mual) – membuat dia terpana (begitu juga saya hahahahhahaa). Pak Dokter untuk pertama kali senyum terus bilang ini sudah bersih semua – polipnya kemana? Mustinya ada di bagian kiri, kita cek lagi ya mbak.

Kemudian di cek lagi, lebih dalam dari sebelumnya, dan hasilnya tetap – semua bersih. Beliau nanya sudah berapa lama enggak flu. Saya bilang minggu lalu masih deh flu, 2 harian gitu. Trus beliau give up dan bilang udah deh kita coba CT Scan saja ya.

Then … CT Scan lah saya …. hasilnya dibaca kemaren malam, hasilnya ….. itu dokter again berkali kali liat foto scan nya dan bilang, ini semua bagus, enggak ada masalah, coba saya baca hasilnya, dan hasilnya juga mengatakan yang sama  … semua bersih. Enggak ada sinus, enggak ada masalah.

Terakhir dokternya hanya bilang, mbak – kalau flu dan sakit – please secepatnya ke sini ya. Saya enggak tau kenapa bisa begini.

Saya sendiri seperti halnya sang dokter, hanya bisa speechless. Langsung telp mama saya, yang juga surprise – karena ya tiga bulan lalu beliau masih melihat bagaimana sakit nya saya karena polip saya itu. Mama berkali kali nanya, apa enggak merasa ada yg keluar gitu dari hidung saya. Saya hanya bilang enggak ada yang aneh. Terakhir beliau hanya bilang, sudah deh – disyukuri saja.

Saya enggak tau mukjizat apa yang terjadi – kenapa bisa terjadi – bagaimana bisa terjadi. Enggak bisa saya jelaskan. Yang saya tau Tuhan sayang banget sama saya, ketika saya pasrah bakal operasi yang saya takutin selama ini, ternyata bisa sembuh begitu saja.

Mungkin ini salah satu pengingat Beliau untuk saya – yang sering mikir iiih imposible – imposible. Sampai adik saya itu waktu saya ultah pesan sebal nya hanya “kak, kalau u mau percaya ajah, yang menurut u impossible bisa possible kok. Asal u percaya, asal u yakin. Kalau enggak yakin, ya susah. Kalau u bilang itu impossible ya pasti impossible lah. Tuhan sayang sama u”.

Tadi malem sebelum tidur saya memikirkan hidup saya, trus mikir — ih ternyata banyak kok miracle miracle yang terajadi di kehidupan saya. Enggak cuman sekali ini. Banyak banget saya mengalami hal hal yang menurut pikiran orang orang juga impossible, tapi itu terjadi di saya. Dan itu terjadi setiap kali saya pasrah, setiap kali saya menyerahkan semuanya di tangan Beliau. Seperti yang akhir akhir ini sering banget saya lakukan. Surrender – iklas.

Mau nya Tuhan memang terkadang aneh, tapi kalau Beliau punya mau ya Kun Fayakun – maka terjadilah.

Tapi pasti selalu ada pembelajaran besar dari apa yang Beliau mau. Kali ini saya dijewer dengan miracle, bukan dijewer dengan musibah. Kali ini Beliau nunjukkin kekuatan Nya yang sering saya ragukan. Karena ya itu lah saya – sering sekali enggak berani bermimpi karena merasa impian saya impossible. Padahal enggak ada yg impossible menurut beliau, yang ada hanyalah apakah yang kita minta itu memang yang terbaik atau tidak untuk kita. Apakah kelakuan kita, sudah cukup pantas untuk menerima apa yang kita minta? Apakah kita sudah menyediakan “ladang” untuk menerima apa yang kita pinta?

Saya enggak tau apa yang akan terjadi di next hidup saya, saya hanya tau saya melakukan yang terbaik dengan apa saya punya, hasilnya saya, saya pasrahkan ke Beliau. Apapun itu. Karena saya tau Beliau sayang banget sama saya.

Jadi ingat kata kata ini  “ketuklah maka akan dibuka, mintalah maka akan diberi” dan “jadilah kehendakMu dan bukan kehendakku”

Salam.

