Almamaterku sayang, almamaterku malang.

Seperti biasa ketika saya pergi meninggalkan negara tercinta ini, saya tidak pernah membaca berita tentang tanah air, sehingga hal yang pertama yang saya lakukan ketika melangkah kembali ke tanah air, tentulah surfing di internet dan mencari tau apa yang terjadi selama ketidak hadiran saya di sini. Dan berita terbesar yang saya baca, pastilah tentang ‘Gayus Jilid Dua’.Yang membuat saya terhenyak bukan karena nilai korupsi yang disebutkan yang cukup bombastis, tetapi karena tersangka nya adalah salah satu teman sekelas saya di kampus tercinta saya di Jurangmangu.

Tindakan kedua yang saya lakukan tentulah mencari tau lewat teman – teman sekampus saya dulu tentang keadaan teman saya tersebut. dan juga tentulah istrinya, karena seperti halnya DW, istrinya juga merupakan teman satu anggkatan di kampus. Apalagi saya tau bahwa DW ini setelah sekian tahun menikah baru dikaruniai seorang bayi yang mungkin umurnya belum satu tahun. Bisa terbayangkan oleh saya, bagaimana beban keduanya menghadapi masalah yang cukup berat ini, apalagi dengan keberadaan si kecil yang masih membutuhkan perhatian yang besar dari kedua orang tuanya.

Dan seperti biasa, ibu saya yang selalu menjadi pengamat perpolitikkan Indonesia (selain pengamat gosip – gosip artis tentunya :D) di rumah, pastilah secepatnya meminta saya menjelaskan secara panjang lebar tentang siapa DW dan istrinya. Dan meminta kepastian saya, apa benar mereka terlibat seperti yang diberitakan. LOL  Tentu saja saya tidak bisa memberi informasi apapun selain DW yang saya kenal sewaktu kuliah adalah seorang anak yang berasal dari keluarga yang terbilang mampu, berbeda dengan kebanyakkan dari teman – teman nya di kampus.

Menurut saya yang menganut azas ‘praduga tak bersalah’,  dimana seseorang dinyatakan bersalah dimata hukum apabila telah diputuskan di depan pengadilan, embel – embel ‘koruptor’ yang dilekatkan kepada Dhana (atau siapapun tersangka kasus korupsi yang perkaranya belum diputuskan dipengadilan) adalah salah tempat. Kalau sudah diputuskan sebagai ‘koruptor’  sebelum diadili di pengadilan – untuk apa lagi adanya salah satu lembaga yang namanya ‘pengadilan’. Apalagi kemudian media masa yang saya lihat semakin ‘tidak cerdas’ dan hanya mengejar berita tanpa membuktikan kebenarannya,  seringkali  memperkeruh masalah yang sudah keruh, membuat masyarakat menjadi tergiring untuk membuat kesimpulan – kesimpulan sendiri atau imajinasi – imajinasi sendiri sesuai kemauannya, bukan sesuai dengan kenyataan yang ada. Dan ini parahnya juga kemudian, (dengan situasi keterbukaan yang salah kaprah di Indonesia) membuat hakim menjadi tidak berani untuk memutuskan secara adil, tapi memutuskan sesuai dengan keinginan masyarakat (karena si hakim sendiri takut dianggap menerima suap, apabila memutuskan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan masyarakat)

Seperti biasa pula kemudian banyak teman – teman saya yang bukan sekampus dengan saya di Jurangmangu, menjadikan ini sebagai bahan memerahkan telinga saya dengan ungkapan – ungkapan negatif  (yang baik secara sadar ataupun tidak sadar diucapkan) tentang alumnus dari almamater.  Seolah – olah seluruh koruptor di Indonesia merupakan lulusan dari alamamater saya.

Tapi seperti biasa pula, saya malas untuk marah atau berusaha bersibuk sibuk ria mendirikan grup atau membuat tag line – tag line di sosial media tentang betapa bagus nya almamater saya, atau tag line – tag line yang berisikan kemarahan saya tentang betapa tidak adilnya orang – orang terhadap almamater. Karena saya melihat justru hal – hal tersebut tidak membuat masyarakat berubah pikiran terhadap alumnus maupun almamater saya, tapi malah semakin meremehkan. Ingat hukum tarik menarik (law of attraction), negatif akan menarik negatif. Toh kalau mereka menganggap saya bejat karena saya merupakan alumnus dari almamater saya, itu tidak akan membuat saya mati atau membuat hidup saya susah (wong bahagia saya ditentukan oleh saya sendiri). Jadi untuk apa saya membuang energi saya untuk marah – marah?

