Rejeki, Jodoh dan Umur

Menjelang subuh, saya menerima bbm dari salah seorang teman saya yang memberitahukan tentang kematian Uje – salah seorang ustad muda yang terkenal. Saya  tiba – tiba teringat dengan pembicaraan saya dengan bapak tukang ojek yang saya tumpangi sewaktu pulang kerja,si bapak menceritakan tentang musibah tabrakan yang merenggut nyawa seorang pengendara motor yang masih mahasiswa. Si mahasiswa tersebut menggunakan head set – mendengarkan musik sewaktu mengendarai motornya sehingga tidak mendengar ketika orang – orang berteriak ada kereta api yang akan lewat.

Bapak tukang ojek ini kemudian berkata, ya sebenarnya memang umur si anak saja yang memang pendek, enggak tabrakkan juga, si anak pasti akan meninggal juga, tapi kalau memang belum waktunya untuk meninggal – mau tabrakkan dengan apapun, pasti tidak akan terjadi apa – apa.

Kemudian si bapak tukang ojek melanjutkan dengan mengatakan kalau yang namanya rejeki,  jodoh dan umur memang itu benar – benar rahasia Tuhan. Susah banget menebak, susah untuk bisa tau apa yang akan terjadi. Contoh nya rejeki, kalau semua tau berapa rejekinya, kapan dapatnya, mana ada orang yang mau berusaha, pasti pada duduk – duduk santai saja. Sama juga kalau semua orang tau siapa jodohnya, pasti pada males untuk berusaha dan pada enggak pernah merasa apa namanya putus, dan sedih. Jadinya nanti malah enggak menghargai rejeki dan jodohnya.

Sama dengan umur, kalau semua tau berapa umurnya, pasti kalau hampir menjelang hari H – pada enggak semangat hidup atau pada sibuk berdoa, sembahyang, jadi lupa untuk bergaul dengan sesamanya.

Tadi pagi sewaktu saya membuka email dan membaca salah satu blog dari adik kelas saya tentang pertanyaan nya kepada Tuhan, kembali saya memikirkan tentang rejeki, jodoh dan umur yang sepenuhnya ada di tangan Tuhan. Tidak tau apa yang akan terjadi satu menit kemudian, bahkan rencana yang 99 % hampir terwujud, kalau belum lah menjadi rejeki, bisa tidak terjadi.  Sama seperti dengan orang yang mencoba bunuh diri – kalau memang belum waktunya – ya, tetap aja akan hidup – walaupun racun yang dipakai adalah racun yang paling dahsyat, atau terjun dari ketinggian 20 meter. Atau tentang jodoh – selama apapun masa pacaran, atau selama apa pun pernikahan, kalau memang bukan jodohnya, pasti akan berpisah juga, – sejauh apapun jarak keduanya, sebanyak apapun beda keduanya, – kalau memang jodoh, ya pasti jadi juga, bagaimanapun caranya.

Tapi ya itu, kita (tepatnya saya) sering lupa hal ini.  Masih sering ada di hari – hari saya – ketika saya terlalu yakin akan rencana saya sehingga lupa untuk meminta ijin Nya, atau dihari – hari saya ketika saya mengomel karena harus mensupport keluarga saya (padahal kan mungkin saja rejeki mereka itu lewat saya,  yang saya peroleh bukan seluruhnya rejeki saya :D), atau masih sering saya memandang iri kepada teman – teman saya yang sudah mempunyai keluarga kecil nya sendiri, sementara saya di umur saya yang sebegini banyak – masih lah harus sendiri, atau masih sering saya merasa ketakutan,  bakal kehilangan rejeki, atau tidak bertemu jodoh saya sampai nanti saya tua 😀

Yang paling dahsyat sih … saya sering mengatakan kalau saya tidak ingin berumur panjang, saya tidak mau melewati masa menjadi nenek2x 😀 Padahal ya … kalau  Tuhan memberikan saya sejumlah umur, sejumlah masalah, pastinya karena Beliau merasa itu lah yang terbaik bagi saya, pastilah Beliau sudah membukakan jalan untuk saya mengatasi masalah saya dan memang sayalah yang sering membutakan mata hati saya, karena ngambek diberikan masalah, sehingga tidak melihat jalan keluar tersebut 😀