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , | 2 Comments

Karena orang lain tidak bisa membaca pikiran saya.

kharinadhewayani's avatarSimple mind

Kemaren saya kembali menyadari satu hal – saya sering kali merasa orang lain bisa membaca pikiran saya, misalnya – saya biarkan mereka tidak menepati janjinya – terus bukannya saya mengingatkan tentang janji yang mereka ucapkan dan mengingatkan mereka agar tidak melakukan itu lagi dan memberitahu mereka apa yang saya rasakan ketika mereka mengingkari janji, saya malah membiarkan hal itu terjadi berulang ulang, akibatnya saya kemudian marah marah sendiri, emosi sendiri, bad mood sendiri.

Padahal kan kalau itu saya ucapkan tentu mereka bisa mengerti apa yang mengganjal di hati saya. Dan ada kemungkinan mereka juga tidak akan mengulang hal yang sama. Atau kalau lah mereka tidak berubah setelah saya bicarakan apa yang saya rasakan, setidaknya saya tidak lagi marah kepada diri saya sendiri, karena membiarkan hal hal itu terjadi kepada saya.

Atau ketika saya mengharapkan seseorang mengajak saya makan bersama di ulang tahun saya, bukannya saya mengatakan keinginan saya, saya malah…

View original post 476 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Karena orang lain tidak bisa membaca pikiran saya.

Kemaren saya kembali menyadari satu hal – saya sering kali merasa orang lain bisa membaca pikiran saya, misalnya – saya biarkan mereka tidak menepati janjinya – terus bukannya saya mengingatkan tentang janji yang mereka ucapkan dan mengingatkan mereka agar tidak melakukan itu lagi dan memberitahu mereka apa yang saya rasakan ketika mereka mengingkari janji, saya malah membiarkan hal itu terjadi berulang ulang, akibatnya saya kemudian marah marah sendiri, emosi sendiri, bad mood sendiri.

Padahal kan kalau itu saya ucapkan tentu mereka bisa mengerti apa yang mengganjal di hati saya. Dan ada kemungkinan mereka juga tidak akan mengulang hal yang sama. Atau kalau lah mereka tidak berubah setelah saya bicarakan apa yang saya rasakan, setidaknya saya tidak lagi marah kepada diri saya sendiri, karena membiarkan hal hal itu terjadi kepada saya.

Atau ketika saya mengharapkan seseorang mengajak saya makan bersama di ulang tahun saya, bukannya saya mengatakan keinginan saya, saya malah mengharapkan orang tersebut bisa membaca pikiran saya (saya lupa kalau tidak semua orang terlahir jadi Deddy Cobuzier yang bisa membaca pikiran orang lain). Akibatnya orang tersebut tidak tau apa yang saya mau, dan saya marah marah sendiri kepada diri saya, merasa menjadi orang termalang di dunia (yup saya lebay hahahahahahhaa). Padahal mungkin kalau lah itu saya ungkap kan apa yang saya inginkan, mungkin akan berubah,  yah setidaknya kalau karena kesibukkannya beliau tidak bisa, saya bisa mencari alternatif orang lain untuk saya ajak menikmati makan malam bersama saya.

Dan parahnya itu, sampai tiga atau empat hari lalu saya masih merasa jengkel dengan kejadian itu, sebel kepada orang tersebut, sebel sama diri saya. Jadi mellow enggak jelas (iya … sekali lagi saya emang lebay … drama queen kelas berat).  Padahal ya kalau saya tidak menjelaskan bagaimana dia tau, wong ketika pulang saya terlihat sok fine – sok baik baik saja begitu hahahahahhahahaahaha. Dan kalau saya mau mencoba mengambil positif nya , mungkin dia juga enggak merasa sadar itu sangat berarti buat saya.