Bukan berarti juga saya tidak perduli atau tidak cinta dengan almamater saya. Saya justru amat teramat sangat bangga dengan almamater saya – karena mau atau tidak mau, memang hanya orang – orang yang cerdas yang bisa diterima. Tentunya saya bangga dong, bisa menjadi bagian dari orang – orang cerdas itu. Selain tentunya, tanpa adanya kampus yang gratis seperti almamater saya, mungkin saya atau banyak anak anak lain, tidak pernah punya kesempatan untuk mencicipi bangku kuliah, karena kondisi  perekonomian keluarga yang tidak mampu untuk itu

Saya juga merasakan ketidak adilan karena apabila dibandingkan jumlah alumnus yang bermasalah tidak lah sebanding dengan. jumlah alumnus yang bersih dan bekerja dengan baik, Tapi seperti kata pepatah ‘karena nila setitik rusak susu sebelanga’ Jadi tidak salah juga dikarenakan beberapa orang yang melakukan tindakan salah, seluruh alumnus pun langsung dicap negatif. Belum terbukti bersalah juga berita nya sudah membombastis.Sehingga saya tidak mau terpancing untuk marah membabi buta (red: maafkanlah mereka, karena mungkin mereka tidak tau apa yang mereka perbuat). Biarlah mereka dengan pikirannya, tapi akan saya buktikan kalau kesimpulan mereka itu salah.

Keinginan untuk membuktikan itu membuat saya mengambil sikap untuk memberikan terbaik untuk organisasi dimana saya bekerja, untuk lingkungan dan keluarga saya. Sehingga orang – orang yang mengenal saya, bisa tanpa sadar menolak stigma – stigma negatif tentang almamater saya. Setidaknya ada yang berkata – ‘ah … salah satu alumnus yang saya kenal, tidak begitu kok’. Cara ini sebenarnya sama seperti juga dengan cinta yang lebih jelas terlihat apabila dibuktikan dengan perbuatan, dari pada sekedar bersibuk – sibuk ria menyatakan cinta setiap menit. LOL

Sedangkan untuk DW ataupun alumnus yang lain (ya, termasuk juga Gayus), saya sebagai teman nya dan teman sealmamater yang sayangnya tidak berada di ranah untuk menyatakan apakah bersalah atau tidak bersalah, atau memberikan pembelaan (karena saya tidak cukup tau permasalahannya) hanya bisa memberikan support sebagai teman – yang akan membantu apapun yang bisa saya lakukan apabila diminta dan pastinya akan ada sebagai temannya dan rekan sealmamaternya. Doa saya agar mereka dan keluarganya diberikan kekuatan untuk menghadapi segala permasalahan yang ada, Saya yakin bahwa kalau Allah memberikan permasalahan, Beliau juga akan memberikan jalan keluarnya.

Salam

PS : Kebetulan beberapa saat lalu, orang yang dekat di hati saya mengajarkan kepada saya tentang pentingnya memberi kesempatan kepada orang lain, karena seringkali kesalahan diperbuat karena sistem yang ada, yang membuat mereka terjebak di dalam nya. Dan bukan karena mereka ingin melakukan kesalahan.

Posted in Indonesia ku, Korupsi, STAN | Tagged , , | 6 Comments

Karena Indonesia terlalu mahal untuk saya :D

Sering orang bertanya kepada saya, kenapa saya jarang sekali ingin pergi jalan – jalan keliling Indonesia. Mereka sering menyarankan saya melihat keindahan Indonesia seperti Raja Ampat, Bunaken dan tempat – tempat indah lainnya. Tentu saja, bukan saya tidak punya keinginan untuk menjelajah negara saya sendiri. Bukan saya ‘sombong’ , pingin terlihat kaya bisa jalan – jalan keluar.  Jawaban saya sederhana : “karena Indonesia itu terlalu mahal buat saya”.

Sebagai seseorang yang selalu ingin travel dengan biaya murah, tentulah saya harus membandingkan biaya yang saya keluarkan ketika saya bepergian, terutama juga karena seringnya saya bepergian sendiri, keamanan selama perjalanan juga haruslah menjadi bagian dari pemikiran saya. Jadi inti nya travelling buat saya haruslah bermoto “murah dan aman”.