Jadi … karena rejeki, jodoh dan umur itu misteri Ilahi …..saya memberikan note kepada diri saya  sendiri agar disetiap menit yang saya lalui harus diwarnai dengan berpikiran positif – bahwa mungkin di menit berikut bisa saja my dreams come true, setiap menit harus dilalui dengan sesedikit mungkin menyakiti orang lain (jadi kalau nanti mati – enggak bakal banyak yang mengutuk saya :D),   berdoa di setiap langkah yang akan saya lalui  agar di ijinkan Nya mewujudkan rencana – rencana dan mimpi – mimpi saya, agar dibuka mata dan hati saya untuk melihat jalan keluar di setiap masalah yang saya hadapi, dan yang utama sih semestinya saya harus banyak bersyukur – karena masih di ijinkan Nya untuk bernafas dan menikmati hidup yang singkat ini.

Salam

 

Posted in Tuhan | Tagged , , | Leave a comment

Dan Perjuangan itu ternyata masih harus berlanjut (Catatan Menjelang 21 April 2013)

Walaupun saya bukanlah fans dari RA Kartini, dan walaupun saya masih menginginkan Cut Nya Dien atau Marta Christina Tiahahu sebagai simbol emansipasi perempuan – tapi sepertinya minggu minggu di bulan April adalah saat yang tepat untuk saya sebagai perempuan untuk mencoba mengevaluasi tentang emansipasi perempuan di negara saya.

Ternyata dari hasil evaluasi kecil saya – dari lingkungan saya – dari sudut pandang saya – perjuangan untuk memperoleh hak -hak yang semestinya sebagai perempuan, ternyata masih harus berlanjut. Masih banyak kejadian – kejadian di negara ini yang ternyata merampas hak – hak kaum perempuan dan yang lebih parahnya menggunakan agama sebagai alasan melegalkannya.

Saya bukanlah termasuk kaum feminis extreem yang menginginkan perempuan harus bisa menggantikan laki -laki atau mengatakan bisa hidup tanpa kaum pria. Yang saya inginkan adalah sebatas keadilan, diberikan kesempatan yang sama , tidak selalu dipersalahkan apalagi dengan menggunakan alasan agama.

Saya tidak menginginkan adanya Kementerian Pemberdayaan (atau  Memperdayakan ? :p) Perempuan, untuk apa? Dengan adanya kementerian ini secara tidak langsung memproklamirkan bahwa benar di Indonesia,perempuan masih dianggap sebagai mahluk yang lemah yang memerlukan kementerian khusus untuk mengurusnya. Bukannya cukup kementerian sosial atau pendidikan atau tenaga kerja? Toh saya belum pernah juga misalnya melihat Kementerian ini aktif dalam memperjuangkan masalah TKW di luar negeri, atau mengajak perempuan – perempuan muda untuk tidak menikah di usia yang relatif muda, atau membuka peluang besar kepada single mom yang tidak mempunyai modal untuk mendapatkan ketrampilan dan diberikan bantuan kredit untuk memulai usaha. Yang paling sering saya lihat sih aktif dalam kontes – kontes kecantikkan seperti Putri Indonesia, Miss Indonesia etc.

Saya merasa sampai saat ini, perempuan masih dianggap sebagai objek, dimana ketika bicara soal pemerkosaan, maka yang dibicarakan bukanlah soal persoalan perkosaan nya tapi pakaian apa yang dipakai perempuan yang diperkosa tersebut, ketika bicara tentang siswi yang hamil – yang dibicarakan adalah bahwa siswi tersebut tidak boleh ikut UN – karena siswi yg  bermoral jeblok tidak pantas untuk lulus di sekolah yang mengajarkan moral – terus kenapa siswa yang menghamili boleh juga ikut UN – mustinya ikut bertanggungjawab dong, kan kehamilan tidak terjadi dari aktifitas perempuan saja. Kemudian bagaimana dengan siswi yang hamil karena korban perkosaan? Apakah mereka juga tidak boleh ikut UN? Apa salah mereka? Apakah moral mereka juga akan dianggap jeblok karena diperkosa?

Paling parah kemudian adanya ide untuk mengetes keperawanan siswi -siswi di sekolah, dengan maksud menjaga moral. Uhm …. bagaimana dengan siswa, kenapa mereka juga tidak dituntut melakukan hal yang sama? Haruskah yang menjaga moral itu jadi beban perempuan saja?