Bukan itu saja, banyak lagi kejadian kejadian kejadian di hidup saya, dimana saya memaksa orang lain untuk bisa membaca pikiran saya, misalnya ketika saya sakit, sedih, kecewa, bahagia, kangen, dll. Dan kemudian menjadi marah yang dipendam bertahun tahun , yang diingat ingat setiap saat kalau kejadian nya berulang – mereka tidak bisa membaca apa yang saya mau.

Terus kemudian saya mulai men judge orang orangtersebut sebagai orang yang tidak mengerti tentang saya, tidak perduli kepada saya, tidak mau tau, tidak sayang saya, egois dan lain lain.

Padahal akar masalahnya ya saya sendiri. Saya tidak memberitahu apa yang ada di pikiran saya, saya tidak menjelaskan apa yang saya rasakan, saya tidak berani menerima resiko, merasa takut kalau orang lain akan marah atau meninggalkan atau menolak saya kalau saya mengatakan sejujurnya apa yang saya pikirkan, apa yang saya mau.

Padahal mengapa musti takut kalau ditolak, atau dimarahin atau ditinggalkan? Toh itu bukan berarti saya yang salah, saya yang jelek, saya yang tidak bagus. Mungkin memang mereka kondisinya tidak bisa, mereka sedang sibuk, mereka sedang tertimpa masalah, dikejar deadline atau mereka sedang tidak mood untuk melakukan itu.

Dengan mengatakan apa yang saya pikirkan dan rasakan, bukannya dunia jadi terasa lebih damai karena orang – orang mengerti jalan pikiran saya, dan saya bisa mengerti alasan mengapa mereka memilih jalan yang tidak sama dengan apa yang saya inginkan.

Saya juga tidak lagi berasumsi, kemudian marah mrah, atau bersedih sedih ria, mellow enggak juntrungan, bad mood, dll.Saya bisa mencari alternatif alternatif lain yang bisa saya lakukan untuk memenuhi keinginan saya, yang jelas saya tidak lagi terbeban dengan asumsi negatif saya dan jugdment terhadap orang orang tersebut.

So … kalau ada yang seperti saya, yuukk kita mulai memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, daripada memaksa orang lain untuk bisa membaca dan mengerti hati dan perasaan kita.

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 2 Comments

Berdoa tapi tidak percaya, sembahyang tapi tetap meragukan

Se umur saya yang sebegini ini, sudah tidak terhitung berapa banyaknya saya seperti di atas. Berdoa tapi tidak percaya, sembahyang tapi tetap meragukan. Saya seperti merasa Tuhan “mengkhianati” saya, seperti merasa Tuhan tidak sayang dan tidak perduli. Dan anehnya saya walaupun begitu, tetap masih berdoa, tetap masih sembahyang.  Kalau dipikir pikir tidak tau dimana logika saya sebenarnya waktu itu.

Setelah berdoa atau sembahyang, saya masih mengeluh merasa orang paling susah sedunia. Masih merasa tidak akan ada yang menolong, masih tidak percaya akan ditolong.

Dan anehnya fenomena yang sama juga dilakukan oleh banyak teman teman saya – berdoa tapi tidak percaya, sembahyang tapi tetap meragukan. Malah yang kemudian lebih hebat lagi – mencari cari “orang pintar”,  meminta untuk dibantu.  Yakin bahwa si “orang pintar” ini akan bisa menolong. Mereka rela mengeluarkan uang sebanyak banyaknya untuk memecahkan masalah mereaka secara gaib.  Anehnya malah  justru, hidupnya malah menjadi lebih adem dan ayem setelah bertemu si dukun di banding setelah berdoa atau sembahyang 😀 Padahal mereka berpendidikan tinggi dan beberapa di setiap pembicaraan nya menyebutkan nama Tuhan 😀

Sampai suatu kali saya kemudian iseng iseng mencoba memposisikan diri sebagai Tuhan (atau tepatnya mendudukkan Tuhan di posisi manusia. Dan saya kemudian menyadari, saya tentulah akan marah sekali ketika ada orang yang meminta kepada saya, tapi masih mengeluh dan tidak percaya. Meminta kepada saya , tapi setelahnya kemudian malah mencari cari manusia lain (mahluk yang saya ciptakan dan  kekuatannya jaaaaaauuuuuuhhhhh di bawah saya), dan merasa lebih lega setelah bertemu mereka daripada setelah bertemu saya 😦 Kalau saya jadi Tuhan, ngapain juga orang seperti itu saya bantu. Ngapain juga saya mendengarkan apa yang diminta. Ngapain juga saya perduli. Dalam hal ini tentulah saya pasti akan merasa dikhianati.