Dan sayangnya itu tidak bisa saya dapakan ketika saya harus travelling di negara saya. Biaya tiket pesawat terbang yang masih jauh dari kantong, yang sering banget kalau saya bandingkan, masih lebih murah dengan perjalan ke dua atau tiga negara di Asia. Selain tiket pesawat, transportasi darat dari bandar udara ke lokasi wisata, seringlah sangat mahal, seringkali harus menyewa kendaraan (yang untuk ini juga berarti harus kembali merogoh kocek saya dalam dalam) kemudian diperparah dengan hotel yang murah atau hostel, sering tidak bisa ditemui dan kalaulah ada berarti saya haruslah mau bersaing dengan kecoa, nyamuk dan serangga serangga lain, atau yang lebih parah dengan kamar mandi yang mungkin sudah bertahun – tahun tidak pernah dibersihkan, sehingga untuk mandi atau bab haruslah berpikir seratus kali terlebih dahulu.

Sebenarnya saya bukanlah orang yang terlalu manja dengan harus tinggal di hotel – hotel mewah, saya bisa tidur nyaman di tenda. Tapi kalau itu saya lakukan, di lokasi – lokasi wisata di Indonesia, sendirian, itu seperti menyerahkan diri saya dengan suka rela untuk diperkosa. Uhmmmm….. tragis.

Terus terang, sering saya berkeinginan untuk mengunjungi tempat- tempat indah di negara saya ini. Tapi mungkin ini akan terjadi kalau rejeki saya bertambah 3 atau 4 kali lipat dari yang saya dapatkan sekarang (aamiin), atau mungkin kalau Kementerian Pariwisata di Indonesia memberikan harga ekonomis untuk tiket pesawat,  merancang  transportasi umum  yang  nyaman dan akomodasi di daerah – daerah pariwisata di Indonesia, sehingga biaya nya jauuuh lebih murah dari negara – negara tetangga, dan lebih baik juga apabila ada pendidikan bagi penduduk – penduduk di objek wisata agar lebih ramah terhadap wisatawan lokal daripada wisatawan asing atau at least sama ramahnya.

Dan percayalah, andai saja kondisi di atas terpenuhi, saya akan menjelajah pulau pulau di seluruh di Indonesia, tanpa harus menunggu adanya penugasan dari kantor seperti yang sering saya lakukan sebelumnya, bisa mengunjungi daerah2x dari Aceh sampai ke Lampung hanya karena ditugaskan kantor.

 

Posted in Indonesia ku | Tagged , , , , , | Leave a comment

Apakah kita bangsa yang bermoral?

Sebagai bangsa yang beragama yang juga ditunjukkan jelas dari identitas penduduknya (red: KTP) yang diharuskan mencantumkan agama yang mereka anut (tentu saja dengan pembatasan bahwa agama yang dicantumkan haruslah salah satu agama yang diakui oleh pemerintah), menurut logikanya, pertanyaan “apakah kita bangsa yang bermoral” seharusnya bukanlah sesuatu yang harus dipertanyakan lagi. Apalagi kemudian ditambah kita sering juga mengagung – agungkan budaya kita yang sekali lagi sering kita katakan “lebih beradab” daripada penduduk belahan barat di sana.

Tapi seperti pada pelajaran – pelajaran sosial budaya lainnya, pada saat teori – teori ini diterapkan pada masyarakat, sering kali hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dilogikakan. Satu ditambah satu sering kali tidak menjadi dua tetapi tergantung dari keadaan sosial lingkungannya.

Saya kira begitu pula yang terjadi pada bangsa kita. Kita yang menyatakan bahwa kita adalah negara yang beragama, dimana ormas – ormas masyarakat yang berselubung agama bahkan dilindungi oleh pemerintah, ketika melakukan “aksi moral” terhadap tempat – tempat yang mereka anggap “tidak bermoral”, bahkan harus membuat pemisahan antrian “perempuan” dan “laki-laki” di busway atau pemisahan gerbong perempuan di kereta api karena banyaknya pelecehan seksual di sana atau bahkan membiarkan menjamurnya film – film produksi anak bangsa yang mulai dari judulnya sudah tidak berbudaya sampai dengan pendukung-pendukung filmnya (terutama yang perempuan) memakai pakaian yang hampir semuanya kekurangan bahan. Atau bahkan sering kali kita melihat bahwa tiket – tiket untuk film 17 tahun ke atas dengan bebas bisa dibeli oleh anak – anak dibawah umur.

Atau proses pernikahan dan perceraian yang dengan mudah nya bisa dilakukan, hanya dengan waktu 1 bulan proses perceraian bisa dilakukan (beda jauh dengan negara – negara di Eropa yang mengharuskan pasangan suami istri untuk melewati waktu 1 tahun sebelum perceraian bisa disahkan negara, sehingga pernikahan adalah sesuatu yang istimewa dan perceraian menjadi sesuatu yang memang pilihan paling berat yang harus dilakukan, karena prosesnya yang panjang), jadi siapa yang sebenarnya tidak menghargai pernikahan? Kita kah? Atau orang – orang Eropa disana? Apalagi perjanjian pernikahan di Indonesia harus selalu diikuti dengan ritual keagamaan. Berjanji di depan Tuhan, dan kemudian dengan mudahnya kita mengingkari apa yang kita janjikan di depan Tuhan tersebut dengan affair – affair atas nama “cinta” (yang sebenarnya tidak jelas juga bedanya dengan “nafsu”).

Bermoralkah kita?

Kemudian kita bangsa yang mengaku bermoral ini selalu tidak bosan – bosannya menghujat penduduk di negara – negara dimana para TKW kita yang umumnya bekerja pada sektor domesik, dikarenakan banyaknya kekerasan yang mereka lakukan pada TKW yang bekerja pada mereka. Tapi kemudian pernahkah kita mengukur apa yang kita lakukan pada asisten rumah tangga yang sering sekali kita sebut sebagai “pembantu”? Kebanyakkan dari kita malah sering kali memaksa mereka untuk bekerja 24 jam sehari, 7 jam seminggu, makan dari makanan sisa – sisa kita sehari sebelumnya, gaji yang seringkali dibawah upah minimum, bahkan tidak jarang kita melakukan “verbal abuse” dengan kata – kata kasar dan hardikkan keluar dari mulut kita. Pemerkosaan yang dilakukan oleh majikan juga sering kali sebenarnya terjadi. Jadi, apa bedanya kita sebenarnya dengan penduduk yang sering kita hujat karena perlakuan kasar mereka kepada TKI?

Masihkah kita mengakui bahwa kita bangsa bermoral? Masih pantas kah kita menghujat mereka?

Setelah itu kita yang sering sekali terlihat melakukan sesuatu yang besar untuk kegiatan – kegiatan keagamaan, dimana di stasiun televisi juga tidak bosannya mengadakan acara – acara rutin harian yang berbau keagamaan, ternyata tingkat korupsinya tertinggi didunia. Bahkan para pejabat – pejabat yang sering dari mulutnya meluncur segala ucapan – ucapan religius ternyata paling banyak melakukan korupsi dan malah dengan bangganya tanpa malu mengumbar harta kekayaan nya tersebut di depan khalayak ramai. Atau bahkan dengan tidak malunya mengucapkan ayat – ayat suci ketika dinyatakan vonis bebas oleh hakim (yang sebelumnya mungkin juga telah menerima sejumlah “upeti” ). Atau kita masih bisa melihat betapa banyaknya pendukung salah satu partai yang ketua umumnya jelas – jelas mempunyai perusahaan yang mengakibatkan ratusan orang menderita di ujung pulau sana, dan tidak bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Dimanakah moral kita?

Dan dimanakah kita termasuk saya ketika hanya terdiam menyaksikan banyaknya ketidak adilan tersebut. Malah semakin diam ketika “zona nyaman” kita juga terancam akan berubah “tidak nyaman” apabila kita bersuara.

Apakah kita memang masih berani menyatakan bahwa kita bangsa yang bermoral? Saya sendiri, terus terang,agak takut untuk menyatakan kalimat tersebut. Maafkan saya.

Posted in Indonesia ku | Leave a comment

Apa yang kita dapatkan dari membayar Pajak? – Sebuah pertanyaan retorik

Apa sebenarnya yang kita dapatkan dari pajak yang telah kita bayarkan dari negara? Pertanyaan itu sering sekali saya dengar dari orang – orang yang saya ajak untuk membayar pajak. Tentu saja ini pastilah pertanyaan yang paling sulit saya jawab. Jawaban standar yang saya berikan hanyalah ” yah setidaknya kita membantu negara dengan pajak yang kita bayarkan.”

Dan kemudian pertanyaan tentang “apa yang kita dapatkan dari membayar pajak?” ,  belakangan ini memenuhi kepala saya. Terutama ketika saya membaca tentang bagaimana korupsi yang semakin jelas – maksudnya semakin jelas hukuman yang diterima para koruptor sedikit dan ditambah dengan remisi hukuman (mungkin di lain waktu akan ada hukuman minus buat para koruptor karena remisi yang diterima lebih besar dari pada hukumannya :D). Atau ketika saya membaca tentang bagaimana kinerja para wakil rakyat (terus terang saya bingung sebenarnya rakyat mana yang mereka wakili).

Atau ketika pemerintah juga dengan tenangnya sibuk mengajak masyarakat menyumbang untuk membebaskan TKI di Arab Saudi sana, atau mengajak masyarakat membantu pembayaran biaya rumah sakit salah seorang rakyatnya yang miskin. (Come on we already paid our tax, why you asked us again to support  you to help your people ? )

Kemudian saya lihat kembali bagaimana hotel – hotel di berbagai kota di Indonesia pada akhir tahun “full book” karena banyaknya workshop atau meeting yang dilakukan institusi – institusi pemerintah dan banyaknya pegawai negeri yang melakukan studi banding ke daerah lain atau negara lain dengan alasan karena harus menghabiskan anggaran. Seolah olah menjadi TABU buat mereka apabila anggaran yang ada tidak dihabiskan. Sehingga menjadi sebuah KEWAJIBAN untuk menghambur – hamburkan anggaran pada akhir tahun.

Yang paling parah dengan dana yang ada malah pemerintah membayarkan biaya ganti rugi rakyat yang terkena bencana L di provinsi JT yang nota bene disebabkan oleh salah satu perusahaan besar di Indonesia yang salah satu pemiliknya kebetulan adalah bagian pemerintah yang berkuasa yang isunya akan menjadi salah satu calon presiden Indonesia.

Sehingga jadilah iklan – iklan yang ditayangkan di tv oleh Dirjen Pajak tentang apa gunanya kita membayar pajak, menjadi salah satu bahan lelucon yang paling besar yang pernah saya lihat di negara ini dan bukan menjadi motivator saya untuk menjadi pembayar pajak terbaik di negara ini.

Saya tidak menyalahkan Dirjen Pajak dan aparat yang ada di dalamnya, karena sebagai salah satu “pencari dana” di negeri tercinta ini, memang tugas merekalah melakukan apa yang bisa mereka lakukan dalam rangka peningkatan pendapatan negara.

Tapi kerja keras yang mereka lakukan menurut saya menjadi sia – sia ketika institusi pemerintah yang lain tidak memberikan dukungan nya terhadap apa yang dilakukan oleh Dirjen Pajak.

Sebesar apa juga Penerimaan Negara yang berhasil dikumpulkan menjadi kecil apabila gaya hidup institusi pemerintah Indonesia masih seperti sekarang. Sekeras apa juga himbauan Dirjen Pajak untuk mengajak rakyatnya membayar pajak, menjadi sia – sia apabila rakyat melihat bagaimana cara pemerintah negara ini menggunakan uang diperoleh dari pajak yang dibayarkan oleh rakyatnya.

Saya yakin jiwa sosial rakyat Indonesia itu sebenarnya tinggi, terlihat bagaimana mereka dengan tidak ragu – ragu mengeluarkan uangnya hanya untuk menolong saudara nya yang lain  – lihat contoh kasus Prita dan Darsem.

Sehingga saya juga yakin  bahwa banyak rakyat Indonesia yang rela membayar pajak apabila mereka juga di perlihatkan gambaran bagaimana negara dengan efisien dan efektifnya menggunakan anggarannya, bagaimana aparatur negara dengan maksimalnya memberikan pelayanan kepada masyarakat, bagaimana mudahnya rakyat Indonesia membuat KTP, Pasport, Kartu Keluarga atau bagaimana masyarakat yang berpenghasilan rendah dengan mudahnya mengakses kesehatan dan pendidikan.

Dan itu saya kira jauuuuuh lebih efisien dan efektif daripada iklan – iklan tentang pajak yang ada di tv atau parahnya juga ada di bioskop – bioskop, dan pasti jauh lebih efektif dari pada sunset policy atau sensus pajak nasional.

Tapi tentu saja, sekali lagi ini tidak mungkin dilakukan oleh Dirjen Pajak sendirian, diperlukan kerjasama seluruh institusi pemerintahan di republik tercinta ini untuk mendukung kerja keras Dirjen Pajak dalam usahanya meningkatkan penerimaan negara.

Atau seharusnya, memang perbaikkan di tingkat aparatur negara terlebih dahulu sebelum menuntut masyarakat untuk menjadi pembayar pajak yang taat?

Salam

Posted in Indonesia ku, Uncategorized | Leave a comment