Atau kemudian beberapa peraturan daerah yang khusus menempatkan perempuan di posisi yang tidak menyenangkan  – seperti tentang jam malam bagi perempuan. Uhm … bagaimana dengan perempuan yang harus bekerja sampai tengah malam seperti SPG, pelayan rumah makan. Dan kenapa tidak ada jam malam untuk pekerja pria. Saya pernah berbicara dengan salah seorang perempuan yang bekerja di SPBU yang merasa agak tidak adil, karena tidak bisa dapat shift malam, sehingga tidak pernah bisa mendapat tambahan upah seperti staf yang pria.

Atau tentang peraturan yang tidak memperbolehkan perempuan duduk mengangkang apabila dibonceng di sepeda motor. Alasannya? Entahlah. Mungkin suatu saat nanti gaya perempuan berjalan, bernafas, berbicara juga akan diatur oleh perda.

Yang lainnya seperti di milist yang saya ikutin banyak yang setuju agar perempuan tidak usah bekerja, sehingga banyak lowongan kerja yang akan terbuka untuk pria. Trus kalau tidak bekerja, bagaimana dengan single mom? Siapa yang membiayai hidupnya dan anak – anaknya? Bagaimana dengan saya misalnya – mosok dengan alasan tersebut saya harus mencari suami – bukan kah kemudian sebutan perempuan matrealistis akan dilekatkan kepada saya, karena mencari suami hanya untuk membiayai hidup saya 🙂

Atau juga saya masih melihat banyaknya keluarga terdekat yang memberi tekanan psikis  kepada perempuan yang melaporkan kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya. Sehingga kemudian perempuan ini menarik kembali laporannya, dan ya seperti diduga, pastinya akan kembali menerima kekerasan dalam rumah tangganya.

Yang paling sering membuat saya merasa miris ketika perempuan yang bekerja harus juga meminta ijin untuk menggunakan uang yang dihasilkan nya, untuk membeli kebutuhan nya sebagai perempuan misalnya lipstik atau bekerja menjadi TKW di luar negeri dan gaji yang dikirim untuk keluarganya dipergunakan sang suami untuk membiayai istrinya yang lain, dan masyarakat yang melihat itu merasa wajar sang suami mempunyai istri yang lain – karena “namanya juga laki – laki, kan punya kebutuhan, daripada “jajan” sembarangan.

Juga tidak terhitung luar biasa banyaknya tekanan dari masyarakat yang akan diterima oleh ibu rumah tangga yang bekerja, karena mereka akan selalu dituntut untuk menjadi super woman yang bisa melakukan seluruhnya sendiri. Mulai dari mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mencari nafkah. Bahkan kemudian apabila suami tercinta membantu melakukan pekerjaan domestik – sang ibu pastilah akan dianggap sebagai perempuan semena – mena yang tidak menghormati suaminya.

Saya juga tidak setuju dengan pemaksaan  menempatkan perempuan di posisi dewan hanya untuk memenuhi kuota. Mustinya diberikan kesempatan yang sama, bukan dikasihani dengan memaksa adanya perempuan di posisi itu walaupun tidak berkualitas hanya agar terlihat adanya kesetaraan gender. Dan kemudian perempuan yang ditempatkan di posisi dewan ini tidak diberikan kebebasan untuk menyuarakan pendapatnya dan pikirannya.

Saya tidak tau sampai kapan perjuangan ini akan berlanjut, saya tidak tau kapan perempuan – perempuan Indonesia akan bisa mendapatkan haknya yang tentu saja saya harapkan kemudian juga tidak disalah kaprahkan untuk menindas kaum pria 😀

Berharap saja tahun depan akan lebih baik, dan saya bisa walau sedikit membantu perjuangan kaum saya ini dengan apa yang saya miliki sekarang. Aamiin

 

Salam

 

 

 

 

 

Posted in agama, empowering women, Indonesia ku, kesetaraan gender, masyakat, penguatan perempuan, perempuan | Leave a comment

Alih Fungsi Guru Spiritual – (ketika Tuhan bukan lagi tempat berharap)

Yang sekarang jadi topik yang sering dibicarakan tentunya adalah soal Eyang Subur – hampir seluruh tv membicarakan fenomena Eyang Subur ini. Eyang Subur dianggap sebagian orang adalah guru spritual, orang luar biasa baik yang mempunyai harta yang berlimpah (enggak tau deh dari mana asalnya) – yang sering dibagi bagikan kepada orang lain terutama artis (enggak tau deh kenapa kebanyakkan artis yang diberi :D) dan yang paling fenomenal mempunyai 9 istri  (dengan gaya rambut dan berbusana nya hampir sama semua, dan patut diacungkan jempol karena ke 9 nya mau berjalan beriringan bersama menemani Eyang Subur). Tapi bagi sebagian lagi (note: karena orang – orang ini sang Eyang menjadi terkenal), Eyang Subur merupakan penjahat yang kejam – yang mengajarkan kesesatan serta perampas harta mereka.

Bagi saya yang menarik dari kasus ini adalah penggunaan dan pemberian titel “guru spritual” kepada seseorang. Karena setelah nya kemudian banyak pembicaraan – pembicaraan tentang ‘guru – guru spritual’  kaum selebritas, pejabat dan orang orang kaya di Indonesia.

Di pemikiran saya – guru spritual   ( dari hasil googling : Spiritual  berarti kejiwaan, rohani, batin, mental, moral. ( Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1989), hal 857))adalah orang yang mengajarkan/ membimbing rohani kita  – agar dekat ke sang Pencipta. Jadi nya sih saya selalu memikirkan dengan adanya guru spiritual – kita akan menjadi orang yang lebih tenang, lebih ikhlas, lebih banyak bersyukur, lebih mendekatkan pada Sang Maha Pencipta.

Tapi fenomena yang saya lihat sekarang jadi berubah – kebanyakan (bukan semuanya ya) orang – orang yang mengangkat orang lain menjadi guru spiritual nya – karena merasa orang tersebut bisa memberikan jalan kepada mereka untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, dalam tempo yang secepat – cepatnya. Misalnya menjadi terkenal, disukai orang – orang, menjadi kaya raya dan lain – lain.

Tentu saja sang “guru spiritual” ini mendapatkan imbalan yang cukup fantastis apalagi bila sang guru benar – benar bisa mewujudkan keinginan muridnya yang notabene adalah orang tersohor/ publik figur/selebriti di Indonesia ini. Pastilah nama sang guru akan terkenal dan kemudian berbondong – bondong orang akan datang mengiklaskan diri nya menjadi murid sang guru.  Dan bahkan tidak jarang mereka  rela menempuh beratus ratus kilometer,  menghadapi segala rintangan untuk bertemu sang guru. Saya malah pernah mendengar – mereka juga mau melakukan apapun yang diminta sang guru sebagai persyaratan pemenuhan terkabulnya keinginan mereka,  tanpa  ada protes sama sekali, dan dijalani dengan penuh keyakinan (padahal ya  … kalau diperintahkan agama ajah, sering banget males melakukannya 😀 )

Bagaimana sang guru bisa mewujudkan harapan muridnya?  Banyak orang yang mengatakan (tapi sayang nya belum pernah saya buktikan, sang guru ini menggunakan ilmu hitam atau klenik atau mistis atau kekuatan supra natural yang sulit untuk dibuktikan tapi masih erat dengan kebudayaan di Indonesia. Percaya? Entahlah. Terbukti banyak yang memang sukses dengan hal – hal ini.

Saya sih tidak mau menghakimi apakah itu salah atau benar menurut agama karena saya belum cukup menjadi sempurna menjalankan agama, untuk memenuhi persyaratan layak  menghakimi jalan yang ditempuh oleh orang lain 😀

Yang jadi permasalahan di sini,  karena menganggap orang yang bisa mewujudkan keinginan duniawinya  atau memecah kan masalah duniawinya , menjadi guru spiritual, fenomena yang aneh bagi saya.

Menjadi lebih  aneh lagi karena Indonesia adalah negara yang seluruh penduduknya diharuskan mempunyai agama, dimana bahkan organisasi yang mengatas namakan agama, bisa bertindak se enak – enaknya di sini, tapi  kenyataannya di keseharian masyarakat,  justru tidak memperlihatkan kepercayaan kita terhadap Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta.

Mungkin ini kegagalan para pemimpin umat beragama atau para ahli agama yang tidak bisa meyakinkan umatnya untuk percaya akan Tuhan. Atau juga mungkin karena para ahli agama tersebut lebih sibuk mengurus siaran on air nya di televisi  setiap pagi, sehingga tidak sensitif dengan kebutuhan umatnya?  Atau para pemimpin agama juga sedang sibuk untuk mencari – cari jabatan? Atau malah yang dianggap pemimipin agama jangan – jangan juga ikut – ikutan mempunyai “guru spiritual” tempat meminta – sehingga mereka juga tidak bisa mengatakan apa – apa terhadap fenomena ini. Entahlah …

Dan puncak  keanehan itu  kemudian – banyak nya orang orang yang pergi meminta kepada “guruspiritual” – dalam keseharian nya adalah orang – orang yang rajin beribadah. Jadi ……. ?

Saya sungguh tidak mengerti jadinya apa yang mereka lakukan dalam ibadah nya? Bagaimana bisa, masih berdoa kepada Tuhan, tapi meminta mahluk lain untuk membantu menyelesaikan masalahnya, bahkan berharap mereka bisa memberikan harta, tahta dan jabatan. Jadi apa fungsinya Tuhan? Apa gunanya berdoa?

Saya sendiri masihlah manusia biasa, yang pasti nya juga pingin punya uang banyak, mempunyai jabatan yang menggiuarkan di perusahaan yang bonafit,dan memperoleh ketenaran yang luar biasa sehingga orang – orang ‘takut’ dengan saya. Bohong besar deh kalau saya bilang, saya tidak pernah memimpikan itu. Tapi ehmmmmm….. kalau itu harus saya jual dengan “jiwa” saya, dengan kepercayaan saya, ya nanti dulu deh.

Bukan karena saya takut dengan masuk neraka, tapi seperti saya pernah tuliskan, saya mencintai Tuhan saya – jadi ya enggak mau deh saya menduakan cinta saya 😀   Terlebih menduakan nya kepada “guru spiritual” yang seperti Eyang Subur  (logikanya – kalau beliau menyatakan diri muslim dan mengaku guru spiritual – pasti enggak berani punya istri lebih dari 4 apalagi memperistri kakak beradik :D).

Saya sih berharap para pemuka pemuka agama,  rohaniawan, mau membuka mata untuk melihat fenomena ini, dan mau sukarela untuk mengembalikan kembali existensi Tuhan kepada umat beragama.  Setidaknya fenomena ini mustinya dianggap tantangan untuk  memikirkan cara mengajarkan, memberi nasehat yang lebih mengena di hati dan jiwa  , sehingga masyarakat yang menjadi murid nya atau pemeluk agama yang sama dengan nya,  tidak lagi lari berharap dan meminta kepada  “guru – guru spiritual ”  tapi kepada Tuhan.

Dan berharap kepada orang – orang seperti Eyang Subur tidak lagi di lekatkan kata – kata guru spiritual – kedudukan guru yang pengayom terlalu rendah deh ,  tapi mungkin bisa menjadi Penguasa Manusia  – toh – kalau kepada mereka orang 0rang meminta dan berharap – sebenarnya kedudukan  Tuhan terganti oleh mereka – mereka ini di hati dan jiwa murid – muridnya 😀 (just kidding )

Salam

 

 

Posted in agama, Indonesia ku, masyakat, rohaniawan | Leave a comment

Teknologi modern – dan diperlukan kebijakkan serta kedewasaan menggunakannya.

Kalau ditanya apa yang paling saya senangi di jaman globalisasi seperti ini, tentu nya adalah kecanggihan teknologi, terutama teknologi komunikasi. Dimana, kita menjadi amat sangat mudah dihubungin dalam 24 jam, 365 hari, dimana jarak bukanlah jadi masalah untuk sebuah hubungan baik hubungan percintaan (ehm), pertemanan, bisnis dan lain – lain.

Walaupun kemudian teknologi yang semoderen ini kemudian membuat kita akhirnya menjadi malas untuk langsung bertatap muka satu sama lain. Bahkan tidak jarang, kita masih menggunakan bbm (blackberry messenger), whatsapp atau mengirim email kepada teman sekerja kita, yang ruangannya tidak jauh dari kita. Teknologi yang modern ini juga tidak jarang membuat kedekatan satu sama lain jadi berbeda, karena tidak jarang, ketika berkumpul dengan teman – teman, masing – masing sibuk sendiri dengan bbm nya, ipod nya, twitter nya, facebook nya. Jadi … apa gunanya berkumpul?

Saya sendiri, termasuk orang yang masih agak “kolot”, yang masih mengusahakan bertemu muka langsung kalau ingin membicarakan sesuatu, atau masih mengusahakan menelfon kalau pertemuan langsung itu tidak dimungkinkan, sehingga email dan bbm atau media chat lain menjadi alternatif terakhir. Kecuali kalau yang saya ingin bicarakan bukanlah sesuatu yang urgent, bukan sesuatu yang perlu pembahasan yang panjang lebar.

Mengungkapkan sesuatu kepada seseorang lewat media komunikasi seperti email, chat media, seringkali menimbulkan kesalahan persepsi. Apalagi kalau kedua belah pihak tidak pernah bertemu secara langsung sebelumnya. Sehingga tidak mengenal gaya bahasa satu sama lain. (Kadang – kadang, walaupun sudah saling mengenal, tidak jarang juga, masih timbul kesalahan persepsi terhadap tulisan satu sama lain). Maksudnya mungkin bercanda, tapi diterimanya kok jadi seperti penghinaan 😀

Berbeda apabila kita bertemu langsung atau at least berbicara langsung , melihat bahasa tubuh ketika lawan bicara kita mengungkapkan pemikirannya, mendengar langsung turun naik suaranya, dan memastikan nada serius atau becanda.  Kesalahpahaman bisa terhindari.

Seperti yang terjadi di salah satu milist yang saya ikuti. Tiba – tiba terjadi pertengkaran hebat diantara anggota – anggota nya. Yang membuat saya kemudian cuman bisa terpana karena sebenarnya pihak – pihak yang berselisih paham ini sebenarnya sudah bukan anak – anak yang mudah terbawa emosi. Tapi ya, mungkin karena pihak yang satu tidak bisa menjaga emosi, dan pihak yang lain juga tidak bisa menjaga tulisannya sehingga pertengkaran tidak bisa terhindari.

Mungkin kalau keduanya sudah pernah bertemu secara langsung, sudah pernah berbicara secara langsung, kejadian ini tidak akan terjadi. Atau setidaknya mereka bisa saling mengalah untuk berbicara langsung lewat jalur pribadi, dengan telefon atau bertemu langsung, menjelaskan masalah nya dari persepsi masing – masing. Sehingga mengerti maksud keduabelah pihak.

Begitu pula dengan adanya media – media seperti twitter dan facebook. Dimana setiap orang bisa menuliskan apa saja. Dan orang yang membacanya bisa menilai apa saja tentang tulisan itu, atau bahkan apabila si pembaca nya terlalu sensitif, bisa juga menjadi merasa tersindir (padahal belum tentu si penulis menulis status di facebook /twitter itu untuk si pembaca tersebut :D)

Atau seperti sekarang, saya yang menjadi agak – agak resah gundah gulana, karena bbm yang saya kirim untuk orang yang dekat di hati saya, tidak dibaca2x, atau dibaca tapi tidak dibalas. Padahal mungkin saja beliau sedang sibuk dengan pekerjaan nya sehingga tidak mengecek bbm saya atau memang sedang tidak dalam keadaan yang memungkinkan untuk membalas bbm saya tersebut 😀  Apalagi bbm saya itu isinya bukanlah sesuatu yang urgent yang menyangkut nyawa saya 😀 Tapi ya itu … semakin canggih teknologi … semakin kita tidak bisa berpikir lebih logis, atau semakin kita mengkhawatirkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Semakin kita menuntut orang lain juga tersedia untuk kita selama 24 jam 365 hari 😀

Jadi …..?

Ya semestinya kita sebagai pencipta segala teknologi modern itu, tidak boleh menjadi dikuasai oleh teknologi. Kita semestinya  harus bisa menggunakan teknologi modern itu untuk mempermudah hidup kita, untuk menunjang komunikasi kita dengan sesama. Dan bukan malah menjadi alat pemisah satu sama lain,  menjadikan kita curiga dengan orang lain yang bahkan belum pernah kita temui, atau membuat kita perpikiran negatif dengan orang lain.

Terus terang – saya sendiri sedang berusaha kuat untuk tidak berpikiran negatif, terhadap tulisan – tulisan yang saya baca lewat media seperti email /milist (apalagi kalau yang menulis belum pernah saya temui) atau kalau tidak bisa saya akan bertanya langsung maksud tulisannya – sebelum saya membuat kesimpulan sendiri, dan berusaha tidak gundah gulana (yang ini agak sulit deh hahahahaaa) ketika bbm saya belum dibaca2x atau tidak dibalas 😀

 

 

Posted in bbm, berita, Facebook, teknologi modern, teman, twitter, whatsapp | Leave a comment