Kemudian saya mulai berpikir, sebagai manusia, sudah berapa sering ini saya lakukan?  Berapa sering saya meremehkan Tuhan, dan malah menipu Nya dengan berpura pura berdoa atau sembahyang tapi jauh dari lubuk hati sebenarnya saya hanya sekedar menjalankan kewajiban. Saya membohongi diri saya dan membohongi Tuhan saya. Wajarlah kemuudian kalau banyak permintaan saya tidak di kabulkan Nya, karena Dia menginginkan saya untuk datang pada Nya karena iman saya. Saya datang pada Nya karena cinta saya dan karena saya percaya.

Tentu saja, bukan berarti bahwa setelah berdoa atau sembahyang saya kudu diem, enggak melakukan apa apa. Saya tetap harus melakukan sesuatu atau menerima dan memberikan pertolongan kalau ada support yang saya butuhkan atau ada support yang bisa saya berikan. Tapi melakukannya dalam keadaan yang saya yakin apapun hasilnya Tuhan akan ada bersama saya dan meyakini itu yang terbaik untuk saya. Toh sebagai pencipta – Beliau lebih tahu apa yang terbaik buat saya. Apa yang paling indah buat saya.  Bukan malah kalau hasilnya bagus, saya percaya Tuhan, kalau hasilnya jelek, saya marah marah – mengeluh dan mencari “tuhan tuhan baru”.

Saran saya sebaiknya ya berlaku adil lah – kalau percaya Tuhan ya percaya seutuhnya – yakin setelah meminta dan kemudian dengan berdoa dan sembahyang pasti Dia – Sang Maha Kuasa, akan mengabulkan. Kepada Nya kita 100 % menyerahkan diri apapun itu hasilnya. Karena Dia paling tahu apa yang terbaik.

Atau kalau tidak percaya – ya sudah berhentilah untuk berdoa dan bersembahyang – carilah mana yang dipercayai.  Jangan ikut trend, jangan sekedar karena kewajiban, jangan karena di suruh, jangan karena hanya sekedar takut neraka.

Karena seperti juga orang hamil – tidak ada setengah hamil,  Kepercayaan juga begitu, kamu percaya atau tidak percaya. Enggak ada yang namanya setengah percaya.

Berdoa atau sembahyang itu bukan hanya sekedar kewajiban – tapi perlu keimanan di sana, perlu keyakinan. Kalau kita aja enggak yakin Tuhan akan mengabulkan doa, bisa menolong, ya bagaimana Beliau sang Maha Hebat bisa membantu?

Dan saya yakin  Tuhan juga tidak pernah memaksa agar kita mempublikasikan kepada seluruh masyarakat umum bahwa kita adalah manusia yang taat atau manusia yang beriman. Jadi untuk apa membohongi Tuhan, membohongi diri sendiri? Atau karena takut masuk neraka – tapi pikirkan sekali lagi (kalau memang melakukan sesuatu karena memerlukan imbalan berupa pahala – biar masuk surga :D)  apakah dengan berdoa atau sembahyang tanpa iman, tanpa kepercayaan akan tetap dihitung oleh Tuhan ? Apakah sebegitu naifnya Tuhan? Beliau maha Tahu, Beliau tidak pernah tidur.  Beliau tidak perlu basa basi, beliau hanya perlu cinta dan keyakinan kita sepenuh hati. Hanya itu saja. Tuhan tidak rumit tapi kita manusia ini yang sering membuatnya menjadi rumit.

Karena doa membutuhkan iman dan iman membutuhkan kepercayaan.

Salam

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment